Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 13

Memuat...

"Memang senjata saya hanya sepasang tangan dan kaki ini, tai-jin. Pedang di punggung saya inipun bukan milik saya, melainkan milik seorang pencuri yang saya rampas di kota Leng-koan."

"Ahh! Jadi engkau sudah pula menangkap pelaku pencurian dan penyebaran penyakit yang kabarnya dilakukan roh jahat di kota Leng-koan itu, Lauw-taihiap?" tanya pembesar itu sambil membelalakkan mata penuh kagum.

”ia seorang pencuri biasa, bukan roh jahat, tai-jin." kata Heng San dengan singkat, bahkan dalam hatinya dia tidak menganggap pencuri itu orang jahat.

Pembesar gendut pendek itu mendekati Heng San dan menepuk-nepuk pundaknya dengan sikap akrab. "Lauw-taihiap, perkenalkanlah. Kami adalah seorang pembesar dari kota Keng-koan berpangkat ti-koan. Engkau masih muda dan gagah, marilah ikut kami ke Keng-koan, di mana engkau akan kami perkenalkan kepada Thio-ciangkun (Perwira Thio). Dia seorang pembesar miIiter yang berkuasa besar, cerdik pandai dan menjadi sahabat baikku. Thio-ciangkun adalah seorang pembesar militer yang menjadi tangan kanan kaisar yang bertugas membasmi gerombolan pemberontak yang berusaha untuk merobohkan pemerintah Ceng yang jaya."

Heng San merasa tertarik sekali. Ayah maupun gurunya tidak pernah bicara tentang pemerintah Kerajaan Ceng, maka dia tidak tahu akan politik kerajaan baru itu. Dia memang tidak memiliki pekerjaan dan kalau ada pekerjaan yang cocok dengan kepandaian silatnya, maka tentu saja dia suka.

"Jangan ragu, taihiap. Aku menjamin bahwa engkau tentu akan senang sekali berkenalan dengan orng-orang gagah yang menjadi para pembantu Thio-ciangkun yang pandai." bujuk pula pembesar gendut itu. "Aku bernama Liok Han Sai, dikenal sebagai Liok-tikoan yang selalu bertindak adil dan jujur."

"Akhirnya Heng San tidak menolak. ketika diajak ikut ke kota Keng-koan oleh Liok-taijin (pembesar Liok). Di sepanjang jalan, sambil duduk sekereta dengan pembesar itu dan kudanya dibawa perajurit pengawal, Heng San mendengarkan keterangan Liok-taijin tentang Thiociangkun yang dipuji-pujinya. Thio-ciangkun (Perwira Thio) itu bernama Thio Ci Gan, seorang perwira bangsa Han juga yang namanya terkenal di kota raja. Dia adalah seorang kepercayaan kaisar dan sudah berjasa besar sekali ketika ikut menghancurkan barisan Gouw Sam Kui yang tadinya bersekutu dengan pasukan Mancu kemudian membalik dan melawan pasukan Mancu secara mati-matian. Ketika Kaisar Kang Hsi dari kerajaan Ceng (Mancu) mendengar dari para penyelidik bahwa di daerah Keng-koan terdapat banyak orang-orang Han yang bersikap memberontak, kaisar lalu memerintahkan Thio Cin Gan untuk pindah ke kota Keng-koan dan menjadi komandan pasukan keamanan di kota itu. Tugasnya adalah membasmi kaum patriot bangsa Han yang menentang penjajahan Mancu. Di kota Keng-koan ini Thio Cin Gan yang cerdik membujuk para orang gagah dengan sogokan harta benda dan janji-janji muluk dan berhasil membentuk pasukan istimewa terdiri dari ahli-ahli silat yang dapat terbujuk.

Ketika Liok-taijin membawa Heng San menghadap Thio-ciangkun, pembesar militer itu sedang duduk minum bersama beberapa orang gagah yang menjadi pembantunya. Segera Liok-taijin disambut ramah dan dipersilakan duduk semeja, ikut menikmati minum arak dan makanan ringan.

