Anak ini lalu membalikkan tubuhnya dan lari. Akan tetapi dengan tiga kali lompatan saja Kim-mo Taisu sudah menangkap tangannya.
"Kenapa?"
"Teecu tidak mau Suhu kembalikkan kerumah Ayah atau Kong-kong. Teecu hendak mencari ibu."
Kim-mo Taisu mengangguk-angguk.
"Baiklah, Bu Song. Aku tidak akan mengantarmu kepada Ayah dan Kakekmu, kau ikut saja dengan kami dan kelak kubantu kau mencari Ibumu."
Kembali ia menghela napas karena teringat akan cerita Pat-jiu Sin-ong Liu Gan bahwa Liu Lu Sian telah meninggalkan suami dan putera, malah telah melakukan hal-hal yang luar biasa didunia kang-ouw, telah mencuri kitab-kitab dari Beng-kauw sendiri. Sungguh aneh, mengapa secara kebetulan sekali putera Liu Lu Sian menjadi muridnya? Pantas saja begitu berjumpa dengan anak ini, timbul rasa sayang dihatinya. Kiranya anak ini darah daging Lu Sian! Diam-diam ia menjadi girang sekali dan berjanji kepada diri sendiri untuk mengimbangi Bu Song seperti puteranya sendiri. Maka turunlah mereka berempat dari puncak dengan wajah bahagia. Kim-mo Taisu tak pernah dilepaskan tangannya oleh isterinya, yang kadang-kadang mengucurkan air mata sambil tersenyum-senyum memandangi wajah suaminya yang dirindukannya selama bertahun-tahun.
Mereka bergandeng tangan sambil bercakap-cakap menceritakan pengalaman masing-masing selama berpisah. Eng Eng yang sifatnya lincah itu pun menggandeng tangan Bu Song diajak balapan lari atau diajak memetik bunga mengejar kupu-kupu disepanjang jalan, sambil tertawa-tawa. Secara singkat Kim-mo Taisu menceritakan pengalamannya sejak keluar dari Neraka Bumi, pengalaman yang penuh kesengsaraan dan kepahitan sehingga membuat isterinya makin sayang kepadanya. Khu Gin Lin ikut mengucurkan air mata mendengar betapa suaminya menyesali diri sendiri sampai menjadi seperti seorang jembel gila. Kemudian tiba gilirannya untuk bercerita. Seperti telah diceritakan oleh mendiang Ang-siauw-hwa atau Khu Kim Lin mendiang saudara kembarnya kepada Kwee Seng, dia dan Kim Lin adalah anak kembar dari seorang pangeran bernama Khu Si Cai, seorang Pangeran Kerajaan Tang. Khu Si Cai ini, adalah adik ipar Raja Muda Couw Pa Ong yang terkenal.
Ketika terjadi perang yang mengakibatkan tumbangnya Kerajaan Tang, keluarga Kaisar dan para bangsawan menjadi korban. Tak terkecuali keluarga Pangeran Khu yang ikut terbasmi. Sepasang bocah kembar yang baru berusia lima tahun itu dapat diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa lari keluar pada saat istana pangeran itu diserbu musuh dan dibakar. Dalam pelarian ini mereka bertemu keributan perang sehingga akhirnya Khu Gin Lin terlepas dari gandengan tangan pelayannya membuat ia terpisah dari saudara kembarnya. Anak ini menangis sambil lari kesana kemari, jatuh bangun ditabrak orang-orang yang sedang melarikan diri dari perang. Akhirnya ia jatuh pingsan ditengah jalan hampir saja diinjak-injak orang yang sedang panik itu kalau saja tidak ditolong oleh seorang tosu (pendeta To) yang kebetulan lewat. Tosu ini sudah tua sekali, mukanya pucat dan melihat seorang anak perempuan menggeletak di jalan, hampir terinjak-injak, cepat ia menyambarnya dan membawanya pergi cepat-cepat.
"Tosu itu adalah Kwan Cin Cun, seorang tokoh Thian-san-pai yang terkenal sebagai seorang patriot pembela Kerajaan Tang, sahabat baik dari Paman Sin-jiu Couw Pa Ong."
