"Omitohud, pinceng dapat melihatnya dan jelas, Siansu. Cinta adalah suatu perasaan yang ditujukan kepada benda atau orang yang dapat menyenangkan atau menguntungkan diri kita. Biasanya, Kalau engkau menyenangkan atau menguntungkan aku, engkau kucinta. Sebaliknya kalau engkau menyusahkan atau merugikan aku, engkau kubenci!" kata Thong gi Losu.
"Memang pada umumnya tak dapat disangkal demikian," kata Tiong Gi Cinjin. "Akan tetapi ada cinta yang. sejati, yang mungkin ini yang disebut Kasih oleh Thai Kek Siansu, yaitu cinta seorang ibu kepada anaknya. Siapa dapat menyangkal kemurniannya cinta seorang ibu kepada anaknya?" kata Tiong Gi Cinjin. "Karena, pelajaran terpenting agama kami prialah Hauw (Bakti). Seorang anak haruslah berbakti kepada orang tuanya, terutama kepada ibunya!"
"Cinta seorang ibu memang lebih murni daripada cinta-cinta manusia yang lainnya," kata Thai Kek Siansu. "Akan tetapi bagaimanapun juga, walaupun tipis, teorang ibu masih memiliki pamrih, memiliki harapan agar anaknya itu berbakti kepadanya, menyenangkan hatinya masih terdapat kemungkinan cinta berubah menjadi benci kalau si anak kelak menjadi jahat kepadanya. Ada Kasih yang lain lagi, yang tidak dapat samakan dengan cinta manusia yang timbul dari hati akal pikiran, karena sedikit banyak itu mengandung pamrih."
"Siancai!" kata Louw Keng Tojin "Pinto menjadi penasaran sekali, Thai Kek Siansu. Mari kita selidiki bersama apa sesungguhnya Kasih yang maksudkan itu?"
Thai Kek Siansu memejamkan mata sejenak sebelum menjawab dengan halus "Mari kita sama-sama mengamatinya. Kita lihat bunga-bunga mawar dan bunga teratai, mereka memberi keharuman dan keindahan yang dapat dinikmati siapapun juga, yang terpelajar tinggi maupun yang tidak, yang berkedudukan tinggi maupun yang rendah, yang kaya maupun yang miskin, pendeta maupun penjahat, kaisar maupun pengemis. Keharuman dan keindahan diberikan kepada siapapun juga tanpa pandang bulu, tanpa pilih kasih, tanpa pamrih mendapatkan imbalan! Mari me lihat matahari yang memberi daya hidup, kehangatan, penerangan, kepada siapa saja dan apa saja tanpa pilih bulu, juha tanpa pamrih apa pun. Kalau kita mau membuka mata melihat di seluruh permukaan bumi dan di langit maupun di dalam tanah, akan tampaklah semua itu, yang memberi tanpa pandang bulu dan tanpa pamrih.
Bukankah itu indah sekali? itulah Kasih yang sejati. Kasih itu Penyalur berkat. Kasih itu memberi tanpa menuntut imbalan. Kasih itu merupakan pohon yang banyak sekali buahnya, dan buahnya inilah yang disebut kebajikan atau perbuatan baik.
Kalau ada Kasih dalam diri kita, maka perbuatan apa pun yang kita lakukan, sudah pasti baik dan benar! Karena segala macam perbuatan baik itu merupakan buah dari Kasih. Dapatkan orang melakukan hal yang menyengsarakan orang lain kalau ada Kasih? Kasih itu menjauhkan segala macan dengki, iri, cemburu, marah, dendam, angkara murka, dan Kasih itu melebur si-aku yang selalu ingin menang sendiri. Nah, bukankah Inti atau Api yang dibutuhkan manusia pada umumnya itu Adalah Kasih ini? Kalau ada Kasih bersemayam dalam diri, orang tidak perlu diajar untuk berbuat baik lagi karena Kasih akan membuahkan segala perbuatan baik. Kasih tidak merusak, melainkan membangun."
Tiga orang pendeta itu memejamkan mata dan mengerutkan alisnya masing-masing dan termenung.
"Omitohud, satu di antara pelajaran dalam agama pinceng juga mengajarkan agar ada Kasih di hati kita. Apakah engkau hendak mengatakan bahwa semua perbuatan, kalau tidak didasari Kasih adalah perbuatan yang tidak baik dan kalau pun ada yang kelihatan baik, kebaikan itu hanya palsu belaka?"