Liok-taijin segera memperkenalkan Heng San Kepada perwira tinggi itu. "Thio-ciangkun, ini adalah seorang kawan baru yang berjuluk Sin-kun Bu-tek dan bernama Lauw Heng San. Kawan yang gagah perkasa ini telah menolongku dari serangan dan kepungan belasan orang pengacau. Dia merobohkan belasan orang itu hanya dengan tangan kosong saja."

Mendengar laporan ini, Thio-ciangkun menunda cawan araknya dan memandang Heng San dengan sinar mata tajam pemih selidik. Juga para jagoan yang tadinya memandang acuh tak acuh kepada Heng San, kini menatapnya penuh perhatian.

Thio-ciangkun berkata dengan ramah sambil mengangkat kedua tangan ke depan dada. "Selamat datang, Lauwsku (orang gagah Lauw), kami merasa mendapat kehormatan besar menerima kunjungan seorang gagah perkasa seperti engkau."

Heng San berdiri dan menjura dengan hormat. "Terima kasih, ciang-kun. Yang menerima kehormatan adalah saya. Adapun mengenai pujian Liok-taijin terhadap saya, semua itu hanya main-main saja."

''Ha-ha Lauw-taihiap terlalu merendahkan diri" Liok-taijin mencela. "Lauw-taihiap dapat diumpamakan sebatang pedang pusaka masih terbungkus dalam sarungnya, belum terhunus sehingga tidak tampak ketajamannyal"

Mendengar ucapan itu, Thio-ciangkun tampak gembira. Dia lalu memperkenalkan para pembantunya yang gagah perkasa kepada Heng San. Di antara mereka, yang sudah amat terkenal namanya di dunia kang-ouw dan dalam perantauannya selama enam bulan itu Heng San pernah mendengar ketenaran nama mereka, adalah tiga orang, maka ketika diperkenalkan, dia memperhatikan mereka. Yang pertama adalah seorang tinggi kurus berusia sekitar empat puluh lima tahun dan mukanya berwama kuning, diperkenalkan sebagai Lui Tiong berjuluk Ui-bin-houw (Harimau Muka Kuning) yang memiliki sebatang pedang di punggungnya. Orang kedua bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat berusia sekitar empat puluh tahun, bernama Ban Kok dengan julukan Hoagu-ji (Si Kerbau Belang) dan bertenaga besar. Adapun orang ketiga yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun, bermuka tampan namun tubuhnya kate (pendek) bernama Ouwyang Sin dan orang itu memiliki sebatang golok emas yang tergantung di punggungnya. Setiap menerima pembantu, Thio-ciangkun selalu menguji kepandaian mereka untuk menentukan tingkat mereka, maka setelah diuji ditetapkan bahwa menurut ukuran kepandaian mereka, tingkat pertama adalah Ui-bin-houw, kedua adalah Hoa-gu-ji Ban Kok, dan ketiga adalah si kate Ouwyang Sin yang berjuluk Kim-to (Si Golok Emas).

Ketika diperkenalkan, tiga jagoan pembantu Thio-ciangkun ini memandang Heng San dengan sikap acuh tak acuh dan meremehkan karena mereka belum pernah mendengar pemuda yang berjuluk Sin-kun Bu-tek ini di dunia kang-ouw. Mereka menganggap pemuda itu sombong sekali, berani memakai julukan Sin-kun Bu-tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding). Seorang laki-laki yang masih begitu muda dapat mempunyai kepandaian setinggi apakah?

Hidangan-hidangan lezat dikeluarkan dan Heng San menikmati makanan enak-enak dan arak yang wangi. Karena keramahan tuan rumah, Heng San agak terlalu banyak minum arak sehingga sikapnya berubah gembira sekali dan bebas.

