Lu Sian menggeleng kepala. Kakek itu marah-marah dan mengepal tinjunya, mengamang-amangkan kedua tinjunya di depan hidung Lu Sian.
"Kau lihat ini?"
Bentaknya. Lu Sian benar-benar merasa ngeri dan takut, dan saking gugupnya ia menjawab sambil mengangguk-angguk.
"Aku lihat, dan baunya busuk!"
Lu Sian kaget mendengar ucapannya sendiri. Celaka, sifat lincah dan liarnya kumat sehingga ia bicara tanpa dipikir. Ia sudah siap-siap menanti serangan, karena kakek aneh ini tentu marah. Akan tetapi Bu Tek Lojin malah membawa kedua tangannya kedepan hidungnya sendiri, mencium-cium. Hidungnya dikernyit kan dan ia berkata.
"Benar bau tak enak, habis belum dicuci, berhari-hari bersembunyi dalam karung! Eh, bocah, biar tanganku bau, akan tetapi apakah badanmu lebih keras daripada batu tadi?"
"Maaf Kek, aku benar-benar tidak mengerti. Apa sih yang kau maksudkan dengan suling emas?"
"Wah, ketanggor (melanggar batu) aku sekali ini! Kau benar bocah hijau tak tahu apa-apa. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan agaknya tidak pernah memberi pengertian kepada bocah ini! Suling Emas adalah pusaka pemberian Bu Kek Siansu kepada Sastrawan Ciu Bun. Sekarang, Sastrawan Ciu Bun lenyap, entah mampus atau belum, akan tetapi suling emas itu lenyap, menjadi perebutan orang-orang didunia. Nah, aku perlu suling itu, kalau seorang diantara kalian menemukannya, harus diberikan kepadaku. Harus, mengerti?"
"Tidak, tidak mengerti."
"Tolol! Kau menantang?"
"Tidak, Bu Tek Lojin. Kumaksudkan, aku tidak mengerti mengapa hanya sebuah suling emas saja dijadikan rebutan. Berapa sih harganya suling emas? Agaknya orang-orang kang-ouw sekarang sudah menjadi mata duitan semua!"
Kakek itu tertawa bergelak-gelak, perutnya sampai menjadi keras dan ia memegangi perutnya, tubuhnya ditekuk menjadi lebih pendek lagi.
"Ho-ho-ho-hah-hah! Goblok, sekali goblok tetap tolol. Kau tahu apa? Suling itu menjadi kunci rahasia ilmu kesaktian hebat, selain itu, emasnya mengandung logam murni yang berasal dari bintang, siapa memegangnya, berarti memegang sebuah senjata yang paling ampuh didunia ini."
"Ah, begitukah? Baik, nanti kusampaikan kepada ayah dan kawan-kawan lain."
Kata Lu Sian, akan tetapi didalam hatinya sudah timbul keinginan untuk memiliki sendiri suling emas itu. Kakek itu kaget. Biarpun sakti, agaknya ia mudah kaget.
"Bocah gendeng, bikin kaget saja, kukira Bu... eh!"
Ia menghentikan ucapannya, lalu berseru keras.
"Muridku! Kau naik kesini!"
Karena tidak ingin berurusan dengan kakek itu, Lu Sian berkata.
"Bu Tek Lojin, sudahlah, aku minta diri, hendak melanjutkan perjalananku."
"Eh, nanti dulu, kau jumpai muridku yang baik!"
Hemm, segala murid anak kecil disuruh menjumpai. Akan tetapi tidak enak kalau membantah dan membuat marahnya kakek sakti ini, maka ia berdiri menanti.
"Bocah tolol, tidak lekas-lekas naik? Kalau habis sabarku, kujiwir telingamu sampai copot!"
Teriak kakek itu marah-marah. Diam-diam Lu Sian merasa kasihan kepada bocah murid kakek ini yang demikian galak.
"Teecu datang, Suhu!"
