”Lalu, apa yang harus teecu lakukan suhu? Ayah melarang teecu keluar rumah dan mengharuskan teecu menbantu pekerjaan ayah di toko obat. Teecu tidak berani membantah dan menentang kehendaknya.”
Pat-jiu Sin-kai tersenyum dan mengelus jenggotnya yang jarang. ”hemmm, terserah kepadamu. Kalau begitu, turuti saja kemauan ayahmu.”
Heng San mengehela napas dan mengerutkan sepasang alisnya yang hitam tebal. ”teecu tidak suka, suhu. Teecu tidak suka berdiam saja dirumah, terkurung dan menjadi ketak dalam sumur, tidak dapat melihat keadaan dunia di luar sumur.”
Pat-jiu Sin-kai mengangguk-angguk dan tersenyum lebar. ”Memang demikianlah sifat seorang pendekar silat, Heng San, selalu ingin merantau meluaskan pengetahuan dan menambah pengalaman, ingin menegakkan kebenaran dan keadilan. Muridku, aku berhutang nyawa kepada ayahmu dan sampai matipun aku tidak mau menyakiti hatinya. Akan tetapi kini kulihat bahwa engkau memang tidak berjodoh untuk menjadi tukang obat seperti ayahmu. Engkau bertulang pendekar. Semua ilmu kepandaianku sudah kuajarkan kepadamu dan aku tidak memyombong kalau kukatakan bahwa tingkat kepandaianmu sudah cukup tinggi dan engkau tidak perlu kuatir lagi menghadapi para penjahat. Bekal kepandaianmu cukup untuk menjadikan engkau seorang pendekar yang disegani, walaupun tentu saja masih banyak orang yang tingkatnya sama bahkan lebih tinggi darimu.”
”Lebih tinggi, suhu? Teecu ingin bertemu dengan mereka dan meluaskan pengetahuan dengan belajar dari mereka.”
Pat-jiu Sin-kai tersenyum lebar. ”demikianlah seharusnya semangat orang muda. Selalu tidak mau kalah dan ingin memperoleh kemajuan. Akan tetapi, Heng San, sesungguhnya untuk masa ini, tidaklah mudah mencari orang yang pantas menjadi gurumu. Tingkat kepandaianmu sudah cukup tinggi, hanya belum matang. Kalau saja engkau merantau di dunia kang-ouw selama tiga atau lima tahun saja, pengetahuanmu juga bertambah dan kepandaianmu dengan sendirinya akan meningkat."
"Merantau seperti para pendekar, seperti yang sering suhu ceritakan itu?"
"Ya, seperti para pendekar itulah, menjalankan darmabakti dengan menolong sesama manusia yang mendapatkan kesukaran dan terutama yang tertindas. Membela kebenaran dan keadilan, membasmi mereka yang jahat dan yang meng gunaki:m kekuatan dan kekuasaan menindas kaum lemah. Dengan begitu, maka tidak akan sia-sialah engkau bersusah payah mempelajari ilmu silat selama sepuluh tahun ini."
"Ah, suhu! Itulah yang menjadi cita-citaku, yang kupikirkan siang malam." Gurunya memandang penuh selidik, lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Heng San, bagaimanapun juga, lebih baik aku berterus terang kepadamu. Ketahuilah bahwa segala sesuatu di dunia ini mempunyai dua permukaan yang berlawanan. Permukaan yang baik dan permukaan yang buruk. Merantau sebagai seorang pendekar meluaskan pengalaman, memang ada baiknya, akan tetapi juga ada buruknya."
"Apakah buruknya, suhu?"
"Permukaan atau segi buruknya banyak, Heng San. Banyak sekali godaan bagi orang yang hidup merantau. Kehidupannya menjadi liar, tidak tetap, bahaya mengancam dari mana-mana. Dan jika engkau tidak berhati-hati, banyak hal yang dapat menyeretmu ke jalan sesat yang selalu menjanjikan kenikmatan. dan kesenangan. Lihatlah aku ini sebagai contoh. Aku tukang merantau, malang melintang di dunia kang-ouw. Apa jadinya dengan diriku? Setelah tua, aku menjadi seorang gelandangan yang berpenyakitan, tiada gunanya, seorang pengemis tua yang tentu sudah mati kedinginan di tepi jalan kalau saja ayahmu tidak demikian baik hati menolongku. Memang, ada benarnyajuga ayahmu memaksa engkau mengikuti jejaknya. Kalau engkau menjadi pengganti ayahmu, engkau akan dikawinkan, berumah tangga, memiliki anakanak dan hidup bahagia dengan keluarga, tidak menghadapi bahaya dan dapat hidup damai dan tenteram."
"Akan tetapi teecu tidak suka, suhu. Teecu merasa bosan dengan kehidupan tenter am tanpa tantangan. Teecu justeru ingin dihadapkan tantangan dan bahaya, ingin menempuh bahaya, ingin menguji kekuatan sendiri, dan ingin hidup bebas seperti seekor burung di udara."
Pat-jiu Sin-kai memandang muridnya dan kedua matanya berputaran, mulutnya tersenyum lebar. "Memang begitulah darah pemuda! Nah, kalau sudah tetap pendirianmu, tidak pergi sekarang mulai dengan pengembaraanmu, mau tunggu kapan lagi?"
Heng San terkejut dan menatap wajah gurunyadengan mata terbelalak. "Sekarang, suhu?" "Ya, sekarangl Takutkah engkau? Masih ragu-ragu?"
"Tidak, suhu. Apakah, suhu hendak pergi juga? Mari kita merantau bersama, suhu."
"Hemm, engkau menghendaki kawan? Takutkah engkau pergi seorang diri? Kalau takut, lebih baik tidak usah pergi, Heng San."
