”Kerbau itu tidak melukaiku dan aku berhasil memukulnya mati, ibu.” ”Ah, sukurlah.” kata ibunya kagum.
”Aku harus mengganti kerugian kepada pemilik kerbau itu!” kata Lauw Cin dan dia lalu menugaskan pembatunya menyelesaikan penggantian kerugian karena matinya kerbau itu, Kemudian, untuk merayakan kemenangan puteranya, Lauw Cin menyuruh orang membagi-bagikan daging kerbau itu kepada para tetangga.
”Nah, sekarang baru kalian suami isteri percaya bahwa apa yang kuajarkan kepada putera kalian tidak sia-sia, bukan?” kata Pat-jiu Sin-kai setelah mereka duduk makan malam bersama di ruangan makan.
”Saya girang sekali bahwa dia menjadi seorang pemuda yang kuat tangkas dan pemberani, paman. Banyak terima kasih atas bimbingan paman selama lima tahun ini.” kata Lauw Cin dan isterinya mengangguk menyetujui.
”Sekarang harap kalian tidak keberatan lagi membiarkan Heng San melanjutkan silatnya selama lima tahun lagi, agar dia menjadi seorang yang benar-benar kuat dan pandai sehingga kalian tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya lagi. Kalau dia sudah tamat belajar jangankan baru seekor kerbau mengamuk, biar ada seratus ekor kerbau gila sekalipun, di akan dapat menjaga diri dengan mudah. Pula, dia akan dapat menjadi seorang pendekar budiman sehingga nama kalian sebagai orang tuanya akan terangkat dan menjadi buah bibir dan pujian rakyat..”
Mendengar ucapan ini, Heng San kembali mendahului orang tuanya dan dia berlutut didepan gurunya. ”Suhu (guru), teecu (murid) mohon bimbingan Suhu sampai selesai.”
Pat-jiu Sin-kai tertawa girang ”tentu saja aku akan lakukan itu Heng San, karena engkau memang aku ingin melihat engkau belajar sampai tamat.”
”Heran sekali, bagaimanakah kerbau itu tiba-tiba menjadi gila dan mengamuk” Lauw Cin bertanya kepada Pat-jiu Sin-Kai yang tertawa bergelak mendengar pertanyaan itu dan kedua biji matanya semakin cepat berputaran.
”Sudah kukatakn tadi pagi bahwa Heng San akan memperlihatkan hasil pelajarannya. Sekarang setelah terbukti, kuharap kalian tidak ragu-ragu lagi dan merelakan hati kalian kalau aku melatih Heng San barang lima tahun lagi, agar dia kuat menjaga keselamatan diri sendiri, juga keselamatan orang tuanya dan menjunjung tinggi namaku sebagai gurunya.” Sambil masih tertawa girang, kakek itu lalu meninggalkan keluarga itu.
Tak seorangpun mengetahui bahwa kakek aneh itu tadi ketika tiga ekor kerbau yang digiring itu lewat depan rumah keluarga Lauw, menggunakan kepandaiannya menyambitkan sebatang jarum yang tepat mengenai belakang telinga kerbau terbesar sehingga binatang itu menjadi terkejut dan kesakitan lalu mengamuk. Dan diapun telah memesan untuk menghadapi kerbau yang mengamuk agar jangan sampai mencelakai orang-orang dijalan.
Kemenangan yang amat mudah melawan kerbau gila itu, yang roboh dan pecah kepalanya hanya dengan sekali pukul saja, membuat Heng San semakin giat belajar. Kini bahkan dia tidak mau lagi membaca kitab-kitab yang berisi filsafat dan tuntunan budi pekerti itu yang disodorkan ayahnya. Dia manganggap ilmu silat jauh lebih bermanfaat dan menyenangkan. Kini dia berani menolak dan mengabaikan petunjuk ayah dan ibunya, tidak lagi penurut seperti dulu sebelum menjadi murid Pat-jiu Sin-kai.
