Pengemis tua itu memandang Heng San dengan sinar matanya yang tajam dan aneh. Kemudia tiba-tiba kedua tangannya terulur ke depan dan dia sudah memegang kedua pundak anak itu. Jari-jari tangannya meraba-raba pundak, leher, punggung dan dada. Lalu jari-jari itu meraba-raba dan menekan-nekan kepala Heng San. Anak itu merasa risi dan geli, akan tetapi dia tidak dapat melepaskan diri dari jari-jari tangan yang seolah-olah melekat pada tubuhnya itu. Kakek itu akhirnya melepaskan kedua tangannya dari tubuh Heng San, dia tertawa dan mengagguk-anggukkan kepalanya.
“Ha-ha-ha, tidak percuma …. Tidk percuma …!” selagi ibu, ayah dan anak itu terheran- heran, kakaek itu bertanya kepada Lauw Cin, “In-kong (tuan penolong), apakah anak ini puteramu?”.
Lauw Cin mengangguk, “benar, dia putera kami, anak tunggal kami.”
Kakek itu tiba-tiba melompat turun dari atas pembaringan, berdiri di atas lantai dan menari-nari sambil bertepuk-tepuk tangan. Lauw Cin, isteri dan anaknya hanya memandang bingung, mengira bahwa kakek itu kumat gilanya.
“Bagus! bagus sekali! Kalau begitu, tidak percuma engkau menolongku, In-kong. Aku tidak akan susah-susah lagi mencari jalan untuk membalas budimu! Ha ha ha ha!” Dia tertawa- tawa dan bertepuk-tepuk tangan ladi, menari-nari di sekeliling kamar itu.
“Paman yang baik, apa maksud kata-katamu itu?” Lauw Cin bertanya dan memandang heran. Isterinya mengerutkan alis dan merasa ngeri, mengira bahwa kakek itu adalah seorang yang miring otaknya.
Kakek itu berhenti menari-nari dan berdiri di depan Lauw Cin. “Paman yang baik? Ha ha, aku suka sebutan itu! Paman yang baik baik. Ah, sebutan yang enak didengar. Ketahuilah, In-kong, orang yang kau tolong hari ini, bukan sembarang pengemis, juga bukan sembarang orang! Aku adalah Pat-jiu Sinkai yang telah menjelajah dunia kang-ouw (dunia persilatan) selama puluhan tahun!”
Lauw Cin terkejut bukan main. Dia sudah banyak mendengar akan nama julukan Pat-Jiu Sinkai (Pengemis Sakti Tangan Delapan) ini yang amat terkenal sebagai seorang pendekar aneh yang selalu membasmi kejahatan menolong yang lemah, membela kebenaran dan keadilan. Seorang tokoh kang-ouw atau dunia persilatan sungai telaga yang ditakuti lawan disegani kawan. Lauw Cin lalu cepat memberi hormat dengan merangkap tangan depan dada dan membungkuk.
“Harap maafkan kami, Lo-enghiong (pendekar tua), kami tidak tahu bahwa kami berhadapan dengan seorang pendekar yang terkenal gagah perkasa dan budiman. Terimalah hormat saya.”
“Huh, apa ini? Aku tidak suka penghormatan yang berlebihan. Sudah kukatakan bahwa aku lebih senang disebut paman yang baik. Jangan sebut-sebut aku lo-enghiong segala macam. Aku memang tidak pernah dikalahkan orang gagah dan jagoan manapun. Akan tetapi hari ini aku harus tunduk kepada keperkasaan alam dan jatuh sakit, hamper mati tak berdaya sehingga kelihatan bahwa aku sebetulnya hanyalah seorang manusia yang lemah. Kebetulan sekali engkau yang menolongku. Aku si tua bangka ini belum pernah berhutang budi tanpa dibalas. Sekarang aku melihat bahwa anakmu ini bertulang pendekar dan berkakat baik sekali. Maka perkenankanlah aku mengangkat dia sebagai muridku, dengan demikian aku dapat membalas budimu.”
Selagi Lauw Cin dan isterinya termangu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana mendengar ucapan kakek pengemis itu, Heng San yang juga pernah mendengar akan nama besar kakek itu segera saja menjatuhkan diri berlutut di depan kaki Pat-jiu Sinkai sambil mengangguk-anggukkan kepala dan berkali-kali menyebut, “Suhu ….”
Pat-Jiu Sin-kai memandang anak itu, lalu tertawa dan berkata girang “Ha ha, muridku yang baik! Muridku yang baik!” Tiba-tiba di memegang kedua pundak Heng San, lalu mengangkat tubuh anak itu dan melemparkan tubuh itu ke atas, diterima kembali dengan kedua tangan ketika tubuh itu meluncur turun, dilempar dan diterima lagi sampai berulang kali, seolah-olah tubuh anak itu menjadi sebuah bola yang dibuat mainan sesuka hati. Heng San sama sekali tidak pernah berteriak ketakutan, bahkan merasa gembira juga kagum akan kekuatan kakek yang kelihatannya kurus kering berpenyakitan itu.
Lauw Cin dan isterinya tentu saja memandang adegan itu dengan mata terbelalak dan hati khawatir, akan tetapi merasa sungkan untuk melarang, apa lagi mereka melihat Heng San tersenyum-senyum girang diperlakukan seperti bola mainan itu. Ketika Heng San diturunkan ternyata wajah anak yang taadinya pucat kedinginan kini tampak segar, kedua pipinya kemerahan dan matanya bersinar-sinar gembira! Tentu saja Lauw Cin merasa girang.
