Walalupun tidak ada kuburan untuk isteri dan anaknya, Pat Jiu Sin-kai percaya bahwa mereka sudah mati. Dia begitu sedih dan terguncang hatinya sehingga dia menjadi seperti orang kehilangan semangat dan tak lama kemudia orang-orang mendapatkan dia mengembara dengan pakaian awut-awutan sebagai seorang pengemis. Dia merantau kemana saja kakinya membawanya dan dia sudah tidak ingat lagi akan namanya sendiri. Akan tetapi karena watak pendekarnya masih ada, dimanapun dia berada, dia selalu menentang kejahatan.
Banyak sekali penjahat telah dia robohkan, bahkan banyak jagoan-jagoan berilmu tinggi kalah olehnya sehingga dunia kangouw memberikan julukan Pat-jiu Sin-kai kepada orang yang telah melupakan namanya sendiri itu. Dia agaknya juga tidak pernah melupakan bahwa anak isterinya mati karena penyerbuan pasukan Mancu, maka dia menganggap bahwa Mancu sebagai musuh besarnya. Dimanapun dia berada, kalau bertemu dengan pembesar Mancu, tentu dia akan menyerang dan membunuhnya. Karena itu, selain nama Pat-jiu Sin-kai dikagumi dunia kang-ouw, nama itupun dibenci pemeritnah baru Mancu dan para pembesar mengerahkan pasukan untuk dapat menangkap atau membunuhnya. Pat-jiu Sin-kai sudah tidak memperdulikan dirinya lagi, tidak menjaga diri, tidak memperhatikan kesehatannya, tidak menjaga makannya yang tidak menentu, sehingga akhirnya dia terserang penyakit. Seringkali dia terserang penyakit jantung dan seringkali jatuh pingsan. Ketika dia lewat di dekat rumah Lauw Cin penyakitnya kambuh dan dia jatuh pingsan ditepi jalan yang ketika itu amat sunyi. Untung baginya bahwa Heng San melihatnya. Kalau tidak, dia tentu sudah mati kaku kedinginan di luar rumah itu. Sebagai seorang yang berwatak pendekar, dia tidak mau menerima budi orang tanpa membalas. Terutama sekali setelah melihat Heng San, dia teringat akan anak laki-lakinya sendiri dan dia suka pula melihat Heng San berbakat. Maka dia mengambil keputusan untuk menunda perantauannya yang tak ada ujung pangkalnya itu dan dia menurunkan ilmu-ilmunya kepada Heng San.
Pat-jiu Sin-kai tidak tanggung-tanggung mewariskan ilmunya kepada Heng San. Dia menggembleng anak itu sedemikian rupa sehingga boleh dibilang tidak ada satu haripun terlewat tanpa latihan berat. Akan tetapi Heng San tidak pernah merasa berat, tidak pernah malas. Dia senang betul berlatih silat. Dia mulai mengabaikan pelajarannya tentang kesusasteraan dan lebih suka berlatih silat. Lauw Cin dan isterinya tentu saja tidak senang melihat ini, akan tetapi mereka tidak berdaya. Mereka terlalu sungkan kepada Pat- jiu Sin-kai dan merekapun tidak tega menghentikan putera mereka dari kesenangannya. Mereka terlalu memanjakan Heng San. Maka merekapun diam saja.
Tubuh Heng San yang tadinya kurus lemah itu, tahun demi tahun mengalami perubahan besar. Walaupun dia masih kurus akan tetapi tubuh itu tampak tegap berisi dan kuat sekali. Terutama tangan kanan Heng San memiliki tenaga yang luar biasa kuat karena gurunya memberi pelajaran bermacam-macam ilmu yang lihai kepadanya, dari latihan memukul dan meremas pasir panas sampai meremas bubuk besi!
