Empat buah senjata itu seolah bertemu dengan benda yang amat keras dan kuat sehingga terpental dan terlepas dari kedua tangan Oh Kun dan Joa Gu!
Tentu saja dua orang kepala perampok ini terkejut bukan main. Mereka menggunakan tangan untuk memukul di kaki untuk menendang seperti yang dilakukan Yong Ti, akan tetapi semua pukulan dan tendangan itu tidak pernah mengenai sasaran, tertahan sesuatu, sebelum menyentuh tubuh kakek itu seolah tubuh itu dilindungi perisai yang tidak tampak namun yang kuat sekali!
Dalam kemarahan dan penasaran, juga ketakutan yang membuat dia menjadi semakin kejam, Yong Ti berseru kepada anak buahnya.
“Keroyok dan bunuh Kakek ini!"
Ketakutan memang menimbulkan kekejaman, atau lebih tepat lagi, kekejaman timbul karena rasa takut akan keselamatan diri sendiri. Untuk menyelamatkan diri sendiri, seseorang akan tega untuk membunuh semua orang yang menjadi ancaman bagi dirinya. Hati, akal pikiran yang dikuasai nafsu daya rendah pembentuk dan membesar-besarkan sifat sehingga kalau aku-nya terancam itu terganggu, timbullah rasa takut yang berkembang menjadi kemarahan dan kekejaman.
Lima puluh orang anak buah perampok itu pun segera menyerang kakek itu seperti semut-semut hendak mengeroyok seekor kupu. Akan tetapi, senjata mereka terpentalan dan ketika kakek itu menggerakkan tangan mendorong, tubuh merek berpelantingan seperti daun-daun kering dihembus angin yang amat kuat! Tidak terkecuali, tubuh Tiat-pi Sam wan yang terkenal jagoan itu terpelanting dan terguling-guling di atas tanah. Mereka tidak terluka, akan tetapi mereka menjadi semakin ketakutan dan akhirnya, tiada yang memberi komando, mereka semua, lima puluh tiga orang itu, lari tukang pukang, bahkan mereka meninggalkan barang- barang yang tadi mereka rampok dari rumah para penduduk dusun ki-bun!
Setelah mereka semua melarikan diri, Han Lin yang teringat akan ayahnya, lalu bangkit dan berkata kepada kakek itu. Dia sudah mendapat pendidikan ayahnya tentang sopan santun di dunia persilatan, maka ia menjatuhkan diri berlutut ketika bicara. "Lo-cian-pwe, mohon pertolongan Lo-cian-pwe terhadap Ayah saya dan para penduduk Ki-bun."
"Mari kita lihat!" Kakek itu berkata lu menggandeng tangan Han Lin dan memasuki pintu gerbang dusun. Di mana-wma terdengar wanita menangis karena hilangan harta benda maupun karena tadi diganggu anggauta perampok yang kurang ajar dan melanggar kesusilaan.
Han Lin menggandeng tangan kakek itu diajak menuju ke rumahnya. Ketika tiba di depan pekarangan rumah, dia melihat beberapa orang tetangga berkumpul, mengelilingi mayat Si Tiong An. Melihat ayahnya menggeletak dengan tubuh penuh luka dan sudah tewas, Han Lin menjerit dan lari menubruk mayat itu.
"Ayaaahhh............! Ayah.............Ibu................ahhh mengapa kalian
meninggalkan aku ?” Dia menangis tersedu-sedu memeluk mayat ayahnya
sehingga pakaiannya makin banyak dilumuri darah.
Kiranya tadi Si Tiong An yang sudah luka dan terdesak oleh Oh Kun dan Joa Gu, terpaksa roboh ketika banyak anak buah perampok ikut mengeroyok, memang berhasil merobohkan beberapa orang anggauta perampok, akan tetapi dia sendiri akhirnya roboh dengan tu penuh luka dan tewas.
Sebuah tangan memegang pundak Han Lin dan tiba-tiba saja Han Lin merasa ada tenaga yang mengangkatnya berdiri.
"Anak baik, seperti juga Ibumu, Ayahmu tidak boleh kau halangi perjalanann menuju ke alam asalnya. Semua telah terjadi dan apa yang telah terjadi tidak dapat diubah lagi." Suara kakek itu dengan lembut menghibur, akan tetapi mengandung wibawa kuat yang membuat Han Lin sadar sehingga dia dapat menghentikan tangisnya Kakek itu lalu memandang kepada banyak orang yang berdatangan memenuhi pelataran rumah keluarga Si itu.
