oooOOooo
Si Han Lin yang baru berusia sepuluh tahun itu sejak kecil sudah diberi pelajaran dasar-dasar ilmu silat Siauw-lim-Pai oleh ayahnya sehingga dia memiliki tubuh yang kuat walaupun agak kurus. Dia sudah banyak mendengar cerita Ayahnya tentang kisah para pendekar yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, bahkan gurunya pernah bercerita tentang ("orang yang amat sakti seperti Tat Mo-couwsu yang nama aselinya Buddhi Dharma, yang memiliki ilmu kepandaian seperti dewa dan yang pertama-tama menembangkan ilmu silat di Siauw-lim-Akan tetapi ketika dia digandeng oleh Thai Kek Siansu keluar dari rumahnya, dia merasa tubuhnya seperti melayang sehingga dia merasa heran bukan main. Apalagi ketika dia melihat betapa tahu-tahu dia sudah berada di luar dusun Ki-bun! Dia masih digandeng dan biarpun berrdua kakinya melangkah namun dia tidak merasakan menginjak tanah, melainkan seperti melayang dan meluncur. Dengan cepat sekali kakek itu membawanya mendaki bukit dan setelah tiba di puncak bukit, baru kakek itu berhenti dan melepaskan tangan yang digandengnya.
Begitu dilepaskan oleh Thai Kek Siar su, Han Lin cepat menjatuhkan diri berlutut didepan kakek yang sudah duduk bersila di atas sebuah batu besar.
"Lo-cian-pwe, saya mohon kepada Lo cian-pwe agar suka menerima saya sebagai murid."
"Han Lin, kenapa engkau ingin menjadi muridku?"
"Karena Lo-cian-pwe adalah seorang yang amat sakti dan amat pandai. Saya ingin mempelajari semua ilmu yang Lo cian-pwe kuasai."
"Han Lin, ketahuilah bahwa tidak ada orang pandai di dunia ini. Tidak ada orang sakti! Yang Maha Sakti dan Maha Pandai itu hanyalah Tuhan! Kalau aku manusia mengaku sakti dan pandai, itu hanya membual saja, bualan yan sombong dan kosong!"
"Akan tetapi saya melihat sendiri Lo cian-pwe tanpa bergerak sudah mampu mengusir para perampok itu. Bahkan tidak ada perampok yang dapat menyerang Lo- cian-pwe, semua serangan itu tidak dapat mengenai tubuh Lo-cian-pwe. Apakah itu tidak sakti namanya?" Thai Kek Siansu menggelengkan kepalanya dan tersenyum. "Bukan aku yang sakti atau pandai, melainkan Tuhan Yang Maha Kuasa. Yang membuat aku terbebas dari semua serangan adalah kekuasaan Tuhan, bukan kesaktianku.Kalau kekuasaan Tuhan bekerja melindungiku, siapakah yang akan mampu menggangguku? Biar Iblis dan Setan sekalipun tidak mungkin dapat mengganggu seseorang yang dilindungi kekuasaan Tuhan. Manusia tidak ada yang pintar. Kalau dia dapat lakukan sesuatu, itu adalah karena iluin yang menganugerahi dengan kemampuannya itu. Bagaimana orang dapat mengaku pintar kalau tidak mampu menghitung rambut di kepalanya sendiri, tidak mampu menghentikan tumbuhnya rambut dan kukunya sendiri? Yang Maha Pandai hanya Tuhan dan yang dianugerahkan kepada manusia sesungguhnya hanya sedikit dan terbatas sekali. Karena itu bukalah matamu, Han Lin. Guru Sejati adalah Tuhan sendiri dan Dia telah memberimu hati akal pikiran untuk belajar dan ilmu-ilmu itu telah diberikan Tuhan dengan berlebihan melalui segala sesuatu yang terdapat di alam maya pada ini. Hidup ini adalah belajar, sampai kita mening galkan dunia ini."
Anak berusia sepuluh tahun itu tentu saja agak sukar mengunyah dan menelan makanan batin yang mendalam itu, akan tetapi Han Lin yang cerdik mencatat dalam ingatannya.
"Lo-cian-pwe, tanpa bimbingan Lo cian-pwe bagaimana mungkin saya akan dapat mengerti semua itu? Karena itulah maka saya mohon untuk menjadi murid Lo-cian- pwe."
Kakek itu mengelus jenggotnya, tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Baiklah, Han Lin, kalau itu sudah menjadi tekadmu, aku akan membimbingmu, asalkan engkau percaya dengan penuh keyakinan akan adanya Thian yang menguasai seluruh alam semesta dan sekalian isinya, termasuk dirimu."
"Saya percaya akan adanya Tuhan, suhu." kata Han Lin dengan penuh semangat dan gembira.
"Dan engkau rela berserah diri kepada Tuhan sepenuhnya, tanpa pamrih, dan kau menerima segala sesuatu yang menempa dirimu dan di luar kekuasaanmu untuk menghindarinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan. Maukah engkau berserah diri sedalam itu kepadaNya sehingga mati pun akan kau terima dengan suka rela kalau hal itu memang diKehendakiNya?"
"Saya bersedia untuk berserah diri kepada Tuhan, Suhu." kata pula anak itu dengan mantap.
Dengan wajah riang Thai Kek Siansu tertawa mendengar kesanggupan anak itu. suara tawanya lembut dan merdu, akan tetapi ketika kakek itu tertawa dan menengadahkan kepalanya, Han Lin mendengar suara seperti ada halilintar menggeluduk dari jauh dan begitu kakek itu kini henti tertawa, suara menggeluduk di diatas itu pun berhenti.
