Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 12

Memuat...

"Nah, itu dial Aku sudah curiga bahwa dia bukan orang baik-baik. Pantas dia berani bermalam di kamar ini. Ternyata dialah hantu dan roh jahat Itu. Serbu! Tangkap!!" Yang berteriak itu adalah pelayan rumah penginapan yang ramah itu.

Heng San menjadi marah. Akan tetapi dia dapat menduga bahwa hal ini merupakan kesalahpahaman dari pelayan itu yang mencurigainya. Tentu pelayan itu tadi telah membuka pintu kamarnya dan melihat dia tidak ada, lalu timbul kecurigaannya dan mendatangkan jagoan-jagoan untuk menangkapnya yang dikira pengganggu keamanan kota itu.

Dia hendak berlari pergi, akan tetapi dia teringat akan buntalan pakaiannya yang masih berada di dalam kamar. Ketika lima orang bergolok itu mengepungnya, Heng San cepat melompat ke atas, berpok-sai (bersalto) di udara dan tubuhnya masuk lagi ke dalam kamarnya. Cepat dia mengambil buntalan pakaiannya, digendong di punggung bersama pedang yang. dirampasnya dari gadis bernama Ma Hong Lian itu, kemudian ia melompat ke luar lagi. Lima batang golok menyambutnya. Akan tetapi Heng San mempergunakan kepandaiannya. Kedua tangannya bergerak, diikuti kedua kakinya dan terdengar suara berkerontangan ketika lima batang golok itu terlepas dari pegangan para pengeroyoknya, terlempar dan lima orang itu mundur dengan terkejut. Heng San menggunakan kesempatan itu untuk melompat jauh dan menghilang dalam kegelapan malam. Dia terus berlari meninggalkan kota Leng koan, akan tetapi ketika tiba di atas wuwungan toko obat di mana tadi Ma Hong Lian beraksi, dia teringat bahwa dia masih membawa setengah kantung terisi uang emas dan perak milik toko obat itu! Dia berhenti dengan ragu. Akan dikembalikankah uang pemilik toko obat itu? Tiba-tiba dia mendengar isak tangis yang datangnya dari rumah kampung di belakang toko obat. Di belakang toko-toko yang berjajar di sepanjang tepi jalan raya terdapat perkampungan rumah-rumah kumuh. Dia lalu berlompatan ke atas genteng rumah dari mana datangnya isak tangis wanita itu. Dia mengintai dari atas genteng.

Sebuah ruangan rumah yang kumuh dan kotor. Seorang wanita duduk di tepi dipan bambu menunggui seorang anak berusia lima tahun yang tampaknya sedang menderita sakit. Anak. itu menggigl1 kedinginan walaupun sudah ditimbuni kain-kain butut yang banyak. Jelas dia menderita demam. Seorang laki-Iaki setengah tua duduk di kursi butut dan tampak sedih sekali.

"Sudahlah, jangan menangis. Anak kita tidak akan sembuh oleh tangismu." kata laki-Iaki itu sambil menghela napas panjang.

"Keterlaluan sekali juragan toko obat itu. Kenapa dia tidak mau menolong anak kita? Pada hal, sudah bertahun-tahun aku bekerja mencucikan pakaian keluarga mereka." tangis wanita kurus itu.

"Orang-orang kaya itu, mana ada yang baik hati? Semakin kaya, mereka itu menjadi semakin kikir. Permintaan tolong kita dianggap sebagai pengganggu kesenangan mereka saja. Uhhh !" Tertegun Heng San melihat dan mendengar semua itu. Kini mengertilah dia apa yang telah diperbuat gadis bernama Ma Hong Lian itu. Gadis itulah yang mengambil uang para hartawan kikir dan dia pula yang membagi-bagikan uang kepada para fakir miskin. Ah, dan dia telah mengganggu pekerjaan gadis itu!

