Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 05

Memuat...

tertergelincir dan terjatuh?" Han Lin bergidik membayangkan dia terjatuh dari punggung burung itu setelah diterbangkan tinggi.

"Nah, lihat baik-baik dan amati dirimu sendiri, Han Lin. Mulai saat ini engkau harus membuka mata baik-baik dan terutama lebih dulu mengamati dirimu sendiri sebelum engkau mengamati apa yang berada di luar dirimu. Lihatlah, apakah rasa takut di dalam batinmu itu? Dari mana timbulnya perasaan takut dan ngeri itu? Coba rasakan dan jawab!"

Han Lin memang masih kecil namun memiliki kecerdasan dan kematangan pertimbangan yang lebih daripada anak-anak biasa berusia sekitar sepuluh tahun berdiam diri, mencoba untuk menelusuri perasaannya sendiri. Tadinya dia sama sekali tidak mempunyai perasaan takut,akan tetapi mendengar bahwa dia harus naik ke punggung rajawali yang akan membawanya terbang, dia membayangkan dirinya tergelincir dan terjatuh, maka timbullah rasa ngeri takut itu. "Suhu, kalau teecu tidak salah, rasa takut itu muncul dipikiran teecu setelah teecu membayangkan kalau teecu tergelincir dan terjatuh dari punggung Tiau-cu ketika dibawa terbang."

"Nah, berarti bahwa rasa takut muncul dari ulah pikiranmu yang membayangkan hal-hal tidak enak yang belum terjadi. Pikiran bagaimana kalau nanti ataubagaimana kalau nanti begitulah yang mendatangkan rasa takut. Dengan datangnya rasa takut maka bijaksanaan kita pun goyah dan miring. Mengapa memikirkan hal-hal yang belum terjadi, yang hanya menimbulkan rasa takut? Mengapa pula membayangkan

masa lalu yang hanya mendatangkan rasa sedih dan dendam kemarahan? Yang tidak penting adalah menghadapi saat itu, saat demi saat dengan penuh kewaspada.

Engkau harus menaati perintah guru kalau aku sudah menyuruhmu menunggang Tiauw-cu, engkau harus taat dan yang penting bagimu melakukan hal ini, sekarang ini, dengan baik dan benar. Kalau engkau melaksanakan apa pun yang terjadi dengan baik dan benar saat ini, maka sudah cukuplah itu. Selanjutnya pun yang terjadi harus kau hadapi sebagai suatu kenyataan yang wajar, waspada saat ini, saat demi saat, urusan kemudian serahkan saja kekekuasaan Tuhan yang tidak dapat dirubah oleh siapapun juga. Nah, sekarang baiklah dan jangan takut, Tiauw-cu akan mengantarmu sampai ke Puncak Cemara, Bukankah begitu, Tiauw-cu?"

Rajawali besar itu mengangguk-anggukkan kepala seolah dia mengerti dan selalu, mengeluarkan suara kwak-kwak, lalu menekuk kakinya, mendekam di dekat Han Lin!

Sebagai putera tunggal seorang guru Silat murid Siauw-lim-pai, sesungguhnya Han Lin telah dibekali dasar-dasar sebagai seorang yang jantan dan tabah, mendengar ucapan gurunya yang walau agak sukar namun dapat dia mengerrti itu, tanpa ragu lagi Han Lin lalu melompat naik ke punggung burung yang amat besar itu. Punggung itu ternyata lebar dan dia dapat duduk dengan enak.

"Cengkeram bulu lehernya. Bulu itu kuat dan kalau merasa pening, membukuklah saja dan rebah menelungkup atas punggung Tiauw-cu " kata Thai Siansu.

"Baik, Suhu. Harap Suhu doakan a teecu tidak jatuh!" kata Han Lin san memegang bulu-bulu leher dengan ketangannya.

Rajawali raksasa itu bangkit berdiri mengeluarkan suara seolah berpamit pada Thai Kek Siansu, lalu mengembangkan kedua sayapnya sambil meloncat atas dan terbanglah dia dengan indah, ke atas. Han Lin merasa seolah-olah jantungnya copot dan tinggal di bawah. Cepat dia memejamkan matanya membungkuk, menyembunyikan muka dalam bulu-bulu yang lembut dan hangat itu.

Thai Kek Siansu berdiri di atas batu sambil mengikuti terbangnya Tiauw-Cu dengan pandang matanya sampai buram.

itu menjadi sebuah titik hitam yang makin menjauh. Dia menghela napas panjang. Dia telah menerima seorang anak laki-laki sebagai murid. Hal ini berarti bahwa biarpun dia tidak pernah dan tidak akan mengikatkan batin dengan siapa atau apapun, namun harus mempertanggung jawabkan keputusan yang telah diambilnya. Dia mempunyai murid, maka dia harus membimbing murid itu agar kelak menjadi manusia yang dekat dengan Sang Sumber dan menjadi penyalur berkat Tuhan Yang Maha Kuasa, menyalurkan semua bekat itu untuk orang lain yang membutuhkah.

Kemudian kakek itu menuruni bukit dan biarpun tampaknya hanya melangkah lambat saja, namun dalam waktu sebentar saja dia telah tiba di kaki bukit.

oooOOooo

Di luar kota Lok-yang sebelah timur di tepi sungai, terdapat sebuah perbukitan memanjang dan sebuah di antara bukit-bukit itu disebut Bukit Naga Kecil karena bentuknya seperti kepala naga. Bentuk ini sebetulnya hanya batu karang, numun dilihat dari jauh tampak beberapa batu karang itu seperti mulut dan kepala naga. Bukit yang gersang karena terdiri dari batu karang sehingga tanahnya tidak subur. Jarang ada orang mendaki bukit! karena memang tidak ada apa-apanya yang berharga. Tidak ada tumbuh-tumbuh-berharga, tidak ada pula hewan buruan besar.

