Halo!

Si Tangan Halilintar Chapter 01

Memuat...

Angin menderu-deru, bertiup kencang mengguncang pohon-pohon yang meliuk-liuk seperti menari-nari sambil berdesah panjang. Semakin besar dan tinggi pohon itu, semakin hebat pula ia terlanda angin yang mengamuk. Melihat betapa angin lebih hebat mempermainkan pohon kecil pendek, maka terasa kebenaran kaum bijaksana jaman dahulu yang mengatakan bahwa makin kaya dan makin tinggi kedudukan seseorang, makin banyak pula godaan menerpa dirinya. Karena itu orang bijaksana memilih menjadi orang kecil yang hidup sederhana dan tidak menonjol sehingga hidupnya tenteram dan damai.

Musim dingin telah tiba. Sejak padi matahari tidak tampak karena terhalang awan dan mendung hitam tebal sehingga cuaca remang dan angin kencang membuat hawa terasa sangat dingin menyusup tulang. Hawa udara seperti itu amatlah buruknya dan semua orang tahu bahwa keadaan macam itu biasanya membawa datang bermacam-macam penyakit. Yang sudah pasti, akan banyak orang terserang panyakit batuk pilek.

Kota Lin-han-kwan yang biasanya cukup ramai itu, kini tampak sunyi. Toko-toko dan pintu- pintu rumah banyak yang tutup. Orang-orang, terutama yang berbadan lemah, merasa lebih aman untuk tetap tinggal dalam rumah, menghangatkan diri dengan baju atau selimut tebal dan mendekati perapian. Jalan-jalan sunyi karena siapa yang mau dilanda sunyi karena siapa yang mau dilanda angin kencang yang mengamuk di luar rumah itu? Lebih baik terlindung di dalam rumah. Kecuali mereka yang terpaksa keluar rumah untuk bekerja, mereka yang hidup miskin dan mengandalkan hidupnya dari hari ke hari dari hasil pekerjaan mereka. Sehari saja tidak bekerja, berarti besok tidak ada beras untuk dimakan keluarga! Mereka inilah yang tepaksa keluar rumah untuk bekerja, para pekerja kasar, kuli angkut dan segolongannya. Biarpun tubuh mereka hanya terbungkus kain kasar yang tidak tebal, namun tubuh yang sudah terbiasa dengan udra nuruk itu telah menjadi kebal. Angin kencang itu agaknya tidk mampu menembus mereka yang sudah membaja. Kecuali para pekerja kasat yang miskin ini, tidak ada orang lain yang keluar rumah.

Pada saat itu, tampak adegan yang amat menarik perhatian seorang anak laki-laki berusia dua belas tahun yang duduk dibalik kaca jendela sebuah rumah. Anak itu memandang dengan penuh perhatian kearah pohon-pohon yang diamuk angin. Dia melihat betapa hanya pohon-pohon yang besar tinggi yang diombang-ambingkan angin. Banyak pula phpn pohon tinggi yang patah-patah cabangnya. Hanya pohon cemara yang tinggi saja yang tidak patah. Pohon-pohon cemara tinggi itu meliuk-liuk dengan lemas dan lenturnya, menyerah tanpa perlawanan dan karena inilah mereka itu selamat, tidak sampai patah atau rusak. Tiba-tiba pandang mata anak itu tertarik ketika dia melihat seorang laki-laki tua berjalan terhuyung-huyung di jalan simpang tiga, Laki-laki itu sudah tua, pakaiannya butut compang-camping, tubuhnya kotor tak terurus dan kurus, rambutnya yang banyak uban itupun kotor.

“kasihan pengemis itu …” Anak itu berbisik dan memandang penuh perhatian, sinar matanya membayangkan perasaan iba yang memenuhi hatinya. Iba merupakan sebuah perasaan suci dan mulia yang merupakan satu di antara buah-buah dari pohon Kasih yang tumbuh dalam hati sorang manusia. Dan agaknya perasaan iba ini sudah ditanamkan oleh orang tua anak itu sejak dia masih bayi. Anak itu bernama Law Heng San, putera Law Cib dan istrinya Law Cin berusia empat puluh tahun dan istrinya berusia tigaluh dua tahun.

