Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 05

Memuat...

Melihat pemuda itu tampak marah, Ciang Kauwsu lalu berkata, ”Heng San agar kami dapat percaya, engkau harus membuktikan bahwa engkau memiliki kemampuan itu.”

”Hem, Ciang Kauwsu. Peristiwa itu terjadi lima tahun yang lalu. Bagaimana aku dapat membuktikannya?” tanya Heng San dengan hati masih panas karena dia tidak dipercaya, bahkan dijadikan bahan olok-olok.

”Begini, Heng San, engkau harus membuktikan bahwa engkau memang memiliki ilmu kepandaian tinggi sehingga mampu membunuh seekor kerbau gila. Untuk menguji kemampuanmu itu. Engkau harus bertanding melawan aku. Biarpun engkau tidak mungkin bisa menang melawan aku, akan tetapi aku tidak akan mencelakaimu. Kalau engkau kalahpun, setidaknya aku sudah mengetahui bahwa engkau memang berkepandaian dan setelah engkau kalah, engkau harus menjadi murid perguruanku dan mengaku kepada siapa saja bahwa engkau murid Hui Houw Bukoan dan engkau menggunakan ilmu yang kau pelajari dari kami untuk membunuh kerbau itu. Kalau engkau tidak berani menguji kepandaian melawan aku dalam sebuah pi-bu yang adil, tanpa senjata, maka kami semua akan menganggap engkau pembohong dan semua berita tentang membunuh kerbau gila itu hanya bohong belaka.

Heng San mengerutkan alisnya, Guru silat ini sombong sekali, pikirnya dan para muridnya itupun sombong.

”Suhu, mana dia berani melawan suhu?” seorang murid mentertawakan.

”Suhu, kalau melawan Suhu, dalam waktu satu jurus saja tentu dia sudah terjungkal. Lebih ramai kalau dia melawan teecu (murid) saja!” kata seorang murid yang merupakan murid kepala karena sudah lima tahun belajar silat disitu.

Pada sat itu, darah sudah naik ke kepala Heng San. ”Baik, aku terima tantanganmu, Ciang Kauwsu. Kalau aku kalah, aku akan menjadi murid Hui Houw Bukoan, akan tetapi kalau engkau yang kalah melawan aku?”

Ledakan suara tawa menyambut pertanyaan Heng San. Terdengar kata-kata ejekan, bahkan seorang pemuda berkata, ”Heng San, pikirlah dulu kalau bicara! Masa suhu kalah olehmu! Mana mungkin?” Ciang Kauwsu juga tertawa akan tetapi dia lalu membalik kepada para muridnya dan mengangkat kedua tangan memberi isarat agar para murid tidak membuat gaduh. Setelah suasana menjadi tenang, guru silat itu menghadapi Heng San kembali, ”Heng San kalalu engkau kalah, aku mengharuskan engkau pai-kui (berlutut menyembah) kepadaku sebanyak sepuluh kali dan engkau menjadi murid Hui Houw Bukoan sepeti kukatakan tadi. Karena itu kalau aku yang kalah... heh-heh, engkau boleh mengajukan sarat, apa yang harus kulakukan.”

”Baik, sekarang dengar baik-baik saratku, Ciang Kauwsu. Kalau engkau yang kalah, engkau tidak usah pai-kui kepadaku, akan jelas engkau tidak pantas menjadi guru silat di kota Lin-han-kwan ini, Karena itu, engkau harus menurunkan papan nama perguruanmu, menutup perguruan silat dan tinggalkan kota ini.”

Para murid terbelalak, betapa beraninya pemuda itu! Ciang Kauwsu mengerutkan alis, kumisnya yang tebal seperti berdiri semua, mukanya merah.

”Heng San, berani sekali engkau jangan salahkan aku kalau nanti engkau kalah dan mengalami babak belur, benjol, memar dan tulang patah!” bentaknya.

”Sudah menjadi resiko orang yang berani pi-bu (adu silat) mengalami luka-luka!” Jawab Heng San.

