"Kau.....kau harus bertanggung jawab atas semua ini" bentak Lauw Cin marah sambil melemparkan surat yang ditinggalkan Heng San kepadanya.
Dengan sikap tenang Pat-jiu Sin-kai menangkap surat itu. Dia tidak terkejut atau heran karena dia sudah menduga bahwa kedua orang tua muridnya itu tentu akan menyalahkannya dan dia sudah siap untuk menghadapi mereka. Diapun tahu bahwa saatnya untuk meninggalkan tempat itu sudah tiba. Setelah membaca surat itu, dia mengembalikannya kepada Lauw Cin, lalu memberi hormat dengan merangkap kedua tangan depan dada dan membungkuk, dan berkata.
"Baiklah, Lauw-inkong dan Lauw-toanio, kalau ji-wi (kalian berdua) menyalahkan aku karena kepergian Heng San, aku menerimanya. Aku hendak pergi mencarinya dan tidak akan kembali sebelum menemukannya. Harap ji-wi tidak terlalu khawatir tentang diri Heng San. Dia telah memiliki kegagahan dan kepandaian yang cukup kuat untuk menjaga diri. Aku orang tua yang tiada guna ini sudah cukup lama menjadi beban, sudah cukup lama menerima budi jiwi dan sampai matipun aku tidak akan lupa bahwa di dunia ini terdapat sepasang suami isteri yang budiman. Nah, selamat tinggal!" Setelah berkata demikian, kakek itu menggerakkan tubuhnya. Suami isteri itu hanya melihat sesosok bayangan berkelebat cepat keluar dari ruangan itu. Mereka berdua hanya menghela napas panjang dan pada hari-hari berikutnya Lauw Cin harus selalu menghibur isterinya dan mereka berdua hampir setiap malam menyalakan hio-swa (dupa biting) untuk bersembahyang dan mohon kepada Tuhan agar putera mereka dilindungi.
****
Heng San melakukan perjalanan dalam perantauannya, tanpa tujuan tertentu. Mula-mula, perjalanannya itu mendatangkan kegembiraan dalam hatinya. Apa saja yang dilihatnya dalam perjalanan itu merupakan pemandangan baru. Kalau dia melakukan perjalanan melalui pegunungan, dia melihat be tapa luasnya dunia ini dan betapa indahnya pemandangan alamo Kalau dia memasuki sebuah kota yang besar dan ramai, dia mendapat kenyataan betapa kota Lin-han-kwan sebetulnya hanya merupakan kota yang kedl. Dia merasa kagum dan gembira dan mulai dapat menikmati perantauannya.
Pada suatu hari dia memasuki kota Leng-koan. Kota ini merupakan kota terbesar yang pernah dilihatnya selama dalam perjalanannya. Dia berjalan-jalan di sepanjang jalan yang ramai. Ketika dia melihat sebuah toko obat yang besar dengan papan nama "Pao-an-tong" dia teringat akan ayah ibunya dan tiba-tiba saja dia merasa rindu sekali kepada mereka. Tak terasa dia sudah meninggalkan rumah selama hampir enam bulan atau setengah tahun. Teringat akan orang tuanya, maka terkenanglah dia akan kota Lin-han-kwan, membuat dia berdiri termenung sampai lama di depan toko obat itu. Seorang setengah tua keluar dari toko dan menghampirinya.
"Tuan hendak mencari obat apakah?" tanya orang itu.
Heng San terkejut mendengar pertanyaan ini dan dia segera sadar dari lamunannya. "Saya tidak mencari apa-apa," jawabnya sambi! menggeleng kepala nya.
Mendengar jawaban ini, tiba-tiba orang setengah tua itu mengubah sikapnya. Kalau tadi dia ramah dan sopan, kini dia cemberut, mukanya merah dan ucapannya kasar. "Kalau tidak mencari apa-apa, mengapa berdiri sejak tadi dan melihat-lihat seperti orang mencari- cari? Apa kau hendak mencuri?"
Merah muka Heng San mendengar ini. Darah naik ke kepalanya dan ingin dia memukul orang itu. Akan tetapi perasaan ini ditahannya. Dia tidak ingin membikin ribut. Orang itu demikian sombongnya dan hal ini sungguh di luar dugaannya. Disangkanya bahwa semua pemilik toko obat orangnya ramah dan lembut seperti ayahnya. Akan tetapi orang ini demikian kasar dan tidak sopan. Tanpa menengok lagi diapun meninggalkan orang itu de- ngan muka merah.