Terdengar teriakan dari jauh, akan tetapi mendadak berkelebat bayangan dan tahu-tahu disitu berdiri seorang laki-laki yang tubuhnya juga agak cebol gemuk, kepalanya botak dan jenggotnya juga panjang! Hampir Lu Sian tak dapat menahan ketawanya. Yang disebut bocah dan ia sangka kanak-kanak ini tidak tahunya juga seorang laki-laki yang sudah tua, malah panjang jenggotnya, laki-laki yang seperti juga gurunya, berpakaian tidak karuan dan bertelanjang kaki. Orang botak itu segera menjatuhkan diri berlutut di depan gurunya.
"Kalisani, hayo kau lawan perempuan ini, untuk ujian. Dia puteri Pat-jiu Sin-ong, cukup untuk kau pakai berlatih!"
Kalisani, murid Bu Tek Lojin yang kita kenal sebagai bekas Panglima Khitan itu segera bangkit berdiri memandang Lu Sian, lalu menjura.
"Nona, Suhu sudah memerintah kepadaku, terpaksa kuharap Nona suka melayaniku barang sepuluh jurus!"
Setelah berkata demikian, ia memasang kuda-kuda seperti orang hendak membuang air, karena ia berjongkok sampai rendah sekali dan mukanya menahan napas sampai merah seperti orang sakit perut! Kuda-kuda ini lucu sekali dan seandainya Lu Sian tidak sudah menduga bahwa lawan aneh ini seorang yang tak boleh dipandang ringan, tentu ia tidak dapat menahan ketawanya, Lu Sian sendiri memiliki watak aneh, keras hati dan tidak mau kalah. Sekarang ia ditantang terang-terangan biarpun ia tahu bahwa kepandaian Bu Tek Lojin jauh lebih tinggi daripada tingkat kepandaiannya, namun ia tidak takut, dan ia harus memperlihatkan kepandaiannya, apa pun yang akan terjadi. Oleh karena itu, melihat Kalisani sudah memasang kuda-kuda, ia berseru keras.
"Orang hutan, jaga seranganku!"
Tubuhnya bergerak cepat sekali dan ia menerjang maju, langsung mengirim tendangan dengan ujung sepatunya ke arah leher orang yang berjongkok di depannya. Ketika lawannya melompat kebelakang sambil mengulur tangan dengan maksud menangkap kakinya yang menendang, Lu Sian menarik kakinya dan tubuhnya condong kedepan, langsung tangan kanannya menghantam dada sedangkan tangan kiri dengan dua jari tangan menusuk kearah mata.
Inilah jurus dari Ilmu Silat Sin-coa-kun (Ular Sakti) yang amat berbahaya dan ganas. Akan tetapi Kalisani bukanlah seorang yang masih hijau. Sebelum menjadi murid Bu Tek Lojin, ia telah memiliki ilmu kepandaian tinggi dan menjadi panglima tua di Khitan, tentu saja ia tidak dapat dikalahkan dengan mudah dan jurus yang berbahaya ini dengan amat mudahnya dapat ia hindarkan dengan cara melompat ke kanan. Malah ia segera membalas serangan lawan dengan pukulan keras dari kanan. Melihat lawannya juga dapat bergerak dengan gesit sekali, Lu Sian makin bersemangat. Ia mengelak dari pukulan itu dan balas menerjang ganas sambil mengerahkan gin-kangnya dan terus mainkan Ilmu Silat Ular Sakti yang memiliki jurus-jurus ganas dan berbahaya. Berkat gin-kang Coa-in-hui yang ia pelajari dari Tan Hui, kini permainan Ilmu Silat Tangan Kosong Ular Sakti menjadi berlipat ganda lebih lihai daripada sebelum ia memiliki gin-kang itu.
