Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 07

Memuat...

Tentu saja dia menjadi terheran-heran melihat bahwa rombongan itu tidak menuju ke kantor kejaksaan seperti yang diduganya, melainkan malah keluar dari pintu gerbang barat kota itu!. Dia terus membayangi tanpa diketahui oleh rombongan itu dan tak seorangpun penduduk yang begitu tolol untuk berani mencampuri urusan putera jaksa itu. Heng San mengikuti terus dan melihat bahwa rombongan itu membawa tiga orang tawanannya ke sebuah rumah mungil. Itulah rumah peristirahatan yang dibuat Jaksa Bauw, sebuah rumah mungil di lereng bukit, di tempat yang sunyi dan berhawa sejuk. Tempat yang memang nyaman sekali untuik beristirahat, menjauhi keramaian kota.

Setelah mereka semua memasuki rumah itu Heng San cepat menyusup di antara pohon- pohon dan semak-semak mendekati tumah itu. Tiba-tiba dia mendengar jerit wanita keluar dari sebuah jendela kamar yang tertutup. Heng San cepat menghampiri jendela itu dan tanpa ragu lagi dia mendorong daun jendela sehingga terbuka. Matanya terbelalak melihat pemuda Manchu putera jaksa itu sedang bergumul dengan gadis berpakaian merah muda. Mereka bergumul di atas pembaringan, Bauw kongcu berusaha merenggut lepas pakaian gadis itu sedangkan gadis itu sekuat tenaga berusaha mencegahnya.

Mereka tidak tahu bahwa jendela kamar sudah dibuka Hengsan dari luar, Bauw Koncu yang sudah menggila oleh gairah nafsu itu sudah tidak melihat atau mendengat apa-apa lagi. Heng San tak dapat menahan kemarahannya lagi. Sekali menggerakkan tubuh, dia sudah melompat ke dalam kamar. Sekali tangan kirinya mencengkeram dan merenggut, tubuh itu dan terpelanting ke atas lantai. Tangan kanan Heng San menyambar ” dess...!” pemuda bangsawan manchu itu terkapar, giginya rontok, mulutnya bredarah dan dia pingsan seketika. Heng San mendengar jerintan-jeritan wanita diluar kamar. Cepat dibukanya ruangan depan, kemarahan membuat mukanya berubah merah sekali ketika dia melihat betapa dua orang gadis pembantu tadi dijadikan rebutan dua belas orang pegawal Bauw koncu.

”Jahanam-jahanam busuk!” dia berseru dan tubuhnya berkelebatan di antara dua belas orang itu. Beberapa orang diantara mereka mencabut golok untuk melawan pemuda yang mengamuk itu, namun perlawanan mereka tidak ada artinya bagi Heng San. Sorang demi seorang roboh pingsan oleh pukulan atau tendangannya.

Tak lama kemudian tanpa banyak cakap, Heng San mengiringkan tiga orang gadis itu untuk kembali ke kota Lin-han-kwan dan memesan agar untuk sementara waktu mereka jangan keluar rumah dulu. Setelah itu, barulah dia pulang ke rumahnya.

Sebentar saja, kota Lin-han-kwan menjadi gempar. Begitu ada yang mengetahui Heng San si pembunuh kerbau gila menghajar Bauw kongcu bersama sekelompok pengawalnya, semua orang membicarakannya. Sebagian besar membicarakan peristiwa itu dengan hati riang gembira karena bauw koncu terkenal mata keranjang dan suka mengganggu anak bini orang dan Bauw taijin terkenal pula sebagai pemeras dan penindas mengandalkan kekuasaannya dan suka bertindak sewenang-wenang.

Akan tetapi, ketika Lauw Cin dan isterinya mendengar hal itu, mereka terkejut setengah mati dan keduanya cepat menyerbu kamar Heng San. Saat itu Heng San telah menceritakan pengalamannya kepada suhunya. Pat-jiu Sin-kai hanya tersenyum dan mengangguk-angguk membenarkan tindakan muridnya. Pada saat mereka berbicara berdua sedang berbicara, masuklah Lauw Cin dan isterinya. Dari sikap orang tuanya yang menyerbu kamarnya dengan sikap tegang, maklumlah Heng San bahwa ayah ibunya sudah tahu akan apa yang terjadi di rumah peristirahatan pembesar Lauw itu.

”Heng San! Bagaimana sih engkau ini?” tegur ibunya, ”Engkau berani memukuli Bauw kongcu, putera jaksa Bauw sampai pingsan?”. ” Barangkali engkau sudah gila!” bentak ayahnya, tidak peduli lagi bahwa Pat-jiu Sin-kai ada di situ. ”engkau akan menyeret seluruh keluarga ini ke dalam malapetaka!”

