Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 14

Memuat...

"Marilah, siauw-ko (kakak kecil), kita main-main sebentar!" kata Ouwyang Sin dengan nada. mengejek, lalu memasang kuda-kuda dengan gagah, kedua kakinya terpentang lebar seperti menunggang kuda, kedua tangan di pinggang terkepal dan dia menoleh ke arah Heng San yang berdiri di sebelah kanannya. Heng San menghadapinya. Sikapnya tenang dan berhati-hati karena dia belum tahu sampai di mana kelihaian lawan ini. "Mulailah, Ouwyang toako (kakak Ouwyang). Bukankah engkau yang hendak mengujiku?"

"Baik, lihat seranganku!" Ouwyang Sin tidak sungkan-sungkan lagi, segera dia membalik ke kanan, lalu menggunakan kepalan kanan untuk memukul ke arah Heng San dan segera disusul tendangan kaki kirinya. Biarpun kaki dan tangannya pendek, namun serangan ini cukup cepat dan bertenaga. Namun, Heng San melihat bahwa gerakan lawan ini agak lamban sehingga dengan tenang dan mudah saja dia mengelak dan langsung balas menyerang. Si Golok Emas terkejut bukan main melihat gerakan aneh dari pemuda itu. Dalam keadaan terserang, pemuda itu mengelak dan balas menyerang. Alangkah cepatnya gerakan pemuda itu! Akan tetapi sebagai seorang jagoan) yang sudah banyak pengalaman bertanding, Ouwyang Sin juga mampu menangkis serangan balasan Heng San.

"Dukkk!" Untuk kedua kalinya Ouwyang Sin terkejut bukan main ketika merasa betapa lengannya tergetar dan nyeri ketika bertemu dengan lengan lawan. Kini Heng San sudah dapat mengukur tenaga dan kecepatan lawan, maka dia melompat ke belakang dan berkata dengan suara sungguh-sungguh, bukan dengan niat mengejek.

"Ouwyang-toako, tadi aku mendengar engkau berjuluk Kim-to atau Golok Emas. Maka karena aku mendapat kesempatan, penuhilah keinginanku mtuk melihat kehebatan golok emasmu itu."

Ouwyang Sin memandang dengan muka merah. ''Lauw-siauwte (adik Lauw)," katanya menyebut adik dan tidak ngejek lagi walaupun hatinya panas. Apakah engkau tahu bahwa permainan ini hanya untuk menguji kepandaianmu saja? kita bukan sedang pi-bu (mengadu ilmu) atau berkelahi. Golok tidak ada matanya, kawan, sekali salah bacok bisa mendatangkan luka berat atau maut!"

"Aku tahu dan aku mengerti, Ouw-toako. Tapi maksudku juga bukan untuk mencari keributan. Aku hanya ingin melihat permainan golokmu yang tersohor itu, juga agar lebih indah dipandang untuk menghormati tuan rumah. tetapi kalau engkau keberatan, baiklah kita teruskan pertandingan adu kepalan dan tendangan ini."

"'Lihat serangan!" Ouwyang Sin yang penasaran itu menyerang lagi, kini mempergunakan jurus yang paling diandalkan dan menyerang dengan bertubi. Akan tetapi dalam dua gebrakan saja, ketika kakinya menendang, kaki itu dapat ditangkap Heng San dan tahu- tahu tubuhnya sudah melayang ke atas! Untung sekali baginya bahwa Heng San segera menangkapnya kembali sehingga Ouwyang Sin tidak sampai terbanting ke atas lantai yang keras.

Liok-tikoan bertepuk tangan dengan girang. "Apa kata saya tadi, ciangkun? Dia benar- benar Si Kepalan Sakti Tanpa Tanding!"

Thio-ciangkun juga memandang heran. Dia tidak menyangka pemuda itu dapat menjatuhkan Ouwyang Sin hanya dalam dua gebrakan saja! Si Golok Emas merasa malu sekali. Dia menjura kepada Heng San sambi! berkata, "Sungguh engkau lihai sekali. Apakah sekarang engkau masih ingin melihat permainan golokku? Aku memang tidak biasa bersilat dengan tangan kosong."

Ouwyang Sin menunjuk dengan jari tangan kirinya ke arah buntalan pakaian Heng San. "Akan tetapi aku melihat sebatang pedang di buntalanmu."

"Oh, itu bukan pedangku, melainkan pedang seorang maling yang kurampas di Leng- koan. Aku tidak bisa menggunakannya." Ouwyang Sin menurunkan lagi goloknya dan berkata dengan muka cemberut, "Kukira pertandingan ini tak dapat diteruskan. Apa kaukira aku ini seorang pengecut yang hendak menandingi seorang lawan bertangan kosong dengan menggunakan golok emasku?"

"Lauw-sicu, keluarkanlah senjatamu!"

Thio-ciangkiun juga ikut membujuk. Akan tetapi Heng San menjawab dengan suara sungguh-sungguh. "Maaf, ciangkun. Saya berkata sebenarnya bahwa semenjak kecil saya tidak pernah bermain dengan senjata tajam. Saya hanya mengandalkan kedua tangan dan kaki ini saja."

"Benar-benar Sin-kun Bu-tek, Kepalan Sakti Tanpa Tanding!" kata Liok-tikoan dengan kagum. Thio-ciangkun juga merasa heran dan kagum.

"Kalau begitu, Ouwyang-sicu, pergunakan golokmu, jangan ragu-ragu lagi. Aku ingin melihat kelihaian tangan kosong dan kakinya." kata perwira itu yang juga merupakan seorang ahli silat yang tangguh.

Mendengar anjuran dan perkenan Thio-ciangkun yang juga didengar oleh semua rekannya, Ouwyang Sin tidak merasa ragu.dan rnalu lagi. Dia segera memutar goloknya dan berkata, "Maaf dan lihat serangan golok emasku!"

