Akhirnya anak itu dapat menduga bahwa hwesio itu tentu pingsan. Tadinya dia merasa ngeri karena mengira hwesio itu mati, akan tetapi karena dada yang bidang itu masih bernapas, dia mengira bahwa tentu pendeta itu pingsan. Pernah dia melihat orang pingsan di dusunnya dan dia pernah mendengar pula bahwa orang pingsan dapat dibuat sadar dengan siraman air. Dia segera lari pergi untuk mengambil air dengan sebuah ember yang memang selalu dia bawa untuk memandikan kerbau-kerbaunya setelah kenyang membiarkan mereka makan di padang rumput siang nanti. Kemudian setelah mengisi ember itu dengan air, dia kembali ke situ dan tanpa ragu lagi dia lalu menyiramkan air pada muka dan kepala Ceng In Hosiang.
Hwesio itu gelagapan dan membuka! matanya, menggoyang kepalanya daan bangkit duduk, lalu mengeluh karena; merasa betapa pundaknya panas pedih dan dadanya terasa sesak. Ingatlah dia akan segala yang terjadi, maklum bahwa dia terluka.
Kemudian dia melihat anak yang berdiri di dekatnya, seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun yang matanya bersinar terang akan tetapi pakaiannya butut, kasar dan tambal-tambalan. Dia melihat pula betapa anak itu masih memegang sebuah ember yang basah dan tahulah dia bahwa anak itu yang tadi menyadarkannya dengan siraman air.
Ceng In Hosiang tersenyum, memandang anak itu. "Engkaukah yang menyiram muka dan kepalaku dengan air?"
Anak itu lalu menjatuhkan dirinya berlutut memberi hormat kepada hwesio itu. "Losuhu, maafkan aku. Aku melihat Losuhu rebah telentang dan aku mendengar bahwa orang pingsan dapat sadarkan dengan siraman air, maka aku menyiram muka Losuhu dengan air."
Melihat anak itu agaknya ketakutan, Ceng In Hosiang tertawa.
"Ha-ha, jangan takut. Pinceng berterima kasih kepadamu, anak baik. Siapakah namamu?"
"Namaku Liu Cin, Losuhu."
Ceng In Hosiang mengamati wajah anak itu. Wajah yang terang dan bentuknya gagah, pikirnya. Sepasang mata yang bersinar tajam dan tampak jujur.
"Di mana tempat tinggalmu dan siapa Ayah Ibumu?" "Orang tuaku mereka sudah tiada, Losuhu. Aku bekerja di rumah Kepala
Dusun sebagai pembantu dan mengurus kerbau-kerbaunya "
Hemmm, anak yatim piatu. Ceng In Hosiang menyeringai karena merasa nyeri di dalam dadanya. Agaknya pukulan sabuk kulit naga dari Im Yang Tosu telah mendatangkan luka dalam di dadanya.
"Kenapa, Losuhu? Apakah Losuhu sakit ?" Anak itu mendekat dengan khawatir.
Melihat perhatian anak itu, Ceng Hosiang tersenyum. Dia lalu duduk sila dan berkata. "Liu Cin, engkau sudah menolongku. Maukah engkau menolong lagi?"
"Apa yang dapat kulakukan untukmu, Losuhu?" tanya Liu Cin penuh kesediaan untuk menolong.
"Aku hendak bersamadhi mengobat lukaku. Jagalah di sini dan jangan biar pun siapapun mengganggu samadhiku. Maukah engkau melakukan hal itu?"
"Tentu saja, Losuhu. Aku akan mernjagamu dan melarang siapapun menganggumu bersamadhi." kata Liu Cin.
Karena kalau tidak segera diobati, lukanya dalam dada dapat menjadi semakin parah, Ceng In Hosiang lalu bersila dan memejamkan mata, lalu mengatur pernapasan dan mempergunakan hawa murni untuk mendorong keluar hawa beracun akibat pukulan sabuk kulit naga dan menyembuhkan luka dalam yang dideritanya.
