Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 06

Memuat...

Jubahnya longgar sekali, berwarna kuning, dan sebuah kebutan berbulu putih panjang terselip di pinggangnya. Dengan tenang dia memandang ke kanan kiri, tersenyum melihat dua orang pertama yang sudah duduk atas batu. Dia pun menghampiri batu-batu di tepi jurang dan memilih batu. Melihat ada batu yang panjang, menggunakan kebutannya untuk dihantamkan ke tengah batu itu.

Bagaikan pisau tajam memotong agar-agar, kebutan itu membelah batu panjang dan bekas potongan itu demikian rata dan halus seolah batu itu dipotong dengan benda ya amat tajam. Kemudian, bulu-bulu. kebutannya itu membelit sebuah di antara potongan batu itu dan dengan gerakan lembut batu itu terangkat dan terlontar atas, ke arah tempat dua orang itu duduk! Dia lalu meluncur cepat kedepan dan ketika batu itu melayang turun, menggunakan kebutannya untuk menangkap batu dan diletakan dalam jarak lima tombak dari dua orang yang lain dan kini Mereka duduk saling berhadapan membentuk titik ujung segi tiga. Orang ketiga ini mudah diketahui bahwa dia seorang Tosu (Pendeta Agama To) dari pakaian pendetanya yang berwarna serba kuning. Dia pun terkenal di dunia persilatan sebagai seorang datuk besar dari Selatan. Julukannya di dunia kang-ouw Ialah Lam-liong (Naga Selatan). Tiga orang kakek ini biarpun amat terkenal di dunia kang-ouw sebagai orang-orang sakti, namun mereka jarang mencampuri urusan dunia ramai, dan tidak pernah mempunyai murid. Mereka lebih tekun menyebarkan pelajaran agama masing- masing. Thong Leng Losu menyebarku pelajaran Agama Buddha, Tiong Gi Ki-jin menyebarkan Agama Khong-kauw, dan Louw Keng Tojin menyebarkan Agama To- kauw. Tidak seperti para tokoh agama yang menjadi pimpinan kuil agama masing- masing, tiga orang datuk ini lebih suka bekerja sendiri, merantau dan tidak pernah menetap di suatu tempat atau tinggal di sebuah kuil.

Setelah orang ke tiga itu duduk bersila di atas batu yang dipilihnya, Ti Gi Cinjin mengangkat kedua tangan di depan dada sebagai penghormatan ke dua orang itu lalu berkata dengan lembut.

"Selamat berjumpa, Saudara-saudara!” Betapa bahagianya bertemu dengan sahabat-sahabat lama yang datang dari jauh!

"Omitohud, Tiong Gi Cinjin! Pedangmu masih tajam, ucapanmu masih mengandung aturan kemanusiaan, tentu kau memperoleh kemajuan pesat. Pinceng (aku) merasa kagum sekali!" kata Thong Leng Losu sambil membalas penghormatan itu.

"Siancai! Apakah segala macam aturan yang dibuat manusia dapat merubah cara hidup manusia menjadi baik! Pinto (aku) tahu bahwa pribadi Tiong Cinjin memang sudah baik, akan tetapi kebaikannya bukan karena adanya aturan." kata Louw Keng Tojin sambil tersenyum.

"Saudara Thong Leng Losu dan saudara Louw Keng Tojin, aku mengenal jiwi (Anda Berdua) sebagai orang-orang baik dan selalu berusaha untuk menjadikan orang- orang menjadi baik degan ajaran-ajaran agamamu. Akan tetapi mari kita lihat, bagaimana keadaan dunia ini? Padahal, semua manusia di empat penjuru sesungguhnya adalah saudara sendiri, mengapa terjadi perang perebutan kekuasaan yang mengorbankan nyawa banyak orang? Beginilah kalau manusia tidak menaati peraturan.Kalau semua rakyat mengikuti dan menaati pelajaran agama kami dan mengutamakan bakti, anak-anak berbakti kepada orang tuanya, rakyat berbakti kepada rajanya, tentu tidak akan terjadi semua pertentangan dan keributan kekuasaan ini."