”Ayah, Ibu, harap tenanglah. Aku sama sekali tidak bersalah. Bauw koncu itu dan selosin pengawalnya sedang hendak memerkosa tiga orang gadis baik-baik, apakah aku harus tinggal diam?”

Lauw Cin merasa mendongkol dan bingung sekali. Di lubuk hatinya, tentu saja dia dapat melihat bahwa perbuatan puteranya itu membela wanita-wanita yang diperkosa, bahwa perbuatan itu benar. Akan tetapi bagaimanapun juga hanya timbul dari hati sombong dan mengandalkan ilmu silat sehingga akibatnya mendatangkan permusuhan dan keributan.

”Huh, tahukah engkau bahwa perbuatanmu itu dapat membuat kita sekeluarga dijatuhi hukuman mati dengan tuduhan memberontah? Ah, anak bodoh! Aku harus cepat menghadap Bauw taijin.!”

Lauw Cin segera berganti pakaian dan membawa semua uang tabungannya yang tadinya disimpan untuk persediaan kalau puteranya menikah dan untuk menambah modal. Kemudian sambil membawa semua uang itu pergilah dia ke rumah Bauw taijin.

Bauw taijin menerima Lauw Cin di ruangan tamu dan dia mengerutkan alisnya ketika pengawal memberitahu bahwa Lauw Cin datang menghadap. Ketika Lauw Cin muncul di pintu, dia segera menghardik.

”Hemmm, inilah yang bernama Lauw Cin, ayah dari pemuda pemberontah itu?” Dengan kedua kaki gemetar Lauw Cin segera maju dan menjatuhkan dirinya berlutut. ”saya mohon ampun sudilah kiranya paduka mengampuni anak saya yang bodoh. Ampunilah keluarga kami yang bodoh, taijin. Saya berjanji bahwa saya tidak berani melakukan kenakalan lagi. Semua ini hanya kesalah-pahaman, taijin, karena anak saya yang tolol itu tidak mengenal Bauw koncu. Untuk menyatakan penyesalan kami, saya mohon paduka sudi menerima sedikit bingkisan ini.”

Lauw Cin menyodorkan ”bingkisan”yang amat besar dan berat itu ke depannya dan kembali dia memberi hormat dengan membungkuk sambil berlutut sehingga berkali-kali dahinya menyentuh lantai. Akan tetapi pembesar itu menunjukkan pandang matanya ke bungkusan yang berat itu dan mengira-ngira berapa isinya.

”Anakmu itukah yang dikenal sebagai Heng San si pembunuh kerbau gila itu?” tanyanya. ”Betul, taijin. Anak saya hanya seorang pemuda kasar dan bodoh.”

”Hemm, dan anakmu itu juga yang telah mengalahkan guru silat Ciang Hok yang memimpin Hui-houw-bukoan itu, yang sekarang telah menutup perguruannya?”.

”Be.... benar, tai-jin. Anak saya memang nakal sekali, suka membikin keributan. Akan tetapi saya berjanji untuk memperbaiki kelakuannya. Ampunkan kami, tai-jin yang mulia dan bijaksana.”

”Hemm, siapakah guru yang mengajar ilmu silat anakmu itu?”

Karena ingin mendapatkan ampuj, Lauw Cin tidak berani berbohong. ”Yang mengajarnya adalah seorang... pengemis tua, tai-jin”

”Hehhh ? seorang pengemis?”

”Ya, dia sudah sepuluh tahun tinggal dirumah kami.” ”Siapakah namanya?”

”Kami tidak tahu siapa namanya, tetapi hanya mengetahui nama julukkannya saja, yaitu pat-jiu Sin-kai, tai-jin.”

Pembesar itu diam saja, akan tetapi diam-diam dia merasa terkejut bukan main. Dia sudah mendengar akan nama Pat-jiu Sin-kai ini sebagai seorang tokoh kang-ouw yng terkenal sakti, bahkan dia mendengar pula bahwa tokoh ini merupakan orang yang menjadi perhatian pemerintah karena dianggap sebagai orang yang anti pemertintahan Mancu. Gentarlah hari Jaksa Bauw. Dia menekan kemarahannya, bukan saja melihat uang sogokan yang banyak itu, melainkan terutama sekali dia takut akan pembalasan Heng San dan gurunya kalau dia bertindak keras.

