Halo!

Si Rajawali Sakti Chapter 01

Memuat...

Zaman Lima Dinasti ( 907 - 960 ) merupakan jaman yang amat buruk di Negeri Cina. Dalam masa setengah abad itu perebutan kekuasaan terjadi, perang antara bangsa sendiri yang terpecah belah membuat negeri itu berganti-ganti dinasti sampai lima kali, berganti-ganti dinasti berarti berganti-ganti pula Kaisar dan berubah-ubah pula peraturan. Akibatnya hanyalah kebingungan, ketakutan, dan penderitaan bagi rakyat jelata. Perang adalah hasil dari mereka yang berada di atas saling memperebutkan kekuasaan. Mereka saling memperkuat kedudukan dirinya dengan cara mengupah para perajurit dan menghimpun mereka dalam pasukan-pasukan, atau ada pula yang membujuk rakyat Jelata dengan janji-janji muluk sehingga rakyat yang bodoh terbius dan mengira bahwa semua bujukan itu benar sehingga kelak mereka akan hidup makmur. Pasukan pasukan yang diberi upah dan rakyat yang terkena bujukan lalu berperang mati-matian untuk dia atau mereka yang berkuasa.

Mereka yang kalah perang akan mati bersama pemimpin mereka yang menjadi dalangnya. Bagaimana mereka yang menang perang, sisa dari mereka yang mati sia- sia? Pasukan-pasukan yang membela si pemenang tentu saja menerima hadiah agar mereka menjadi semakin setia membela sang pemimpin dan kaki tangannya.

Adapun rakyat kecil yang mengharapkan kemakmuran tetap saja seperti biasa dan semua janji muluk hanya menjadi mimpi belaka. Memang kemenangan mendatangkan kemakmuran, akan tetapi bagi siapa? Yang jelas, bagi para pemimpin yang mendapatkan kedudukan tinggi, yang ketika masih berjuang memperebutkan kekuasaan, mengatas-namakaei rakyat. Setelah menang, maka agaknya mereka sajalah yang dimaksudkan dengar rakyat itu, sedangkan rakyat kecil sudah tidak masuk hitungan lagi. Tetap saja menderita.

Tidak ada rakyat, kecuali mereka yang terbius janji-janji, yang suka berperang, apalagi berperang di antara bangsa sendiri. Yang mencetuskan perang adalah mereka yang sedang memperebutkan kekuasaan yang sesungguhnya bukan lain adalah memperebutkan harta. Kekuasaan itu sesungguhnya adalah harta .atau lebih tepat, melalui kekuasaan urang dapat memperoleh harta. Kalau kekuasaan tidak dapat mendatangkan harta yang menjadi sarana tercapainya kesenangan duniawi, pasti tidak akan ada yang memperebutkan kekuasaan!

Dinasti terakhir yang berkuasa di Cina adalah Dinasti Kerajaan Chou (951 - 960). Kaisar Chou Ong adalah seorang kaisar yang tua dan lemah lahir batinnya. Dia yang menjadi kaisar, namun kekuasaan yang berlaku adalah kekuasaan para pembesar. Mereka itu ber-lumba untuk mengumpulkan harta dunia banyaknya, dan untuk itu, mereka menghalalkan segala cara. Korupsi, sogok menyogok, penindasan, pemerasan terjadi di mana-mana. Hukum yang berlaku seolah hukum rimba, siapa kuat dia berkuasa dan menang. Terjadilah kekacauan di mana-mana dan para penjahat bermunculan merajalela. Dalam keadaan seperti ini, kembali rakyat kecil yang menderita. Gerombolan-gerombolan perampok beraksi, terutama di daerah dan kota atau dusun yang jauh dari kota raja.