Ketika dia memainkan golok emasnya, tampak sinar emas bergulung-gulung dan menyambar-nyambar, menggulung tubuh Heng San dari semua penjuru.

Akan tetapi Heng San berseru, "Bagus!" dan tubuhnya berkelebat sedemikian cepatnya laksana telah berubah menjadi bayang-bayang. Dia berhasil keluar dari gulungan sinar golok dan tampak bayangan itu berkelebat luar biasa gesitnya. Ouwyang Sin mengerahkan seluruh tenaga dan menggunakan semua jurus maut golok emasnya, akan tetapi dia mengalami hal yang aneh dan payah juga harus mengejar ke manapun bayangan itu berkelebat. Setiap kali diserang, bayangan itu lenyap dan tahu-tahu angin pukulan menyambar dari belakang, dari depan, dari atas, dan dari kanan kiri. Dia merasa heran, kagum, akan tetapi juga penasaran. Selama bertahun-tahun merajalela di dunia kang-ouw dengan goloknya, belum pernah dia bertemu tanding yang demikian gesitnya. Dia mempercepat gerakan goloknya. Namun, bagaikan mempermainkannya, gerakan Heng San ternyata lebih cepat lagi sehingga akhirnya serangan Ouwyang Sin hanya merupakan bacokan-bacokan ngawur saja karena bayangan itu seolah berada di mana- mana dan berubah banyak!

Thio-ciangkun dan Liok-tikoan merasa kagum sekali dan tak terasa lagi mereka berdua bertepuk tangan memuji. Belum habis tepukan tangan mereka, tiba-tiba terdengar keluhan Ouwyang Sin dan golok itu tahu-tahu telah terlempar ke udara. Agaknya golok itu akan menancap di langit-langit, akan tetapi tiba-tiba berkelebat bayangan yang cepat sekali gerakan melayang ke atas dan dapat menangkap golok itu sebelum menancap di langit- langit ruangan lian-bun-thia itu. Heng San melayang turun dan kakinya tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun ketika hinggap di atas lantai.

Heng San mengembalikan golok kepada Ouwyang Sin dan membungkuk. Tanpa mengandung ejekan, melainkan dengan suara sungguh-sungguh dia berkata, "Ouw yang- toako, terimalah kembali golokmu. harus kuakui bahwa permainan golokmu sangat hebat dan engkau pantas berjuluk Si Golok Emas!"

Ouwyang Sin menerima goloknya dan 'menghela napas pan jang. "Sudahlah, jelas engkau bukan tandinganku, Lauw-te (adik Lauw)."

Thio-ciangkun dan Liok-tikoan merasa kagum dan memuji Heng San. Bahkan para jagoan di situ juga merasa kagum sekali. Ban Hok si Kerbanu Belang yang menjadi jagoan nomor dua melihat betapa Ouwyang Sin dengan golok di tangan dipermainkan sedemikian oleh Heng San yang betangan kosong, merasa takluk dan maklum bahwa kepandaian silatnya yang hanya sedikit lebih tinggi daripada tingkat si golok emas, bukanlah lawan pemuda luar biasa itu. Maka diapun berkata terus terang kepada Thio-ciangkun.

"Ciangkun, terus terang saja saya mengaku bahwa tingkat kepandaian Sinkun Bu-tek Heng San benar-benar hebat dan masih jauh lebih tinggi dari pada kemampuan saya dan agaknya di antara kami para pembantu ciangkun tidak ada yang mampu mengalahkannya."

Thio-ciangkun mengangguk-angguk puas. Akan tetapi Ui-bin-houw Lui Tiong, Si Harimau Muka Kuning tidak senang mendengar ini. Dia menjura kepada Thiociangkun dan berkata, "Saudara Ban Hok sangat merendahkan diri sendiri. Biarpun kepandaian Sin-kun Bu-tek amat lihai, akan tetapi sebelum mencobanya sendiri, saya tentu menjadi penasaran juga. Bolehkah saya mengujinya, ciangkun?"

Thio-ciangkun tampak gembira sekali dan berkata kepada Heng San yang masih di tengah ruangan lian-bu-thia. ”Law-sicu, maukah engkau bermain sebentar dengan Lui-sicu?"

Heng San menjawab sambil memang ke arah Lui Tiong. "Tentu saja saya sedia melayani Lui-toako."

Lui Tiong segera menggerakkan tubuh dan tubuh itu melesat dengan cepat melayang ke tengah lian-bu-thia dan ia berhadapan dengan Heng San ini, Heng San maklum bahwa pertama yang menjadi jagoan Thio ini memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup hebat.

LuiTiong berkata kepada Heng San sambil menatap wajah yang tampan itu. ”Lauw-te sungguh mengagumkan. Masih begini muda sudah memiliki kepandaian silat yang sangat tinggi. Ilmu silatmu selain lihai juga aneh sekali gerakannya. Bolehkah aku mengetahui dulu nama suhumu yang mulia?"

Dengan suara sederhana Heng San jawab, "Suhuku berjuluk Pat-jiu Sin-kai”

Mendengar nama gurunya ini wajah Lui Tiong menjadi pucat dan tubuhnya agak gemetar. Dia mendengar pula seruan suara Thio-ciangkun.

"Apa? Si Pengemis Sakti Tangan Delapan?"

Heng San menoleh dan melihat betapa semua orang yang berada di situ, termasuk Thio- ciangkun dan para jagoannya, memandang kepadanya dengan mata terbelalak. Diam- diam dia merasa bangga sekali akan gurunya yang ternyata demikian terkenal dan besar wibawanya sehingga baru mendengar namanya sa ja membuat semua orang begitu terkejut!

Post a Comment