Para perwira itu terkejut dan saling pandang, lalu seorang dari mereka yang paling tua, usianya enam puluh tahun berkata.
"Sribaginda, mengapa Paduka berkata demikian? Tentu saja hamba semua setia kepada Paduka. Bukankah selama ini hamba semua selalu menaati semua perintah Paduka?"
Kaisar Sung Thai Cu menghela napas sebelum menjawab. "Yang mengganjal dalam hati kami adalah kalau kami terringat akan perbuatan kalian ketika memaksa aku menjadi kaisar baru. Sekarang, seandainya kalian melakukan lagi hal itu pada seseorang untuk menjadi kaisar baru menggantikan aku, apakah orang itu dapat menolaknya?"
Kembali para perwira itu saling pandang dan perwira tua yang mewakili mereka segera berkata, "Sribaginda Kaisar Yang Mulia, percayalah kepada hamba sekalian. Tidak sembarang orang dapat dipilih menjadi kaisar dan kalau dulu hamba sekalian memilih Paduka, hal itu karena Padukalah satu-satunya calon yang memenuhi syarat untuk menjad kaisar!"
"Dengarlah, para pembantuku yan baik Syak wasangka dan praduga merupakan hal yang amat berbahaya bagi kedua pihak. Untuk mengatasi hal ini di antara kita, aku telah mempunyai rencana yang amat baik. Kita semua sudah semakin tua dan melihat jasa-jasa kalian, sudah sepatutnyalah kalau kalian kini hidup dalam keadaan sejahtera dan bahagia penuh kedamaian, tidak perlu memusingkan urusan negara. Maka, sebabaiknya, kalian mengajukan permohonan mengundurkan diri dan kalian semua akan kami berikan tanah, tempat tinggal yang memadai dan harta benda yang cukup. Selain itu, kita dapat memperdekat hubungan dengan ikatan-ikatan keluarga saling menjodohkan keturunan kita sehingga kita menjadi sebuah keluarg besar di mana tidak akan ada lagi curiga-mencurigai dan syak wasangka yang buruk. Bagaimana pendapat kalian?"
Dua belas orang perwira itu tentu saja merasa setuju dan merasa terhormat sekali. Mereka lalu mengajukan permohonan berhenti dari kedudukan mereka dengan berbagai alasan. Kemudian Kaisar Sung Thai Cun memenuhi janjinya. Mereka semua diberi tanah dan gedung tempat tinggal, diberi harta secukupnya sehingga mereka hidup dengan tenang. Mereka bagaikan harimau-harimau yang berbahaya akan tetapi telah diberi makan lebih dari cukup sehingga kekenyangan dan tidak ada semangat sama sekali untuk menyerang pemelihara mereka!
Taktik Kaisar Sung Thai Cun ini mendatangkan akibat yang amat baik, dan merupakan awal yang baik sekali bagi kebesaran Kerajaan Sung sehingga dapat mengakhiri jaman di mana perebutan kekuasaan terjadi tiada hentinya. Mendengar akan kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cun, yang menjadi kaisar dari Dinasti Sung yang baru tanpa ada peperangan, tanpa pembunuhan, maka banyak daerah yang tadinya memisahkan diri dan berdiri sendiri, menakluk kepada Kerajaan Sung. Pertama daerah Nan Ping (Hupei) dan Shu (Secuan) yang menakluk. Mereka diterima dengan baik oleh Kaisar Sung Thai Sun, bahkan para pemimpinnya diberi kedudukan dalam pemerintahan Kerajaan Sung. Melihat kebijaksanaan ini banyak daerah yang menakluk. Bahkan di daerah yang tadinya selalu memberontak yaitu Nan Han (Katon) dan Nan Tang (daerah sepanjang Sungai Yangce) hanya mengadakan perlawanan lemah saja sehingga mereka dapat mudah dikuasai pasukan Sung. Para pemimpinnya juga diampuni dan diberi kedudukan yang layak.