Akan tetapi ketika Pat-jiu Sin-kai hendak memberi ilmu silat yang menggunakan senjata tajam, Lauw Cin dan isterinya melarangnya. Ayah dan ibu ini merasa ngeri melihat putera mereka memainkan senjata tajam, seolah-olah mereka melihat anak mereka membunuhi orang dengan senjata-senjata itu atau setidaknya melukai orang. Padahal Lauw Cin adalah orang yang suka mengobati orang-orang sakit atau terluka. Karena permintaan yang sangat dari kedua orang tua Heng San, Pat-jiu Sin-kai tidak memaksakan kehendaknya. Pengemis tua yang lihai ini masih tetap menaruh hormat kepada Lauw Cin yang disebutnya sebagai in-kong (tuan penolong). Maka diapun menggembleng Heng San dengan ilmu-ilmu silat tangan kosong yang amat lihai. Bahkan dia mengajarkan semacam ilmu silat tangan kosong khas untuk melawan dan menghadapi musuh-musuh yang bersenjata tajam. Untuk menjadi ahli silat tangan kosong yang betul-betul tangguh, Heng San harus memiliki kepandaian silat tangan kosong yang lengkap. Ginkangnya (ilmu meringankan tubuhnya) harus tinggi agar dia dapat bergerak dengan gesit dan lincah seperti seekor kera. Selain tenaga otot yang biasa disebut gwa-kang (tenaga luar) harus kuat, lwee-kang (tenaga dalam) harus terlatih baik, bahkan sin-kang (tenaga sakti) harus ditimbulkan dan dapat dikendalikannya dengan baik. Juga berdasarkan sin-kang ini dia diberi pelajaran Tiat-pouw-san (Baju Besi), semacam ilmu kebal sehingga senja baja biasa saja belum tentu dapat melukainya.
Setalah Heng San dilatih Pat-jiu Sin-kai selama lima tahun, Lauw Cin dan isterinya menganggap bahwa putera mereka sudah cukup lama mempelajari ilmu silat. Dia dan siterinya menemui Pat-jiu Sin-kai dan menyatakan pendapatnya.
Paman yang baik, kami kira sudah cukup lama Heng San mempelajari ilmu silat, telah kurang lebih lima tahun. Dia kini sudah mulai dewasa, usianya sudah tujuh belas tahun. Sudah tiba waktunya bagi Heng San untuk memperdalam pengetahuannya tentang ilmu pengobatan agar dia dapat menggantikan kedudukanku dan melanjutkan usahaku. Akan tetapi Pat-jiu Sin-kai memutar-mutar kedua matanya dan menggelengkan kepalanya. ”Belum, In-kong, Belum!” dia selalu menyebut In-kong (tuan penolong) kepada Lauw Cin.” kepandaiannya masih belum matang dan belum cukup. Dia harus belajar lima tahun lagi!”
”Lima tahun lagi?” Suami Isteri itu berteriak hampir berbareng saking kagetnya mendengar ucapan pengemis tua yang kini berpakaian rapi dan bersih, dan tidak pantas disebut pengemis itu.”Paman, untuk apa dia harus belajar lima tahun lagi?” teriak Lauw Cin penasaran ”Apa gunanya? Apakah dia bisa kenang karena main silat? Apa dia bisa menghasilkan sesuatu dengan ilmu silatnya?”
”Benar sekali kata-kata suamiku, paman!” kata pula isteri Lauw Cin yang ikut menjadi penasaran.” Untk apa dia harus membuang-buang waktu untuk mempelajari ilmu silat lima tahun lagi? Dia sudah dewasa, harus mendapatkan jodohnya. Apakah kelak dia harus memberi makan anak dan isterinya dengan ilmu silat? Buktinya, dia bersusah payah mempelajari ilmu silat lima tahun dan apa hasilnya?”
Kakek itu menghela napas lalu melompat ke atas pembariangan dan duduk bersila. ”Hasilnya? Lihat saja sore nanti, pasti Heng San akan memperlihatkan hasil belajar silat selama ini.” Setelah berkata demikian, Pat-jiu Sin-kai lalu memejamkan kedua matanya, bersemedi seperti biasanya. Melihat kakek bersamadhi, Lauw Cin dan isterinya tidak berani mengganggu lagi dan keluar dari kamar kakek itu. Mereka merasa penasaran dan tidak puas.
”Apa sih yang dimaksudkan ketika dia berkata bahwa sore nantu Heng San akan memperlihatkan hasilnya belajar silat selama ini?” isteri Lauw Cin mengomel ketika mereka sudah berada di dalam toko obatnya.
Pada sore harinya, ketika Lauw Cin dan isterinya sedang sibut membungkus obat, terjadilah keributan di atas jalan depan rumah dan toko mereka. Ada seorang anak penggembala menggiring tiga ekor kerbaunya, agaknya hendak diajak pulang ke kandang. Tiba-tiba seekor dari kerbau-kerbau itu yaitu yang paling besar dan kuat karena kerbau itu jantan dan sudah dewasa, menguak dengan keras, lalu mendengus-dengus, mengguncang-guncang kepala yang bertanduk melengkung dan runcing itu, kemudian lari ke kanan kiri dan mengamuk.
