Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 02

Memuat...

Tombaknya yang panjang dan berat itu bergerak dengan kuat dan ganas sekali. Biarpun Nyonya Si melawan dengan nekat dan mati-matian, namun baru lewat belasan jurus, pedangnya terpental lepas dari tangannya ketika beradu dengan tombak lawan. Bahkan ia terhuyung, terdorong oleh tenaga lawan yanng kuat. Sebelum ia sempat menghindarkan diri, tangan kiri Yong Ti yang besar dan panjang itu menyambar dan mencengkeram otot di pundak Nyonya Si, membuat wanita itu terkulai dan kehilangan tenaga. Di lain saat, sambil tertawa-tawa Yong Ti sudah memanggul tubuh wanita itu di atas pundak kirinya, lalu dengan tombak di tangan kanan, dia membantu dua orang sutenya (adik sepergurunnya), meluncurkan tombaknya menyamar ke arah punggung Si Tiong An.

Si Kauwsu sedang terdesak oieh dua orang lawannya. Mendengar berdesingnya tombak yang menyerang dari belakang, dia cepat memutar tubuhnya sambil menggerakkan pedangnya menangkis. "Cringgg !" Pedangnya terpental saking kuatnya tombak itu beradu dengan

pedang. Si Tiong An dapat menghindar dari serangan itu, akan tetapi melihat isterinya dipondong Yong Ti, dia terkejut sekali.

"Lepaskan isteriku!" bentaknya dan dengan nekat dia menerjang Yong Ti untuk menolong isterinya. Kesempatan itu dipergunakan oleh Oh Kun dan Joa Cu untuk berbareng menyerang dari kanan kiri. Golok dan kapak menyambar dan sekali ini, karena perhatiannya tertuju kepada isterinya, kurang cepat Si Tiong An melindungi dirinya dan sebatang golok Oh Kun mengenai pahanya.

Si Tiong An terhuyung dan darah mengucur dari pahanya yang terluka. Oh Kun dan Joa Gu semakin ganas menyerangnya dan Si Tiong An terpaksa memutar pedang melindungi dirinya. Kini gerakannya kurang cepat karena paha kirinya telah terluka sehingga dia terdesak hebat.

Melihat ini, Yong Ti merasa tidak perlu membantu kedua adik seperguruannya lagi dan sambil tertawa dia lalu meninggalkan tempat itu sambil memondong tubuh Nyonya Si yang mulai dapat tergerak dan meronta-ronta. Namun, makin kuat ia meronta, semakin senang hati Yong Ti karena dia merasakan betapa tubuh yang lunak itu kini bergerak-gerak hidup, tidak seperti tadi diam saja seperti memanggul mayat. Rontaan Nyonya Si tidak ada artinya lagi kepala perampok yang bertubuh kokoh kuat itu, bahkan ketika kedua tangan wanita itu memukuli punggungnya, dia semakin senang, merasa seolah punggungnya dipijat-pijat. Ketika Yong Ti yang memondong wanita itu melewati pasar yang berada di ujung dusun, pasar yang kini menjadi sepi karena orang-orang yang berada di situ sudah berlari-larian ketakutan, seorang anak laki-laki memandangnya dengan mata terbelalak. Anak ini berusia sepuluh tahun dan dia memegang sebuah keranjang yang sudah kosong. Dia adalah Si Han Lin, putera tunggal Si Tiong An yang tadi mengantar dagangan kue buatuan ibunya kepada warung-warung di pasar. Dia mendengar akan adanya peram pok yang menyerang dusun itu dan ketik, semua orang melarikan diri meninggalkai pasar, dia pun keluar dan hendak pulang Han Lin adalah seorang anak yang tabah.

Dia percaya kepada ayah ibunya yang di tahu memiliki kepandaian silat yang tangguh, terutama ayahnya. Dia menyaksikan pula ketika beberapa bulan yang lalu ayahnya menghajar sembilan orang perampok yang mengacau dusun mereka.