"Bukan· takut, suhu. Akan tetapi kalau suhu hendak pergi, bukankah lebih baik kalau kita pergi bersama?"
"Tidak, Heng San. Kita harus berpisah. Sudah sepuluh tahun engkau belajar silat dariku. Kini aku sudah tua, tubuhku sering sakit. Aku harus mengaso. Engkau pergilah sendiri, akan tetapi ingat baik-baik. Jangan sekali-kali membiarkan dirimu diperhamba nafsu sendiri, jangan mempergunakan semua ilmu yang selama ini kaupelajari untuk berbuat jahat. Kalau sampai engkau tersesat dan menecemarkan nama baik orang tuamu dan gurumu dengan perbuatanmu yang jahat, aku akan mencarimuj dan menghukummu!"
"Tee-cu akan selalu menaati semua petunjuk dan perintah suhu. Malam hari ini juga teecu akan berangkat pergi, harap suhu dapat menutupi kepergian teecu sehingga ayah dan ibu tidak akan tahu sebelum besok pagi."
"Baiklah, Heng San."
Heng San lalu menjatuhkan diri berlutut di de pan suhunya.
"Teecu menghaturkan ban yak terima kasih at as semua bimbingan suhu selama ini. "
Pat-jiu Sin-kai mengangkat bangun pemuda itu dan Heng San lalu berkemas. Setelah malam tiba, dia menggendong buntalan pakaian dan bekalnya,. meninggal kan sepucuk surat dalam sarmpul yang sudah ditulisnya tadi, kemudian dia melompat keluar dari jendela kamarnya, menyelinap dalam kegelapan malam dan meninggalkan rumah orang tuanya.
Beberapa kali dia harus menoleh dan memandang rumah yang diselimuti kegelapan malam itu, rumah di mana dia terlahir dan di mana selama duapuluh dua tahun dia hidup dan tumbuh dewasa. Ketika dia teringat akan orang tuanya, terutama ibunya, kedua matanya menjadi panas dan basah. Hampir saja dia membatalkan kepergiannya. karena merasa iba kepada ibunya. Akan tetapi dalam telinga nya terngiang kata-kata suhunya, "Seorang jantan yang gagah perkasa harus berani mengambil keputusan, tabah dan tidak cengeng!"
Dia lalu melompat dan pergi meninggalkan rumah i tu, meninggalkan kota Lin-han-kwan dan pergi tanpa tujuan tertentu karena memang niatnya merantau, ke mana saja hati dan kedua kakinya akan membawanya.
Pada keesokan harinya, ketika matahari telah naik tinggi namun belum melihat Heng San keluar dari kamarnya, Nyonya Lauw lalu mengetuk daun pintu kamar puteranya. Tidak ada jawaban. Ia mendorong pintu dan ternyata daun pintu terbuka. Kamar itu kosong, pembaringan tampak rapi, tidak kusut. Jendela kamar itu juga terbuka. Ketika melihat sebuah sampul tertutup di atas meja, Nyonya Lauw merasa jantungnya berdebar tegang. Diambilnya sampul surat itu dan berlari mencari suaminya yang berada di depan, di toko obat mereka. Kedua tangan nyonya itu gemetar, seolah ia merasakan firasat yang tidak baik.
"Kamar Heng San kosong, pembaringannya tidak ditiduri dan dia tidak ada. Aku menemukan surat bersampul ini di atas meja dalam kamarnya." katanya dan suaranya juga gemetar.
Lauw Cin mengerutkan alis dan mene rima surat itu, lalu sampul dibukanya dan surat dibacanya. Setelah membaca surat itu, wajahnya menjadi pucat dan kemudian berubah merah sekali. "Dasar anak put-hauw (tidak berbakti)l" serunya sambil melempar surat itu ke atas meja. Isterinya cepat menyambar surat itu dan membacanya dengan kedua tangan yang memegang surat itu gemetar. Belum habis ia membacanya, ia telah menangis tersedu- sedu. Lauw Cin merampas surat itu dari tangan isterinya dan seperti orang yang masih penasaran dan tidak percaya, dia membaca sekali lagi surat itu
Ayah-ibu yang terclnta,
Saya mohon beribu ampun bahwa saya pergi tanpa pamit dan tanpa Ijin ayah-lbu. Saya ingin sekali merantau, meluaskan pengalaman. Saya akan merasa sengsara kalau diharuskan selalu tinggal di dalam rumah seperti seorang anak perempuan. Harap ayah dan ibu tidak terlalu marah, dan jagalah kesehatan ayah dan ibu, jangan sampai jatuh sakit. Sekali lagi. ampunkan saya dan saya mohon doa ayah ibu.
Kalau saya telah kenyang merantau, pasti saya akan pulang dan siap menerima hukuman yang hendak ayah ibu jatuhkan kepada saya.
Dari anak yang tidak berbakti, Lauw Heng San.
"Ini semua gara-gara pengemis tua itu! Dia harus bertanggung jawab. Kalau Heng San tidak belajar silat darinya, tentu dia tidak akan meninggalkan kita." Ia lalu menangis tersedu-sedu.
Lauw Cin juga marah sekali. Diikuti isterinya, dia lalu melangkah lebar menuju ke dalam, mencari Pat-jiu Sin-kai yang duduk termenung dalam kamarnya. Kakek itu segera bangkit berdiri melihat Lauw Cin yang merah mukanya itu memasuki kamarnya bersama Nyonya Lauw Cin yang menutupi muka sambi! menangis.
"Lauw-inkong dan toanio, selamat pagi." kata Pat-jiu Sin-kai sambil memberi hormat.