"Saya kira tidak ada jalan lain kecuali diam-diam menyusun kekuatan baru, pangeran. Saya kira di daerah Cekiang dan Shansi masih terdapat banyak orang yang belum takluk kepada Kerajaan Sung. Pangeran dapat menyusun kekuatan dan bekerjasama dengan pihak mereka. Kalau sudah memiliki balatentara yang kuat, baru kita bergerak menyerang." kata Kwan In Su.
"Siancai!" kata Im Yang Tosu. "Pinto (aku) setuju dengan usul Kanglam Sinkiam. "Dan jangan lupa untuk menghubungi Saudara Kailon. Dia dapat mengerahkan bangsa Khitan untuk memperkuat barisan kita."
Pangeran Chou Ban Heng tampak gembira dan mendapat harapan baru.
"Bagaimana pendapat Suhu?" tanyanya kepada suhunya, Hong-san Siansu Kw Cin Lok.
Sejak tadi Hongsan Siansu mendengarkan dengan alis berkerut, lalu dia berkata. "Pangeran,usul dari Kanglam Sim kiam dan Im Yang Tosu itu memang baik dan saya setuju. Akan tetapi kita harus berhati-hati dan tidak gegabah atau terburu-buru sekali ini, agar jangan sampai gagal lagi. Sebaiknya, kita menggunak Hong-san-pang sebagai pusat pergerakan sehingga tidak mencolok dan tidak menimbulkan kecurigaan. Dari sana kita menyusun kekuatan. Sementara Paduka menyusun kekuatan, kita juga secara diam-diam harus memperdalam ilmu silat, terutama sekali putera Paduka harus diberi gemblengan yang mendalam. Dengan demikian, seandainya usaha Paduka Pribadi menemui kegagalan, kelak putera paduka akan dapat melanjutkan cita-cita mulia membangun kembali Kerajaan Chou ini menjatuhkan Kerajaan Sung."
Pangeran Chou Ban Heng mengangguk-an gguk setuju. Dia memandang kepada Ceng In Hosiang yang sejak tadi hanya diam saja, lalu bertanya. "Lo-suhu, bagaimana pendapatmu? sejak tadi Lo-suhu belum memberi saran, harap Lo-suhu suka memberi petunjuk."
Ceng In Hosiang yang bertubuh gendut itu tersenyum lebar akan tetapi dia menggelengkan kepalanya yang bulat. “Omitohud, apa yang dapat pinceng (aku) katakan? Cita-cita kita dahulu adalah untuk mengganti pimpinan kerajaan yang kotor dan menyengsarakan rakyat, demi kesejahteraan rakyat. Akan tetapi Paduka didahului Chao Kuang Yin yang berhasil mengambi alih kekuasaan. Cara yang diambilnya demikian bijaksana sehingga mengambil-alihan kekuasaan itu tidak menimbulkan perang. Kemudian, ternyata setelah dia mendirikan Kerajaan Sung dan menjadi Kaisar Sung Thai Cu, dia juga bijaksana dan menaklukkan banyak pemerintah daerah tanpa perang. Dia menghukum mereka yang dahulu menjadi pembesar korup dan menjalani pemerintahan, dengan tertib dan bersih ini berarti bahwa cita-cita kita sud tercapai. Mengapa kita harus memusuhi dan merebut kekuasaan dari tangan orang yang bijaksana itu? Merebut kekuasaan berarti perang dan hal itu hanya menyengsarakan rakyat. Tidak, Pangeran pinceng tidak setuju dan tidak mungkin dapat membantu usaha pemberontak ini. Sebaiknya sekarang juga pinceng mohon pamit dan mengundurkan diri."
Setelah berkata demikian, Ceng in Hosiang bangkit berdiri dari kursinya dan setelah menjura dengan hormat kepada Pangeran Chou Ban Heng, dia lalu keluar dari pondok itu. Melihat ini, Pangeran Chou memberi isarat dengan tangannya dan Hongsan Siansu segera bangkit dan keluar, diikuti oleh Kanglam Si kiam dan Im Yang Tosu.