Diam-diam Kalisani terkejut sekali. Sedikitpun juga ia tidak mengira bahwa lawannya begini hebat. Tadi ketika ia disuruh suhunya menandingi Lu Sian, ia merasa ragu-ragu dan tidak enak hati. Dia seorang yang sudah tua dan berpengalaman banyak, pula memiliki ilmu silat tinggi. Bagaimana harus melawan seorang wanita muda? Akan tetapi karena suhunya yang memberi perintah, tentu saja ia tidak berani membantah. Ia tadinya hendak berjaga diri saja dan sedapat mungkin mengalahkan wanita ini dengan lunak, karena Kalisani bukanlah seorang pria yang suka menghina atau menyakiti hati wanita. Siapa kira, kini menghadapi desakan Lu Sian, ia menjadi bingung dan pandang matanya kabur, demikian cepatnya wanita ini bergerak! Maka ia lalu tidak sungkan-sungkan lagi, cepat ia pun mainkan ilmu silatnya dan mengerahkan tenaga dalam kedua lengannya, mempercepat gerakannya.
Alangkah herannya ketika beberapa kali lengan mereka saling bertemu, wanita itu tidak roboh atau mencelat, bahkan dia sendiri merasa betapa hawa pukulan yang amat kuat menggetarkan lengannya! Maklumlah ia kini bahwa biarpun masih muda wanita yang pantas menjadi lawannya ini lihai sekali. Pantas saja suhunya mengatakan bahwa wanita ini cukup tangguh untuk diajak berlatih ilmu silat! Dengan ilmu gin-kang Coa-in-hui, benar-benar Lu Sian dapat menguasai lawannya. Ia menang cepat dan sudah tiga kali tangannya berhasil menyerempet tubuh lawan, malah satu kali ia berhasil memukul pundak Kalisani. Akan tetapi tubuh lawannya kebal dan pukulan itu hanya membuat Kalisani terhuyung-huyung sebentar, maka ia berlaku amat hati-hati dan mencari kesempatan untuk dapat memukul tepat. Lu Sian sengaja mempermainkan lawan dengan kecepatannya untuk mengacaukan pertahanannya.
"Bocah tolol! Segala macam ilmu cakar bebek dari Khitan itu mana mampu menghadapi Sin-coa-kun dari Beng-kauw? Tolol! Kau muridku, mengapa tidak menggunakan pelajaran dariku?"
Bu Tek Lojin marah-marah, mencak-mencak dan memaki-maki.
Kalisani memang tidak mau mempergunakan ilmu simpanannya yang ia pelajari dari Bu Tek Lojin. Ilmu itu ada tiga macam, yaitu Ilmu Khong-in-ban-kin (Awan Kosong Selaksa Kati) yang merupakan penghimpunan tenaga sin-kang yang luar biasa, kedua adalah Khong-in-liu-san yang merupakan ilmu serangan yang luar biasa hebatnya, dan ketiga adalah Ilmu Silat Kim-lun-sin-hoat (Ilmu Sakti Roda Emas), semacam ilmu silat yang dapat dimainkan dengan tangan kosong, akan tetapi lebih tepat dengan gelang atau roda emas yang ia terima sebagai tanda mata dari Tayami! Ilmu-ilmu ini ia tahu amat hebat, maka
ia tidak tega untuk mempergunakan nya terhadap Lu Sian yang sama sekali tidak dikenalnya dan tidak ada permusuhan dengannya. Kini mendengar seruan gurunya, baru ia ingat. Akan tetapi terlambat. Sebelum ia sempat mempergunakan ilmu itu, sebuah hantaman Lu Sian mengenai lehernya, membuat Kalisani terlempar dan bergulingan, kemudian terbentur pohon dan rebah telentang dengan mata mendelik. Pingsan!
"Uuhhh, tolol, mencari mampus!"
Bu Tek Lojin marah dan mendongkol sekali melihat "jagonya"
Keok. Ia melompat dekat dan dua kali menotok leher dan punggung, muridnya sudah merangkak bangun lagi.
"Hayo maju lagi, kalau kau tidak bisa menang kulemparkan kau ke dalam jurang!"