"Aku tidak mengatakan begitu, Thong Leng Losu. Mari kita lihat saja bersama. Aku hanya melihat dengan jelas bahwa kalau ada dalam hati sanubari kita, maka perbuatan kita itu wajar bahwa si pelaku yang sudah disemayami kasih itu tidak akan melihat perbuatan itu sebagai suatu kebaikan, melainkan kewajaran. Siapa yang telah memiliki jiwa yang bersatu dengan Kasih, maka kita akan memandang semua orang dengan tidak membeda-bedakan, akan selalu merasa ikut bahagia kalau melihat orang lain, siapa saja, berbahagia. Akan tetapi akan ikut bersedih dan merasa kasihan kalau melihat orang lain, siapa saja, menderita sehingga rasa kasihan dari Kasih ini akan menggerakkannya untuk menolong orang yang sedang menderita Itu."
"Hemmm, sekarang aku dapat melihat lebih jelas, Siansu. Akan tetapi bagaimana mungkin kita mendapatkan Kasih itu tanpa campur tangan hati dan akal pikiran?" tanya Tiong Gi Cinjin.
"Kalau menurut Agama pinceng, degan jalan bersamadhi akan dapat mencapai keadaan itu."kata Thong Leng Losu.
"Kalau menurut Agamaku, dengan hidup selaras dengan Tao, selaras dengan hukum Alam, karena Kasih yang engkau maksudkan itu bukan lain adalah Tao itu sendiri, Siansu!" kata Louw K engTojin. "Aku ingat bahwa yang dimaksudkan itu cocok dengan pelajaran Tokau (Agama To/Tao), bahwa Kasih itu tentu dengan sendirinya ada setelah orang mengosongkan diri dan tidak mempun kehendak pribadi.
Beginilah pelajara itu." Louw Keng Tojin lalu memejamkan mata dan menyanyikan atau mendeklamasikan sajak pelajaran dalam Kitab Tao te-cing (To-tek-khing).
"Langit dan Bumi itu Abadi karena mereka tidak hidup untuk diri sendiri.
Inilah sebabnya orang bijaksana
membelakangkan dirinya karena itu dirinya tampil ke depan Dia mengesampingkan dirinya
karena itu dirinya menjadi utuh. Karena dia tidak mempunyai kehendak Pribadi
maka pribadinya menjadi sempurna."
"Ah, aku jadi teringat akan ayat pertama dari Kitab Agama kami yaitu Kitab Tiong- yong," kata Tiong Gi Cinjin tertengan wajah berseri. "Yang dimaksudkan Thai Kek Siansu dengan Kasih itu menurut perkiraanku adalah Seng, watak aseli karunia Thian (Tuhan) yang diberikan kepada manusia." Pendeta Khong-kauw ini lalu membacakan ujar-ujar dalam Kitab Tiong-yong.
"Karunia Thian adalah Seng (Watak Aseli), bertindak selaras dengan Seng itulah Tao berbuat menurut aturan Tao ialah Agama."
Thai Kek Siansu mengangguk-angguk. "Semua pendapat itu boleh-boleh saja, yang penting Sam-wi benar-benar mengerti dan menghayatinya, bukan hanya merupakan teori pelajaran belaka. Tidak ada artinya sama sekali menghafal semua filsafat di dunia ini tanpa mempraktekkannya dalam kehidupan. Jauh lebih baik membiarkan diri dituntun dan dibimbing oleh Kasih yang pasti tidak menyimpang dari apa yang dikehendaki Thian."
"Akan tetapi bagaimana cara mendapatkan kasih itu?" Tiga orang itu bertanya dengan berbareng.
"Tidak ada cara untuk mendapati Kasih itu," kata Thai Kek Siansu. "Dia datang sendiri apabila kita selalu berserah diri kepada Yang Maha Kuas berserah diri sepenuhnya, bukan hanya lahiriah berupa pengakuan belaka, melainkan dengan seluruh jiwa. Kalau Kasih sudi bersemayam dalam jiwa kita, maka Kasih yang juga dapat disebut Kekuasaan Thian itu akan membimbing kita. Nafsu Daya Rendah atau Setan akan kehilangan pengaruhnya terhadap jiwa kita dan Kasih merupakan karunia yang akan menyelamatkan jiwa kita dari kehancuran dan penyelewengan. Dengan adanya Kasih dalam hati, maka apa pun yang kita lakukan bukan dikemudikan oleh si-aku (ego) yang mencengkeram hati akal pikiran kita, melainkan merupakan buah dari Kasih sehingga langkah kita dalam hidup merupakan berkat bagi orang-orang lain.”
"Akan tetapi bagaimana kita tahu bahwa sudah ada Kasih dalam hati kita, kasih yang sejati dan bukan dari hati akal pikiran?" tanya Tiong Gi Cinjin.