"Studara-saudara, harap kalian jangan ribut. Semua perampok telah terusir pergi dan mereka meninggalkan barang-barang kalian di luar dusun. Pergilah kaliandan ambil kembali barang-barang kalian, dan jangan lupa agar membawa jenazah Ibu anak ini ke sini untuk diurus sebagaimana mestinya."
Mendengar ini, semua penduduk yang laki-laki berbondong keluar dari dusun. Dan benar saja, mereka menemukan semua barang yang dirampok itu berada di situ, berhamburan. Mereka lalu mengmbili barang-barang itu, dibawa masuk ke dusun dan empat orang tetangga memikul jenazah Nyonya Si, dibawa pulang ke rumah Keluarga Si
.
Sementara mereka tadi pergi keluar dusun, kakek itu mengangkat jenazah Si Tiong An, membawanya masuk ke dalam rumah bersama Han Lin dan merebahkah jenazah itu ke atas dipan. Kemudian dia duduk di atas kursi dan Han Lin yang kehilangan ayah ibu itu duduk di atas lantai, di depannya.
"Anak baik, siapakah namamu dan siapa pula Ayahmu yang tewas ini?" "Lo-cian-pwe, nama saya Si Han Lin dan Ayah nama Si Tiong An. Sekarara Ayah dan Ibu telah tewas terbunuh rampok, saya .......... saya menjadi yatim piatu,
hidup seorangdiri " Han Lin menahan tangisnya dan mengusap dua titik air
mata yang turun ke atas pipanya.
"Engkau tidak mempunyai sanak keluarga lain?" Han Lin menggelengkan kepalanya.
"Siancai! Sekarang, setelah Ayah Ibumu tewas dan engkau hidup seorang diri apa yang akan kau lakukan selanjutnya?”
Mendengar pertanyaan ini, tiba-tiba Han Lin lalu berlutut di depan kaki kakek itu dan menangis. "Lo-cian-pwe” kalau Lo-cian-pwe sudi menerimanya ingin ikut Lo- cian-pwe, biarlah saya jadi pelayan Lo-cian-pwe. Bawalah saya, Lo-cian-pwe !!"
Kakek itu membiarkan Han Lin berlutut dan menyembah-nyembah di depan kakinya. Dia menoleh untuk melihat keadaan dalam rumah itu. Agaknya orang anak itu hidup dalam keadaan yang cukup baik, pikirnya.
"Han Lin, kalau engkau ingin hidup ikut denganku, syaratnya mungkin berat bagimu."
"Katakanlah, Lo-cian-pwe, apa syaratnya? Saya pasti akan memenuhi semua permintaan Lo-cian-pwe." Han Lin sudah berhenti menangis dan mengangkat muka memandang kakek itu dengan mata merah dan bengkak karena terlalu banyak menangis.
"Syaratnya, engkau harus tahan menderita, hidup serba melarat bersamaku, dan engkau harus tinggalkan rumah dan semua isinya ini. Kalau engkau benar-benar hendak ikut denganku, rumah dan isinya ini akan kuserahkan kepada para penduduk dusun ini. Selain itu engkau harus pergi denganku sekarang juga dan menyerahkan urusan pemakaman orang tuamu kepada para penduduk."
Han Lin terkejut dan bingung. "cian-pwe, apakah saya tidak boleh menunggu sampai selesai pemakaman kedua orang tuaku?"
"Terserah kepadamu, Han Lin. Akan tetapi ketahuilah bahwa sekarang aku akan pergi meninggalkan tempat ini. Terserah kepadamu hendak ikut denganku atau tidak."
Sebelum Han Lin menjawab, empat orang tetangga yang mengangkut jenazahNyonya Si telah tiba dan jenazah itu dibaringkan di sebelah jenazah Si Tiong An.
Melihat jenazah ayah ibunya, kembali Han Lin menangis sambil berlutut depan pembaringan.