Liu Cin duduk tak jauh dari hwesio itu untuk menjaganya. Tidak lama kemudian datang seorang laki-laki tinggi kurus berpakaian mentereng, dikawal tiga orang laki- laki tinggi besar yang membawa Kolok. Melihat mereka, Liu Cin membelalakkan matanya dan ketakutan akan tetapi dia tetap tidak mau meninggalkan penjagaannya. Laki-laki kurus itu bukan lain adalah Kepala Dusun Kui-cun di situ dan tiga orang itu adalah para pengawal atau tukang pukulnya. Pada waktu itu, setiap orang kepala dusun berlagak seolah-olah seorang raja kecil di desanya. Dia merasa sebagai orang yang paling berkuasa di dusun itu, segala kehendaknya merupakan hukum bagi para penduduk. Memang banyak kepala dusun yang bijaksana dan menjadi pelindung bagi rakyat di dusunnya, akan tetapi tidak kurang banyaknya kepala dusun yang berlagak sebagai raja! Kepala Dusun Kui-cun ini pun merupakan seorang di antaranya. Dengan adanya tiga orang, pengawal yang pandai ilmu silat dan ber tubuh kuat, maka tidak ada seorang pun di dusun itu yang berani menentang semua kehendaknya. Ketika kedua orang tua Liu Cin tewas dalam kekacauan ketika terjadi perang dan Liu Cin menjadi yatim piatu, Lurah Dusun Kui- cun itu berlagak baik budi dengan menampung nak itu dan diberi pekerjaan. Akan tetapi sesungguhnya dia hanya memeras tenaga anak itu, disuruh menggemba kerbau, mengurus semua ternaknya, membersihkan kandang dan hampir tidak pernah menganggur. Dan semua itu hanya untuk memperoleh semangkok nasi.
Bahkan pakaian yang dipakai Liu Cin juga butut dan bertambal karena dia tidak diberi pakaian pengganti lain. Pada pagi hari itu, Lurah Ci yang dikawal tiga orang tukang pukulnya keluar dari dusun untuk memeriksa tanaman sawahnya yang luas. Akan tetapi ketika tiba di luar dusun, dia melihat tiga ekor kerbaunya yang gemuk-gemuk itu berkeliaran seorang diri dan dia tidak melihat adanya Liu Cin yang ditugaskan menggembala kerbau- kerbau itu. Marahlah Lurah Ci dan dia lalu mencari anak itu. Ketika dilihatnya anak itu sedang duduk di bawah pohon, di dekat seorang wesio yang duduk bersila, kemarahannya memuncak.
"Bocah jahanam!" bentaknya sambil melangkah menghampiri, diikuti tiga orang tukang pukulnya. "Engkau gentong nasi tak mengenal budi! .Tiap hari makan akan tetapi disuruh menggembala kerbau malah bermain-main di sini!"
"Chung-cu (Lurah)........... Lo-ya (Tuan) saya tidak main-main, saya sedang
menjaga Losuhu yang sedang bersamadhi ini. Kerbau-kerbau itu sedang makan rumput, sebentar akan kumandikan di sungai."
"Cerewet! Siapa yang memberimu makan? Aku atau Hwesio Gundul ini?" bentak Sang Lurah dan dia lalu menggerakkan kakinya.
"Bukkk. !" tubuh anak itu terguling-guling. Akan tetapi dia bangkit dan segera
menghampiri lagi hwesio itu dan duduk di dekatnya, menahan rasa nyeri di pipinya yang lecet karena terguling-guling tadi.
"Setan cilik!" Lurah Ci semakin marah, karena melihat Liu Cin kembali duduk dekat hwesio itu dan terutama sekali karena kakinya terasa nyeri ketika menendang anak itu tadi. Kebetulan yan dia tendang adalah tulang lutut Liu Cin sehingga kakinya kini terasa berdenyut-denyut menendang tulang yang keras.
"Hwesio ini tentu telah mempengaruhi Liu Cin sehingga anak ini menjadi berani menentangku. Hwcsio ini mungkin orang jahat yang akan mengacau dusun kita. Heh, hwesio gendut, cepat kau pergi! menyingkir dari sini!"
Akan tetapi hwesio itu tidak mempedulikannya dan tetap saja duduk melakukan siu- lian (meditasi).
"Hei, hwesio tua! Apakah engkau tuli? Pergi cepat dari sini, engkau kularang berada di sini!" kembali Lurah Ci membentak. Dia tadi menendang Liu Cin akan tetapi betapa marah pun, dia tidak berani menendang hwesio gendut itu.
"Lo-ya, saya mohon, biarlah Losuhu ini bersamadhi sejenak di sini karena dia sedang berusaha mengobati luka-lukanya." kata Liu Cin.
