Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 08

Memuat...

Empat orang tua yang amat lihai itu memungut anak panah dan mengamatinya. "Omitohud, bangsa Khitan selalu berusaha menguasai negeri ini dan mamerkan kepandaian mereka memanah kata Thong Leng Losu mengamati anak panah yang tadi mengenai tengkuk dan patah menjadi dua. "Orang-orang yang melakukan penyerangan secara curang adalah pengecut- pengecut dan orang-orang seperti tidak ada harganya, sebangsa Siauw-Jin (Orang Rendah). Sepantasnya kalau diberi hajaran agar mereka itu sadar dan kembali ke jalan kebenaran." kata Tiong Cinjin dengan suara dan sikap keren namun tetap tenang.

"Ha-ha-ha, harimau-harimau tidak akan mempedulikan ulah para tikus kata Louw Keng Tojin.

Sementara itu, Thai Kek Siansu diam saja, hanya tersenyum karena dia ingin melihat apa yang akan dilakukan tiga orang tokoh agama yang berbeda itu terhadap orang- orang yang menyerang dengan curang itu. Dia hanya memandang ke empat penjuru karena maklum bahwa puncak di mana mereka berempat duduk itu telah dikepung banyak orang!

"Saudara-saudara yang datang, kalau ada urusan dengan kami berempat, mengapa tidak langsung naik saja ke sini dan bicara dengan kami?" kata Thai Kek Siansu dengan suara lirih, namun suaranya dapat terdengar orang yang berada di kaki bukit sekalipun karena gelombang udara yang didukung tenaga sakti dari batin yang kuat itu memiliki gelombang yang dahsyat.

Kini bermunculanlah puluhan orang dari empat penjuru, lalu mereka berkumpul di depan Thai Kek Siansu. Tiga orang pendeta itu pun menggunakan tenaga sakti mereka sehingga tanpa menggerakkan tubuh, mereka yang duduk bersila itu berputar menghadap ke arah para pendatang itu. Sedikitnya ada tiga puluh orang Khitan berdiri di situ dan di depan mereka terdapat lima orang yang agaknya menjadi pimpinan mereka.

Yang pertama adalah seorang suku bangsa Khitan. Hal ini jelas tampak pada pakaiannya. Dia memang seorang di antara para kepala suku Khitan bernama Kailon, berusia lima puluh tahun, ber tubuh tinggi besar, di punggungnya tergantung sebuah busur dan belasan batang anak panah, di pinggangnya tergantung sebuah golok dan di lengan kirinya menempel sebuah perisai. Kailon tampak gagah perkasa sebagai seorang panglima perang yang kokoh kuat.

Agaknya yang menjadi juru bica rombongan yang datang itu adalah Ce In Hosiang karena diaJah yang menjaw didahului tawa yang membuat perutn yang gendut itu bergoyang-goyang.

"Ha-ha-ha-ha, Thai Kek Siansu, sungguh merupakan kejutan besar yang mengherankan dan menyenangkan dapat bertemu denganmu di tempat ini. Terus terang saja, kami naik ke bukit ini karena mendengar akan adanya pertemuan antara Thong Leng Losu, Tiong Ci Ci jin, dan Louw Keng Tojin. Siapa tahu sini kami bertemu dengan Thai Kek Sia su yang kami sangka sebelumnya bahkan seorang manusia sepertimu ini tidak akan pernah muncul di dunia ramai! Kalau datang untuk menjumpai tiga orang tokoh besar ini karena pada saat ini bangsa kita membutuhkan semua tenaga orang sakti untuk mengakhiri semua perang saudara dan perebutan kekuasaan yang menyengsarakan rakyat. Kami ingin minta bantuan mereka bertiga agar mendukung pemerintahan baru yang kokoh, kuat dan yang akan menyejahterakan kehidupan rakyat jelata. Akan tetapi Saudara Kailon kepala- suku Khitan ini yang menjadi sekutu kami dan yang akan membantu bangsa kami, masih menyangsikan kemampuan mereka bertiga. Maka kami setuju bahwa dia akan menguji kalian dengan serangan anak panah karena kami yakin hal itu tidak akan membahayakan kalian. Dan ternyata dugaan kami benar. Serangan anak panah itu tidak ada artinya. Kalian benar-benar sakti dan orang-orang seperti kalian inilah yang kami butuhkan untuk mendukung dan memperkuat perjuangan kami."

Thai Kek Siansu mengangguk-anggukan kepalanya. "Ah, kiranya kalian berempat termasuk golongan orang-orang yang mendahulukan kepentingan bangsa daripada kepentingan sendiri dan merupakan pejuang-pejuang. Kalau pilihan kali seperti itu, baik-baik saja. Akan tetapi kalau Su-wi ingin mengajak orang lain, sudah sepatutnya kalau orang yang diajak itu sependapat dan mau. Maka, aku persilakan kepada mereka bertiga ini untuk menjawab ajakan kalian tadi."

Thong Leng Losu memandang kcpada Ceng In Hosiang, lalu tertawa dan berkata, "Ha-ha, Ceng In Hosiang, sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai, apakah engkau tidak menyadari bahwa mendukung pemerintahan baru juga sama dengan menyulut api peperangan antara bangsa sendiri dan perang adalah pencetusan dari dendam kebencian? Tentu engkau tidak lupa akan sabda Sang Buddha bahwa "Kebencian takkan pernah dapat dihentikan oleh kebencian pula dalam dunia Ini. Kebencian hanya dapat dihentikan dengan Kasih. Ini adalah hukum yang berlaku sejak dahulu kala. Nah, apakah kini engkau akan menyebarkan kebencian hingga timbul perang dan bunuh membunuh antar bangsa sendiri? Pinceng jelas tidak mau ikut!" Tiong Gi Cinjin juga berkata kepada para pendatang itu.