"Ha-ha-ha, Tiong Gi Cinjin, agamamu lalu menekankan agar manusia menaati peraturan. Akan tetapi apa kenyataannya, makin banyak peraturan, semakin banyak terjadi kekacauan! Peraturan dibuat oleh miusia, seperti juga senjata dibuat manusia dengan maksud baik, akan tetapi justeru senjata itu dipergunakan manusia untuk kepentingan dan keuntungan pribadi masing-masing. Peraturan juga demikian, kenyataannya, peraturan dijadikan senjata bagi manusia untuk kepentingan dan keuntungan masing-masing. Tahukah dan sadarkah engkau, Tiong Gi Cinjin, bahwa dosa dilakukan manusia justeru karena adanya peraturan? Dosa adalah pelanggaran, dan justeru peraturan itu menimbulkan pelanggaran! Kalau tidak ada peraturan, tidak akan ada pelanggaran atas dosa!"

"Omitohud! Pendapat Tiong Gi Ci dan Louw Keng Tojin itu semua baik mungkin tidak akan berhasil mengamankan dunia dan mendatangkan kedamaian kehidupan manusia! Semua usaha itu hanya mendatangkan sengsara dan duka. Saat Buddha telah menemukan cara sempurna untuk membebaskan manusia dari duka. Manusia tidak mungkin dapat terbebani dari duka selama dia belum melaksanakan apa yang disabdakan oleh Sang Buddha. Empat Kenyataan yang disadari benar bahwa terdapat adanya Duka, sebab dari Duka, menghentikan Duka, dan Jalan untuk menghentikan Duka. untuk itu Sang Buddha telah menemukan dengan Jalan Utama, Lima Petunjuk, Sepuluh Larangan, Sepuluh Jalan Kebaikan, dan lain-lain. Kalau semua manusia mentaati semua petunjuk Sang Buddha, manusia akan terbebas dari Sengsara dan duka."

Petunjuk-petunjuk dan upacara-upacara saja tidak akan menolong, Thong Leng Losu. Harus ada peraturan yang melaksanakan, harus ada hukum, yaitu hukum siapa yang melanggar peraturan. Kalau peraturan hukum dilaksanakan dengan baik dan sebagaimana mestinya, akan terdapat ketertiban." kata Tiong Gi Cinjin mempertahankan teorinya berdasarkan pelajaran dari Agama Khong-kauw yang dianutnya.

"Ha-ha-ha, kalian berdua hanya bicara tentang peraturan. Manusia tidak akan dapat membuat kehidupan menjadi baik, dengan mengadakan peraturan yang ba- imanapun. Lihatlah, matahari bulan dan Bintang tidak diatur manusia namun selalu berjalan dengan tertib. Burung-burung terbangan di udara, ikan-ikan berenang dalam air, mereka itu tidak mempunyai akal pikiran seperti manusia, namun tidak kekurangan makan, tidak mengerti sengsara karena mereka semua itu hidup sesuai dengan To. Alam mengatur segala sesuatu dengan tertib, akan tetapi aturan perbuatan manusia malah menimbulkan kekacauan. Biarkanlah Alam bekerja tanpa campur tangan manusia, karena Alam bekerja tanpa tujuan tanpa pamrih tidak seperti manusia yang mementingkan tujuannya daripada caranya." kata Lou Keng Tojin mempertahankan teori agamanya.

Tiga orang itu mulai berdebat, mula-mula mereka mempertahankan teori kebenaran agama masing-masing. Akan tetapi perdebatan itu mendatangkan suasana panas yang mempengaruhi hati akal pikiran mereka sehingga akhirnya mereka saling mencela! Yang beragama buddha dicela karena dikatakan menyembah benda mati berupa arca. Tiong Gi Cinjin yang pendeta Agama Khong-kauw dicela karena hanya mengurus soal manusia dan duniawi. Louw Keng Tojin dicela karena agamanya hanya mengurus hal-hal yang tidak nyata, mengkhayal dan seperti mimpi, sama sekali tidak mempedulikan urusan manusia hidup di dunia.

Perdebatan yang dimulai memamerkan kebaikan dan kebenaran masing-masing berlanjut kepada saling mencela sehingga akhirnya tiga orang itu turun dari atas batu, berdiri dengan muka merah mata bersinar penuh kemarahan!