"Lauw-sicu," kata Thio-ciangkun sambi! tersenyum, "karena engkau seorang pengembara yang menurut katamu sendiri ingin meluaskan pengalaman, bagaimana kalau engkau bekerja dengan kami di sini?" "Bekerja sih mudah, Thio-ciangkun, akan tetapi saya harus mengetahui Iebih dulu macam apakah pekerjaan itu," jawab Heng San dengan Iancar

"Apa lagi?' Kita adalah golongan orang-orang gagah, golongan pendekar pembela keadilan. Pekerjaan kita adalah membasmi orang-orang jahat, pengacau-pengacau dan para perampok! Setujukah engkau?"

"Ha-ha-ha! Thio-ciangkun, tanpa dimintapun saya sudah bekerja seperti itu!"

Thio-ciangkun mengisi cawan Heng San yang sudah kosong sambi! tertawa. Engkau benar sekali, Sin-kun Bu-tek. Akan tetapi pekerjaan ini akan lebih sempurna dan teratur jika kita rencanakan bersama. Kalau engkau bekerja sendiri bagaimana kalau sampai engkau salah tindak? Tidak demikian halnya kalau engkau bekerja sama dengan kami. Kami mempunyai pasukan penyelidik yang dapat mengetahui orang macam apa yang harus kita basmi."

"Bagus! Saya terima usul ciangkun dengan hati dan tangan terbuka!" kata Heng San gembira.

"Nanti dulu, Thio-ciangkun," tiba-tiba Ui-bin-houw Lui Tiong berkata dengan nada mencela.

"Tidakkah itu terlalu sembrono? Kita belum mengetahui sampai di mana kesetiaan dan kepandaian Lauw-sicu ini. Apakah ciangkun hendak menyimpang dari kebiasaan?"

Thio-ciangkun memandang pembantu pertamanya itu dengan tersenyum. "Tentu saja kita harus mengujinya dulu. Eh, Lauw-sicu, bersediakah engkau untuk diuji?"

"Diuji?" tanya Heng San. "Diuji bagaimana maksud ciangkun?"

"Biasa saja. Diuji kepandaianmu, dicoba dan diukur sampai di mana tingkat kepandaianmu."

Heng San tersenyum. Dia sedang gembira oleh pengaruh arak, maka diapun ingin sekali memamerkan kepandaiannya. "Ah, boleh, boleh sekali, ciangkun. Siapa yang akan mengujiku? Apakah Lui-toako (kakak Lui) ini?" Dia menunjuk kepada Lui Tiong.

Tiba-tiba Si Golok Emas Ouwyang Sin yang pendek kate itu bangkit berdiri. ”Ciangkun, perkenankanlah saya mencobanya lebih dulu."

Dengari wajah gembira Thio-ciangkun mengangkat tangan tanda setuju lalu bangkit berdiri. "Mari kita semua pindah ke lian-bu-thia! Mereka semua lalu mengiringkan perwira itu menuju ke lianbu-thia (ruangan berlatih silat yang berada di belakang gedung. Ruangan ini luas sekali dan di sudut ruangan terdapat sebuah rak yang penuh dengan delapan belas rnacam senjata untuk bermain silat. Thio - ciangkun mempersilakan Liok-taijin untuk duduk di atas bangku yang berjajar dekat dinding. Tujuh orang jagoan lain yang tingkatnya rendahan juga duduk di deretan bangku belakang. Thio-ciangkun sendiri duduk di sebelah Liok-taijin menonton dengan wajah berseri, sedangkan dua orang jagoan pertama dan kedua duduk di sebelah kirinya.

Dengan senyum simpul Ouwyang Sin membuka jubah luarnya, hanya mengenakan baju dalam yang ringkas, rambutnya yang tipis dikucir kecil bergantung di tengkuknya, lalu dengan lagak memandang rendah dia melambaikan tangan kepada Heng San yang sudah berdiri di depannya. Pemuda ini juga menanggalkan buntalan pakaiannya, diletakkan di. sudut dan kuncirnya yang hitam panjang seperti seekor ular membelit lehernya.

Post a Comment