"Anakku memang cantik, ini semua orang tahu. Kalau mata melihatnya tidak cantik sekalipun, yang salah bukan dia, melainkan matanya! Tosu mentah, lekas kau pulang ke Kun-lun-san, jangan mencari keributan disini."
"Kalau begitu, pinto minta pelajaran dari Beng-kauwcu!"
Kata tosu itu sambil mencabut pedangnya. Ia tadi sudah membuktikan betapa hebat sin-kang dari Ma Thai Kun yang hanya merupakan adik seperguruan Ketua Beng-kauw ini, maka ia tidak berani berlaku sembrono. Dengan pedang di tangan ia mengira akan dapat mengimbangi lawannya, karena memang Kun-lun-pai terkenal dengan kiam-hoatnya (ilmu pedangnya).
"Kau menantangku?"
Liu Gan bertanya, masih tersenyum.
"Pinto siap!"
"Nah, terimalah ini!"
Kedua tangan Pat-jiu Sin-ong bergerak. Begitu cepatnya gerakan kedua lengannya itu sehingga kedua tangan itu seakan-akan berubah menjadi delapan! Inilah agaknya maka ia mendapat julukan Pat-jiu (Lengan Delapan). Dalam segebrakan saja Ang Sin Tojin merasa seakan-akan ia diserang oleh delapan pukulan yang kesemuanya merupakan pukulan maut! Cepat ia menggerakkan tubuhnya dan memutar pedangnya melindungi diri.
"Plakk! Tranggg... aduhhh...!"
Hanya dalam sekejap mata saja terjadinya. Entah bagaimana tosu itu sendiri tidak tahu, pergelangan tangannya sudah terpukul, membuat pedangnya terpental dan tiba-tiba ia merasa amat sakit pada telinga dan mata kanannya. Ia roboh menggulingkan diri sampai beberapa meter lalu meloncat lagi berdiri. Telinga kanan dan mata kanannya mencucurkan darah! Ternyata daun telinga kanannya pecah bagian atasnya, sedangkan pelupuk mata kanannya pun robek!
"Tosu mentah! Mengingat akan suhengmu, Ang Kun Tojin, dan memandang muka terhormat suhumu, Kim Gan Sianjin Ketua Kun-lun, aku tidak mengambil nyawamu. Akan tetapi aku tidak dapat membiarkan matamu yang salah lihat dan telingamu yang salah dengar. Hendaknya pelajaran ini membuka matamu bahwa Beng-kauw tidak boleh dibuat main-main oleh siapapun juga! Nah, pergilah!"
Ang Sin Tojin maklum bahwa orang sakti didepannya ini bukan lawannya, bahkan suhunya, Ketua Kun-lun-pai sendiri, belum tentu akan dapat menandinginya. Ia bukan seorang bodoh dan nekat. Tanpa banyak cakap ia memungut pedangnya, menjura dan berkata,
"Pinto hanya dapat melaporkan kepada suhu bahwa pinto gagal dalam tugas."
Setelah berkata demikian, ia membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ. Keadaan di situ sunyi sekali. Ketegangan mencekam dan suasana ini amat tidak enak. Pat-jiu Sin-ong Liu Gan lalu tertawa dan mengahadapi para tamunya.
"Cu-wi yang terhormat harap maafkan gangguan tadi. Nah, karena soal pemilihan calon mantu sudah disebut-sebut oleh tosu mentah tadi, terpaksa kami akui bahwa hal itu memang tidak salah. Cu-wi sudah melihat ilmu silat anakku yang rendah. Oleh karena itu, kalau ada di antara para muda gagah yang hendak memperlihatkan kepandaian, anakku akan sanggup melayaninya. Mereka yang dapat mengalahkan anakku Liu Lu Sian berarti lulus dan akan diadakan pemilihan di antara mereka yang lulus, kalau-kalau ada yang berjodoh menjadi mantukku."
"Ha-ha-ha!"
