Pedang itu berputar-putar di sekitar atas kepala kakek itu, semakin cepat sehingga berubah menjadi sinar kuning. Ketika Kwee Cin Lok menggerakkan tangannya ke arah pedang terbangnya. itu, sinar kuning meluncur dan menyerang kepala Thai Kek Siansu! Thong Leng Losu, Tiong Ci Cinjin dan Louw Keng Tosu hanya duduk bersila dan menonton saja. Mereka juga ingin menyaksikan kehebatan Thai Kek Siansu yang sudah lama mereka dengar akan kesaktiannya.
Akan tetapi Thai Kek Siansu diam saja, tidak membuat gerakan untuk melawan atau menghindarkan diri. Dia hanya memejamkan kedua matanya mulutnya tersenyum. Ketika sinar kuning itu meluncur turun menghujam kepalan dan tinggal beberapa senti jaraknya tiba-tiba pedang itu terpental seolah tertolak oleh tenaga yang lembut kuat sekali. Akan tetapi sungguh aneh, pedang itu seperti dipegang dan digerakkan oleh tangan yang tidak tampak, menyerang lagi secara bertubi dengan tusukan dan bacokan ke arah seluruh tubuh Thai Kek Siansu. Namun hasilnya sia-sia, bagian tubuh manapun yang diserang tidak dapat disentuh pedang itu yang selalu terpental.
Ilmu ini merupakan puncak tenaga Liku karena bukan tenaga yang dikerahkan oleh Thai Kek Siansu, melainkan ada tenaga lain yang seolah melindunginya. Orang dapat menggunakan semacam ilmu sihir untuk mendapat perlindungan seperti itu, akan tetapi tenaga yang melindungi itu ditimbulkan oleh sihir itu hanya kuat menahan serangan orang yang lebih rendah tingkat kepandaiannya atau dari serangan senjata biasa yang tidak ampuh. Akan tetapi, yang menyerang Thai Kek Siansu adalah seorang tokoh besar, ketua Hong-san-pang, yang terkenal memiliki Imu silat dan ilmu sihir yang tinggi, juga pedangnya bukan pedang biasa, melainkan pedang pusaka yang terbuat dari logam yang ampuh.
Akhirnya pedang kuning itu terbang kembali ke tangan Hong-san Pang karena ditarik kembali oleh pemiliknya. Hong-san Pangcu Kwee Cin Lok atau yang berjuluk Hong- san Siansu ini segera maklum bahwa dia berhadapan dengan orang tingkat kepandaiannya amat tinggi mungkin lebih tinggi dari tingkat kepandaian mendiang gurunya sendiri. Maka dia lalu menyimpan pedangnya dan menjura dengan hormat.
"Thai Kek Siansu ternyata memang amat bijaksana dan sakti. Kami mengaku kalah dan amat kagum. Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dan maafkan kalau kami mengganggu ketenteraman di sini Setelah berkata demikian, Kwee Cin Lok membalikkan tubuh dan menuruni puncak itu. Tiga orang temannya, Ceng In Hosiang, Kwan In Su, dan Im Yang Tosu juga tahu diri. Mereka tahu bahwa antara mereka, yang paling lihai dan boleh diandalkan adalah Hong-san Pangcu. Melihat teman yang lihai ini sama sekali tidak berdaya melawan Thai Kek Siansu, mereka maklum bahwa mereka semua pun tidak akan ada yang mampu mengalahkan Thai Kek Siansu, apalagi disitu masih ada tiga orang datuk lain yang juga lihai. Maka setelah menjura sebagai permintaan maaf, mereka pun mengikuti jejak Kwee Cin Lok meningkalkan tempat itu menuruni bukit.
Akan tetapi Kailon, tokoh Khitan itu, mengerutkan alisnya dan dia tidak ikut pergi seperti empat orang datuk yang datang bersamanya di puncak itu. Dia masih merasa penasaran dan menganggap empat orang tokoh kangouw itu penakut, mereka, bersama beberapa orang pimpinan daerah yang berambisi, telah bersekutu dan berniat menggulingkan Dinasti Chou yang dipimpin Kaisar Chou Ong yang sudah tua dan lemah, dan mendirikan Kerajaan baru. Akan tetapi dalam usaha mereka untuk menghubungi dan menarik para datuk dunia persilatan, baru saja mereka mulai di puncak itu, setelah gagal dan empat orang itu bahkan m elarikan diri! Betapa pengecutnya! Sebagai seorang yang biasa berperang, Kailon tidak akan pergi sebelum bertempur.
