"Kalau perlu, siauw-ya boleh tidur di rumah saya, yaitu kalau siauw-ya sudi tidur di rumah gubuk yang bobrok."
Heng San memandang orang tua itu dengan senyum terima kasih dan girang. Kiranya tidak semua orang di kota ini berhati buruk, pikirnya. Pelayan miskin dan tua ini adalah seorang yang berhati baik dan bersih.
"Paman," katanya dengan suara lembut dan ramah. "Terima kasih atas kebaikanmu. Tidak, aku tidak takut. Biarlah aku mencoba pula bagaimana rasanya diganggu hantu."
Pelayan tua itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan memandang heran. "Siauwya aneh, sungguh aneh sekali " dan dia mulai membersihkan kamar itu seperti diminta Heng San, kemudian dia meninggalkan pemuda itu setelah memandangnya sekali lagi dengan heran dan menggeleng kepalanya.
Heng San duduk dalam kamar itu dan untuk beberapa lamanya dia memikirkan percakapan dengan pelayan tua itu. Benarkah ada hantu di kamar ini? Dia teringat akan cerita gurunya, Pat-jiu Sinkai tentang setan dan hantu. Menurut gurunya, apa yang disebut setan atau hantu itu memang ada. Akan tetapi setan yang menampakkan diri itu tidak berbahaya. Tidak ada setan yang menampakkan diri berani atau dapat mengganggu manusia. Yang amat jahat dan teramat berbahaya adalah setan yang mengganggu manusia melalui pikirannya. Setan atau nafsu manusia sendiri. Itu amat berbahaya. Kalau setan sudah menguasai hati akal pikiran manusia, maka si manusia itu akan diseret ke dalam lumpur kesesatan dan manusia itu akan dapat melakukan segala kejahatan yang keji dan jahat.
Tidak, dia tidak percaya ada hantu atau setan yang berada di kamar ini mengganggu setiap orang yang tidur di situ. Mungkin kakek pelayan tadi sudah tua dan pikun, atau mungkin dia seorang yang terlalu percaya akan tahyul. Sebentar saja Heng San dapat melupakan segala renungan tentang setan di kamar itu dan dia teringat lagi akan keadaan dirinya. Keadaan dirinya yang letih pantas dipikirkan daripada memikirkan soal setan. Dia sudah.kehabisan uang! Bagaimana dia harus mendapatkan uang? Dan baru sekarang dia melihat kenyataan bahwa orang hidup memang memerlukan uang! Agaknya tidak mung- kin hidup tanpa uang! Pakaian, makanan, bahkan tempat tinggal atau tempat tidur selalu membutuhkan uang! Teringatlah dia akan ucapan suhunya kalau bercerita tentang perantauan seseorang dalam dunia kang-ouw. Perantauan seperti itu tidaklah mudah.
Bukan menghadapi musuh para penjahat saja yang berbahaya. Melainkan yang lebih berbahaya lagi adalah kebutuhan akan uang. Seorang perantau akan menghadapi kesulitan besar kalau tidak pandai mencari uang untuk biaya hidupnya. Bahkan suhunya memberi contoh dirinya sendiri. Karena tidak pandai mencari uang, dan tidak sudi melakukan pencurian atau perampokan, suhunya rela menjadi seorang pengemis, minta- minta belas kasihan orang untuk sekedar memberi uang kecil pembeli makanan!
Tidur di mana saja, di emper rumah, kalau tidak diusir pemilik rumah, atau di bawah jembatan. Pakaian hanya yang menempel di badan karena tidak mampu membeli yang baru. Perut kadang kadang kelaparan karena berhari-hari tidak ada orang yang mau memberi sedekah. Hidup menjadi terlantar! Menjadi pengemis? Dia? Menjadi pencuri? Heng San menghela napas panjang. Tidak, dia tidak sudi melakukan itu. Baik menjadi pengemis tukang minta-minta, apa lagi menjadi pencuri atau perampok!
Tiba-tiba Heng San berdiri dari duduknya. Tidak mungkin! Dia mendengar langkah kaki perlahan-lahan menghampiri daun pintu kamarnya. Itukah setan yang datang hendak mengganggunya? Ah, tidak mungkin. itu suara jejak langkah seorang manusia biasa. Langkah itu berhenti di muka pintu kamarnya! Heng San memperhatikan penuh kewaspadaan, mengira bahwa setan itu akan masuk menembus pintu. Seperti bayangan, seperti yang pernah dia dengar dongeng-dongeng tentang setan yang dapat menembus apa saja.
