Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 11

Memuat...

Heng San tersenyum geli. "Terima kasih, paman." Dia memasuki kamarnya dan hanya menutup daun pintu, Lalu duduk termenung melanjutkan renungannya tentang keadaan dirinya, tidak lagi memikirkan setan atau roh jahat. Dia membayangkan dirinya yang benar-benar telah kehabisan uang dan apa selanjutnya yang akan dilakukannya. Teringatlah dia akan kata-kata gurunya sebelum dia meninggalkan rumah. Gurunya pernah mengatakan bahwa kalau dia menuruti kemauan ayahnya, menjadi ahli pengobat- an, membuka toko obat, tentu dia tidak akan pernah kekurangan uang. Uang! Dari mana akan didapatnya? Tiba-tiba saja dia teringat akan cerita pelayan penginapan itu. Orang- orang miskin tiba-tiba menjadi kaya raya tanpa bekerja! Ah, pikirannya lalu menghubungkan dengan lenyapnya uang emas dan perak dari rumah-rumah orang kaya yang tiba-tiba menjadi kaku dan gagu. Karena perbuatan setan? Roh jahat? Sudah pasti bukan! Itu tentu perbuatan manusia juga! Dia teringat. Gurunya pernah bercerita bahwa di dunia kang-ouw terdapat orang-orang yang menamakan diri mereka maling-maling budiman, yaitu mereka yang menggunakan kepandaiannya untuk mencuri uang dari rumah orang-orang kaya dan hasil curiannya itu sebagian diberikan kepada orang-orang miskin! Roh jahat yang mengganggu kota Leng-koan itu pastilah sebangsa maling budiman itu! Dan kalau pengganggu keamanan itu seorang maling, berarti seorang manusia, dia tidak boleh tinggal diam. Dia mungkin dapat menangkapnya untuk menghindarkan penduduk kota ini dari gangguannya.

Setelah berpikir demikian, Heng San lalu merapikan bajunya dan membuka daun jendela kamarnya yang menembus ke pekarangan samping lalu melompat keluar dari dari jendela, menutupkan lagi daun jendelanya dan cepat dia melompat ke atas genteng, lalu melakukan perjalanan melalui wuwungan rumah-rumah besa. Ketika tiba di tiba di sebuah wuwungan yang tinggi, dia teringat bahwa wuwungan itu adalah wuwungan rumah merangkap toko obat yang pemiliknya melakukan penghinaan terhadap dirinya siang tadi.

Tiba-tiba dia menyelinap dan bersembunyi di balik tembok penutup wuwungan dan mengintai. Sinar bulan tua cukup memberi penerangan remang-remang. Tadi dia melihat bayangan berkelebat di a tas rumah depan. Cepat dia bersembunyi dan mengintai. Jantungnya berdebar melihat sosok bayangan itu juga melompat ke wuwungan rumah obat.. Gerakannya gesit bukan main dan kedua kakinya tidak menimbulkan suara sedikitpun ketika kedua kakinya menginjak genting. Seorang yang memiliki gin-kang (ilmu meringankan tubuh) yang cukup tinggi. Sejenak bayangan itu celingukan, memandang ke kanan kiri, kemudian tubuhnya melayang ke bawah.

Heng San cepat keluar dari balik wuwungan dan dengan gerakan yang disebut Lo-wan- teng-ki (Monyet Tua Meloncati Cabang) dia melompat turun, berjungkir balik dan kedua kakinya telah mengait sebatang balok yang melintang. Dari tempat gelap ini dia dapat memandang ke sekeliling rumah itu di bawah. Dia melihat bayangan itu menghampiri sebuah jendela, meraba-raba jendela dan sebentar saja jendela telah terbuka tanpa mengeluarkan suara. Bayangan itu lalu melompat ke dalam kamar melalui jendela yang terbuka.

Heng San cepat melayang turun dan mengintai dari balik jendela yang terbuka. Biarpuan dia merasa tidak suka kepada pemilik toko obat yang sombong itu, namun dia tetap saja hendak mencegah kalau pencuri itu hendak mengganggu atau membunuhnya.