Akan tetapi ketika dia berjalan hendak pulang, dia melihat Yong Ti yang memanggul ibunya. Melihat ibunya meronta-ronta dalam pondongan laki-laki tinggi besar muka hitam yang membawa tombak itu, dan mendengar ibunyi menjerit-jerit, Han Lin terkejut dan cepat dia membuang keranjang kosongnya lalu mengejar. Yong Ti melangkah dengan lebar dan cepat sehingga Han Lin harus berlari untuk dapat mengejarnya. Sambil tersenyum menyeringai karena senang Yong Ti keluar dari pintu gerbang dusun, tidak peduli lagi akan anak buahnya karena di sana sudah ada dua orang sute yang menjadi wakilnya. Dia ludah ingin sekali bersenang-senang degan tawanannya yang cantik bahenol.

Tiba-tiba Han Lin yang sudah dapat mengejarnya dan berada di belakangnya berseru. "Lepaskan Ibuku, jahanam!!" Anak itu dengan nekat lalu melompat dan menubruk dari belakang, menangkap kedua lengan ibunya dan menariknya agar terlepas dari panggulan raksasa muka hitam itu.

Yong Ti terkejut. Dia memutar tubuhnya sambil menggerakkan kaki menendang. "Bukkk. !" Tubuh anak itu terlempar sampai tiga tombak ketika terkena

tendangan kaki Yong Ti yang besar dan kuat. Kepala perampok itu marah sekali melihat bahwa yang memakinya hanyalah seorang anak laki-laki kecil. Maka dia lalu melangkah maju menghampiri dengan tombak di tangan.

"Bocah setan, mampuslah engkau makinya dan dia mengangkat tombaknya, hendak dihujamkan ke tubuh Han Lin yang masih belum bangkit karena tadi tertendang dan terbanting.

Pada saat tombak itu meluncur, tiba-tiba dengan sekuat tenaga Nyonya meronta sehingga terlepas dari panggulan dan secepatnya ia menubruk puteranya.

"Han Lin !"

"Creppp !"

Nyonya Si menjerit sambil mendekap anaknya. Yong Ti terbelalak melihat betapa tombak yang tadinya hendak hujamkan ke tubuh anak itu ternyata menancap di punggung Nyonya Si yang menubruk anaknya!

"Ibu........, Ibu !" Han Lin merangkul ibunya, pakaiannya kebanjiran darah

ibunya yang punggungnya tertembus tombak

"........Han Lin " Nyonya Si han dapat mengeluarkan kata-kata itu, la terkulai dan

tewas. "Ibuuu !"

Setelah terkejut melihat wanita itu oleh tombaknya, Yong Ti menjadi marah bukan main. Dicabutnya tombak-dan dengan wajah bengis dia memandang kepada Han Lin yang masih mngis dan merangkul mayat ibunya.

"Bocah setan!" Dia membentak dansekali lagi tombak itu diangkatnya untuk dihujamkan ke tubuh kecil itu.

"Siancai (damai) !'' Terdengar seruan lembut dan tiba-tiba tombak itu terus

dari tangan Yong Ti. Tentu saja kepala perampok itu terkejut bukan main. tidak melihat sesuatu dan mendengarkan orang kecuali suara tadi. Bagaimana mungkin tiba-tiba tombaknya direnggut lepas dari pegangannya? Padahal, tenaga sepuluh orang belum tentu akan mampu merenggut tombaknya terlepas dari tangannya. Dia hanya merasakan ada tenaga yang tak dapat dilawannya menarik tombak itu sehingga terlepas dari tangannya. Dia cepat memutar tubuh dan melihat seorang laki-laki berusia sekitar lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi kurus terbungkus kain putih yang milibat-libatkan, kakinya mengenakan sandal kulit kayu. Rambutnya yang panjang dan bercampur uban itu dibiarkan tergerai sampai ke punggung. Jenggot dan kumisnya rapih dan seperti rambut dan pakaiannya tampak bersih. Wajahnya yang kurus masih tampak tampan dan lembut, sepasang matanya lembut dan mulut yang berada di balik kumis itu selalu tersenyum ramah. Dia memegang tombal milik Yong Ti dan sambil menggelengkat kepalanya dia berkata halus.