Lima tahun lewat dengan cepatnya Sang waktu memang aneh. Kalau tidak diperhatikan, ia melaju secepat cahaya sehingga bertahun-tahun lewat rasanya baru beberapa hari saja. Akan tetapi kalau diperhatikan, sang waktu merayap amat lambatnya sehingga kalau ada orang menanti sesuatu, penantian sehari rasanya seperti setahun! Selama lima tahun terakhir, Heng San setiap harinya berlatih silat dan Pat-jiu Sin-kai mengajarkan semua ilmu silat yang dikuasainya dan semua digubah menjadi silat tangan kosong yang tangguh. Kini Heng San telah menjadi seorang pemuda dewasa berusia dua puluh dua tahun yang bertubuh kokoh dan kuat sekali. Kepandaianya silatnya bahkan sudah setingkat dengan Pat-jiu Sin-kai, bahkan kalau mau dibuat perbandingan, mungkin Heng San lebih tangguh daripada gurunya karena dia memiliki tenaga yang jauh lebih kuat. Hanya tentu saja Heng San masih kalah dalam hal pengalaman bertanding. Dalam latihan bersama yang mereka lakukan bersama yang mereka lakukan. Pat-jiu Sin-kai merasa betapa beratnya dia menangkis pukulan muridnya, sebaliknya Heng San kadang merasa berat menghadapi perkembangan gerakan suhunya yang lebih rumit. Namun, sekiranya mereka berkelahi sungguh-sungguh untuk dapat mengalahkan Heng San.
Akan tetapi Lauw Cin dan isterinya tidak merasa senang melihat perkembangan mereka itu. Mereka melihat betama bersama meningkatnya kepadaian Heng San yang menjadi seorang pemuda yang gagah perkasan dan tinggi ilmu silatnya, muncul pula sikat tinggi hati dan sombong dalam diri anak mereka. Mereka cemas melihat betapa Pat-jiu Sin-kai hanya dapat melatih ilmu silat saja dan sama sekali tidak mendidik pengetahuan batin dan budi pekerti sehingga orang tua itu merasa khawatir kalau-kalau anak mereka menjadi seorang sombong dan sewenang-wenang yng mengandalkan kekuatan dan ilmu silatnya.
Apa yang dikhawatirkan Lauw Cin dan isterinya terjadi beberapa pekan kemudian. Kalau Heng San menguasai ilmu pengobatan, tentu tindakannya akan mendatangkan kebahagiaan, baik bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri. Akan tetapi ternyata ilmu silatnya hanya mendatangkan urusan dan permusuhan saja.
Pada suatu hari, Heng San lewat sebuah rumah besar. Diluar pintu depan yang besar itu tergantung sebuah papan bertuliskan huruf-huruf yang indah, berbunyi : HUI HOUW BUKOAN (Perguruan Silat Harimau Terbang). Heng San tahu bahwa rumah perguruan itu dihuni oleh Ciang Kauwsu (Guru Silat Ciang) yang bertubuh tinggi besar dan kokoh. Rumah perguruan silat itu merupakan satu-satunya di kota Lin-han-kwan dan telah dibuka kurang lebih tujuh tahun yang lalu, Heng San tahu pula bahwa banyak pemuda diantaranya ada beberapa orang tetangga dan teman-temannya, menjadi murid di Hui How Bukoan dengan membayar iuran setiap bulan. Beberapa orang teman itu pernah mengajaknya untuk berguru silat disitu, akan tetapi Heng San selalu menolak karena secara diam-diam tanpa diketahui orang lain kecuali ayah ibunya, dia sudah mempunyai guru, yaitu Pat-jiu Sin-kai yang ingin agar namanya dirahasiakan.