Demikianlah, Kerajaan Sung merupakan kerajaan Pribumi Han yang mengembalikan kebesaran kerajaan dari dinasti-dinasti terdahulu.
Nama besar Chao Kuang Yin yang menjadi pendiri Dinasti Sung dengan menjadi kaisar pertama sebagai Kaisar Sung Thai Cui selalu dikenang dan dicatat dalam sejarah sebagai tauladan.
ooOOoo
Akan tetapi, setiap ada penguasa baru, betapa banyak pun pendukungnya, pasti ada saja yang menentang. Pihak pendukung biasanya disebabkan karena munculnya penguasa baru atau dinasti baru itu menguntungkan. Sebaliknya, mereka yang menentang juga disebabkan arena adanya penguasa baru itu merugikan dirinya.
Di antara mereka yang merasa dirugikan tentu saja adalah para pembesar yang tadinya dengan mudah dapat menumpuk harta kekayaan pada waktu Kerajaan Chou belum dijatuhkan. Juga para hartawan yang kini menjadi berkurang penghasilan mereka karena kerja sama mereka dengan para pejabat tinggi terputus, mereka tidak senang kepada pemerintah Sung yang baru. Ada pula sanak keluarga para pejabat tinggi yang dihukum penjara karena menyalahgunakan kekuasaannya di dalam pemerintahan yang lalu, tentu saja merasa sakit hati dan mereka mudah dibujuk dan dibakar oleh mereka yang merencanakan pemberontakan terhadap kerajaan yang baru.
Pemimpin golongan pemberontak itu adalah seorang pangeran Kerajaan Chou yang telah runtuh. Dia seorang pangeran yang masih terhitung keponakan dari mendiang Kaisar Chou Ong yang baru saja meninggal tidak lama setelah Kerajaan Chou jatuh dan Kerajaan Sung belum diri. Dahulu dia menjadi seorang panglima yang bertugas di Selatan. Namanya adalah Pangeran Chou Ban Heng, seorang laki-laki berusia sekitar empat puluh tahun yang tinggi besar dan gagah per kasa. Dia memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, karena pangeran yang menjadi panglima ini adalah murid Hong-san Sial su Kwee Cin Lok yang menjadi Hong san-pangcu (Ketua Perkumpulan Horw san-pang). Sebetulnya, dialah yang dahulu didukung oleh Ceng In Hosiang, Kwan Su, Im-yang Tosu, Kwee Cin Lok, dan kepala suku Khitan yang bernama Kailon itu, yang mempunyai niat memberontak terhadap pamannya sendiri, yaitu Kaisar Chou Ong. Pangeran Chou Ban Heng memang diam-diam mengadakan persekutu dengan suku bangsa Khitan agar membantunya merebut kekuasaan. Akan tetapidia belum berani bertindak karena Kerapian Chou mempunyai Panglima Chuo Kuang Yin yang setia. Maka dia menunda-nunda niatnya dan hendak memperkuat dulu kedudukannya dengan mencari dukungan orang-orang sakti. Untuk keperluan itulah maka lima orang pendukungnya yang lihai itu membujuk para pendeta yang mengadakan pertemuan di Puncak Bukit Naga Kecil itu. Akan tetapi usaha mereka membujuk itu gagal dan mereka bahkan meninggalkan puncak itu dan Kailon yang mengerahkan anak buahnya bahkan terpaksa melarikan diri. Maka, ketika Panglima Chao Kuang Yin mengambil alih kekuasaan dan mendirikan Kerajaan Sung, tentu saja Pangeran Chou Ban Heng menjadi marah dan penasaran sekali. Dia yang bertugas di Selatan dengan pasukannya lalu tidak mau kembali ke kotaraja melainkan memperkuat kedudukannya di Lembah Sungai Yang-ce di seberang Selatan.