"Aku pun tidak bisa ikut! Semua orang adalah saudara kita sendiri, apakah kita harus saling membunuh hanya untuk memperebutkan pangkat dan kedudukan? Kalau kalah, kita yang hancur, kalau menang, para pemimpinlah yang akan memetik buah kemenangan itu yang berupa kemakmuran dan kesenangan duniawi. Tidak, aku tidak mau ikut!'

"Siancai! Dua orang sahabatku ini berpendirian cocok dengan pinto! Bertindak kejam dan dalam hati mengandung kebencian, itulah syarat orang untuk perang. Bunuh membunuh tidaklah cocok dengan agama dan kepercayaanku. Pinto juga tidak mau ikut!"

Empat orang pendatang itu saling pandang dan mengerutkan alisnya. Kemudian terdengar suara tawa yang aneh dan tawa itu disambut suara menggelegar di udara! Hong-san Siansu Kwee Cin Lok agaknya mendemonstrasikan kedahsyat tenaga saktinya.

"Ha-ha-ha-ha, sepanjang yang kami dengar, tiga orang pendeta yang bertemu di puncak ini, biarpun dari tiga macam agama, namun mereka adalah orang-orang Pribumi Han yang gagah perkasa, yang berjiwa patriot pahlawan bangsa. Sekarang, kalian bertiga menolak untuk berjuang membantu berdirinya kerajaan yang akan melenyapkan semua perang saudara ini dan menyejahterakan rakyat melihat hadirnya Thai Kek Siansu di sini, kami mengerti bahwa tentu kalian bertiga telah terpengaruh olehnya. Thai Kek-Siansu, tepat dan benar bukan penilaianku ini?" Thai Kek Siansu tersenyum. "Hong-Siansu Kwee Cin Lok, boleh saja engkau berpendapat sesuka hatimu. Akan tapi jelas, tiga orang saudara yang kaliaan bujuk itu tidak setuju dan tidak mau membantu kalian. Setiap orang berhak untuk mempunyai pendapat sendiri dan engkau tidak boleh memaksanya, engkau adalah Hong-san pangcu (Ketua Hong-san-pang), ketua sebuah perkumpul-tentu saja ingin memajukan perkumpulannya dan memiliki cita-cita besar hingga apa yang kau putuskan dan lakukan tentu berdasarkan pamrih mencapai cita-cita itu. Silakan saja, akan tetapi jangan memaksa orang lain!"

"Thai Kek Siansu, sudah lama aku mendengar namamu sebagai seorang yang tidak mau mencampuri urusan dunia. Kalau engkau yang menolak campurtangan dalam urusan mendirikan kerajaan baru yang akan memimpin rakyat dengan bijaksana ini, kami dapat mengerti. Akan tetapi kalau engkau mempengaruhi orang-orang lain, itu merupakan perbuatan dosa terhadap rakyat!" kata Hong-san Pangcu marah.

"Aih, Pangcu (Ketua), siapakah rakyat itu dan siapa pula aku ini? Aku rakyat. Setiap pejuang menggunakan rakyat sebagai alasan, semua mengatar demi rakyat jelata, akan tetapi apa kenyataannya? Selama lima abad ini, berganti-ganti ada kerajaan baru sampai lima kali dan mereka semua ketika sedang berjuang merebut kekuasaan mengunakan nama rakyat, demi kesejahtera rakyat, akan tetapi lihat, apa buktinya? Yang jelas semua itu demi kesejahteraan para pimpinan pemberontak itu sendiri. Setelah perjuangan berhasil, para pimpinan itu hidup makmur, berkuasa, dan kaya raya sedangkan rakyat jelata tetap miskin sengsara."

"Thai Kek Siansu, engkau keterlaluan. Agaknya engkau menjadi sombong karena merasa hebat dan sakti sendiri, tidak ada yang akan berani mengganggumu? Hendak iihat sampai di mana kehebatan dan kesaktianmu!" kata Hong-san Pang-cu Kwee Cin Lok garang dan dengan muka merah karena marah.

"He-he, Hong-san Pang-cu, agaknya engkau lupa bahwa tidak ada manusia yang sakti di dunia ini. Aku tidak sakti, engkau juga tidak sakti, kalau engkau memiliki sedikit kemampuan, hal itu adalah karena engkau diberi oleh Yang Maha Mampu. Engkau mendapat kesaktian karena berkat Yang Maha Sakti, akan tetapi kalau kau pergunakan dalam kesesatan, berarti engkau menjadi alat Yang Maha Sesat atau Setan. Tenang dan buang semua api kemarahan yang membutakan mata hatimu itu."

Mendengar teguran dari Thai Kek Siansu ini, Kwee Cin Lok ketua Hong-San-pang ini menjadi semakin marah. "Manusia sombong, sambutlah ini kalau engkau memang sakti!" Ketua Hong-san-Pang itu mengeluarkan sebatang pedang yang mengeluarkan sinar kuning dan begitu dia melontarkan pedang itu ke atas, pedang itu seakan-akan hidup dan terbang menuju ke arah Thai Kek Siansu yang masih duduk bersila.

Post a Comment