Terdorong oleh perasaan kagum terhadap nona itu, dia lalu mengambil beberapa potong uang perak dan dijatuhkan ke bawah dari celah-celah genteng. Beberapa potong uang itu jatuh ke atas meja di depan laki-laki itu, berbunyi nyaring. Laki-laki dan isterinya itu terkejut, terbelalak melihat empat potong uang perak di atas meja. Mereka sudah men- dengar ten tang adanya "dewa" yang memberi pertolongan kepada orang-orang miskin. Segera mereka berlutut dan menghaturkan terima kasih. Akan tetapi Heng San sudah melayang pergi tanpa menimbulkan suara. Dia membagi-bagikan sebagian isi kantung ke rumah-rumah kumuhdan miskin. Kemudian baru dia meninggalkan kota Leng-koan. Masih ada uang emas seperempat kantung. Kini dia tidak malu menganggap uang itu sebagai miliknya sendiri. Dia memang membutuhkan uang untuk biaya hidup.

Setelah berlari keluar kota Lengkoan beberapa lamanya, dia melihat sebuah kuil tua yang sudah tidak dipergunakan di tepi jalan. Kuil kosong itu tampak angker dan menakutkan, akan tetapi Heng San yang merasa lelah dan mengantuk, segera masuk ke dalam kuil, menemukan bagian yang agak bersih dan tidur di situ sampai pagi.

Pada keesokan harinya setelah matahari terbit, Heng San melanjutkan perjalanannya. Ketika melewati sebuah dusun, dia berhasil membeli seekor kuda yang kuat dan dia melanjutkan perjalanannya dengan menunggang kuda. Selama dua hari dia melakukan perjalanan naik turun bukit dan masuk keluar hutan. Dia menikmati keindahan pemandangan alam di sepanjang perjalanan. Kini dia selalu membawa bekal makanan roti dan daging kering, dan sebuah guci yang diisi air minum. Tidurnya di mana saja. Kalau perlu, karena tidak menemukan kota atau dusun dan kemalaman di jalan, dia tidur di kui! tua, di gubuk sawah ladang, atau di atas pohon!

Pada hari ke tiga, sejak pagi hari yang cerah itu Heng San menjalankan kudanya dengan santai memasuki sebuah hutan besar di kaki sebuah bukit. Hari itu cerah sekali. Sinar matahari pagi yang menerobos di celah-celah daun pohon mendatangkan kehidupan dalam hutan. Heng San menikmati perjalanan dalam hutan ini. Dia mendengarkan kicau burung-burung di dalam pohon dan terkadang melihat tupai berlompatan saling kejar memanjat pohon dengan gesitnya, atau melihat kelinci menyusup-nyusup di antara semak-semak. Ada pula dilihatnya sekumpulan kijang berlari cepat mendengar suara kaki kudanya. Heng San melihat dan mendengar itu semua dengan gembira. Dia tidak tahu ke mana arah kudanya berjalan dan dia juga tidak peduli. Ke manapun sama saja baginya, asal jangan kembali ke tempat yang sudah dilaluinya.

”Tolong....! Tolonggg !"

Heng San terkejut. Suara minta tolong itu keluar dari dalam hutan. Cepat dia membedal kudanya yang melompat dari berlari congklang ke depan, ke arah dari mana datangnya suara minta tolong.

Setelah tiba di tengah hutan, di tempat terbuka, dia melihat betapa belasan orang berpakaian sebagai perajurit sedang bertempur melawan dua puluh lebih orang-orang yang berpakaian biasa. Banyak orang berpakaian perajurit sudah menggeletak dan orang yang berteriak-teriak minta tolong adalah seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh gemuk pendek. Dia memegang sebuah perisai di tangan kiri dan sebatang golok di tangan kanan dan dengan dua macam senjata ini dia membela diri dan menangkis serangan-serangan yang dilakukan seorang anggauta gerombolan yang menyerang para perajurit pengawal itu. Orang gemuk pendek ini melihat pakaiannya tentulah seorang pembesar. Heng San melompat turun dari kudanya dan langsung saja dia membantu pembesar itu. Sekali saja kakinya mencuat, penyerang pembesar itu terkena tendangannya dan terlempar jauh lalu jatuh terbanting, tidak mampu bangkit lagi. Heng San lalu menyerbu dan membantu para perajurit yang terdesak hebat. Begitu kaki tangannya bergerak, para anggauta gerombolan itu kocar-kacir, berpelantingan roboh.

