”Wuuutt..... brukkk!!” tubuh Ciang Hok terbanting keras sekali ke atas lantai dan dia mencoba bangkit, namun terkulai kembali karena kaki kirinya terasa nyeri dan lengan tangannya juga terkilir!. Beberapa muridnya segera datang membantu dan memapahnya bangkit berdiri.
Dengan muka pucat Ciang Hok memandang kepada Heng San, lalu menunddukkan mukanya dan berkata, ”sudahlah! Aku memang tidak pantas menjadi guru silat di kota ini...”
”Bagus Kalau kau menyadari hal itu. Lebih baik lagi kalau engkau segera menutup perguruan ini dan meninggalkan Lin-han-kwan.” Setelah berkata demikian, Heng San membalikkan tubuhnya keluar dari rumah perguruan itu. Para murid mengikutinya dan ketika tiba di luar Heng San mendongak memandang ke arah papan lebar yang ditulisi perguruan itu.
”Papan ini harus diturunkan!” Katanya dan tiba-tiba dia mendorongkan telapak tangannya ke arah papan itu sambil mengerahkan sin-kang (tenaga sakti).
”wuuuttt... brakkk!” papan itu pecah menjadi dua potong dn jatuh dari gantungannya. Para murid Hiu-Houw-bukuon terbelalak. Papan itu amat tebal namun pecah dan jatuh terkena hawa pukulan jarak jauh Heng San. Mereka menjadi jerih dan segera masuk kembali ke dalam rumah perguruan itu.
”Pada hari itu juga. Perguruan Silat Harimau Terbang ditutup dan Ciang Hok membawa barang-barangnya meninggalkan kota Lin-han-kwan, entah pindah kemana tidak ada yang tahu. Ketika Law Cin mendengar akan peristiwa itu, dia memarahi Heng San didepan Pat- jiu Sin-kai.
”Hengsan! Engkau telah berubah menjadi seorang tukang pukul yang jahat! Kenapa engkau mengganggu Guru Silat Ciang Hok yang tidak bersalah? Dia membuka perguruan silat di kota ini, apa hubungannya denganmu? Kenapa engkau berkelahi dengan dia dan mengalahkannya, sehingga dia merasa malu dan menutup perguruannya lalu pergi meninggalkan Lin-han-kwan.?”
Heng San diam saja. Akan tetapi Pat-jiu Sin-kai yang berada disitu tertawa bergelak. ”Ha ha ha, In-kong dan Lauw Toanio! Apa yang dilakukan Heng San itu adalah hal yang lumrah saja terjadi di dunia persilatan. Pertandingan itu bukan perkelahian, melainkan pi- bu (pertandingan silat) untuk menguji ilmu silat masing-masing. Kalau Ciang Hok kalah lalu merasa malu dan menutup perguruannya dan meninggalkan Lin-han-kwan, hal itu adalah biasa saja dan tidak perlu dipersoalkan. Heng San sama sekali tidak bersalah!”
Melihat ayah dan ibunya masih marah, Heng San lalu berkata. ”Ayah dan Ibu, percayalah bukan aku yang menantang pertandingan. Ketika itu aku mampir nonton latihan mereka. Tahu-tahu dia menghina dan mengejekku, dan guru silat Ciang itu menantangku dan mengatakan bahwa kalau kami bertanding dan aku kalah, aku harus mengakuinya sebagai guruku. Sebaliknya kalau dia yang kalah, dia akan menutup perguruan dan pergi dari kota ini. Karena sikapnya yang sombong dan menghina, maka aku menerima tantangannya dan akibatnya dia kalah dan pergi dari kota ini. Aku tidak bersalah, Ayah.”
Karena merasa sungkan kepada Pat-jiu Sin-kai, Lauw Cin dan isterinya tidak berkata apa- apa lagi, namun di dalam hati mereka, kedua orang tua ini sangat kecewa sekali. Mereka membayangkan dalam usianya yang dua puluh dua tahun seperti sekarang ini, kalau saja Heng San tidak menjadi murid Pengemis tua itu tentu dia kini sudah dikenal diseluruh kota sebagai seorang ahli obat muda yang sudah banyak menolong dan menyembuhkan orang sakit sehingga nama keluarga mereka menjadi semakin harum. Akan tetapi sekarang mereka mempunyai anak tunggal yang menjadi tukang pukul.
****
Peristiwa itu sebulan kemudian disusul dengan peristiwa lain yang lebih menggegerkan pula. Pada suatu pagi, Heng San yang melihat ayah dan ibunya selalu berwajah muram, mulut mereka cemberut dan alis mereka berkerut setiap kali memandangnya sehingga dia maklum bahwa mereka masih marah sekali kepadanya, lalu meninggalkan rumah untuk mencari hawa segar dan menghibur hatinya yang menjadi kesal dan murung. Dia berjalan- jalan tanpa tujuan dan kedua kakinya membawanya memasuki sebuah taman umum yang berada di sudut kota, di dekat pintu gerbang sebelah barat kota Lin-han-kwan.
Hatinya yang murung menjadi gembira, ketika melihat keadaan taman umum, ketika dia melihat keadaan taman umum itu yang indah karena pada saat itu musim bunga telah tiba dan tanaman itu semua sudah mulai berbunga. Karena itu, banyak orang, terutama orang- orang muda yang pada pagi hari yang cerah itu, mengunjungan taman. Suasana dalam taman itu sungguh menyenangkan.