Ketika dia lewat depan rumah itu dia melihat daun pintu depan yang lebar itu terbuka dan dari dalam terdengar teriakan-teriakan mereka yang berlatih silat. Dia menjadi tertarik dan melangkah menghampiri. Setelah dia berdiri diambang pintu, dia melihat sekitar tiga puluh orang laki-laki, pemuda dan bahkan orang tua, sedang berdiri berjajar berlapis-lapis melakukan gerakan silat menurut aba-aba yang dikeluarkan seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun yang bertubuh tinggi besar dan kokoh kuat. Heng San pernah melihat Ciang Kauwsu, orang yang memberi aba-aba itu. Karena guru silat itu berdiri membelakanginya, maka dia tidak melihat munculnya Heng San di ambang pintu. Akan tetapi para muridnya tentu saja melihatnya karena mereka semua menghadap keluar. Mereka yang mengenal Heng San, terutama teman-teman dan tetangganya, otomatis menghentikan gerakan silat mereka dan berseru gembira.
”Itu dia Heng San si Pembunuh Kerbau!”
Teriakan ini bermacam-macam nadanya. Ada yang bernada kagum, akan tetapi ada pula yang bernada mengejek. Para murid ini hanya mendengar beritanya saja tentang Heng San memukul kerbau gila, tidak menyaksikan sendiri.
Melihat keributan dan banyak muridnya menghentikan latihan, Ciang Kauwsu mengerutkan alis dan diapun membalikkan tubuh menghadap ke arah Heng San yang berdiri dan tersipu-sipu oleh julukan itu. Memang diapun mendengar bahwa yang menyebutnya Heng San di Pembunuh Kerbau, entah memuji atau mengejek dia tidak perduli.
Ciang Kauwsu melangkah maju menghampiri Heng San. Langkahnya perlahan dan melenggang santai, seperti langkah harimau! Guru Silat satu-satunya di Lin-han-kwan ini juga sudah mendengar akan peristiwa mengherankan itu, dimana katanya seorang remaja membunuh seekor kerbau gila hanya dengan sekali pukul, pada hal anak itu tidak pernah belajar silat. Tentu saja dia tidak percaya akan cerita itu dan menganggapnya dongeng orang-orang bodoh yang berlebihan. Akan tetapi sekarang dia berhadapan dengan anak ajaib yang dikabarkan membuhuh kerbau gila itu. Timbul sebuah gagasan yang menguntungkan dalam benaknya. Kalau pemuda yang terkenal ini mengaku bahwa dia murid perguruan Hui Houw Bukoan, tentu banyak pemuda akan tetarik untuk belajar di perguruan silatnya. Bahkan orang-orang dari kota lain akan berdatangan untuk berguru kepadanya yang telah menghasilkan murid yang ajaib.!. Kini Ciang Kauwsu sudah berhadapan dengan Heng San, dalam jarak dua meter. Biarpun Pat-jiu Sin-kai tidak pernah mengajarkan sopan-santun kepadanya, namun sejak kecil Heng San sudah dijejali budi pekerti baik oleh kedua orang tuanya, maka kini tanpa disengaja lagi secara otomatis deapun menjura dan memberi hormat.
”Maafkan saya kalau saya mengganggu. Saya hanya kebetulan lewat dan ingin menonton saja, Ciang Kauwsu.”katanya hormat.
”Engkaukah yang terkenal dengan julukan Heng San si Pembunuh Kerbau itu?” tanya Ciang Kauwsu yang nama lengkapnya Ciang Hok.
”Nama saya Lauw Heng San.”
”Hem, aku sudah mendengar bahwa engkau putera si tukang obat Lauw Cin. Benarkah lima tahun yang lalu, ketika engkau masih remaja, engkau telah membunuh seekor kerbau gila dengan sekali pukul? Ahh! Aku tidak percaya itu. Tentu kabar itu kosong dan dilebih- lebihkan saja!” kata Ciang Kauwsu.
”Suhu mungkin sebelumnya kepala kerbau itu telah retak!” seru seorang murid dan ucapan yang mengejek itu disambut gelak tawa.
Hati Heng San menjadi panas. ”terserah kepada kalian mau percaya atau tidak, aku tidak peduli. Yang penting kenyataannya, melihat kerbau gila mengamuk, aku khawatir kalau kerbau gila itu mencelakai orang, maka kupukul dia dan mati!”