Setelah berkata demikian dan menjura, Ketua Beng-kauw ini duduk lagi di tempatnya.
"Eh, saudara muda kwee, kau lihat tosu tadi, menjemukan tidak?"
"Memang menjemukan! Semuanya menjemukan!"
Kata Kwee Seng.
"Ha-ha, urusan begitu saja jangan menghilangkan kegembiraan kita. Mari minum!"
Keduanya lalu minum lagi dan keadaan di situ menjadi meriah pula.
Sementara itu, Liu Lu Sian sudah meloncat ke tengah panggung lagi setelah meninggalkan pedangnya di atas meja. Hal ini berarti bahwa ia hanya akan melayani pertandingan tangan kosong, tanpa mempergunakan senjata. Ketika melihat gadis cantik itu sudah berdiri siap di tengah panggung, di antara para tamu muda timbullah suasana gaduh. Sebetulnya banyak sekali pemuda yang datang dari berbagai penjuru dunia untuk menyaksikan kecantikan gadis yang sudah terkenal itu dengan mata sendiri.
Dan sekarang, setelah melihat Liu Lu Sian, hampir semua pemuda yang hadir di situ tergila-gila dan tak seorang pun yang tidak ingin memetik tangkai bunga segar mengharum ini. Akan tetapi, menyaksikan ilmu kepandaian Lu Sian dan kehebatan ayahnya, sebagian besar para muda itu sudah menjadi gentar dan tidak berani mencoba-coba. Apalagi kalau mengingat akan pembunuhan-pembunuhan aneh di dalam rumah penginapan kemarin malam, mereka merasa ngeri dan membuat sebagian besar di antara mereka mundur teratur! Betapapun juga, di antara mereka ada juga yang nekat karena mungkin dapat menahan hatinya yang sudah runtuh oleh kecantikan Lu Sian.
Seorang pemuda berpakaian serba hijau dan yang duduknya di bagian bawah, berjalan dengan langkah lebar dan gagah ke arah panggung, kemudian sekali menggerakkan tubuhnya ia sudah meloncat ke atas panggung berhadapan dengan Lu Sian. Pemuda ini berwajah cukup ganteng, alisnya tebal dan matanya tajam, hanya mulutnya lebar membayangkan ketinggian hati. Dengan sikap gagah ia menjura dan merangkap kedua tangan di depan dada, memberi hormat kepada Liu Lu Sian sambil berkata, suaranya lantang.
"Aku bernaama Han Bian Ki, dikenal sebagai Siauw-kim-liong (Naga Emas Muda) di lembah sungai Min-kiang, ingin mencoba-coba kepandaian nona Liu yang gagah."
Lu Sian melirik dan bibirnya melempar senyum manis sekali. Akan tetapi sesungguhnya melihat mulut yang agak lebar itu ia sudah merasa tidak senang kepada pemuda ini. Orang macam ini berani mau coba-coba, pikirnya. Apanya sih yang diandalkan? Tampangnya tidak menarik, dan melihat gerakan loncatannya, juga tidak banyak dapat diharapkan tentang ilmu silatnya.
"Han-enghiong, tak usah ragu-ragu. Mulailah!"
Katanya dengan suara dingin.
"Saya Bhong Siat dari lembah Yang-ce!"
Kata Si Muka Kuning yang suaranya seperti orang berbisik, atau kehabisan napas. Makin muak rasa perut Liu Lu Sian menyaksikan majunya dua orang yang berwajah buruk ini. Memang ia sengaja menantang agar mereka maju sekaligus agar ia tidak usah berkali-kali menghadapi mereka seorang demi seorang. Pula, tantangannya ini merupakan akal untuk menilai mereka. Yang mau datang mengeroyoknya manandakan seorang laki-laki pengecut dan yang tidak boleh dihargai sama sekali, perlu cepat ditundukkan sekaligus.