Mereka hidup bahagia dan tenteram di kota Lin-han-kwan itu. Lauw Cin pernah mempelajari ilmu pengobatan dan kini dia membuka sebua took obat di kota itu. Iarpun took obatnya tidak begitu besar, namun penghasilannya cukup untuk membiayai kehidupan mereka bertiga. Juga nama Lauw Cin dikenal baik oleh penduduk kota itu karena Lauw Ci terkenal suka menolong orang. Dia tidak pernah mencari banyak keuntungan, tidak memasang harga tinggi untuk obatnya biarpun yang beli orang kaya, dan bahkan dia siap memberikan obat secara Cuma-Cuma pada penderita sakit yang miskin. Karena ayah ibunya suka menolong orang dan murah hati itulah maka hengsan juga mudah merasa kasihan kepada orang yang menderita.

Heng San bertubuh kurus dan wajahnya tampan, kulitnya putih bersih. Alisnya tebal dan hitam. Membuat wajah yang tampan itu tampak gagah. Sebagai anak tunggal, tentu saja Heng San sangat disayang dan dimanja orang tuanya. Mereka tidak mengundang seorang guru untuk mengajarkan ilmu membaca dan menulis kepada anak mereka. Suami istri itu adalah orang-orang yang pernah mempelajari kesusasteraan maka mereka sendiri yang mendidik Heng San sejak anak itu berusia lima tahun. Kini dalam usia dua belas tahun, Heng San telah mahir sekali, bukan hanya membaca dan menulis huruf, bahkan dia pandai membaca kitab-kitab pelajaran Khong Hu Cu, pandai pula membaca kitab To Tek Keng dari agama To, dan selain kefasihan membaca itu diapun pandai mengarang dan menulis sajak dengan huruf-huruf yang indah. Juga sudah lebih dari setahun anak ini mulai diberi pelajaran tentang ilmu pengobatan oleh ayahnya. Tiada cita-cita lain dalam hati Lauw Cin dan isterinya selain melihat putera mereka kelak menjadi ahli pengobatan yang pandai dan budiman sehingga dapat menggantikan pekerjaan orang tuanya.

Tiba-tiba sepasang mata Heng San yang bersinar lembut namun tajam itu terbelalak. Dia melihat kakek pengemis itu terhuyung-huyung lalu jatuh terpelanting ke tepi jalan. “Aduh celaka, di jatuh …” kata Heng San dan melihat kakek itu tidak bangkit kembali, tanpa ragu dia lalu membuka dan melompat keluar kemudian berlari menghampiri kakek itu dengan maksud hendak menolongnya bangkit kembali. Akan tetapi ketika dia berjongkok dan memeriksa, ternyata kakek itu tak dapat bergerak lagi dantidak bergerak maupun menjawab ketika dia memanggil-manggilnya.

“Kek! Kek! Bangunlah …!” Dia mengguncang pundak yang kurus itu, akan tetapi kakek itu tetap tidak bergerak, seperti telah mati saja.

Heng San yang telah mempelajari ilmu pengobatan, memegang nadi pergelangan tangan kakek itu, lalu meraba dadanya. Masih berdenyut, akan tetapi lemah sekali. Dia pingsan, piker Heng San dan dalam udara sedingin ini. Kalau dibiarkan, kakek itu tentu akan mati. Cepat dia berlari pulang dan mengetuk pintu depan dengan gencar.

Daun pintu terbuka dari dalam dan ibunya berdiri memandangnya dengan mata terbelalak, juga ayahnya berdiri di belakang ibunya dengan terheran-heran.

“Aihh …., Heng San! Bagaimana engkau dapat berada diluar? Cepat masuk Hawa sedingin ini berada di luar, bias masuk angin!” kata ibunya dambil menarik tangan anaknya ke dalam dan cepat menutup daun pintu karena begitu terbuka, dari luar sudah menyerbu angin yang amat dingin.