”Awas...! Kerbau gila mengamuk! Lari...! Lari...! terdengar beberapa orang berteriak dan semua orang yang berada di jalan itu berlarian cerai-berai. Sebuah kereta dorong yang berada ditepi jalan, didepan toko Lauw Cin, diseruduk kerbau yang mengamuk itu sehingga menjadi berantakan dan pecah-pecah. Pendorongnya melompat dan lari sambil berteriak ketakutan.
Kini kerbau yang mengamuk itu berada di dekat toko Lauw Cin. Melihat kerbau yang matanya merah itu mendengus-dengus marah, Lauw Cin dan isterinya memandang ketakutan, bahkan Nyonya Lauw Cin menjadi pucat dan gemetaran. Apalagi ketika mereka melihat Heng San tiba-tiba melompat keluar dari toko dan dengan tenangnya pemuda itu menghadapi kerbau yang mengamuk.
”Heng San larilah...! cepat lari Lauw Cin dan Isterinya menjerit-jerit, Pemuda itu menoleh kepada mereka lalu tersenyum, ”tenanglah, ayah dan ibu.” katanya Kerbau gila itu kini melihat Heng San. Dia mendengus marah, mendudukan kepalanya, kaki depannya menggaruk-garuk tanah lalu menerjang ke depan.
”Heng San... Heng San... !!” kemudian ia terkulai lemas dalam pelukan suaminya. Pingsan!
Menghadapi serudukan kerbau itu Heng San bersikat tenang namun dengan gerakan tenang namun dengan gerakan lincah dia menghindar ke samping sehingga serudukan kerbau itu sempat membalik untuk menyerang lagi, dia melompat dekat ke samping kerbau, menggunakan tangan kiri menangkap tanduk kerbau dan tangan kanannya lalu menyambar dengan pukulan kilat ke arah kepala kerbau.
Lauw Cin yang memeluk isterinya dan memandang ke arah puteranya, mata terbelalak dan mukanya pucat, jantungnya berdebar tegang dan khawatir, hanya mendengar suara ”krakk” yang nyaring dan dia melihat betapa tubuh kerbau yang besar itu menjadi lemas dan roboh diatas tanah, tak begerak lagi, darah mengalir dari kepalanya yang pecah. Bukan Lauw Cin dan mereka yang kebetulan melihat peristiwa ini, bahkan Heng San sendiri jelas tampak heran dan terkejut sampai berdiri terbelalak memandang bangkai kerbau itu. Kemudian, seperti orang penasaran yang tidak percaya akan apa yang dilihatnya sendiri, pemuda itu membungkuk dan memeriksa kepala kerbau itu dan dia membersihkan tangannya yang berlepotan darah pada kulit leher kerbau itu.
Orang-orang datang berduyun-duyun untuk melihat jelas bahwa kerbau gila yang mengamuk itu telah tewas. Tiada habisnya mereka memuji ketangkasan dan kehebatan Heng San. Ramailah orang sekota membicarakan peristiwa itu. Mereka selain kagum juga terheran-heran karena sebelumnya tidak ada yang tahu bahwa Heng San telah mempelajari ilmu silat dari seorang sakti. Mereka memang tahu bahwa di rumah Lauw Cin tinggal seorang Kakek kurus kering yang tampak lemah. Lauw Cin hanya mengatakan bahwa kakek itu masih pamannya yang kini tinggal bersamanya.
Setelah memapah isterinya yang masih belum sadar benar dan masih lemas itu, Lauw Cin memanggil puteranya. Seorang pembantu toko disuruh menjaga toko dan Heng San memasuki kamar itu dengan senyum bangga karena kini baru dia menyadari bahwa selama bertahun-tahun tekun belajar silat, kini tampak bukti dan hasilnya. Pat-jiu Sin-kai juga berdiri diambang pintu kamar sambil tersenyum.
”Bagaimana pendapatmu tentang hasil latihan silat Heng San, Lauw In-kong?” tanya kakek itu. Lauw Cin tidak dapat menjawab, hanya memandang wajah puteranya dengan kagum. Pada saat itu, Nyonya Lauw telah siuman kembali bangun duduk dan matanya mencari-cari.
”Heng San..., Heng San ” Heng San segera menghampiri ibunya dan duduk disamping
ditepi pembaringan. ”Aku disini, Ibu, jangan takut, aku tidak apa-apa.”
Ibunya memandang penuh kasih sayang dan ia menghela napas lega melihat anaknya berada didekatnya dengan selamat. Ia merangkul Heng San dan berkata, ”Ahh, Heng San, jangan engkau membuat ibumu kaget setengah mati seperti tadi. Engkau tidak terluka? Dan bagaimana kerbau itu tadi?”.