”Bagus, hayo ke tengah ruangan silat,” katanya sambil membalik dan melangkah ke dalam, berseru kepada para murid, ”kalian semua mundur membuat lingkaran lebar, beri kami tempat yang leluasa dan lihatlah betapa guru kalian menghajar pemuda yang sombong ini!”

Heng San mengikuti guru silat itu ke tengah ruangan. Para murid membuat lingkaran yang cukup lebar dan semua memandang dengan wajah penuh ketegangan. Yang suka kepada Heng San menjadi cemas, akan yang tidak suka menjadi gembira karena mereka semua yakin bahwa Ciang Kauwsu tentu akan memberi hajaran keras kepada Heng San yang berani mengajukan saran yang dianggap merendahkan dan menghina itu.

Kini kedua orang itu sudah saling berhadapan dan sling beradu pandang seperti dua ekor ayam jago hendak berlaga. Heng San sudah dewasa benar. Tingginya tidak kalah dibandingkan Ciang Hok, walaupun tubuhnya tidak sebesar guru silat itu. Biarpun selamanya dia belum pernah bertanding ilmu silat, namun hatinya sama sekali tidak merasa gentar. Gurunya sendiri sudah mengatakan bahwa dia tidak akan kalah bertanding dengan siapapun juga di kota ini. Dan walaupun dia belum pernah bertanding dalam arti yang sesungguhnya berkelahi, namun sering sekali dia bertanding silat melawan gurunya dan sewaktu latihan bertanding ini, Pat-jiu Sin-kai tidak main-main melainkan menyerang sungguh-sungguh. Perasaan takut berarti kalah sebelum bertanding, demikian nasehat gurunya.

Ciang Hok sudah memasang kuda-kuda dengan ilmu andalannya yang juga dipergunakan sebagai nama perguruannya, yaitu Hui Houw Bukoen. (Ilmu Silat Harimau Terbang). Pasangan kuda-kuda itupun tampak gagah sekali, dengan kedua kaki sedikit terpentang dan lutut ditekuk, kemudian kemudian kedua tangan bersilang dengan jari-jari itu membentuk cakar harimau, kelihatan jari-jari itu mengandung tenaga kuat dan otot-ototnya menonjol, menyeramkan.

”Heng San, hayo maju seranglah. Hendak kulihat bagaimana engkau dapat memukul roboh kerbau gila itu dengan sekali pukul!?” kata guru silat Ciang sambil menyeringai dan memandang rendah.

Heng San juga memasang kuda-kuda tetapi sikapnya biasa saja, kaki kiri didepan dan kaki kanan di belakang kedua lutut ditekuk dan kedua tangan berada dibawah kanan kiri pinggang. ”Ciang Kauwsu, engkaulah yang menantang pertandingan dan engkau lebih tua daripada aku, maka engkau yang sepantasnya mulai lebih dahulu. Nah mulailah, aku sudah siap!” kata Heng San tanpa maksud memandang rendah, melainkan hanya ingat akan akan keharusan bersikap sopan dan mengalah terhadap orang yang lebih tua seperti yang diajarkan ayah ibunya. Pada hal, melihat guru silat itu dari dekat, Heng San dapat melihat ciri-ciri seorang yang mengandalkan tenaga otot dan kerasnya tulang sehingga dia merasa lebih yakin bahwa yang dia hadapi bukanlah lawan berat, walaupun dia tidak mau memandang ringan.

Mendengar ucapan Heng San, guru silat Ciang ini mengerutkan alisnya karena dia menganggap ucapan yang sopan itu mengandung tantangan yang memandang rendah kepadanya. Timbul niatnya untuk menghajar bocah sombong itu.