“Heng San, bagaimana engkau dapat di luar rumah?” Tanya ayahnya dengan sinar mata tajam menyelidik.

“Ayah, Ibu, aku tadi melihat dari jendela seorang pengemis tua terhuyung lalu jatuh terguling ke atas tanah. Aku lalu keluar dari jendela untuk menolongnya, ternyata dia pingsan, Ayah.”

Ayah dan Ibunya yang tadinya marah melihat Heng San keluar rumah tanpa pamit dalam cuaca seburuk itu, segera lenyap perasaan marah mereka begitu mendengar keterangan Heng San. Hati mereka yang penuh bleas kasihan itu segera tertarik dan cepat mereka mengajak Heng San untuk keluar dan menunjukkan dimana pengemis tua itu berada. Setelah tiba di dekat tubuh kakek yang rebah miring itu, Lauw Cin cepat memeriksanya.

“Ah, masih hidup!” katanya penuh harapan dan dibantu Heng San, Lauw Cin segera memondong tubuh kakek itu dan membawanya masuk ke dalam rumahnya diikuti isterinya.

“Cepat sediakan air panas dan buatkan bubur encer!” perintah Lauw Cin kepada Isterinya. “Heng San, kau ambil arak, obat gosok dengan arak, kemudia dia dibantu oleh Heng San menanggalkan pakaian kotor kakek itu. Tampak tubuh yang kurus kering dengan tulang- tulang menonjol dibawah kulit. Lauw Cin lalu menggosok-gosok seluruh tubuh itu dengan obat dan arak mengusir dingin yang membuat tubuh itu menjadi kaku. Kemudia dia menyuruh Heng San mengambil seperangkat pakaian yang baru dan tebal lalu mengenakan pakaian itu pada tubuh kurus itu.

Ibu Heng San memasuki kamar membawa bubur panas dan air mendidih. Lauw Cin mencampur obat dengan air panas, lalu menuangkan obat ke dalam mulut kakek itu. Kakek itu mengeluh lirih dan bergerak, akan tetapi masih memejamkan mata, seperti orang ngelindur. Law Cin lalu menyuapkan bubur kedalam mulutnya dan kakek itu menelan beberapa sendok bubur hangat.

Tak lama kemudian sadarlah pengemis tua itu dan membuka kedua matanya. Dia terbelalak heran, memandang ke kanan kiri, lalu kepada pakaian yang menutupi tubuhnya. Di luar dugaan semua orang tiba-tiba tubuh yang kurus lemah itu telah melompat dan bangkit duduk, matanya memandang ke sekeliling lagi dan berputaran aneh. Lalu dia memandang satu demi sau wajah ayah ibu dan anak itu dan mulutnya tersenyum getir. Terdengar suaranya penuh keluhan dan penyesalan.

“Hayaaaa…..! Engkau telah memaksa aku harus mengaku engkau adalah In-kong (tuan penolong) bagiku! Kalau tadi kalian membiarkan tubuh tua bangka yang hampir rusak ini mati di jalan, sekarang aku tentu sudah senang. Akan tetapi sekarang kalian telah mengikat aku dan memberi tugas hidup yang baru untuk melunasi hutangku kepadamu Hayaaa…!” Pengemis itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan menghela napas panjang pendek.

Lauw Cin bertukar pandang dengan isterinya. Sungguh aneh orang ini. Ditolong tidak berterima kasih malah mengeluh dan mengomel panjang pendek!.

“Paman, harap jangan sungkan. Kami menolongmu bukan untuk melepas budi, melainkan sekadar memenuhi kewajiban kami sebagai manusia. Kami tidak mengharapkan imbalan apapun.” kata Lauw Cin.

“Kek, kenapa engkau ingin benar cepat mati? Lihat, alangkah senangnya hidup. Kita bisa bermain-main, bisa makan enak,” kata Heng San dengan suara mencela ketika mendengar kakek itu berkata bahwa dia akan lebih senang mati.

Post a Comment