Demikian Gin Lin melanjutkan ceritanya.
"Dia tidak tahu bahwa aku adalah keponakan Couw Pa Ong. Seperti juga Pamanku itu yang terluka hebat, malah menjadi lumpuh kedua kakinya, Suhu Kwan Cin Cu terluka parah disebelah dalam dadanya, luka yang tak mungkin dapat disembuhkan lagi karena ia telah terkena pukulan beracun yang hebat. Dia membawaku ke Neraka Bumi dan kebetulan sekali saat itu musim kering sehingga lebih mudah memasuki Neraka Bumi. Neraka Bumi sebetulnya adalah tempat bertapa kakek gurunya, yaitu sucouw (kakek guru) dari Thian-san-pai, tempat rahasia yang hanya diketahui oleh Suhu Kwan Cin Cu. Aku dibawa ketempat itu, lalu ia melatihku membaca kitab dan juga dasar-dasar ilmu silat. Sayang sekali, ketika aku berusia dua belas tahun, Kwan Suhu meninggal dunia karena lukanya yang memang hebat sekali."
"Hemm, seorang sakti seperti dia, mengapa menyembunyikan diri dan tidak mau keluar lagi?"
Kim-mo Taisu mencela.
"Dia sudah putus harapan. Katanya kepadaku, daripada keluar dari Neraka Bumi melihat negeri dijajah orang, lebih baik ia bersembunyi dan bertapa sampai mati. Selama mendidikku, ia menanamkan kesan betapa buruknya dunia, betapa jahatnya manusia, betapa berbahayanya hidup seorang gadis muda. Oleh karena itulah maka aku lalu membuat kedok nenek-nenek dan tak pernah mau keluar dari Neraka Bumi, sampai... sampai.... Thian membawamu masuk kesana dan... dan... lahirnya Eng Eng."
Jari-jari tangan Gin Lin mencengkram jari-jari tangan suaminya dan keluarlah getaran-getaran kasih dari jari tangan mereka.
Ketika mereka berempat tiba dirumah kediamannya Couw Pa Ong, ternyata kakek lumpuh itu telah berada disitu, bahkan berdiri menanti didepan pintu. Bu Song memandang dengan kagum dan juga serem kepada kakek sakti itu. Ada pun Kim-mo Taisu segera maju dan memberi hormat dengan kikuk, karena sebetulnya, sebagai tokoh kang-ouw, ia enggan memberi hormat berlebihan, akan tetapi mengingat bahwa orang ini paman isterinya, tidak enak pula kalau tidak memberi hormat. Kong Lo Sengjin atau Sin-jiu Couw Pa Ong tertawa bergelak, kelihatannya girang sekali.
"Sudahlah, tidak perlu banyak sungkan, kita orang sendiri ha-ha-ha! Alangkah girang hatiku mendapat kenyataan bahwa suami keponakanku adalah Kim-mo Taisu! Sungguh menyenangkan, ini berarti bahwa Dinasti Kerajaan Tang masih belum saatnya lenyap dari permukaan bumi! Kim-mo Taisu, dengan adanya engkau sebagai keluarga kami, maka kekuatan untuk memulihkan kekuasaan Kerajaan Tang menjadi makin besar."
"Maaf, Ong-ya, eh... Paman, akan tetapi saya sama sekali tidak ada minat untuk memikirkan soal kerajaan, saya tidak akan ikut-ikut...."
"Ha-ha-ha, coba saja kita sama-sama lihat! Aku Kong Lo Sengjin adalah seorang buronan, dicap sebagai musuh kerajaan yang sekarang berkuasa, juga isterimu dianggap sebagai anggota pemberontak, keluarga bekas Kerajaan Tang. Kalau isterimu dimusuhi, apakah kau sebagai suaminya tidak?"
Kim-mo Taisu mengerutkan keningnya.
"Kalau begitu, saya akan ajak isteri, anak dan murid saya untuk menjauhkan diri, mengungsi ditempat sunyi, hidup mengasingkan diri ditempat aman tenteram."
