Gin Lin menjadi merah sekali mukanya, ia membuang senyum dan berkata.
"Sudahlah, kemana kita sekarang pergi?"
"Ke Min-san!"
Selama tinggal di Neraka Bumi dan ditinggal mati Kwan Cin Cu, Gin Lin membaca kitab-kitab dan banyak tahu akan teori ilmu silat sambil melatih diri sedapatnya. Biarpun kurang sempurna karena kurang bimbingan, namun dia telah memiliki ilmu kepandaian yang tinggi juga, maka dalam perjalanan jauh itu mereka tidak mengalami banyak kesulitan. Apabila mereka melalui jalan yang sukar, Gin Lin menggendong puterinya sedangkan Kim-mo Taisu menggandeng tangan Bu Song atau kadang-kadang juga memondongnya. Setelah melakukan perjalanan beberapa bulan lamanya, akhirnya mereka sampai juga ke Puncak Min-san dimana Kim-mo Taisu lalu membangun sebuah pondok sederhana untuk tempat tinggal mereka, jauh daripada dunia keramaian.
Mulai saat itu, Bu Song dan Eng Eng menerima gemblengan dari Kim-mo Taisu dan isterinya. Akan tetapi oleh karena Bu Song masih saja kukuh tidak mau mempelajari ilmu silat, maka hanya Eng Eng saja yang menerima latihan ilmu silat, sedangkan Bu Song mendapat pelajaran ilmu sastra. Seperti kita ketahui, Kim-mo Taisu Kwee Seng ini dahulu adalah seorang mahasiswa yang tak pernah lulus dalam ujian. Biarpun ia lebih gemar ilmu silat, namun sesungguhnya ia bukanlah seorang yang bodoh dalam ilmu sastra. Tidak, bahkan ia amat pandai. Hanya pada masa itu, untuk dapat lulus dalam ujian tidaklah mudah. Nafsu korupsi sudah menjadi penyakit wabah yang menyerang seluruh pembesar yang berhak memeriksa ujian, jangan harap seorang mahasiswa akan dapat lulus dalam ujian.
Kim-mo Taisu Kwee Seng adalah seorang yang berjiwa pendekar, tentu saja ia tidak sudi untuk melakukan penyuapan, tidak mau ia lulus ujian yang membuat ia gagal terus dalam ujian lagi. Karena memang pandai dalam ilmu sastra, tentu saja ia dapat mengajarkan ilmu itu kepada Bu Song. Akan tetapi, disamping ilmu menulis dan membaca sajak ini, diam-diam Kim-mo Taisu menurunkan pelajaran dasar-dasar ilmu silat yang secara cerdik ia masukkan kedalam pelajaran yang ia sebut ilmu kesehatan dan ilmu pengobatan. Dalam diri Bu Song memang terdapat bakat istimewa, maka segala macam pelajaran dapat ia terima dengan mudah. Bahkan dalam latihan samadhi dan peraturan napas penyaluran jalan darah, ia jauh lebih maju daripada Eng Eng.
Bertahun-tahun keluarga ini hidup bersunyi, hanya bertetangga penduduk gunung yang tinggal di lereng Min-san. Hanya sepekan sekali keluarga ini dapat bertemu orang, karena penduduk tidak ada yang berani naik ke puncak yang sukar itu. Namun mereka hidup penuh ketenteraman dan kebahagiaan. Sudah terlalu lama kita meninggalkan Liu Lu Sian, maka agar jalan ceritera dapat lancar, marilah kita mengikuti perjalanan tokoh wanita kita ini. Didalam jilid dua telah dituturkan betapa dalam kemarahannya, Lu Sian membunuh kekasihnya sendiri, yaitu Hui-kiam-eng Tan Hui, lalu membunuhi pula atau setidaknya membikin luka berat sembilan orang piauwsu yang ia anggap sebagai gara-gara pertengkarannya dengan Tan Hui. Setelah ikatan asmara yang mesra dengan Tan Hui selama kurang lebih dua bulan, kini kembali Lu Sian bebas seperti burung liar yang terbang melayang di udara.