Akan tetapi pada suatu hari, baru saja matahari menyinarkan cahayanya yang hangat, muncul dari celah-celah dua buah bukit, tampak seorang hwesio (pendeta Buddha) memegang tongkat pendetatanya dan menggunakan tongkat itu untuk menopangnya ketika dia mendaki ke atas Bukiit. Hwesio itu seorang kakek berusia sekitar lima puluh tahun, bertubuh tinggi kasar dan perutnya amat gendut.

Kepalanya gundul, hanya ditumbuhi sedikit rambut. Dia mengenakan jubah hwesio, dari tetapi berbeda dengan para hwesio di negeri itu yang biasanya memakai berwarna kuning atau merah mu dilibat-libatkan di tubuh mereka secara sederhana sekali, hwesio ini mengenakan jubah longgar yang berkotak-kotak dengan hiasan bunga, dan celananya berwarna warna kuning. Kedua kakinya yang besar mengenakan sandal yang aneh bentuk! dan terbuat daripada kain tebal dengan bagian bawah dari kayu. Hwesio ini bukan orang sembarangan karena dia adai seorang pendeta Buddha yang datang-daerah Tibet dan di dunia barat, yaitu sekitar Tibet, Sin-kiang, bahkan sama ke Nepal, namanya terkenal sebagai seorang pendeta yang sakti. Dia berjuluk Thong Leng Lo-su, tidak mengguna nama para Lama di Tibet karena dia adalah berbangsa Han (Pribumi Cina). Karena merasa tidak cocok dengan pelajaran Agama Buddha aliran Tibet, memisahkan diri dan meninggalkan Tibet lalu merantau ke Timur, atau kembali Cina. Wajahnya yang tampak penuh sennyum dan ramah itu cocok benar dengan perutnya yang gendut sehingga dia mirip Patung Ji- lai-hud! Setelah tiba di atas puncak Bukit Naga Kecil yang datar, Tiong Leng Losu mencari sebuah batu sebesar perut kerbau yang banyak berseraikan di tepi sebuah jurang. Dia menguakkan tongkatnya dengan perlahan kearah batu itu.

"Ceppp!" tongkat itu menusuk batu sedemikian mudahnya seolah dia bukan menusuk batu melainkan menusuk benda yang lunak! Batu yang tertusuk tongkat itu dia bawa ke tengah dataran puncak bukit, melepaskannya dan melihat permukaan batu itu tidak rata, dia lalu menggunakan telapak tangan kiri dengan jari- jarinya yang gemuk untuk mengusap permukaan batu. Sedikit debu mengebulkan permukaan batu itu kini menjadi halus seperti dibubut! Kemudian dia meniup permukaan batu sehingga permukaan batu bersih dari debu yang terkena remukan batu, lalu duduk bersila di atas batu, meletakkan tongkatnya bersandar pada batu yang didudukinya lalu memejamkan kedua matanya, duduk bersamadhi. Tubuhnya duduk tegak lurus dan sedikit pun tidak bergerak sehingga dia tampak perti sebuah patung!

Tak lama kemudian muncul seorag bertubuh gemuk pendek dari jurusan lain mendaki bukit itu. Kakinya yang pendek-pendek itu bergerak cepat dan tubuhnya meluncur ke atas dengan kecepatan yang sukar diikuti pandangan mata. Tubuhnya seolah berubah menjadi bayang-bayang dan tahu-tahu dia sudah berdiri di puncak. Dia tersenyum melihat Thong Leng Losu duduk tenggelam dalam siu-lian (samadhi) dan dia pun menghampiri batu-batu besar yang berserakan dekat lereng. Dia memilih batu terbesar dan begitu mencabut pedang yang tergantung punggung, tampak sinar hijau bergulung-gulung di sekitar batu itu dan batu-batu kecil disertai debu berhamburan. Hanya sebentar saja, batu besar itu kini telah berubah menjadi sebuih kursi yang seolah dipahat halus dan bentuknya indah! Hal ini menunjukkan betapa hebatnya ilmu pedang orang pendek itu. Dia berusia sekitar lima puluh tahun, tubuhnya yang gemuk pendek membuat dia tampak seperti serba bulat.

Pakaiannya longgar sederhana, seperti pakaian yang biasa dipakai para pertapa. Orang ini pun bukan orang sembarangan. Dia bernama Liong Gi Cin-jin dan di dunia persilatan, terutama didaerah timur, dia terkenal nama julukan Tung Kiam-ong (Raja pedang Timur). Dia seorang yang tekun mempelajari agama Khong-kauw (Confu- iism) dan bertahun-tahun dia merantau di sepanjang kota pantai Timur untuk menyebar-luaskan pelajaran Khong-hu-Im.

Baru saja dia menduduki kursinya yang diletakkan dalam jarak lima tombak dari tempat duduk Thong Leng Losu, tiba-tiba dari arah lain tampak seorang munusia seperti seekor burung melayang naik ke puncak itu. Dia bukan terbang, namun gerakannya yang cepat ditambah tubuhnya yang lebar itu mengembang seperti sayap burung membuat ia seperti melayang naik dan dengan cepat dia sudahberada di puncak bukit. Dia adalah seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun lebih, tubuhnya tinggi kurus. demikian kurusnya sehingga mukanya seperti tengkorak.

Post a Comment