Ketika Heng San tiba disebuah kolam ikan emas yang berada di sudut taman, dia melihat tiga orang gadis mida yang sedang bermain-main di tepi kolam, melemparkan makanan ke arah ikan-ikan yang berada dalam kolam. Suara tawa mereka yang tertahan-tahan dan merdu itu membuat suasan menjadi semakin segar dan nyawam bagi Heng San. Dia melihat bahwa seorang di antara tiga orang gadis itu cantik sekali, berpakaian merah muda dan biarpun dandanannya tidak mewah, namun pakaiannya cukup rapi dan bersih. Adapun dua orang gadis lainnya agaknya merupakan teman atau juga pengikutnya, karena pakaian mereka seperti pakaian pelayan yang lebih sederhana. Gadis itu berusia kurang lebih delapan belas tahun dan dua orang temannya itu lebih muda, sekitar lima belas tahun usia mereka.
Pada waktu itu, pemerintah kerajaan yang baru, yaitu kerajaan Ceng yang didirikan oleh bangsa Manchu yang berhasil menduduki dan menjajah cina, mengadakan peraturan- peraturan yang harus ditaati seluruh rakyat bangsa Han, yaitu bangsa aseli Cina. Semua laki-laki diharuskan memelihara rambut seperti halnya para laki-laki bangsa Manchu. Karena rambut yang panjang itu berabe sekali, maka menurut kebiasaan waktu itu, rambut itu dikuncir, menjadi kuncir panjang yang digantung di belakang punggung. Heng San dan para pria yang berada dalam taman juga mempunyai kuncir seperti itu. Rambut Heng San yang subur dan hitam itu dijadikan sebuat kuncih yang besar dan ujungnya diikat kain kain sutera hitam. Kuncirnya panjang sampai di pinggang dan kadang kuncirnya itu dilibatkan di lehernya sehingga dia tampak gagah sekali.
Heng San mengerutkan alisnya ketika serombongan laki-laki menghampiri tiga orang gadis yang sedang bermain-main memberi makan ikan di empang itu. Mereka terdiri dari belasan orang yang mengenakan pakaian seragam penjaga keamanan kota, membawa sebatang golok tergantung di pinggang masing-masing. Hanya petugas-petugas pemerintah dan para pembesar machu saja, dan beberapa orang Han yang menjadi antek penjajah dan menjadi pembesar-pembesar kecil, yang diperbolehkan membawa senjata tajam. Rakyat jelata dilarang membawa senjata tajam. Siapa berani melanggar akan ditangkap dengan tuduhan memberontak!. Dua belas orang prajurit penjaga keamanan kota itu mengikuti seorang laki-laki yang usianya sekitar tiga puluh tahun lebih dan melihat pakaiannya mudah diketahui bahwa dia adalah seorang bangsawan Manchu, atau putera seorang pembesar tinggi. Heng San segera mengatahui siapa orang itu. Biarpun dia tidak mengenalnya karena putera seorang pembesar Manchu mana yang mau bersahabat dengan seorang pemuda biasa. Dia tahu bahwa bangsawan Manchu muda itu adalah Bauw Mauw, putera Jaksa Bauw seorang pembesar yang berkuasa di kota Lin-han-kwan. Dia melihat betapa Bauw Mauw mendekati gadis-gadis itu dan bicara dengan gadis cantik berpakaian merah muda. Gadis itu tampak takut dan malu-malu, sedangkan Bauw Mauw tersenyum-senyum dan kelihatan seperti menggoda dan merayu. Karena merasa curiga, Heng San berjalan mendekati, padahal orang-orang lain yang berada di taman itu pergi menyingkir dan kelihatan takut kepada Bauw Mauw dan para pengawalnya. Setelah dekat, Heng San mendengar percakapan mereka dan agaknya gadis berpakaian merah muda itu kini berbantahan dengan Bauw Mauw.
”Tidak, Koncu (tuan muda), saya tidak mau...!” gadis itu berkata dan nada suaranya marah akan tetapi juga takut.
”Engkau harus mau mengikuti aku karena saat ini kalian bertiga kami tangkap!” Bauw mauw lalu memberi isarat dengan tangan kepada dua belas orang pengawalnya yang segera maju mengepung tiga orang gadis yang tampak ketakutan itu. Apalagi dua orang gadis pembantu rumah tangga itu tampak takut sekali dan mereka mulai menangis.
”Ditangkap? Kongcu, apakah kesalahan kami maka ditangkap?” gadis itu membantah, walaupun wajahnya berubah pucat.
”Nanti kalian akan tahu kalau sudah diperiksa dikantor ayahku! Ingat, ayah adalah jaksa di kota ini dan kami berhak menangkap siapa saja yang kami curigai. Hayo Jalan!” tiga orang gadis itu didorong-dorong para pengawal dan sambil menangis terpaksa melangkah maju. Orang-orang yang melihat peristiwa itu dari jarak jauh tidak ada yang berani mencampuri. Akan tetapi Heng San yang menjadi penasaran sekali. Dia segera membayangi rombongan yang menawan tidak orang gadis itu.