"Hanya kalau hati mudah tergetar penuh iba kepada orang lain yang menderita, hati sudah amat peka sehingga lupa merasakan penderitaan orang lain tanpa orang itu mengatakannya, selalu siap terdorong oleh perasaan kasihan untuk membantu dan mengangkatnya dari penderitaan, tanpa diboncengi pamrih tertentu, tanpa ingin diketahui orang, tidak merasa bahwa perbuatannya itu baik, dan merasa bahagia melihat orang lain bahagia dan dapat merasakannya, maka itu merupakan satu di antara tanda-tanda yang paling mudah diketahui bahwa Kasih mulai bersemayam dalam jiwanya."
"Omitohud, dalam keadaan seperti itu, manusia telah mencapai tujuan terakhir." kata Thong Leng Losu. "Seseorang akan benar-benar menjadi seorang Kuncu (Budiman) yang bijaksana kata Tiong Gi Cinjin.
"Kalau semua orang memiliki Kasih seperti itu, dunia akan menjadi indah tiada kebencian, tiada permusuhan, tiada perang, semua manusia saling mengasih, Sorga dapat dirasakan di dunia dalam kehidupan sekarang!" kata Louw Keng Tojin.
Tiba-tiba terdengar suara bercuit dari atas, hanya sayup-sayup suaranya Thai Kek Siansu tersenyum.
"Ah, Tiauw-cu (Rajawali) agaknya datang mencari dan menjemputku." katanya.
Tiga orang pendeta itu memandang keatas dan tampak seekor burung rajawa masih tinggi di atas, hanya tampak kecil. Akan tetapi burung itu melayang sambil mengelilingi bukit itu, makin lama semakin rendah.
"Suhu, teecu menyusul Suhu!" terdengar suara seorang anak laki-laki. Burung itu hinggap di dekat Thai Kek Siansu dan Si Han Lin, anak itu, la melompat turun dari punggung rajawali yang sudah mendekam, lalu dia berlutut di depan Thai Kek Siansu.
"Suhu, maafkan kalau teecu menyusul karena teecu melihat Tiauw-cu seperti gelisah. Maka teecu berkata kepadanya bahwa kalau dia ingin mencari Suhu, Teecu ingin ikut. Dia mengangguk dan mendekam, maka teecu lalu ikut dengannya mencari Suhu."
Tiga orang pendeta itu memandang kepada Han Lin dengan penuh perhatian. "Omitohud! Engkau telah mempunyai seorang murid, Siansu?"
"Thai Kek Siansu, mengapa engkau yang tidak mau mencampuri urusan dunia mengambil seorang murid?" tanya Tiong Gi Cinjin menyusul pertanyaan Thong Leng Losu tadi.
"Puluhan tahun tekun mempelajari ilmu, untuk apa kalau tidak dimanfaatkan? Karena aku sendiri tidak mempunyai minat mencampuri urusan dunia, maka biarlah apa yang sudah kupelajari kutinggalkan kepada seorang murid agar dia dapat memanfaatkannya. "kata Thai Kek Siansu sambil tersenyum, menjawab pertanyaan dua orang pendeta itu.
"Siancai ucapan Siansu ini menyadarkan pinto (aku)! Pinto sendiri belum
mempunyai murid, dan usia pinto! makin lama semakin tua. Apakah semua yang pinto pelajari selama bertahun-tahun harus pinto bawa mati pula? Pinto juga ingin mengambil murid, Siansu kata Louw Keng Tojin.
"Omitohud, dulu pinceng (aku) mencela para saudara di Siauw-lim-pai karena mempunyai banyak murid yang dilath ilmu silat. Sekarang pinceng menyadari dan akan mencontoh Thai Kek Siansu akan mencari seorang murid yang baik!” kata Thong Leng Losu.
"Ah, kalau begitu mari kita bertiga melanjutkan kesalah-pahaman kita bertiga tadi dengan perlumbaan yang lebih bermanfaat, yaitu kita turunkan apa yang kita pernah pelajari kepada murid masing-masing dan kita lihat kelak, murid siapa yang paling berguna bagi tanah air dan bangsa!" kata Thong Gi Cinjin.
"Bagus, ini baru perlumbaan dan persaingan yang menarik karena hasilnya pasti akan bermanfaat bagi kehidupan manusia. Biarlah aku, atau kalau tidak diwakili muridku, yang kelak menjadi saksi keberhasilan kalian bertiga." kata Thai Kek Siansu. "Sekarang, aku pamit, harap Sam-wi maafkan karena aku harus pergi."
Setelah berkata demikian, Thal Kek Siansu mengangkat tubuh Han Lin, dibawanya naik ke atas punggung rajawali yang masih mendekam, duduk berboncengan dengan Han Lin di depan dan dia di belakang.