"Apa? Engkau membela hwesio ini? Apamu sih hwesio ini? Bocah setan, cepat pergi sana urus kerbau-kerbaunya, kalau tidak aku akan mengusir kamu!" Ketika melihat Liu Cin tetap saja duduk, lurah itu dengan marah membentak ke-ada tiga orang tukang pukulnya.
"Cepat kalian seret hwesio ini, usir dia agar pergi dari sini. Biar aku yang nenyeret anak setan ini!" Mendengar perintah ini, tiga orang laki-laki tinggi besar itu melangkah maju, sambil tersenyum mengejek mereka mendekati Ceng In Hosiang. Dengan kasar dua orang di antara mereka memegang lengan Ceng In Hosiang, seorang memegang lengan kanan dan orang kedua memegang lengan kiri.
"Hayo pergi, hwesio jembel!" mereka menghardik dan mulai menarik sekuat tenaga. Akan tetapi tubuh hwesio itu sama sekali tidak bergerak! Dua orang tukang pukul itu merasa heran dan mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk membetot dan menarik, akan tetapi makin kuat mereka menarik, semakin kokoh tubuh hwesio itu, seperti sebuah batu besar, sama. sekali tidak dapat digerakkan!
"Jangan! Jangan ganggu Losuhu ini Tiba-tiba Liu Cin lari dan memegai lengan
seorang di antara dua tukang pukul itu dan ditarik-tariknya agar melepaskan hwesio itu.
Melihat ini, tukang pukul ketiga menjadi marah dan sekali tangannya menampar, tubuh Liu Cin terpelanting keatas. Setelah menampar Liu Cin, tukang pukul itu yang marah melihat dua orang rekannya belum juga mampu menarik hwesio gendut itu, cepat menghampiri dan berkata.
"Biar kutendang dia menggelinding dari sini!" Dari belakang tubuh hwesio itu, kakinya menendang.
"Bukkk!" Akan tetapi kakinya seperti menendang sebuah karung penuh beras Sama sekali tubuh itu tidak bergerak sedikit pun, apalagi menggelinding seperti yang dikatakan tukang pukul itu. Dia merasa penasaran sekali dan kembali dia menendangi punggung hwesio itu bertubi-tubi.
"Bukkk-bukkk-bukkk. !"
Liu Cin yang sudah bangkit, melupakan rasa nyeri di pipinya dan dia lari menghampiri tukang pukul yang menendangi punggung hwesio itu, lalu memegang lengannya dan menarik-nariknya.
"Jangan! Jangan tendangi Losuhu ini! Kasihan, dia sudah terluka, dia sakit !!"
Tukang pukul yang menendang-nendangi punggung hwesio itu menjadi semakin marah. Dia merasa heran, penasaran dan malu sekali bahwa tendangannya yang bertubi-tubi seolah tak dirasakan sama sekali oleh hwesio itu, sebaliknya kaki-kirinya menjadi nyeri dan sepatunya pecah-pecah, kakinya bengkak-bengkak. Maka, melihat anak itu menarik-nariknya, dia mengalihkan sasaran tendangannya.
"Bocah setan, kalau dia tidak boleh ditendang, engkau yang akan kutendang1" Dan dia mengayun kakinya, dengan seayalnya menendang ke arah perut Liu Cin! Kalau tendangan itu mengenai perut anak itu, dapat menyebabkan kematiannya.
"Wuuuttt....... krekkkkk!!" Adouuww !" Si penendang itu terpelanting,
mencoba bangkit, berloncat-loncatan dengan sila kaki, jatuh lagi dan menangis mengaduh-aduh sambil memegangi kaki kanannya yang tadi menendang ke arah Lui Cin. Kiranya sebelum kaki itu mengenai perut Liu Cin, ada toya menyambar dan menyambut tulang kering kaki itu sehingga tulang kaki itu patah-patah! Lurah Ci yang tidak tahu apa yang terjadi, mengira Liu Cin mengguna batu atau apa menyerang tukang pukulnya. Dia memaki dan menangkap lengan Liu Cin.
Pada saat itu, Ceng In Hosiang telah tadi menggunakan tangan kiri yang direnggut lepas dari tukang pukul yang memeganginya dan menggerak toya untuk memukul kaki tukang pukul yang menendang Liu Cin, kini setelah lengan kirinya ditangkap lagi, cepat menggerakan kedua lengannya sehingga dua orang tukang pukul yang memegang kedua lengannya itu terbawa dan saling bertumbukan.