"Hemmm, kalian mencela pelajar Agama Khong-kauw kami, hal itu berarti kalian menentang kami dan siapa yang menentang kami berarti musuh kami teriak Tiong Gi Cinjin yang sudah hilangan kesabarannya. Dia mencabut pedangnya dan tampak sinar hijau ber kelebat, lalu sinar itu menyambar-nyambar kearah batu yang tadi diduduki Tiong Gi Cinjin. Hanya terdengar sedikit suara, akan tetapi ketika sinar hijau itu kembali ke tangan Tiong Gi Cinjin, batu itu runtuh dan berantakan, telah terpotong-potong seperti mentimun dirajang pisau yang amat tajam! "Ha-ha-ha, permainan kanak-kanak macam itu tidak ada artinya!" terdeng Louw Keng Tojin berkata. Dia lalu melempar kebutannya ke atas dan tiba-tiba bagaikan benda hidup, kebutan itu melayang turun ke arah batu yang tadi diduduki dan kebutan itu menyambar cepat. Terdengar ledakan keras dan batu itu terpukul bulu kebutan pecah berhamburan dan kebutan itu sudah "terbang" kembali ke tangan Louw Keng Tojin memang pendeta To ini selain lihai ilmu silatnya, juga mahir ilmu sihir.

"Omitohud, kalian telah melanggar larangan membunuh dalam agama kami. Menghancurkan batu-batu itu sama dengan membunuh. Sungguh tidak memiliki belas kasihan." kata Thong Leng Losu dan hwesio tinggi besar ini menghampiri lima buah batu yang sudah pecah berantakan itu, memungutinya dan dia menempel- nempelkan pecahan batu-batu itu sehingga melekat kembali dan menjadi utuh.

Inilah hasil tenaga sakti yang amat hebat!

Kini tiga orang yang lelah berdebat sengit tadi, berdiri saling berhadapan. Mereka semua adalah pendeta-pendeta yang sudah mempelajari agama masing-masing secara mendalam, hafal akan semua pelajaran dalam kitab-kitab suci mereka.

Mereka siap untuk membela agama masing-masing dengan mati-matian, kalau perlu berkorban nyawa! Akan tetapi mereka masih dapat menenangkan diri tidak membiarkan diri hanyut oleh nafsu amarah karena maklum bahwa itu ditentang atau dilarang oleh agama mereka masing-masing.

Karena mereka sama-sama menahan diri, tidak mau mendahului melakukan serangan, maka mereka bertiga hanya berdiri saling berhadapan dengan muka merah. Thong Leng Losu sudah siap dengan tongkatnya dari baja biru. Tiong Cinjin juga sudah memegang pedangnya dan Louw Keng Tojin memegang kebutannya. Di dalam hati mereka terjadi konflik sendiri, sebagian terdorong penasaran dan marah hendak menyerang lawan, sebagian lagi menaati pelajar agama masing-masing tidak mau melakukannya.

Tiba-tiba terdengar suara orang bernyanyi! Datangnya dari bawah puncak dan suara itu terdengar tenang dan sayup-sayup, namun dapat terdengar jelas semua kata- katanya.

Intinya adalah Api Suci

yang selalu membakar dan menerangi Mengapa yang dipersoalkan asap

dan abunya

yang hanya mengaburkan pandangan mata?"

Biarpun suara nyanyian itu terdengar lebih sayup-sayup, akan tetapi tiga orang yang berilmu tinggi itu dapat merasakan getarannya yang kuat dan penuh kewibawaan lembut mengusap perasaan hati mereka, menghapus kemarahan dari hati. Tahulah mereka bertiga bahwa akan muncul seorang manusia yang luar biasa dan seperti dengan sendirinya mereka tunduk dan menanti dengan sikap hormat. Kemudian tampaklah Thai Kek Siansu melangkah ke puncak itu, memandang mereka bertiga, tersenyum lalu menghampiri, berdiri berhadapan dengan mereka sehingga mereka berempat kini menduduki titik-titik segi empat.

"Ho-ho, tiga manusia utama memperebutkan Kebenaran! Kebenaran yang dapat diperebutkan jelas bukan kebenaran lagi namanya. Kebenaran yang dapat diperebutkan adalah kebenaran yang mempunyai lawan, yaitu ketidakbenar Padahal, Kebenaran tertinggi tidak mepunyai lawan. Segala sesuatu tercakup dalamnya!"

Thai Kek Siansu lalu duduk bersila begitu saja di atas tanah berumput. Anehnya tanpa dia mengatakan sesuatu, tiga orang itu otomatis lalu duduk bersila di atas tanah seperti yang dilakukan Thai Kek Siansu! Tiga orang itu mengenai kakek itu dan mereka bertiga merangkapkan kedua tangan depan dada sambil mengucapkan salam hampir bersamaan.

"Selamat datang, Thai Kek Siansu!"

Thai Kek Siansu membalas salam mereka dengan ucapan lembut, "Selamat berjumpa, Sam-wi Suhu (Ketiga Guru) dari Sam Kauw (Tiga Agama)!"

Post a Comment