Keng Lo Sengjin membanting-banting tongkatnya keatas tanah.
"Gin Lin! Kau dengar kata-kata suamimu? Apa kau sudah lupa lagi, akan keluarga Ayah Bundamu yang terbasmi?"
"Paman, harap bersabar. Aku akan mengikuti suamiku kemanapun juga ia pergi. Tentang sakit hati keluarga, sampai mati pun keponakanmu ini tidak akan lupa."
"Haaahhh, pergilah...!"
Mulutnya bilang begitu akan tetapi kakek ini sendirilah yang pergi jauh dari rumah itu, dengan gerakan cepat sekali, berloncat-loncatan menggunakan kedua "kaki"
Nya yang berupa sepasang tongkat. Gin Lin lalu berbenah, dibantu oleh tiga orang pembantu rumah tangga yaitu A-kwi, A-liong, dan Sam-hwa yang ternyata bukanlah pembantu rumah tangga sembarangan saja karena ketiga orang ini adalah bekas-bekas panglima pembantu Kong Lo Sengjin ketika kakek ini masih menjadi Raja Muda Sin-jiu Couw Pa Ong! Setelah selesai, dengan terharu Gin Lin berpamit dari tiga orang pembantu ini, dan mereka pun kelihatan terharu, apalagi Sam-hwa yang menangisi kepergian Eng Eng yang ia anggap sebagai cucunya.
"Harap kalian bertiga jangan terlalu sedih."
Akhirnya Gin Lin berkata.
"Betapapun juga, waktu akan membawa kita berkumpul dalam perjuangan yang sama."
Kata-kata ini agaknya menyadarkan mereka dan berserilah wajah mereka malah mereka mengantar keluarga itu sampai jauh keluar hutan. Setelah mereka berpisah, Kim-mo Taisu bertanya apa artinya ucapan isterinya ketika berpisah tadi. Gin Lin menarik napas panjang.
"Mereka itu adalah bekas panglima dan pejuang pembela Kerajaan Tang. Seperti juga Paman dan aku sendiri, kita kehilangan keluarga, menyaksikan betapa keluarga terbasmi habis, betapa kerajaan runtuh diobrak-abrik dan dirampok, diperkosa, dihina oleh musuh. Anehkah kalau dilubuk hati kita masing-masing terpendam perasaan dendam yang tak dapat dipadamkan sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali? Kakek sudah berusaha keras, dan dengan kawan-kawan seperjuangan telah berhasil menjatuhkan Kerajaan Tang Muda, akan tetapi hanya berhasil mempertahankan selama tiga belas tahun saja, dan Kerajaan Tang Muda kembali jatuh ditangan musuh yang mendirikan Kerajaan Cin Muda. Ah, sebelum Kerajaan Tang bangkit kembali seperti dahulu, agaknya hati kita masih akan tetap mengandung dendam."
Kim-mo Taisu mengangguk-angguk, akan tetapi tidak menjawab apa-apa. Baginya, perasaan dendam itu tidak ada dan tak dapat ia merasai atau mengerti apa yang diutarakan isterinya itu, karena ia sendiri tidak pernah melibatkan diri dengan urusan negara.
"Yang terpenting kita mendidik Eng Eng dan Bu Song."
Akhirnya ia berkata.
"dan kalau kita terlibat urusan perang, bagaimana kita mampu mendidik anak-anak itu? Mari kita pergi ketempat yang tenteram dan jauh daripada keributan."
"Kemanakah? Asal jangan ke Neraka Bumi!"
Gin Lin berkata dan meremang bulu tengkuknya kalau ia membayangkan betapa puterinya harus hidup di neraka itu!
"Tempat yang baik dan berjasa."
Kim-mo Taisu berkata, melamun.
"Ihhh, neraka itu kau anggap baik?"
Suaminya tersenyum dan memegang tangan Si Isteri.
"Kalau tidak ada Neraka Bumi, bagaimana kita bisa saling berjumpa?"