Heng San mengambil keputusan untuk bermalam di kota itu selama dua tiga hari untuk melihat-lihat kota yang ramai. Akan tetapi ketika dia mencari kamar di rurnah penginapan, ternyata semua rumah penginapan telah penuh. Hari itu kebetulan ada perayaan gotong toapekong di kota itu sehingga banyak pengunjung datang dari kota-kota lain untuk membayar kaul atau sekedar nonton keramaian. Akhirnya, setelah berputar-putar, dia mendapatkan juga sebuah kamar berukuran kecil di sebuah rumah penginapan sederhana.
Kembali dia menghadapi sikap yang membuatnya mendongkol. Pengurus rumah penginapan itu menyambutnya dengan pandang mata penuh selidik akan tetapi jelas yang diselidiki itu bukan dia, melainkan pakaiannya yang sederhana, dan tidak baru. Dia kehabisan bekal pakaian bersih, semua pakaiannya kotor dan dia belum sempat mencucinya, maka sejak kemarin dia belum berganti pakaian.
"Sewanya semalam sepuluh logam tembaga dan harus bayar di mukaI" katanya dengan nada memandang rendah dan penuh kecurigaan. Mukanya yang masih merah karena marah menghadapi sikap kurang ajar pemilik toko obat tadi menjadi semakin merah. Dia marah dan malu. Marah melihat sikap pengurus rumah penginapan dan malu karena sesungguhnya uangnya memang tinggal sedikit sekali, paling banyak tinggal dua tail dan beberapa potong logam tembaga. Ketika meninggalkan rumah, dia membawa lima puluh tail akan tetapi uang itu habis untuk biaya makan dan penginapan selama setengah tahun.
Dia mengeluarkan uang yang dua tail perak dan menyerahkannya kepada pengurus penginapan itu. "Terimalah dua tail ini dulu."
Orang pendek kurus itu mencabut pipa tembakau yang tadi menancap di mulutnya, lalu mementang mulut yang giginya menghitam karena candu tembakau itu dan keluar ucapannya yang galak. "Mana ada aturan begini? Kalau tidak bisa membayar uang muka lima tail, lebih baik pergi."
"Sobat, kelak kalau kurang, pasti akan kulunasil" kata Heng San.
"Tidak bisal Sekarang tidak punya uang, kapanpun tidak punya uang. Engkau mau mengakali aku? Tidak bisa, harus penuh lima tail perak untuk uang muka, tidak boleh kurang satu thi (logam tembaga) pun. Bayar sekarang atau pergi sekarang jugal" orang itu mengusir dengan lagak sombong sekali.
Heng San tidak dapat menahan kemarahannya lagi. Akan tetapi dia masih ingat dan tidak memukul orang, hanya dia menggenggam uang dua tail perak itu dan mengacungkan uang yang dikepal itu di depan hidung pengurus penginapan dan menghardik, "Kalau engkau tidak menahan mulutmu yang kotor dan penuh candu itu, akan kuhancurkan seperti uang ini!" Dia menggenggam uang perak itu dan ketika dia membuka kepalan tangannya dia memperlihatkan dua potong uang perak yang telah pecah berkeping-keping dalam tangannyal
Pengurus penginapan itu memandang telapak tangan Heng San dengan mata terbelalak dan wajahnya menjadi pucat. Sikapnya berubah seketika dan dia membungkuk-bungkuk sambil berkata, "Maaf, tai-ong (raja besar), maafkan saya. Mari silakan, tempatilah kamar yang kosong ini, soal uang pembayaran kapanpun boleh"
"Engkau manusia brengsek Jangan sebut aku tai-ong, apa kaukira aku ini kepala rampok?"
"Maaf, tai-hiap (pendekar besar), harap maafkan sikap saya tadi. Di sini seringkali terjadi penipuan. Orang-orang datang minta kamar dan setelah pergi mereka tidak mau membayar. Karena itu kami minta uang muka sebanyak lima tail lebih dulu."
"Hemm, engkau harus mempergunakan matamu baik-baik dan dapat membedakan siapa penipu dan siapa bukan."
Dengan hati masih gemas Heng San memasuki kamar satu-satunya yang masih kosong itu. Sebuah kamar yang kedl dan kotor sekali. Melihat kamar yang kotor itu, uang sewa sepuluh tjhi juga masih mahal. Marahlah hatinya. Ah, benarbenar orang kota inl penipu dan pemerasI Dia berteriak memanggil pelayan.
