Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 07

Memuat...

Mereka berempat duduk bersila tiga orang pertama memandang kepada Thai Kek Siansu yang menundukkan mukanya sambil tersenyum dan kedua mukanya terpejam. Kemudian, bagaikan orang bermimpi, dia kembali menyanyikan syair yang amat terkenal di antara para tokoh agama dan para sastrawan di Zaman itu. Syair itu adalah karya Sikong Tu (837 - 908), seorang penduduk Daerah Yong-ji di Propinsi Shan-si. Dalam usia muda dia sudah lulus ujian negara. Ketika orang Chao menyerang ibukota Kerajaan Tang dia mengungsi. Dalam usia lima puluh lima tahun dia mengundurkan diri bertapa. Ketika Dinasti Tang jatuh, dia menolak pemberian pangkat oleh Kaisar Dinasti yang baru. Thai Kek Siansu menyanyikan syair itu dengan suara lembut.

"Dia tinggal dalam keheningan, dalam kesederhanaan; Ilham adalah lembut sekali, cepat menghilang.

Dia minum dari Sumber Keselarasan Agung, Terbang bersama burung bangau terpencil di atas. Lembut seperti desahan napas angin lalu

Yang semilir menyentuh baju panjangmu. Atau desir pohon-pohon bambu yang tinggi Yang keindahannya selalu engkau rindukan.

Kalau kebetulan bertemu, agaknya mudah dicapai Pada saat engkau hampir, Dia mundur,

Dan ketika engkau menjangkau merangkapnya, Dia menggelincir dari tanganmu hilang!"

Setelah Thai Kek Siansu menghentikan nyanyiannya, suasana sejenak menjadi hening, akan tetapi segera terisi oleh suara alami yang terdengar demikian menghanyutkan perasaan. Desir angin antara batu-batu air yang memancur menimpa batu, diselingi bunyi burun burung yang melayang lewat puncak. Akan tetapi semua suara dari luar di yang tidak mampu menghilangkan suara keheningan dalam diri yang tidak pernah berhcnti akan tetapi hanya dapat didengar orang yang benar-benar tidak lagi mempengaruhi kebisingan hati akal pikiran, suara itu terdengar di telinga yang paling dalam. Orang yang mendengarnya mungkin tidak sama daya penangkapnya dengan orang lain. Ada yang mengatakan seperti gemersiknya angin bergurau dengan daun-daun, atau seperti gelora air lautan yang dahsyat, atau seperti ombak berkejaran.Telinga luar tidak mempengaruhi pendengaran itu, biar telinga ditutup, tetap saja suara itu berbunyi. Suara keheningan, suara kehidupan, membahagiakan manusia yang dapat mendengarnya

Thong Leng Losu pendeta Buddha dari Tibet itu tak sabar lagi untuk tinggal diam. "Omitohud, Thai Kek Siansu, kebetulan sekali engkau datang pada saat kami bertiga sedang mengadakan pertemuan. Kami bertiga ingin membahas tentang keadaan rakyat jelata dan kerajaan yang silih berganti, selalu terjadi perebutan kekuasaan yang menyengsarakan rakyat. Kami memperbincangkan semua itu dan juga agama kami masing-masing, bagaimana kami akan dapat menanggulangi semua itu dan mendatang kedamaian dan kesejahteraan bagi manusia, khususnya bangsa kita yang terpecah belah oleh perebutan kekuasaan. Mohon petunjuk dari Siansu yang telah kami dengar akan kebijaksanaannya."

Thai Kek Siansu menghela napas panjang dan mengelus jenggotnya, namun mulutnya tersenyum, senyum penuh pengertian dan kesabaran.

.

"Tiga orang sahabatku yang baik, untuk dapat mengerti tentang kehidupan mengapa kita harus mendengar petunjuk orang lain? Kita bersama adalah manusia, kehidupan ini sama-sama kita alami. Siapa yang berhak memberi petunjuk dan kepada siapa?