Han Bian Ki girang melihat majunya dua orang yang semaksud itu. Kini terbuka kesempatan pula baginya untuk mencari kemenangan, atau setidaknya tentu berhasil menyentuh kulit badan Si Nona atau beradu lengan. Maka ia tidak mau kalah semangat dan biarpun sudah sejak tadi ia dipermainkan, kini ia memperlihatkan sikap galak dan menerjang Liu Lu Sian dengan seruan nyaring. Dua orang yang baru naik itu pun tidak membuang kesempatan ini, membarengi dengan serangan-serangan mereka karena mereka tahu bahwa serangan tiga orang secara berbarengan tentu akan lebih banyak memungkinkan hasil baik.
"Menjemukan...!"
Liu Lu Sian berseru dan terjadilah penglihatan yang amat menarik. Tiga orang pemuda itu menyerang dari tiga jurusan, serangan mereka galak dan ganas, apalagi Si Muka Kuning Bhong Siat yang ternyata merupakan seorang ahli ilmu silat yang mempergunakan tenaga dalam. Pukulan-pukulannya mendatangkan angin yang bersiutan. Namun hebatnya, tak pernah enam buah tangan dan enam buah kaki itu menyentuh ujung baju Lu Sian.
Gadis itu dalam pandangan tiga orang pengeroyoknya lenyap dan berubah menjadi bayangan yang berkelebatan seperti sambaran burung walet yang amat lincah. Dan dalam pertandingan kurang dari dua puluh jurus, terdengar teriakan-teriakan dan secara susul-menyusul tubuh tiga orang pemuda itu "terbang"
Dari atas panggung, terlempar secara yang mereka sendiri tidak tahu bagaimana. Mereka jatuh tunggang-langgang dan berusaha untuk merangkak bangun.
"Hemm, orang-orang tak tahu malu. Hayo lekas pergi dari sini!"
Terdengar suara keras membentak di belakang mereka dan sebuah lengan yang kuat sekali memegang tengkuk mereka dan tahu-tahu tubuh mereka seorang demi seorang terlempar keluar. Tanpa berani menoleh lagi kepada Ma Thai Kun yang melemparkan mereka keluar, tiga orang itu terus saja lari sempoyongan keluar dari halaman gedung. Para tamu menyambut kemenangan Liu Lu Sian dengan tepuk tangan riuh rendah. Para muda yang tadinya ada niat untuk mencoba-coba, makin kuncup hatinya dan hampir semua membatalkan niat hatinya, menhibur hati yang patah dengan kenyataan bahwa tak mungkin mereka dapat menandingi nona yang amat lihai itu!
Akan tetapi ternyata masih ada seorang laki-laki muda yang dengan langkah tegap dan tenang menghampiri panggung, kemudian dengan gerakan lambat melompat naik. Ketika kedua buah kakinya menginjak panggung, Lu Sian merasa tergetar kedua telapak kakinya, tanda bahwa yang datang ini memiliki lwee-kang yang cukup hebat. Ia menjadi tertarik, akan tetapi ketika mengangkat muka memandang, ia merasa kecewa. Laki-laki ini sikapnya gagah dan pakainnya sederhana, mukanya membayangkan kerendahan hati dan kejujuran, namun sama sekali tidak tampan, matanya lebar dan alisnya bersambung hidungnya pesek!
"Saya yang bodoh Lie Kung dari pegunungan Tai-liang. Sebetulnya saya tidak ada harga untuk memasuki sayembara, akan tetapi karena sudah sampai disini dan saya amat tertarik dan kagum menyaksikan kehebatan ilmu silat Nona, perkenankanlah saya memperlihatkan kebodohan sendiri."
Kata-katanya merendah akan tetapi jujur dan sederhana. Lu Sian tersenyum mengejek.
"Siapa pun juga boleh saja mencoba kepandaian karena memang saat ini merupakan kesempatan. Nah, silakan saudara Lie maju!"
"Nona menjadi nona rumah dan seorang wanita, saya merasa sungkan untuk membuka serangan."