Seorang palayan tua berlari-Iari memasuki kamarnya. Berbeda dengan pengurus tadi, pelayan itu sikapnya cukup hormat sehingga agak redalah kemarahan dalam hati Heng San.
"Siauw-ya (tuan mluda) memerlukan apakah?" tanyanya.
"Kamar ini kotor sekali. Coba tolong bersihkan dan pasanglah kain tilam kasur yang leblh bersih."
Pelayan itu memandang Heng San dengan sinar mata heran. "Siauw-ya hendak menyewa kamar ini?"
"Ya, kenapa?" Heng San balik bertanya.
Pelayan itu menoleh ke kanan kiri, agaknya takut kalau-kalau ada orang lain akan mendehgarnya. "Siauw-ya, berapakah siauw-ya membayar untuk menyewa kamar ini?"
Heng San cemberut teringat akar kekurang-ajaran pengurus tadi. "Aku harus membayar sepuluh chi semalam dan memberi uang muka sebanyak lima tail. Kenapakah?"
Pelayan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. "Terlalu......terlalu..! Memang aku tahu, orang she Leng itu penipu besar. Masa kamar semacam ini disewakan orang, dan semahal itu? Ah, siauw-ya, kalau engkau percaya omongan seorang tua seperti saya, lebih baik carilah kamar di lain penginapan, karena di penginapan ini sudah penuh dan tidak ada kamar lain kecuali yang ini."
"Eh? Apa maksudmu dengan ucapan itu, paman? Heng San memandang penuh selidik dan terheran. "Aku mencari di mana-mana, semua penginapan sudah penuh maka aku terpaksa menerima kamar ini."
"Orang she Leng itu telah menipumu. Kamar ini adalah.....kamar hantu! Siapapun tidak pernah bermalam di sini. Tidak seorangpun berani. Jangankan disuruh bayar uang muka lima tail, diberi upahpun tidak akan ada yang berani." Pelayan tua itu bergidik, merasa seram.
Sepasang mata Heng San terbelalak. "Apa katamu? Kamar hantu?"
"Sstt , jangan keras-keras bicara, siauw-ya. Dengar keteranganku, siauwya. Sudah sejak
kurang lebih tiga bulan yang lalu sampai sekarang, tidak seorang pun berani tidur di kamar ini. Tiap kali ada orang tidur di sini, pada tengah malam dia tentu diganggu hantu sehingga malam-malan dia lari keluar sambi! berteriak-teriak ketakutan. Bahkan telah ada beberapa orang tabah dan merasa jagoan bermalam di sini untuk membuktikan, akan tetapi mereka itupun berteriak-teriak dan berlari keluar pada tengah malam dan semenjak itu, tak seorangpun berani bermalam di kamar ini. Dan sekarang, orang she Leng itu memberikan kamar ini kepada siauw-ya hanya karena siauw-ya orang luar kota dan tidak tahu akan rahasia kamar hantu ini, bahkan ditambah dengan membayar uang muka lima tail. Sungguh terlalu..... terlalu sekali "
Diam-diam Heng San mengerling dan memandang ke sekeliling dalam kamar akan tetapi tidak terdapat sesuatu yang mencurigakan.
"Hemm, harap engkau jangan main-main, paman. Benarkah apa yang kauceritakan itu?" "Ah, saya sudah tua, siauw-ya. Untuk apa saya berbohong kepadamu?"
"Mengapa orang-orang yang tidur di sini berlarian ketakutan? Apa yang mengganggu mereka?"
"Macam-macam cerita mereka. Ada yang merasa dirinya diangkat orang dan tahu-tahu telah pindah di kolong tempat tidur. Ada yang melihat bayangan setan.
Ada yang tahu-tahu tubuhnya terasa kaku tidak mampu bergerak untuk beberapa lamanya. Ah, macam-macamlah cerita mereka. Pokoknya mereka merasa terganggu oleh sesuatu yang mengerikan. Maka akan lebih baik bagimu kalau engkau pindah saja, siauw- ya."
"Pindah ke mana, paman?"
"Ke mana saja, asal tidak di dalam kamar hantu ini."
"Akan tetapi, sudah kukatakan bahwa semua penginapan agaknya sudah penuh tamu."