Kita tidak membutuhkan petunjuk orang lain, karena apa pun juga yang kita percaya dan lakukan, kalau menurut petunjuk orang lain, adalah palsu. Bagaimana kalau petunjuk itu salah. Maka, karena kita berempat sama-sama mengalami kehidupan ini, apakah tidak lebih baik kalau kita sama-sama pula mengamati dan mempelajarinya?"

Tiong Gi Cinjin berkata, "Tak dapat dibantah kebenaran ucapan Siansu Itu. Akan tetapi untuk melakukan penyelidikan kami bertiga yang tadi tidak mendapatkan kesepakatan, perlu seorang yang tidak berpihak untuk membuka jalan dan kami harap Thai Kek Siansu yang suka memulai dengan pengamatan dan penyelidikan ini, agar kami bertiga tidak saing bertumbukan."

Thong Leng Losu dan Louw Keng Cinjin mengangguk-angguk dan menyatakan setuju.

Louw Keng Tojin berkata, "Thai Kek Siansu, mari kita bicara dan menyelidiki tentang Agama lebih dulu. Tadi kami bertiga berselisih paham mengenai kebenaran dalam Agama dan karena kami Mempertahankan kebenaran dalam Agama kami masing- masing, maka terjadi salah faham. Sekarang, bagaimana kita dapat melihat kenyataannya, siapa di antara kami bertiga yang benar?"

"Sam-wi (Anda Bertiga) berdebat tentang Kebenaran? Kebenaran yang diperdebatkan bukanlah kebenaran lagi karena Dia ditinjau dengan pandangan yang dan terselubung tirai penilaian agama masing-masing. Mari kita amati tanpa tirai itu. Apakah sebenarnya Agama itu Yang dapat dibuktikan, Agama ada pelajaran untuk menuntun manusia arah jalan hidup yang baik. Bukan demikian? Semua Agama mengajar kebaikan dan tidak ada sebuah pun Agama yang mengajarkan agar umatnya melakukan tindakan jahat. Intinya ada agar manusia di waktu hidupnya berbuat kebaikan menjauhi kejahatan sampai akhir hayatnya. Akan tetapi Agama juga memiliki sejarah dan upacara-upacara masing-masing yang tentu saja diakui benarannya secara mutlak oleh umat Sayang sekali, seperti yang Sam-wi perlibatkan tadi, Sam-wi tidak melihat kesamaan intinya atau apinya, yaitu hidup dalam kebaikan, melainkan Sam-wi bersitegang membela upacaranya yang berbeda.

Mengapa Sam-wi tidak menggunakan persamaan intinya itu untuk diajarkan kepada umat masing-masing sehingga semua pemeluk agama yang berbeda itu dapat hidup berdampingan secara rukun karena sama-sama memperjuangkan kebaikan dalam kehidupan manusia di dunia

"Omitohud! Biarpun ucapan Siansu membuka mata kami untuk melihat kebenaran, akan tetapi bagaimana dengan kenyataan yang dapat disaksikan betapa umat beragama lain, misalnya ada orang beragama To tetapi menjadi seorang penipu dengan ilmu sihirnya?" kata Thong Leng Losu.

"Siancai! Enak saja Hwesio ini mencela orang lain! Pinto juga melihat banyak sekali orang beragama Khong-kauw yang menjadi penjahat!" seru Louw Keng Tojin membela agamanya.

"Bukan hanya itu, siapa yang tidak tahu berapa banyaknya orang beragama Budha yang menjadi pembunuh?"

Suasana menjadi tegang, akan tetapi suara tawa Thai Kek Siansu seolah dapat mendatangkan suasana dingin karena suara itu lembut sekali.