”Awas! Sambut seranganku ini!” bentaknya dan bentakan ini disambung suara auman mirip auman seekor harimau. Agaknya memang auman ini sengaja dikeluarkan untuk menambah wibawa dan sesuai pula dengan nama ilmu silat dan perguruannya, yaitu Harimau terbang. Tubuhnya sudah melompat dan menerjang ke depan, tangan kiri memancing dengan cakaran ke arah muka Heng San sedangkan serangan intinya adalah sebuah tonjokan dengan kepalan tangan kanan ke arah dada Heng San. Beberapa batang tulang iga pemuda itu dapat dipastikan akan patah-patah kalau pukulan itu mengenai sasaran.

Heng San dapat melihat datangnya serangan pancingan dan serangan inti ini dengan jelas. Dia melangkah mundur membiarkan cengkeraman itu lewat. Ketika lawan melangkah maju dan kepalan tangan kanan menyambar ke arah dadanya, dia sengaja mendiamkan saja dan diam-diam dia menyalurkan sin-kang (tenaga sakti) ke arah dadanya yang akan menerima pukulan, mengerahkan ilmu Tiat-pouw-san (ilmu kebal Baju Besi).

”Wuutt... dukkk!” kepalan tangan kanan Ciang Hok bertemu dada dan dia mental ke belakang. Tangan kanannya terasa nyeri bukan main seolah bertemu dengan dinding baja! Selagi dia terhuyung ke belakang kaki kiri Heng San mencuat dan menyambar ke arah dadanya.

”Wuuuttt... desss!” tubuh Ciang Hok terlempar dan jatuh terjengkang. Para murid Hui- houwbukoen terbelalak kaget. Mereka merasa seperti sedang mimpin. Guru mereka yang mereka bangga-banggakan itu roboh hanya dalam segebrakkan saja! Tidak mungkin! Ini tentu hanya kebetulan saja.

Jangankan para murid yang hanya menjadi penonton, bahkan Ciang Hok sendiri yang mengalami hal itu merasa seperti dalam mimpi. Diapun tidak percaya bahwa dalam segebrakan saja dia telah roboh oleh pemuda itu. Sebetulnya hal itu tidaklah aneh, Biarpun Ciang Hok telah menjadi guru silat, namun ilmu silatnya hanya matang diluarnya saja. Dia hanya dapat menguasai kulitnya saja, tidak pernah mendapatkan isinya dan tenaganyapun hanya tenaga kasar, tenaga otot yang disebut gwa-kang (tenaga luar). Sebaliknya Heng San selama sepuluh tahun dididik oleh seorang pendekar sakti dan dia telah menguasai inti ilmu silat sehingga setiap gerakkannya tidak dikendalikan pikiran lagi. Setiap gerakkannya sudah merupakan jurus baru yang disesuaikan dengan keadaan saat itu, dan pemuda inipun sudah menguasai tenaga sakti. Setiap dia bergerak untuk bertanding silat, maka tenaga dalamnya sudah tersalur dan dapat dikendalikan, digerakkan ke manapun.

Guru silat Ciang yang penasaran sekali belum mau mengaku kalah. Dia melompat bangun lagi, mukanya merah dan matanya berapi-api.

”Sambut ini!” bentaknya dan sambil menggereng seperti harimau terluka diapun melompat dan menerkam ke arah Heng San. Kini kedua tangannya membentuk cakar dan mencekeram kearah leher dan perut, seperti harimau menerkam domba. Serangan ini berbahaya sekali dan kalau leher dan perut Heng San terkena cengkeraman jari-jari tangan yang kuat seperti cakar harimau itu, tentu leher dan perutnya akan robek dan dia dapat tewas seketika.

Menghadapi sertangan yang ganas ini Heng San menjadi marah. Orang ini bukan hendak menguji kepandaian lagi pikirnya, melainkan menyerang untuk membunuh. Dia lalu cepat menggerakkan kedua tangannya, bagaikan dua ekor ular menyambar, tahu-tahu dia telah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan lawan. Cepat sekali dia membuat gerakan memuntir dan sekali menyentakkan kedua tangan dengan pengerahan tenaga dalam, tubuh Ciang Hok telah terangkat dan Heng San melontarkan tubuh itu lewat atas kepalanya ke belakang.

Post a Comment