"Tok-tok-tok!"
Pintu kamarnya diketok. Heng San bernapas lega. Jelas bukan setan. "Siapa di luar?" tanyanya sambi! duduk kembali.
"Saya, siauw-ya." Heng San tersenyum. Pelayan tua yang baik hati itu. "Masuklah, paman. Daun pintunya tidak terkunci" katanya.
Daun pintu didorong dari luar dan pelayan tua itu masuk. Dia memandang ke sekeliling kamar, mukanya agak pucat dan sikapnya seperti orang tegang, lalu dia menghela napas panjang, lega.
"Sukurlah, siauw-ya tidak apa-apa." Heng San tersenyum. "Terima kasih, paman. Aku tidak apa-apa. Tidak ada hantu di sini."
"Akan tetapi sekarang belum tengah malam, siauw-ya. Maukah engkau keluar dari kamar dan duduk di ruang tengah, bercakap-cakap dengan saya? Kebetulan saya bertugas jaga malam ini."
Sebetulnya dia tidak ingin mengobrol, akan tetapi Heng San tidak tega menolak melihat keramahan pelayan tua itu dan dia lalu keluar dan duduk di ruang tengah bersamanya.
Pelayan tua itu banyak bercerita dan Heng San mendengarkan dengan hati tertarik, terutama tentang perayaan gotong toapekong (patung yang dipuja dalam kelenteng) itu.
"Telah beberapa lamanya di kota ini terjangkit penyakit aneh dan pencurian-pencurian yang aneh pula. Orang-orang menganggap bahwa hal itu merupakan gangguan roh jahat, maka mereka lalu mengambil keputusan untuk menggotong patung Kwan-te-kong keluar dari kelentengnya dan diarak putar-putar kota untuk mengusir roh jahat yang mengganggu penduduk kota."
"Penyakit aneh yang bagaimanakah, paman?" tanya Heng San yang merasa heran mendengar bahwa kota ini agaknya kaya akan cerita tentang segala macam roh jahat dan hantu yang mengganggu manusia.
"Selama beberapa bulan ini, hampir setiap malam tentu ada rumah yang diganggu. Tahu- tahu sejumlah uang emas dan perak lenyap tanpa meninggalkan bekas. Tuan atau nyonya rumahnya tiba-tiba saja menderita penyakit kaku-kaku dan gagu untuk beberapa lamanya. Kalau mereka sudah dapat bicara dan ditanya, mereka tidak tahu apa-apa, hanya mengatakan bahwa pada waktu tengah malam mereka terbangun dari tidur dalam keadaan kaku tidak mampu bergerak dan tidak mampu bicara. Kalau bukan setan atau roh jahat yang melakukan hal itu, habis siapa lagi?"
Heng San menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Mana ada setan yang doyan uang perak dan. emas, paman?"
"Engkau tidak tahu, siauw-ya. Pernahkah engkau mendengar orang-orang yang kaya mendadak tanpa bekerja?"
"Kaya mendadak tanpa bekerja?"
"Ya, orang-orang yang tanpa bekerja sesuatu tiba-tiba saja menjadi kaya raya. Nah, mereka inilah merupakan orang-orang yang memelihara roh jahat. Dengan menjual rohnya kepada roh-roh jahat itu, mereka dapat memerintah roh jahat untuk mencuri uang."
"Menjual roh kepada setan? Bagaimana maksudnya, paman?" Heng San benarbenar tertarik karena selama hidupnya memang belum pernah dia mendengar akan hal aneh semacam itu.
"Begini, siauw-ya. Orang yang memelihara roh jahat itu telah berjanji bahwa kelak setelah dia mati diapun akan menjadi seperti roh-roh jahat itu. Menjadi setan pula. Tapi sebelum mati dia dapat hidup kaya raya tanpa bekerja."
Heng San menghela napas panjang. Dia tidak dapat percaya begitu saja akan obrolan macam itu. Akan tetapi untuk menyatakan ketidak-percayaannya dia merasa sungkan dan tidak tega. Pula, tidak akan mudah membantah orang-orang yang sudah terlalu percaya akan tahyul. Dia lalu menyatakan hendak tidur karena sudah mengantuk.
"Selamat tidur, siauw-ya. Jangan lupa, kalau ada apa-apa berteriaklah. Aku akan membantumu kalau hantu jahat itu mengganggumu karena engkau adalah orang yang baik."