"Mari kita lihat dan pertimbangkan, Sam-wi. Kalau seorang beragama To kauw menipu, jelas dia itu bukan orang beragama To-kauw, melainkan seorang penipu yang mengaku beragama To! karena kalau dia benar-benar seorang agama To, dia tidak berani menipu dilarang oleh agamanya itu! Juga kalau ada penjahat mengaku beragama Khong kauw, dia adalah seorang penjahat juga hanya mengaku-aku saja dan bukan orang Khong-kauw sejati. Kalau dia benar-benar beragama Khong-kauw, tidak akan berani berbuat jahat karen hal itu dilarang oleh agamanya. Demikian pula, seorang pembunuh mengaku agama Buddha, sebetulnya dia hanya palsu dan mengaku-aku saja karena kalu dia benar seorang Buddhis, sudah pasti dia tidak berani membunuh karena itu dilarang keras oleh agamanya! Nah, kiranya sudah jelas. Bukanlah agama yang tidak benar, melainkan orangnya Tidak perlu dan tidak benarlah kalau Agama saling menyalahkan, karena tidak ada agama yang benar atau salah menurut pandangan orang-orang yang pecah belah melalui agama. Agama adalah Kebenaran itu sendiri karena datang dari Kebenaran Yang Satu."

Tiga orang pendeta itu termenung, Tiong Gi Cinjin menghela napas lalu berkata. "Siansu, aku mulai melihat kebanaran dalam keterangan ini. Akan tetapi mengapa hampir seluruh rakyat meengaku beragama, dan semua agama mengajarkan kebaikan agar kita hidup melakukan kebaikan dan menjauhi kejahatan, Akan tetapi kenyataannya, mengapa selalu terjadi perang, permusuhan, kejahatan dan kekacauan yang menyengsarakan rakyat?"

Thong Leng Losu dan Louw Keng Tojin juga tertarik oleh pertanyaan ini dan mereka bertiga memandang kepada Thai Kek Siansu dengan penuh perhatian.

"Pertanyaan yang baik sekali dan hal ini patut kita pertanyakan dan kita renungkan. Mengapa demikian? Kenyataannya adalah bahwa umat beragama sekarang ini hanya mementingkan sejarah dan upacara masin-masing yang saling berbeda, dan jarang yang mendapatkan Api atu inti Agama masing-masing yang sesungguhnya sama dan hanya satu. Apakah inti dari semua pelajaran itu?" kata Thai Kek Siansu.

"Inti semua pelajaran tentu saja menurut pelajaran agama masing-masing yang menuntun manusia untuk berbuat kebaikan!" kata Tiong Gi Cinjin dan seorang pendeta lainnya mengangguk menyetujui.

Pada saat itu, tiba-tiba ada sinar-sinar hitam menyambar bagaikan kilat arah empat orang itu! Kiranya sinar-sinar itu adalah empat batang anak panah berwarna hitam yang dilepas dengan kekuatan dahsyat menyerang empat orang yang sedang bercengkerama.

"Sing-sing-sing-sing !!"

Sebatang anak panah menyambar arah tengkuk Thong Leng Losu. Akan tetapi hwesio ini diam saja, tidak tahu ataukah memang sengaja diam saja, tidak mengelak maupun menangkis.

"Tukkk !!" Anak panah itu tepat mengenai tengkuk dan patah menjadi dua, jatuh di belakang tubuhnya!

Sebatang anak panah lain menyambar ke arah lambung kanan Tiong Gi Cinjin. Pendeta Khong-kauw ini pun seolah tidak mengacuhkannya. Tangan kanannya hanya bergerak ke kanan tanpa menengok dan ditang anak panah itu telah terjepit di antara jari tengah dan telunjuknya!

Sebatang anak panah lain menyambar kepala Louw Keng Tojin. Pendeta To ini menoleh dan meniup ke arah sinar hitam itu dan anak panah itu tiba-tiba menyimpang dan meluncur ke atas, terputar-putar di atas. Louw Keng Tojin mengikat tangan kirinya menggapai dan bagaikan hidup anak panah itu melayang turun ke arah tangan tosu itu yang mengkapnya!

Adapun sebatang anak panah yang menyambar ke arah dada Thai Kek Siansu tampaknya seperti akan tepat mengenai kisaran, akan tetapi setelah dekat sekali dengan dadanya, anak panah itu jatuh ke tanah seolah-olah tertahan sesuatu yang tdak tampak!

Post a Comment