Heng San merasa kagum dan juga bangga atas kemampuannya sendiri. Gerombolan yang bersenjata tajam dan rata-rata memiliki ilmu silat yang membuat para perajurit pengawal kewalahan itu, dengan mudah saja dia robohkan dengan tamparan dan tendangannyal Kepala gerombolan yang bercambang bauk dan bersenjata pedang, tubuh- nya tinggi besar dan kokoh melawan mati-matian ketika tiba gilirannya berhadapan dengan Heng San. Akan tetapi diapun hanya dapat bertahan selama belasan jurus saja. Akhirnya dia terkena tendangan Heng San dan roboh muntah darah.

"Anjing pemerintahl" kepala gerombolan itu memaki sambil menudingkan telunjuknya ke arah muka Heng San. "Siapakah engkau yang membela seorang pembesar anjing pengkhianat penindas rakyat?"

Sebelum Heng San menjawab, seorang perajurit meluncurkan anak panah. "Serrr....

cappp!" Anak panah itu menancap di leher kepala gerombolan yang seger a roboh dan tewas seketika.

Heng San terkejut dan dia tidak mengerti akan maksud kata-kata kepala gerombolan tadi. Sementara itu, pembesar yang tadi ditolongnya sudah membuang perisai dan goloknya, lalu menghampiri Heng San dengan wajah berseri.

"Hebat, hebat sekali Engkau sungguh seorang gagah perkasa, tai-hiap (pendekar besar) Kalau tidak ada tai-hiap yang datang menolong, tentu nyawa kami akan melayang semua. Ahh, sungguh keadaan tidak aman sekarang, di mana-mana terdapat perampok dan gerombolan yang jahat dan kejam. Mereka meminta barang barang kami dan sudah kami berikan, akan tetapi mereka masih menghendaki nyawa kami. Tentu saja kami melawan. Terima kasih, tai-hiap. Bolehkah kami mengetahui namamu yang terhormat?"

Heng San merasa rikuh juga melihat sikap pembesar yang demikian hormat kepadanya. Dia cepat membalas penghormatan itu dan berkata dengan sikap merendah. "Siauw-te (adik muda) bernama Lauw Heng San. Kebetulan saja siauwte lewat dan melihat pertempuran sehing ga dapat membantu tai-jin (pembesar) membasmi gerombolan perampok itu."

"Engkau sungguh seorang yang gagah perkasa, seorang pendekar besar yang mengagumkan. Siapakah julukanmu, Lauw taihiap (pendekar Lauw)?"

Heng San tersenyum. "Ah, tai-jin, orang seperti saya ini mana mempunyai julukan segala?"

Pembesar itu memperlihatkan wajah heran. "Sungguh tidak adil! Kami telah bertemu banyak orang gagah yang tingkat kepandaiannya jauh di bawah tingkat kepandaianmu, tapi mereka itu sudah mempunyai nama julukan yang hebat-hebat! Apa lagi yang berkepandaian selihai engkau ini, yang dengan tangan kosong saja dapat merobohkan belasan orang perampok yang bersenjata tajam dengan sekejap mata saja! Ah, Lauw- taihiap, percayalah, selama hidup belum pernah aku bertemu dengan pendekar sehebat engkau dan belum pernah menyaksikan kepandaian silat sedemikian tinggi. Engkau benar-benar seorang Sin Kun Bu Tek (Kepalan Sakti Tanpa Tanding)!"

Heng San merasa bangga sekali dan dia mengganggap pembesar itu sangat ramah dan baik. Dari logat bicaranya dia tahu bahwa pembesar itu seorang bangsa aseli, yaitu bangsa Han seperti dia sendiri. Memang tidak sedikit bangsa Han yang diangkat menjadi pembesar sipil oleh pemerintah Ceng, yaitu pemerintah Bangsa Mancu. "Terima kasih, tai-jin." kata Heng San sambil menjura, memberi hormat. "Saya tidak merasa pantas mempunyai julukan sehebat itu, akan tetapi kalau tai-jin berkenan memberikan julukan itu kepada saya, sayapun tidak berani menolaknya."

Pembesar itu bertepuk tangan. "Bagus, bagus! Memang engkau tepat sekali dengan julukan Sin-kun Bu-tek, karena sebagai seorang pendekar gagah, tidak kami lihat engkau tadi menggunakan senjata ketika melawan mereka."

Post a Comment