Agak menyesal hatinya bahwa ia terpaksa harus membunuh Tan Hui, laki-laki yang cukup menyenangkan hatinya, akan tetapi di samping kekecewaan dan penyesalannya itu, terselip rasa bangga dan girang bahwa ia kini telah mewarisi ilmu gin-kang dari kekasihnya itu, yaitu Ilmu Coan-in-hui (Terbang Menerjang Mega). Gin-kang ini jauh lebih hebat daripada gin-kang yang pernah ia pelajari, dan dengan hati gembira, lupa lagi akan kematian kekasihnya, Lu Sian berlari-lari secepat terbang menggunakan Coan-in-hui. Selagi ia berlompatan melalui perjalanan yang amat sukar di lereng bukit, tiba-tiba ia melihat sebuah benda bergerak-gerak jauh di depannya. Lu Sian kaget seketika melihat bahwa benda itu bukan lain adalah sebuah bantal atau karung yang dapat berlompatan cepat sekali. Ia mengenal benda ajaib ini karena di dalam rumah Raja Pengemis, ketika berada dalam bahaya benda ini telah menolongnya.
Maka ia lalu mengerahkan tenaga dan cepat mengejar. Karena kini ginkangnya memang sudah mulai mahir, gerakannya seperti burung walet menyambar-nyambar dan biarpun gerakan benda ajaib itu juga amat cepat, namun setengah jam kemudian ia berhasil memperdekat jarak diantara mereka. Akan tetapi benda itu terus berloncatan, seakan-akan melarikan diri, melompati jurang dan mendaki bukit itu. Lu Sian merasa heran. Tak salah lagi, pastilah benda itu terisi orang, akan tetapi mengapa begitu kecil? Apakah seorang anak kecil? Tidak mungkin rasanya. Masa seorang anak kecil memiliki kepandaian sehebat itu? Orang tua pun akan sukar bergerak sedemikian cepatnya kalau bersembunyi di dalam karung.
"Locianpwe, tunggu aku mau bicara!"
Serunya. Namun bantal itu malah makin cepat bergerak maju berloncatan. Lu Sian menjadi gemas. Biarpun kau hendak lari ke langit, masa aku tidak mampu mengejarmu? Demikian pikirnya dan ia mengejar terus. Akhirnya benda itu tiba di puncak sebuah bukit kecil dan Lu Sian telah dapat menyusulnya. Tiba-tiba terdengar suara dari dalam benda itu,
"Waduh, waduh..., habis napasku...! Terlalu sekali, mengejar orang terus-terusan. Aku terima kalah!"
Setelah terdengar suara ini, bantal itu pecah dan muncullah seorang kakek yang pendek kecil berjenggot panjang berkepala besar. Tubuhnya pendek seperti kanak-kanak berusia sepuluh tahun, akan tetapi melihat kepala yang besar dan penuh mumis dan jenggot itu, jelas dia seorang kakek yang sudah tua sekali! Napasnya mengkas-mengkis (terengah-engah), dan begitu keluar dari dalam karung, ia seperti tidak melihat Lu Sian, melainkan memandang kekanan kiri dengan wajah ketakutan, seperti mencari sesuatu. u Sian menahan senyumnya, lalu menjura dan berkata,
"Kakek lucu, mengapa kau bersembunyi dalam bantal dan mengapa pula lari terbirit-birit?"
Dengan napas masih tersengal-sengal kakek itu menyusut peluh didahinya, lalu berkata cemberut,
"Kenapa kau mengejar-ngejarku terus? Huh, tentu saja aku kalah napas, coba aku masih muda, ilmu gin-kang coa-in-hui itu mana mampu mengejarku?"
"Kakek yang baik, harap jangan marah. Aku mengejarmu untuk menghaturkan terima kasih atas pertolonganmu dirumah Kai-ong."
"Sudahlah, apa kau melihat Bu Kek Siansu?"
Tiba-tiba kakek itu bertanya dan kembali matanya jelalatan kekanan kiri, ketakutan. Lu Sian adalah seorang wanita yang cerdik sekali. Melihat lagak kakek ini ia dapat menduga bahwa biarpun kakek ini seorang sakti, namun ada yang ditakuti. Dan agaknya Bu Kek Siansu yang amat ditakuti. Tentu saja ia pernah mendengar nama Bu Kek Siansu. Siapa pun orangnya yang berkecimpung dalam dunia kang-ouw, pasti pernah mendengar nama itu, biarpun jarang sekali yang dapat bertemu muka dengan manusia dewa yang sakti itu. Maka ia tidak menjawab, melainkan berkata.