"Hemmm, kalian berempat tidak mau membantu, berarti tentu kelak hanya akan menentang kami! Yang tidak membantu berarti musuh yang harus binasakan!" Setelah berkata demikian, memberi aba-aba kepada tiga puluh orang anak buahnya. Mereka lalu menerjang sambil berteriak-teriak dengan garang. Kailon sendiri sudah maju dan menyerang Thai Kek Siansu dengan goloknya yang besar dan berat.
Sedangkan tiga puluh orang anak buahnya menyerbu dan menyerang tiga orang pendeta yang masih duduk bersila itu dengan senjata mereka.
Thong Leng Losu tertawa dan memutar tongkatnya. Tampak sinar biru menyambar- nyambar dan terdengar bunyi nyaring ketika senjata para penyerang bertemu sinar biru dari toya yang dipegang Thong Leng Losu. Senjata mereka terpental dan terlepas dari tangan sehingga mereka terkejut apalagi merasa betapa telapak tangan mereka nyeri panas dan lecet-lecet. Mereka yang menyerang Tiong Gi Cinjin juga disambut sinar hijau menyambar-nyambar dan senjata patah-patah bertemu dengan pedang sinar hijau itu. Demikian pula mereka yang menyerang Louw Keng Tojin.
Senjata mereka bertemu kebutan dan dilibat lalu direnggut lepasl dari tangan mereka. kemudian, tiga orang pendeta itu mendorong-dorongkan tangan mereka dan tiga puluh orang itu terjengkang dan terguling-guling seperti daun-daun kering disapu angin.
Sementara itu, Kailon sudah menyerangkan goloknya kearah tubuh Thai kek Siansu. Akan tetapi seperti halnya anak-anak panah tadi, juga seperti yang terjadi pada pedang terbang Hong-san Pag-cu, golok Kailon tidak dapat menyentuh kulit. Makin kuat Kailon membacokkan goloknya, semakin kuat pula golok itu terpental dan akhirnya, begitu Thai Kek Siansu menggerakkan tangan menolak, tubuh tokoh Khitan ini terjengkang jauh ke belakang dan terbang roboh. Baru dia menyadari bahwa i tidak akan mampu mengalahkan kakek itu dan melihat betapa semua anak buahnya juga kehilangan senjata dan bergelimpangan, dia lalu memberi aba-aba kepada mereka dan larilah mereka seri turun puncak bukit.
Setelah mereka semua pergi, Thong Leng Losu, Tiong Ci Cinjin, dan Lo Keng Tojin tertawa, sedangkan Thai Kek Siansu hanya tersenyum namun mengeleng-gelengkan kepalanya.
"Terbuktilah bahwa segala macam perbuatan, yang disebut baik maupun buruk, apabila keluar dari hati akal pikiran, sudah pasti menyembunyikan pamrih demi kesenangan dan keuntungan sendiri." katanya.
Tiong Gi Cinjin memandang kepada Thai Kek Siansu dan dua orang lainnya juga memandang. Kini bertiga mendapat kenyataan betapa tingginya ilmu dari Thai Kek Siansu sehingga mereka merasa kagum sekali.
"Siansu," kata Tiong Gi Cinjin, "mari kita lanjutkan pembicaraan kita yang terputus oleh gangguan tadi. Kita bica tentang Inti semua pelajaran Agama aku mengatakan bahwa inti semua pelajaran itu sama, yaitu menuntun manusia untuk berbuat kebaikan."