”Baiklah, sekali ini kami mengampuni keluargamu, akan tetapi kalau anakmu itu masih banmyak ulah lagi, kami akan mengerahkan pasukan untuk menangkap dan menghukum seluruh kelaurgamu! Nah pergilah!”.

”Terima kasih, tai-jin, terima kasih!”. Lauw Cin memberi hormat berkali-kali lalu mengundurkan diri dengan hati lega akan tetapi juga jengkel sekali terhadap puteranya.

Setibanya di rumah dan melihat Heng San duduk di ruangan dalam bersama Pat-jiu Sin- kai, dia segera mendamprat anaknya didepan kakek itu. ”Heng San, engkau anak durhaka! Perbuatanmu memukuli Bauw kongcu dan para pengawalnya itu sungguh keterlaluan sekali! Aku memperbolehkan engkau belajar silat kepada gurumu bukan untuk membikin engkau menjadi seorang tukang pukul dan merendahkan nama orang tuamu saja! Engkau memancing permusuhan dan mencelakakan keluarga kita sendiri.”

”Akan tetapi, ayah. Orang-orang itu memang pantas dipukul!” Lauw Cin menggebrak meja dengan marah ”engkau yang pantas dipukul! Kenapa engkau usil dan suka mencampuri urusan orang lain? Dengar baik-baik, mulai sekarang engkau kularang keluar dari rumah ini. Mulai sekarang engkau harus membantu aku mengurus pekerjaanku, dan belajar bekerja. Aku sudah tua, siapa yang akan menjadi penggantiku kalau aku mati, kecuali engkau? Engkau buakan belajar menjadi penolong orang dan mempelajari pengobatan, sebaliknya engkau malah menjadi pemukul dan mencelakai orang orang lain!” setelah berkata demikian, ayah yang marah itu meninggalkan Heng San dan Pat-jiu Sin-kai yang sejak tadi hanya diam saja.

Tak lama kemudian, ibu Heng San memasuki kamar itu sambil menangis.

”Ah, ada apakah, ibu?” Heng San bangkit dan merangkul ibunya. Nyonya Lauw merangkul anaknya sambil menangis. Setalah reda tangisnya, nyonya itu berkata, ”Aduh, Heng San, kenapa engkau membikin ayahmu marah dan ibumu bersedih hati? Tahukah engkau akibat dari pemukulanmu terhadap Bauw kongcu? Ayahmu menguras semua harta simpanan kita untuk diberikan kepada Bauw tai-jin agar pembesar itu tidak mencelakai kita. Pada hal..... semua harta itu dikumpulkan selama bertahun-tahun, disediakan untuk pernikahan dan modal usaha.” Ibu itu menangis lagi. Heng San membujuk dan menghiburnya. Setelah berhenti menangis, nyonya Lauw meninggalkan ruangan itu, tanpa berkata apapun bahkan tanpa menoleh kepada Pat-jiu Sin-kai.

Heng San merasa sedih sekali, dia tidak dapat mengerti mengapa ayahnya marah dan mengapa pula ayahnya menyerahkan semua simpanan hartanya kepada bauw tai-jin. Bukankah putera pembesar Mancu itu yang bertindak jahat mengganggu gadis dan bahkan hendak memperkosanya? Bukankah para pengawal itupun hendak memperkosa dua orang gadis pembantu itu? Bukankah dengan menghajar mereka dan dia telah menolong tiga orang gadis itu dan telah membuat jera laki-laki jahat yang mengganggu keamanan penduduk Lin-han-kwan? Mengapa bahkan ayahnya mengatakan dia tukang pukul orang dan tukang mencelakai orang?.

Dia duduk termenung, tenggelam ke dalam kesedihan sehingga lupa bahwa gurunya juga duduk dalam ruangan itu dan sejak tadi mengamatinya sambil tersenyum.

”Seorang laki-laki tidak perlu bersedih atau kecewa dan putus asa menghadapi segala persoalan yang datang, melainkan sepatutnya menghadapinya sebagai tantangan. Di mana kejantananmu? Tidak perlu bersedih, tidak perlu melamun, yang perlu bertindaklah!.”

”Bagaimana teecu harus bertindak, suhu? Sekali ini teecu bukan menghadapi sembarang orang yang dengan mudah saja dapat teecu lawan! Teecu menghadapi kemarahan ayah dan kesedihan ibu, bagaimana teecu dapat bertindak.”

”Heng San, aku tidak terlau menyalahkan ayah ibumu. Mereka adalah orang-orang yang baik budi namun lemah. Mereka tidak tahu apa-apa tentang kegagahan dan keadilan yang dijunjung tinggi orang-orang gagah dunia kang-ouw seperti kita.”

Post a Comment