"Sekarang tidak melihatnya, akan tetapi siapa tahu gerak-gerik manusia dewa itu? Eh, Kakek, siapakah kau dan mengapa bertanya tentang Bu Kek Siansu?"
"Aku... aku jijik bertemu dengannya!"
Jawabnya dan kakek itu mengangkat muka membusungkan dadanya yang tipis.
"Mau tahu siapa aku? Bocah, dengar baik-baik supaya jangan terjungkal karena kaget. Akulah Bu Tek Lojin!"
Belum pernah Lu Sian mendengar nama ini, dan ia menganggap orang ini selain lucu juga agak sombong. Baru namanya saja Bu Tek (tidak terlawan)!
"Biar kau tidak terlawan, akan tetapi lariku lebih cepat daripada larimu."
"Huh, bocah masih bau air susu! Kau sombong. Apakah ayahmu, si gila Pat-jiu Sin-ong Liu Gan itu datang bersamamu?"
"Kalau aku panggil dia, tentu ayah datang!"
Jawab Lu Sian, sengaja mempergunakan nama ayahnya untuk menakuti orang, karena ia percaya bahwa nama ayahnya cukup disegani kawan ditakuti lawan, buktinya Si Raja Pengemis yang lihai itu pun kuncup hatinya mendengar bahwa ia puteri Pat-jiu Sin-ong Liu Gan.
"Ho-ho-ho-hoh! Lekas panggil ayahmu datang. Dia ditambah kau ditambah seorang lawan lagi, akan kupermainkan seperti... seperti... seperti..."
"Seperti apa?"
Lu Sian sudah marah, mendongkol hatinya mendengar dia dan ayahnya dipandang ringan.
"Seperti ini!"
Kakek itu lalu menggunakan ujung kakinya mencongkel sebuah batu dan... batu itu mencelat terbang keatas, padahal batu itu besar dan amat berat.
"Nah, ini engkau. Dan ini Ayahmu!"
Ia mencongkel sebuah batu lain yang lebih besar keatas seperti tadi.
"Dan yang ketiga ini kawan ayahmu!"
Batu ketiga mencelat keatas dan kini tiga buah batu besar itu melayang turun berturut-turut akan menimpa kepala Si Kakek Cebol. Akan tetapi kakek itu menggerakkan kedua tangannya dengan telapak menghadap keatas dan... tiga buah batu itu bermain-main diudara, bergerak keatas dan kebawah, tak pernah menyentuh telapak tangan kakek itu, seakan-akan ada hawa yang berkekuatan luar biasa menahan dan mempermainkan tiga buah batu itu. Lu Sian melongo. Ia maklum bahwa itu adalah permainan tenaga sin-kang akan tetapi untuk dapat mempermainkan tiga batu besar seperti itu, benar-benar membutuhkan tenaga sin-kang yang hebat luar biasa. Kakek ini sakti sekali dan ternyata kesombongannya bukan kosong belaka.
"Nah, kalian bertiga bisa apa terhadapku?"
Ia lalu membuat gerakan dengan tangannya lalu membentak,
"Turun!"
Heran sekali. Tiga buah batu itu bertumpang-tindih bersusun tiga lalu perlahan-lahan turun keatas tanah, seperti dipegang tangan yang kuat, turunnya pun perlahan-lahan dan tidak menimbulkan debu. Akan tetapi begitu kakek itu melompat mundur, tiga buah batu yang tersusun itu hancur berantakan! Lu Sian menelan ludah. Hebat bukan main. Timbul keinginannya memperoleh ilmu dari kakek sakti ini, maka ia cepat menjura sambil memuji.
"Wah, hebat sekali kepandaian Locianpwe!"
Kakek itu kelihatan girang dan bangga, lalu bertolak pinggang membusungkan dada, matanya mengedip-ngedip, hidungnya bergerak-gerak dengan ujung hidungnya mekar!
"Nah, maka kau jangan main-main dengan Bu Tek Lojin! Aku pesan kepadamu, dan temannya-temannya, apabila suling emas terjatuh kedalam tangan seorang diantara kalian, harus cepat-cepat serahkan kepada Bu Tek Lojin. Mengerti?"
"Tidak, tidak mengerti."