Ceng In Hosiang keluar dari pondok dan ketika dia tiba diluar, dimana terdapat sebuah lampu gantung yang memberi penerangan remang-remang, tiba-tib berkelebat tiga sosok bayangan dan di depannya telah berdiri tiga orang datuk yang tadi duduk di dalam pondok, pelihat mereka yang berdiri di depannya Ceng In Hosiang tersenyum;
"Omitohud, kalian bertiga juga mengambil keputusan seperti yang pinceng ambil? Bagus, dengan begitu kita telah mengambil jalan benar dan mencegah terjadinya perang dan bunuh membunuh antara bangsa sendiri." Akan tetapi Hongsan Siansu berkata dengan suara kaku. "Ceng In Hosiang, engkau telah lari dari kerja sama kita, berarti engkau telah menjadi pengkhianat. Kelak engkau tentu hanya akan menjadi penghalang bagi perjuangan kami, karena itu, seorang pengkhianat seperti engkau sudah sepatutnya dibinasakan!"
Setelah berkata demikian, tanpa memberi kesempatan lagi kepada hwesio itu untuk menjawab, Hongsan Siansu sudah nenyerang dengan tamparan tangan kanan yang dahsyat ke arah kepala Ceng In Hosiang yang gundul. Pukulan ini hebat bukan main. Jangankan hanya kepala manusia, batu karang pun akan pecah berantakan terkena Thai-lek-jiu ini. Akan tetapi Ceng In Hosiang adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai yang lihai. Dia maklum akan hebatnya tamparan itu, maka sambil mengerahkan tenaga sakti, dia menangkis dengan ilmu Thiat-ciang-kang (Tenaga Tangan Besi).
"Wuuuttt dukkkkk!!" Dua tenaga dahsyat bertemu melalui kedua lengan itu
dan tubuh Ceng In Hosiang terdorong mundur tiga langkah. Diam-diam dia harus mengakui bahwa tenaga sakti Hongsan Siansu amat kuat. Akan tetapi harus waspada karena pada saat itu, angin dahsyat menyambar dari samping. Cepat dia merendahkan tubuhnya untuk mengelak.
"Singgggg !" Sinar pedang seperti kilat menyambar lewat atas kepalanya.
Ternyata Kang-lam Sinkiam Kwan In yang menyerangnya dengan pedangnya yang lihai!
Ceng In Hosiang menjadi terkejut sekali. Akan tetapi dia tetap waspada. Ketika ada sinar hitam menyambar dari sebelah kanannya, dia sudah menggerakan tongkat atau toyanya untuk menangkis.
"Tranggggg !" Toya itu menangkis sehelai sabuk kulit naga yang tadi digerakkan
Im Yang Tosu untuk menyerangnya.
Ceng In Hosiang maklum bahwa dirinya berada dalam ancaman bahaya maut. Dia dikeroyok tiga orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, yang tidak kalah lengan tingkatnya. Bahkan dia tahu bahwa tingkat kepandaian Hongsan Siansu lebih tinggi. Baru tenaga sinkangnya tadi ketika dia menangkis, membuktikan bahwa Ketua Hong-san-pai itu kuat sekali.
Kembali pedang dan sabuk kulit naga dari Kwan In Su dan Im Yang Tosu menyambar. Ceng In Hosiang cepat memutar toyanya menangkis, akan tetapi karena dua orang datuk itu menyerang berbareng, dia harus menghadapi dua tenaga kuat sehingga tangkisannya itu biarpun dapat menghindarkan serangan lawan, tetap saja membuat tubuhnya terhuyung kebelakang.
Pada saat itu, ada sinar kilat menyambar dari atas ke arah lehernya. Cepat sekali pedang itu menyambar dari atas dan itu adalah hui-kiam (pedang terbang) dari Hongsan Siansu yang dapat terbang digerakkan dengan kekuatan gelombang pikiran.
Ceng In Hosiang cepat mengelak namun kurang cepat sehingga bukan lehernya yang terbabat, melainkan pundak kirinya. Dia menahan keluhannya dan cepat melompat untuk melarikan diri karena pundaknya telah terluka dan mengeluarkan darah.
"Bukkk!" Ketika dia menangkis pedang Kang-lam Sin-kiam Kwan In Su yang menyambar, dia terkena pukulan sabuk kulit naga dari Im Yang Tosu, tepat pada punggungnya sehingga dia merasa seolah isi dadanya berantakan! Rasa nyeri, panas dan pedih membuat Ceng In Hosiang terjengkang roboh. Akan tetapi tokoh Siauwlimpai ini memiliki tubuh yang terlatih dan kuat. Dia masih dapat bertahan lalu cepat bergulingan menjauhi lawan, dan setelah mendapat kesempatan, dia menggunakan toyanya menekan tanah dan dia pun melompat dengan lompatan
Hui-niau-touw-lim (Burung Terbang Masuk Hutan) dan menghilang dalam kegelapan nalam.