"Han Lin, bagaimana, apakah engkau hendak ikut dengan aku atau tidak? Pertanyaan yang lembut itu menyadarkan Han Lin dan dia harus mengakui kelemahannya, kembali menangisi kematian ayah ibunya yang menurut kakek hanya menghalangi kepergian mereka. Maka dia menjawab tegas. "Lo-cian-pwe, saya ikut!" Lalu dia memberi hormat dengan berlutut di depan dipan dan berkata. "Ayah dan Ibu, ampunilah anakmu yang tidak sempat mengurus jenazah Ayah dan Ibu karena anak harus ikut dengan Lo-cian-pwe " Dia menoleh
kepada kakek itu, "Maaf, Lo-Cian-pwe, siapakah nama Lo-cian Pwe? Saya akan memperkenalkan kepada ayah dan Ibu."
Kakek itu tersenyum. "Orang-orang menyebut aku Thai Kek Siansu."
"Ayah dan Ibu, anakmu harus ikut dengan Lo-cian-pwe Thai Kek Siansu. Ayah dan Ibu, pergilah dengan baik dan doakanlah anakmu agar menjadi anak yang baik." Dia memberi hormat delapan kali lalu bangkit berdiri, memandang kepada Thai Kek Siansu dengan sikap tegas.
"Lo-cian-pwe, saya sudah siap!"
Thai Kek Siansu tersenyum dan mengelus kepala anak itu. "Anak yang baik, panggillah semua orang agar berkumpuldi sini."
"Baik, Lo-cian-pwe!" Setelah berkata demikian, dengan sigap dan cepat ke keluar dari rumah dan memanggil semua orang agar datang berkumpul di pelataran rumahnya. Semua orang yang sudah mendengar akan munculnya kakek pakaian putih yang secara aneh membantu para perampok meninggalkan semua barang rampasan di luar dusun, berbondo-bondong datang berkumpul.
Setelah semua penduduk berkumpul termasuk Lurah Thio yang menjadi kepala dusun di situ, Thai Kek Siansu mengandeng tangan Han Lin, berdiri di pendapa dan berkata kepada mereka. Suaranya halus dan lirih saja, akan tetapi anehnya, semua orang sampai yang berdiri paling jauh dapat mendengar bisikan itu dengan jelas!
"Saudara-saudara penduduk Ki-Bun. Anak Si Han Lin ini telah kehilangan Ayah Ibunya dan menjadi yatim piatu tidak memiliki sanak keluarga lain."
"Kami mau memeliharanya!"
"Biarkan aku yang menjadi pengganti orang tuanya!"
Banyak orang meneriakkan kesanggupan mereka untuk menerima Han Lin. Hal ini membuktikan bahwa anak itu memang disuka oleh para penduduk yang amat menghormati ayah ibu anak itu. Tiba-tiba Han Lin berkata dengan suara lantang.
"Para Kakek, Paman dan Bibi! Terima kasih atas kebaikan hati dan penawarankalian. Akan tetapi aku sudah mengambil keputusan untuk ikut bersama Lo-cian-pwe Thai Kek Siansu ini!"
Thai Kek Siansu tersenyum lalu berkata. "Saudara-saudara sekalian telah mendengar sendiri. Han Lin ingin ikut bersamaku, maka atas namanya kami serahkan rumah dan seisinya kepada kalian. Harap Saudara Lurah mengaturnya dan juga mengadakan upacara sembahyang dan mengatur pemakaman suami isteri Si Tiong An dengan sebaiknya, Nah, kami berdua akan pergi sekarang.”
Setelah berkata demikian, semua orang menjadi berisik karena saling bicara sendiri. Akan tetapi tiba-tiba me reka semua tersentak dan berhenti bicara karena ada angin bertiup kencang dan ketika mereka memandang ke pendapa kakek dan anak itu telah lenyap!
Semua orang, dipelopori Lurah Thio menjatuhkan diri berlutut untuk menghormat kepergian kakek itu dan semenjak saat itu, nama Thai Kek Siansu menjaj pujaan penduduk dusun Ki-bun. Bukan hanya menjadi pujaan, bahkan menjadi pelindung, karena kalau ada gerombolan penjahat hendak mengganggu dusun itu dan mendengar bahwa Thai Kek Sianu menjadi pelindung dusun Ki-bun dan mendengar pula betapa gerombolann yang dipimpin oleh orang-orang sakti seper Tiat-pi Sam- wan juga dihajar sehingga lari ketakutan oleh Thai Kek Siansu mereka tidak jadi mengganggu karena takut!