"Benda pembunuh ini mendatangkan kekejaman di hati manusia, sungguh menyedihkan " Kemudian dia menggunakan jari-jari tangannya, menekuk-

nekuk tombak itu dan terdengar suara berdetakan ketika tombak itu patah-patah. Hal ini dilakukan demikian mudahnya seolalah dia mematah-matahkan sehelai lidi saja!

Setelah membuang potongan-potongan tombak itu, dia memandang ke arah Han Lin yang masih memeluk ibunya sambil menangis. Kembali kakek itu menggeleng kan kepalanya.

"Anak baik, lepaskan Ibumu.Jangan gangganggu perjalanannya kembali ke asalnya. Marilah, Nak, bangkitlah." menjulurkan tangannya memegang tangan Han Lin dan tiba-tiba saja Han Lin menurut, bangkit walaupun dia masih memandang ke arah tubuh ibunya dengan bercucuran air mata. Sementara itu, Yong Ti sudah meniatkan kesadarannya kembali. Tapi dia nya memandang bengong seperti dalam mimpi, hampir tidak percaya betapa kakek itu demikian mudahnya mematah-mematahkan tombak bajanya yang amat kuat! Kini, kemarahannya membutakan hatinya, membuat dia tidak mau menyadari bahwa dia berhadapan dengan orang manusia yang amat sakti. Sambil menggereng seperti seekor beruang dia lalu menerjang dan memukul ke arah kepala kakek itu. Yang dipukul agaknya tidak tahu karena dia sedang menunduk dan memandang wajah Han Lin sambil mengelus rambut kepala anak itu.

"Jangan pukul !!" Han Lin yang melihat kakek itu dipukul cepat melompat dan

dengan kepalanya dia menumbuk ke arah perut Yong Ti!

"Bukkk!" Tubuh Han Lin terpental ketika kepalanya menumbuk perut kepala perampok itu. Yong Ti melanjutkan pukulannya ke arah kepala kakek baju putih, mengerahkan seluruh tenaganya karena dia ingin sekali pukul meremukkan kepala kakek itu.

"Wuuuttttt !" Dia memukul sekuat tenaga, akan tetapi tangannya terhenti beberapa sentimeter di atas kepala kakek itu, seolah tertahan sesuatu yang tidak tampak, yang lunak namun kuat sekali!

Yong Ti kembali terkejut, heran akan tetapi juga penasaran sekali, tidak percaya apa yang telah terjadi. Dia kini mengerahkan tenaga ke arah kedua tagannya dan dengan gencar melakukan pukulan ke arah kepala, muka, dada dan lambung kakek itu.

Kedua tangannya, bergerak cepat sekali seolah tangan itu menjadi delapan, namun semua pukulan tidak mengenai tubuh kakek yang berdiri diam dan hanya memandang sambil tersenyum. Semua pukulan itu, seperti mental, terhenti sebelum mengenai tubuh kakek itu, berhenti terhalang sesuatu yang tidak tampak namun kuat sekali!

Han Lin yang sudah bangkit lagi, melihat pula kejadian ini dan dia yang sudah mendengar banyak cerita ayahnya tentang orang-orang sakti, segera dapat menduga bahwa penolongnya itu tentulah porang yang amat sakti. Dia lalu mendekati jenazah ibunya dan berlutut sambil mengelus wajah ibunya yang seperti orang tidur namun tampak demikian cantik dan tenang.

Pada saat itu, terdengar suara hiruk pikuk dan lima puluh orang anak buah perampok, dipimpin oleh Oh Kun dan Joa, bermunculan dari pintu gerbang dusun yang baru saja mereka merampok habis-habisan. Mereka melihat Yong Ti memukuli seorang kakek yang berdiri tanpa bergerak dandua orang kepala rampok itu segera berlari menghampiri sambil mencabut senjata mereka. Melihat betapa Yong Ti memukuli namun tak sebuah pun pukulan dapat mengenai tubuh kakek berambut panjang itu, Oh Kun dan Joa Gu tanpa diperintah lagi segera menyerang dengan senjata mereka. Kun membacokkan dua buah goloknya arah kepala dan leher, sedangkan Joa Gu menyerang dengan sepasang kapaknya arah dada dan perut.

"Wuuuttttt......... ting-ting-ting-ting !!!

Post a Comment