Tiba-tiba terdengar bunyi melengking di angkasa. Han Lin terkejut, apalagi suara itu disusul suara berkelepaknya sayap yang cukup keras. Dia mengangkat muka, berdongak ke atas dan mata anak itu terbelalak. Seekor burung yang luar biasa besarnya melayang dan mengelilingi puncak bukit itu. Belum pernah selama hidupnya Han Lin melihat burung sebesar itu. Dari bentuknya dia mengenal sebagai burung rajawali yang pernah dilihatnya, akan tetapi biasanya burung rajawali tidak seberapa besar, sampai besar seperti seekor ayam jantan. Akan tetapi burung yang melayang-layang besar sekali, kedua kakinya itu saja sebesar lengan orang dewasa dan kepala sebesar kepala kambing!
"Ho-ho, Tiauw-cu (Rajawali), engkau mengenal suara tawaku dan datang
.menyusulku ke sini? Ha-ha, Rajawali yang baik, turunlah dan jangan sungkan, ini adalah muridku bernama Si Han Lin.
Aneh sekali! Rajawali raksasa itu seolah mengerti akan kata-kata Thai Kek Siansu. Dia meluncur turun dan hingga di atas tanah tak jauh dan batu yang diduduki kakek itu. Setelah rajawali itu turun, baru Han Lin melihat bahwa burung itu memang besar sekali, ketika berdiri di situ, dia lebih tinggi daripada dirinya sendiri!
Melihat Han Lin memandang dengan heran, kagum dan juga takut, Thai Kek Siansu berkata sambil tersenyum. "Han Lin, ketahuilah bahwa Tiauw-liu ini adalah seekor Rajawali Sakti yang telah langka. Dahulu, induk burung ini merupakan sahabat baikku yang kujumpai di puncak Awan Biru, satu di antara puncak-puncak di Pegunungan Himalaya. Induk Rajawali Sakti itu merupakan sahabat lamaku yang setia dan baik sekali. Akan tetapi sekarang ia telah tiada dan ini adalah anak tunggalnya yang masih muda. Burung ini amat langka, Han Lin, dahulu hanya terdapat di Pegunung Himalaya, itu pun hanya sedikit dan sekarang entah masih ada berapa ekor yang masih hidup. Tiauw-cu ini sudah lima tahun tinggal bersamaku di Puncak Cin-ling-san dan engkau lihat, ketika aku meakukan perjalanan merantau dan sudah meninggalkannya selama hampir tahun, kini dia menyusul dan berhasil menemukan aku di sini."
"Wah, dia hebat sekali, Suhu!" kata Han Lin girang dan dia pun menghampiri burung rajawali itu dan mengelus bulu halus di sayapnya. Burung itu mengerakkan kepalanya dan mengelus rambut kepala Han Lin dengan paruhnya yang runcing melengkung dan hitam mengkilat itu.
"Ha, bagus sekali! Tiauw-cu ini agaknya juga suka kepadamu, Han Lin, biasanya nalurinya tidak akan salah memilih!"
Han Lin memang kagum sekali mengamati burung rajawali itu baik-baik dari kepala sampai ke kaki. Paruh burung itu besar dan kokoh kuat, melengkung dengan ujung runcing tajam. Lehernya penuh bulu tebal dan di atas kepalan tampak jambul berwarna putih. Bulu burung itu keabu-abuan dengan sedikit titik-titik keemasan di bagian sayap dan ekornya. Tubuhnya juga kokoh dan keras dan kedua kakinya yang sebesar lengan manusia dewasa itu tampak kering dan dan seperti baja, bersisik dan jari-jarinya mekar dengan kuku-kuku yang runcing melengkung pula.
"Han Lin, engkau pulanglah lebih dulu ke Cin-ling-san bersama Tiauw-cu. Aku masih mempunyai beberapa urusan dan harus berpisah darimu. Engkau pulanglah dulu ke Cin-iing-san. Bersihkan pondok kita di sana, rawat tanaman sayur-sayuran.Tunggu aku di sana sampai aku pulang"
"Suhu, bagaimana teecu (murid) dapat pergi ke Cin-ling-san? Teecu tidak tahu mana pegunungan itu dan teecu tidak pernah melakukan perjalanan jauh. Betapa jauhnya tempat itu, Suhu?"
“Jangan khawatir, Tiauw-cu akan menemani dan mengantarmu sampai di sana."
"Baik, Suhu!" kata Han Lin penuh mangat. "Berapa harikah teecu harus berjalan kaki menuju ke sana? Teecu siap berangkat sekarang juga!"
Thai Kek Siansu mengelus jenggotnya dan tersenyum. Hatinya merasa senang melihat semangat besar dan keberanian muridnya ini yang siap mencari Cin-ling-san walaupun tidak tahu tempatnya dan tanpa memiliki sedikit pun uang bekal!
"Kalau engkau berjalan kaki, kukira dalam waktu setengah tahun engkau baru akan sampai di sana, Han Lin."
Anak itu terbelalak memandang gurunya. "Setengah tahun? Suhu maksudnya enam bulan, seratus delapan puluh hari? Wah, begitu jauhnya !"
Kembali kakek itu tertawa. "Ha-ha. engkau akan tiba tak selama itu, Han Lin. Paling lama dua hari engkau dapat tiba di pondok kita di Puncak Cemara di Pegunungan Cin-ling-san. Tiauw-cu akan mengantarmu ke sana."
"Tiauw-cu akan mengantar teecu dapat dua hari tiba di sana? Akan tetapi Tiauw-cu dapat berlari secepat itu teecu yang tidak dapat dan akan tertinggal jauh "
"Dia akan terbang, Han Lin."
"Dia dapat terbang, Suhu, akan tetapi teecu "
"Engkau duduk di atas punggurgnya Han Lin!"
"Teecu? Dibawa terbang ? Suhu, mana teecu berani? Bagaimana kalau