Heng San melihat bayangan itu menyingkap kelambu dan dalam keremangan dia melihat seorang laki-laki yang bukan lain adalah pemilik rumah obat itu rebah di samping seorang wanita yang mungkin isterinya. Heng San sudah siap dengan sebuah batu kecil yang tadi diambilnya ketika dia turun. Dia siap menyambitkan batu kalau maling itu hendak melakukan pembunuhan. Akan tetapi bayangan itu tidak mencabut pedang yang berada di punggungnya, melainkan menggerakkan jari tangannya menotok dua orang yang sedang tidur itu. Heng San maklum dari gerakan tangan itu bahwa yang ditotok adalah jalan darah yang membuat kedua orang lelaki dan perempuan itu tak mampu bergerak atau berteriak dan menjadi kaku dan gagu. Kemudian maling itu membongkar peti dan mengeluarkan sebuah kantong yang. nampaknya berat. Ketika tali kantung dibuka, di. bawah sinar lampu gantung tampak bahwa isinya uang emas dan perak yang berkilauan.

Setelah mengikat lagi mulut kantung, bayangan itu lalu melompat keluar dari jendela dengan cepat. Heng San sudah siap dan telah mendahului melompat ke atas wuwungan. Hatinya merasa girang karena tanpa disangka-sangka dia telah menemukan orang yang selama ini mengganggu ketenteraman penduduk kota itu. Kiranya orang inilah yang disangka roh jahat, yang membuat orang-orang menderita penyakit aneh, tubuhnya kaku dan gagu! Dan orang ini pula yang dianggap roh jahat yang dipelihara orang yang mencari pesugihan.

Ketika bayangan itu melompat ke atas genteng, tiba-tiba dia merasa ada angin menyambar. Ia cepat mengelak, akan tetapi tahu-tahu kantung uang yang dipanggulnya telah tertarik dan pindah tangan! Ia mengeluarkan jerit lirih dan memandang ke depan.

Seorang pemuda dengan senyum mengejek berdiri di depannya dan kantung uang itu telah berada di tangan pemuda itu.

Di lain pihak Heng San menjadi terkejut dan heran. Bayangan itu ternyata adalah seorang pemuda yang bertubuh kecil ramping dan wajahnya tampan sekali. Ketika bayangan itu tadi menjerit lirih, keheranan Heng San bertambah karena dia tahu bahwa yang berdiri di depannya adalah seorang wanita muda yang menyamar sebagai laki-lakil

"Eh....oh...! Jadi... roh jahat itu engkaukah?" tanyanya dengan heran.

Gadis - cantik berpakaian pria itu menjadi merah mukanya dan cepat ia mencabut pedang panjang tipis yang terselip di sarung pedang yang diikat di punggungnya. Pedang itu beronce merah dan merupakan sebuah pedang yang indah, juga mengkilap saking tajamnya tertimpa- sinar bulan.

"Manusia liar dari mana berani menggangguku? bentaknya dengan suara merdu dan nyaring sehingga walaupun ketus dan marah namun terdengar sedap di telinga Heng San.

"Maaf, nona. Sungguh aku tidak mengira bahwa roh jahat yang mengganggu kota ini adalah seorang gadis."

"Jangan banyak cakap. Kembalikan kantungku!" bentak gadis itu.

Heng San mengulurkan tangan yang memegang kantung seolah hendak mengembalikan kantung itu, akan tetapi ketika tadi dia merampas kantung, dia menggunakan tenaga terlalu kuat sehingga tali pengikat mulut kantung menjadi putus. Ketika dia menjulurkan tangan, kantung itu terbuka mulutnya dan sebagian isinya berhamburan di atas genteng!

"Bangsat kurang ajar!" gadis itu membentak dan cepat sekali ia menggerakkan pedangnya menusuk ke arah dada Heng San.

"Eit! Aku tidak sengaja, nona:" Heng San berseru sambil cepat mengelak dari tusukan itu. Dia menutup kantung itu dan untuk mencegah isinya berhamburan keluar, dia menyelipkannya di ikat pinggangnya. Pada saat itu, lawannya sudah menggerakkan lagi pedangnya, membacok ke arah lehernya. Namun dengan luar biasa cepat dan gesitnya, Heng San sudah mengelak lagi. Sejak berguru kepada Pat-jiu Sin-kai dan digembleng ilmu silat tangan kosong yang banyak macamnya dan ada di antaranya yang merupakan ilmu silat tangan kosong yang khusus untuk melawan musuh yang menggunakan pedang. Maka, biarpun gadis itu menyerangnya terus secara bertubi-tubi, dengan mudah Heng San dapat menghindarkan semua serangan itu dengan elakan maupun tangkisan tangannya dari samping.

Dari serangan-serangan itu Heng San mengetahui bahwa gadis itu memiliki ilmu silat yang cukup lihai. Dia merasa kagum dan ingin sekali berkenalan karena dia menduga bahwa gadis ini adalah sebangsa gi-to (maling budiman). Akan tetapi setelah serangan bertubi- tubi itu selalu dapat dia hindarkan, hal ini tentu membuat gadis itu merasa dipermainkan dan menjadi marah sekali.