Thai Kek Siansu menghela napas panjang. "Kalau sudah diakui bahwa semua pelajaran Agama adalah sama, yaitu mengajarkan agar semua umatnya berbuat kebaikan, mengapa di antara Agama masih ada saling menyalahkan dan membenarkan pihak sendiri? Kita mulai dengan Kebenaran. Apakah Kebenaran itu? apakah yang dinamakan Kebaikan itu? Kalau ada yang disebut kebenaran, tentu ada kesalahan. Kalau ada kebaikan, tentu ada kejahatan. Baik dan benar untuk sefihak, mungkin saja jahat dan salah untuk pihak lain. Karena itu, kebaikan yang dilakukan menurut hati akal pikiran, sesungguhnya bukan kebaikan lagi, melainkan perbuatan yang dilakukan dengan pamrih mendapat imbalan. Imbalan itu supaya kesenangan atau keuntungan untuk si pelaku perbuatan, bentuknya macam-macam. Pamrih itu bisa berupa imbalan jasa dan balasan, atau puji dan sanjungan, atau perasaan bangga diri, atau imbalan yang dijanjikan berupa kemuliaan dan kesenangan di akhir kehidupan. Pamrih apa pun juga, pada hakekat sama, yaitu melakukan sesuatu dengan pamrih agar mendapat imbalan sesuatu yang menyenangkan dan menguntung Maka, perbuatan kebaikan seperti hanya merupakan jual beli belaka, sama sekali bukan kebaikan lagi karena kalau imbalannya ditiadakan, maka perbuatan baik itu pun belum tentu dilakukan. Semua mengajarkan perbuatan baik, akan tetapi disertai janji-janji yang menyenangkan sebagai upahnya sehinngga perbuatan-perbuatan baik itu menjadi palsu, didasari keinginan untuk akhirnya mendapatkan kesenangan atau keuntungan. Karena inilah maka terjadi perebedaan, yaitu memperebutkan hak memperoleh segala macam hadiah yang dijanjikan itu."
Tiga orang itu saling pandang. Baru sekarang mereka mendengar uraian seperti itu dan mendengar uraian itu, diam-diam mereka terkejut dan menyadari mengapa para umat beragama seringkali saling bermusuhan. Mereka tidak dapat membantah apa yang dikatakan Thai Kek Siansu karena mereka merasa ditelanjangi dan melihat kenyataan yang sebenarnya.
“Siancai! Kalau begitu kenyataannya, lalu apakah yang dinamakan kebaikan itu, Siansu?" tanya Louw Keng Tojin dan dua orang lainnya mendengarkan dengan penuh perhatian karena mereka pun ingin mendengar jawaban Thai Kek Siansu atas pertanyaan yang amat penting ini.
Thai Kek Siansu berkata lembut, “Sam-wi harap menaruh perhatian yang sungguhnya. Seperti telah kukatakan, Kalau Sam-wi hanya mendengar kemudian menurut apa yang kukatakan, maka Sam-wi tidak akan menemukan Kebenaran Sejati. Aku pun bukan guru yang harus diturut atau dicontoh. Mari kita bersama, dengan pikiran kosong dan tidak menggunakan tirai dengan warna kepercayaan kita masing-masing agar pandangan kita sama dan seperti apa adanya, tanpa praduga dan prasangka, tanpa penilaian. Nah, seperti yang telah kita dapatkan dalam percakapan kita tadi, perbuatan baik yang datang dari pelajaran menimbulkan pamrih demi kesenangan, kebaikan, atau keuntungan diri sendiri. Kalau kita berbuat sesuatu dan kita menilai sendiri sebagai kebaikan, maka kebaikan itu condong palsu dan menyembunyikan pamrih. Akan tetapi perbuatan apa juga yang berlandaskan Inti dari semua yang dinamakan pelajaran kebaikan, adalah perbuatan yang berlandaskan Kasih. Kasih tidak dapat dipelajari, tidak dapat disengaja, dapat dibuat- buat! sungguhnya, Inti dari semua Agama adalah Kasih ini, bukan cinta berahi, bukan cinta terhadap sesuatu atau seseorang yang menyenangkan hati, karena cinta seperti itu bukan yang dimaksudkan dengan Kasih itu! Cinta mempunyai kebalikan, yaitu Benci. Namun Kasih cinta mempunyai kebalikan, tidak memilih tidak disengaja, tidak dibuat! Dapatkah Sam-wi melihat ini? Dapatkah Sam-wi melihat kenyataan tentang palsunya cinta dalam hati manusia, cinta pada umumnya disanjung dan dipuja manusia pada dewasa ini?"