Akan tetapi, kebijaksanaan pemerintah baru Kerajaan Sung yang dipimpin Kaisar Sung Thai Cu sudah tersiar sampai selatan Sungai Yangce. Banyak pimpinan pemberontak menakluk tanpa perang, dan banyak pula para bekas perwira Kerajaan Chou yang tadinya mendukung Pangeran Chou Ban Heng, mengundurkan diri dari persatuan pemberontak itu. Para perajuritnya juga kurang bersemangat untuk melawan ketika pasukan Sung datang mengadakan pembersihan ke selatan. Maka setelah terjadi pertempuran berturut-turut selama tiga bulan, pasukan yang dipimpin Pangeran Chou Ban Heng kalah dan banyak perajuritnya melarikan diri.
Usaha pemberontakan itu gagal sama sekali.
Akan tetapi, yang pecah dan menghilang hanyalah para perajuritnya. Adapun para pemimpinnya, Pangeran Cho Ban Heng dan sekutunya, masih ada. Mereka berhasil lolos dan melarikan diri.
Pada suatu malam, di dalam sebuah hutan yang sunyi terpencil di lembah Sungai Yangce, beberapa orang mengadakan pertemuan di sebuah pondok kayu yang masih baru. Pondok yang sederhana sekali dan dibangun dengan terburu-buru. Di tengah ruangan pondok itu terdapat sebuah meja bundar yang cukup besar dan di sekeliling meja duduk bercakap-cakap beberapa orang dengan serius. Di atas tergantung dua buah lampu yang besar sehingga ruangan itu cukup terang.
Yang duduk menghadap keluar adalah orang laki-laki yang berpakaian seperti seorang bangsawan, tubuhnya tinggi besar, dengan kumis dan jenggot tebal pendek dan rapi, wajahnya tampan gagah namun sinar matanya membayangkan kekerasan hati. Inilah Pangeran Chou Ban Heng yang pasukannya telah dipukul cerai-berai oleh pasukan Sung yang mengadakan pembersihan. Dia ditinggalkan para perajurit dan perwira pengikutnya, akan tetapi para datuk persilatan masih setia dan kini duduk dihadapannya. Mereka adalah Ceng In Hosiang, hwesio Sauw-lim-pai yang gemuk pendek, Kang-Lam Sin-kiam Kwan In Su yang tampan, yang Tosu tokoh berasal dari utara, dan Kwee Cin Lok yang berjuluk Hongsan Siansu atau Hongsan Pangcu (Ketua Hongsan-pang). Hong-san Siansu ini adalah guru dari Pangeran Chou Ban Heng maka dia paling dihormati di antara para tokoh persilatan itu. Ketika terjadi pertempuran, empat orang datuk ini memang tidak mau terlibat karena bagi para datuk itu, amat merendahkan diri kalau mereka ikut beramai-ramai bertempur dalam perang. Kin Pangeran Chou Ban Heng mengundang mereka untuk mengeluh akan kegagalannya dan minta bantuan dan nasihat mereka. Empat orang datuk itu mendengarkan laporan Pangeran Chou yang mengakhiri semua laporannya dengan ucapannya dengan nada sedih dan penasaran. Ucapannya dia tujukan terutama kepada gurunya, yaitu Hongsan Siansu.
"Suhu dan Sam-wi Lo-cian-pwe (Tiga Orang Tua Perkasa) yang terhormat tentu memaklumi betapa sedih dan penasaran rasa hati saya. Kita yang susah payah menyusun kekuatan untuk mengambil alih kekuasaan dari pemerinta Paman Chou Ong yang brengsek dan korup, ternyata didahului oleh Si Jahanan Chao Kuang Yin yang sekarang menjadi kaisar dan mendirikan Kerajaan Sung yang baru. Padahal, sayalah orangnya yang berhak duduk di singgasana sebagai eorang pangeran, bukan dia. Dia itu hanya seorang jenderal, tidak berhak sama sekali karena dia bukan keluarga istana! Karena itu, sekarang saya mohon Suhu dan Sam-wi Lo-cian-pwe sudi memberi nasihat, bagaimana selanjutnya saya harus berbuat untuk dapat merampas tahta kerajaan dari tangan Chao Kuang Yin?"