Tiga orang itu tidak dapat melakukan pengejaran karena malam amat gelap dan berbahayalah mengejar seorang selihai Ceng In Hosiang dalam kegelapan itu. Besar kemungkinan yang mengejar akan mendapat serangan mendadak dan celaka.
Karena yakin bahwa hwesio itu telah menderita luka parah dan sulit untuk dapat hidup, mereka lalu masuk kembali ke dalam pondok dan melanjutkan perundingan mereka.
Petunjuk Hongsan Siansu tadi disepakati. Mereka menggunakan Hong-san di mana Hong-san-pang berada sebagai pusat pergerakan mereka. Setelah terjadi kesepakatan ini, Pangeran Chou Ban Heng lalu menyuruh seorang anggota Hong- san-pang yang menjadi pengawal untuk memanggil puteranya.
Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda berusia sekitar lima belas tahun memasuki pondok itu. Dia adalah Chou Kian K i, putera tunggal Pangeran Chou Ban Heng. Chou Kian Ki yang berusia lima belas tahun ini bertubuh tegap da wajahnya tampan. Sejak kecil dia tela digembleng oleh kakek gurunya sendiri yaitu Hong-san Sian-su sehingga dalam usia lima belas tahun dia telah memiliki tingkat ilmu silat yang cukup lihai. Juga dia menerima pelajaran bun (sastra) dari ayahnya. Kian Ki memang cerdas sekal Dia bukan hanya tangkas dan lihai dala ilmu silat, akan tetapi jug menguasai kesusastraan. Gerak geriknya lembut seperti seorang sastrawan muda sehingga orang yang tidak mengenalnya tentu tidak menyangka bahwa Chou Kongcu Ki seorang ahli silat yang lihai.
Setelah duduk, Kian Ki menerima penjelasan ayahnya akan semua kesepakatan yang dibicarakan di situ.
"Mulai sekarang, engkau harus mempelajar i ilmu-ilmu dari Lo-cian-pwe Kwan ln Su dan Lo-cian-pwe Im Yang Tosu agar kelak engkau dapat melanjutkan cita-cita kami." Pangeran Chou mengakhiri kata-katanya.
Karena dia memang suka sekali mempelajari ilmu silat, maka mendengar ini, Kian K i segera maju dan berlutut di depan kaki kedua orang datuk itu sambil menyebut "Suhu".
Demikianlah, mulai hari itu, di Hong-san diadakan usaha untuk membangun kembali Kerajaan Chou untuk merampas tahta kerajaan dari tangan Kaisar Sung Thai Cu.
Semua kegiatan ini terselubung dengan adanya Hong-san-pang yang memang sudah lama berdiri sehingga tidak ada yang menaruh curiga.
ooOOoo
Ceng In Hosiang yang terluka parah itu mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk melarikan diri. Malam itu gelap sekali sehingga dia lari tersaruk-saruk, beberapa kali terjatuh dan menubruk pohon. Akan tetapi karena maklum bahwa sekali terkejar dan tertangkap, pasti tidak akan diampuni, dia berusaha berlari terus, terkadang dengan merangkak. Dia dapat bertahan sampai pagi hari dan akhirnya dia roboh terguling di sebuah dusun kecil dan pingsan!
Seorang anak laki-laki berusia sekitar sebelas tahun keluar dari dusun itu menggiring tiga ekor kerbau yang akan digembalakannya ke padang rumput tak jauh dari dusun. Anak laki-laki yang bertubuh tinggi namun kurus itu terkejut melihat seorang kakek gundul berjubah lebar dan tangannya memegang tongkat atau toya, menggeletak telentang di atas tanah. Tadinya anak itu mengira bahwa Ceng In Hosiang adalah seorang pendeta yang sedang tidur, akan tetapi ketika melihat darah melumuri pakaiannya yang berwarna kuning, anak itu lalu menghampir i dan berjongkok. Dia melihat betapa jubah pendeta itu robek di bagian pundak kirinya dan dari robekan tu darah berlepotan. Biarpun dia seorang bocah dusun, namun dia pernah melihat seorang hwesio lewat di dusunnya, maka tahulah dia bahwa kakek gemuk pendek Ini adalah seorang pendeta hwesio.
"Losuhu, Losuhu, bangunlah !" anak Itu menggoyang-goyang pundak kanan
Ceng In Hosiang. Akan tetapi hwesio yang sedang pingsan itu tidak bergerak dan tidak membuka matanya yang terpejam.