"Nona, tahan dulu, mari kita bicaraI" Heng San melompat ke samping sambil mengangkat kedua tangannya. Akan tetapi gadis itu yang menjadi gemas dan mendongkol karena semua serangannya luput atau tertangkis tangan yang berani bertemu pedangnya itu, tidak menjawab melainkan terus mengejar dan mengirim serangan-serangan maut!

Heng San men jadi bingung. Tiba-tiba dia mendapat akal. Dia sengaja memperlambat gerakannya sehingga ujung pedang gadis itu dapat menusuk ujung bajunya sehingga robek. Heng San sengaja berseru kaget dan ketakutan, lalu melompat ke samping sambi! berkata gugup.

"Nona...., nona yang baik.... sebelum kau bunuh aku, beritahu lebih dulu namamu, agar aku dapat mati dengan mata terpejam dan tidak menjadi setan penasaran "

Benar-benar gadis itu menahan pedangnya. Ia adalah seorang pendekar wanita yang tidak mau membunuh secara menggelap tanpa berani mengakui namanya.

"Dengar kau, bangsat kecil! Namaku adalah Ma Hong Lian, pendekar wanita dari Tit-le! Nah, sekarang terimalah kematianmu dengan mata terpejam!" Tanpa menanti jawaban ia Ialu menyerang kembali dengan gerakan Pek-hong-koan-jit (Pelangi Putih Penutup Matahari).

"Aihh....!" Heng San pura-pura terkejut dan bergerak cepat mengelak. Hatinya girang karena akalnya telah berhasil, dia telah mengetahui nama gadis jelita itu.

"Aih, Tit-le Lihiap (Pendekar Wanita dari Tit-le)! Kenapa engkau bernapsu besar untuk membunuhku? Engkau tidak takut nanti setanku seialu mengejarmu untuk menuntut balas?"

"Kamu laki-laki kurang ajar! Tunggu nonamu mengambil kepalamu!" Pedang itu berkelebat lagi menyambar ke arah leher.

"Haaitt ! Luput lagi, nona. Suka betulkah engkau pada kepalaku, nona Hong Lian?" Heng

San menggoda sehingga kemarahan gadis itu semakin memuncak. Ia merasa bahwa ia pasti akan dapat membunuh laki-Iaki kurang ajar ini karena bukankah tadi hampir saja pe- dangnya menembus tubuh pemuda itu dan merobek ujung bajunya?

Tiba-tiba nona itu terkejut bukan main. Kini gerakan kaki tangan Heng San berubah. Tubuh pemuda itu kini bergerak cepat sekali, berloncatan ke kanan kiri dan tiba-tiba di belakangnya dan cepat sekali sudah berada di depannya lagi sehingga mata gadis itu berkunang dan kepalanya menjadi pusing. Kemudian, sebelum ia mengetahui bagaimana pemuda itu melakukannya, tahu-tahu pedangnya telah terampas!

Melihat gadis itu kini berdiri di depannya dengan muka pucat, Heng San menjadi tidak tega dan merasa iba. Dia mengambil kantung dengan tangan kiri, lalu mengulurkan kedua tangannya, yang kiri memegang kantung yang kanan memegang pedang, sambil berkata lembut, "Nona,. terimalah barang-barangmu. Aku Lauw Heng San bukanlah bangsat kecil seperti yang kaukira. Atau.... sebaiknya kita jangan bicara tentang roh jahat atau maling, karena hal itu bisa menyinggung perasaanmu juga." Dia tersenyum. Gadis itu menggigit bibir sendiri dan memandang dengan penuh kebencian, lalu dengan isak tertahan ia membalikkan tubuh dan melompat pergil Heng San hendak mengejar, akan tetapi dia berpendapat bahwa hal itu tentu akan memperbesar kesalahpahaman dan menambah kemarahan nona itu. Maka dia lalu melompat pergi kembali ke rumah penginapan.

Ketika Heng Sang melompat memasuki kamarnya melalui jendela, dia disambut serangan hebat yang tidak disangka-sangkanya semula. Tiga batang golok menyambarnya dari balik jendela! Heng San bergerak cepat, seperti seekor burung tubuhnya sudah melayang kembali keluar kamar melalui jendela. Lima orang berpakaian seperti jago-jago silat, masing-masing memegang sebatang golok besar juga berlompatan keluar jendela dan setelah tiba di luar segera mengepung Heng San dengan muka bengis mengancam.

Post a Comment