“Ha-ha-ha, tidak salah pilihanku! Aku merasa beruntung sekali mendapatkan murid seperti
… heii, aku belum mengenal namamu! Juga belum mengenal nama in-kong, penolongku!” tiba-tiba kakek itu berseru.
Lauw Cin tersenyum dan berkata “paman yang baik,” dia tidak berani lagi menyebut dengan sebutan lain, “nama saya adalah Lau Cin dan anak kami bernama Lauw Heng San.”
“Lauw Heng San? Bagus, biarlah kelak dia menjadi sekokoh San (Gunung). Dan katakan terus terang, apakah kalian suami isteri tidak merasa keberatan kalau aku tinggal disini dan menjadi guru anak kalian ini?”
“Ah, sama sekali tidak, paman Pat-jiu Sin-kai. Kami malah merasa gembira dan berterima kasih sekali.” Lauw Cin berkata, kemudian suami isteri itu segera mengatur dan menyediakan sebuah kamar untuk menjadi kamar tidur kakek itu.
Demikianlah, mulai hari itu Pat-jiu Sin-kai tinggal dirumah keluarga Lauw Cin dan menjadi guru Hengsan. Diapun kini mau membersihkan badannya dan mengenakan pakaian bersih sehingga biarpun masih tampak kurus, namun sehat dan bersih. Dia juga tidak menolak ketika Lauw Cin membuatkan obat untuk memulihkan kesehatannya.
Pada malam pertama Pat-jiu Sin-kai tinggal dirumah itu, Lauw Cin dan isterinya tidak dapat tidur. Mereka memperbincangkan anak mereka dan Pat-jiu Sin-kai. Tadinya isteri Lauw Cin menyatakan kekhawatirannya dan tidak membiarkan anak tunggalnya menjadi murid kakek yang aneh dan terkadang seperti tidak waras otaknya itu, Akan tetapi setelah dibujuk suaminya dan mendengarkan alasan-alasannya, ia menurut juga. Suami isteri itu tidak tahu kalau percakapan mereka dapat didengar oleh Pa-jiu Sin-kai yang rebah diatas pembaringan dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar suami isteri itu. Mereka tidak tahu bahw kakek itu memiliki banyak kesaktian. Diantaranya ilmu-ilmunya, dia menguasai ilmu yang disebut Hok-te Teng-seng (mendekam di tanah mendengarkan suara). Dengan ilmu ini, kalau dia menempelkan telinganya di atas tanah, dia dapat mendengarkan jejak langkah kaki yang datang dari jauh. Kini, dengan mengempelkan telinya pada tembok, dia dapat pula mendengarkan percakapan Lauw Cin dan isterinya dengan jelas solah-olah dia hadir dalam kamar tidur itu.
Lauw Cin mengatakan pendapatnya kepada isterinya yang merasa tidak setuju anaknya menjadi murid Pat-jiu Sin-kai. “Aku sendiripun tidak merasa suka melihat wataknya yang aneh dan menakutkan itu, akan tetapi bagaimana kita dapat menolak permintaannya untuk mendidik Heng San? DIa seorang yang amat terkenal dan sepanjang pendengaranku, dia adalah seorang pendekar besar yang banyak mencurahkan tenaganya untuk menolong orang-orang yang tertindas dan sengsara. Jadi, kalau dipikir-pikir, dia masih segolongan dengan kita. Bukankah kita juga bercita-cita untuk mendidik Heng San menjadi orang pandai dan budiman yang kelak menjadi penolong orang yang sengsara?”
“Akan tetapi kita menolong orang-orang menggunakan kelembutan, bukan dengan kekerasan seperti para pendekar silat!” bantah isterinya.
Memang benar, akan tetapi harus kita ingat bahwa sekarang ini jamannya sudah berubah. Negara dijajah bangsa Mancu, dimana-mana terjadi perang dan pemberontakan melawan penjajah. Timbul pula banyak orang jahat yang mempergunakan kesempatan selagi Negara kacau untuk melakukan perampokan dan segala macam kejahatan. Hidup menjadi tidak aman. Maka, aku kira tidak ada jeleknya kalau Heng San mempelajari sedikit ilmu silat agar tubuhnya kuat dan dia kelak dapat menanggulangi segala macam bahaya kekerasan dengan tabah dan dapat menjaga diri terhadap serangan orang-orang jahat.
Isterinya menghela napas panjang. “hem, ya sudahlah kalau begitu. Mudah-mudahan apa yang kau katakan itu semua benar demi kebaikan anak kita.”
Pat-jiu Sin-kai tidak mendengarkan lagi dan dia tersenyum puas dalam tidurnya.
****
Par-jiu Sin-kai dahulu tinggal di dekat kota raja Peking dan dia terkenal sebagai seorang guru silat yang memiliki kepandaian silat tinggi. Ketika pasukan Mancu menyerbu Peking dengan bantuan Wu San Kui dan mengalahkan pemberontak yang telah menjadi Kaisar Dinasti Beng yang baru, maka Pat-jiu Sin-kai juga ikut berjuang mempertahankan kota raja Peking. Setelah pasukan kerajaan itu kalah dan terpukul mundur, keluar meningkalkan Peking, Pat-jiu Sin-kai pulang ke kampungnya. Akan tetapi alangkah kaget dan sedihnya ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa dusunnya telah dibakar ketika terjadi perang, bahkan isteri dan anak tunggalnya dikabarkan tewas dalam keributan perang itu.