Pada suatu hari di musim semi tahun 958, dusun Ki-bun sebelah selatan Hang-chou mendapat giliran tertimpa malapetaka. Pada pagi hari itu, segerombolan perampok yang terdiri dari sekitar lima puluh orang, menyerbu dusun itu. Mereka adalah laki- laki yang berusia antara tiga puluh sampai empat puluh tahun, rata-rata bertubuh kekar dan bersikap kasar dan bengis. Gerombolan perampok ini sudah mengganas di mana-mana, bahkan sekarang berani mengganggu dusun Ki-bun yang tidak berada jauh dari kota Hang-chou. Pemimpin mereka terdiri dari tiga orang. Mereka sudah terkenal di dunia hitam dengan julukan Tiat-pi Sam wan (Tiga Lutung Bertangan Besi) yang merupakan kakak beradik seperguruan. Yang pertama adalah Yong Ti, berusia tiga puluh tahun, bertubuh tinggi besar bermuka hitam dan dia terkenal lihai sekali dengan senjatanya berupa sebatang tombak baja. Orang ke dua bernama Oh Kun, usianya tiga puluh tujuh tahun, bertubuh tegap tinggi dengan muka penuh brewok dan dia juga lihai dan terkenal dengan senjatanya siang-to (sepasang golok). Adapun saudara seperguruan termuda bernama Joa Gu, berusia tiga puluh lima tahun, bertubuh gendut agak pendek dengan wajah bundar kekanakan. Joa Gu ini pun lihai dengan senjatanya berupa sepasang kapak.

Setengah tahun yang lalu, sekelompok kecil dari gerombolan ini yang hanya terdiri dari sembilan orang secara liar tanpa pemimpin pernah mengganggu Ki-bun. Akan tetapi mereka dibuat kocar-kacir karena ada Si Tiong An yang tinggal di dusun itu. Si Tiong An adalah seorang bekas guru silat yang mengungsi ke dusun itu dari kota raja. Sebagal seorang murid Siauw-lim-pai, Si Tiong An cukup lihai dan dialah yang menghajar sembilan orang anak buah gerombolan itu sehingga mereka luka-luka dan melarikan diri.

Hal itu akhirnya diketahui Tiat-pi Sam-wan. Tiga orang pimpinan ini menjadi marah sekali dan pada pagi hari itu mereka menyerbu dusun Ki-bun bukan hanya untuk merampok penduduk dusun, akan tetapi terutama sekali untuk membalas dendam kepada Si Tiong An.

Begitu memasuki dusun Ki Bun, lima puluh orang anak buah perampok itu mulai beraksi. Segera terdengar jerit tangis para wanita berbaur dengan suara gelak tawa para perampok. Barang-barang yang sekiranya berharga dirampok habis-habisan, para pria yang berani melakukan perlawanan dibacok roboh. Gadis-gadis dan

wanita-wanita muda tidak dapat melepaskan diri dari gangguan para perampok yang sadis dan kejam.

Tiga orang Tiat-pi Sam-wan memang membiarkan anak buah mereka berpesta ria. Mereka bertiga langsung saja menuju ke rumah Si Tiong An yang di dusun itu disebut Si Kauwsu (Guru Silat Si). Pada saat itu, Si Tiong An dan isterinya yang sedang berada di dalam rumah, mendengar suara ribut-ribut. Maklum bahwa mungkin ada bahaya mengancam penduduk karena pada masa itu bukan hal aneh kalau ada gerombolan penjahat mengacau di dusun-dusun, Si Tiong An cepat mengambil dua batang pedang mereka. Yang sebatang dia berikan kepada isterinya.

"Di mana Han Lin?" tanya Si Tiong An kepada isterinya. "Dia tadi mengantar dagangan kue ke pasar."

"Ah, mari kita cari dia dulu. Dia harus dilindungi." kata Si Tiong An kepada isterinya dan mereka berdua segera keluar dari rumah. Akan tetapi begitu muncul di depan rumah, mereka melihat di pekarangan rumah mereka terdapat tiga orang yang berdiri berjajar dengan sikap bengis. Dan mereka juga mendengar jerit tangis dan teriakan-teriakan. Dari kanan kiri, tanda bahwa gerombolan mulai mengganas dan mengganggu penduduk:!

Sementara itu, tiga orang kepala perampok tertegun ketika mereka memandang kepada isteri Si Tiong An. Tak mereka sangka di sebuah dusun kecil seperti Ki-bun ini terdapat seorang wanita yang demikian montok, denok d jelita! Memang pasangan suami isteri ini lain daripada penduduk Ki-bun. Si Tio An sendiri yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun adalah seorang laki-Iaki yang tampandan gagah, bertubuh tegap. Adapun isterinya, adalah seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang cantik jelita, tubuhnya masih denok langsing seperti seorang gadis sembilan belas tahun.

Akan tetapi wanita yang cantik dan lembut ini pun tidak dapat dipandang ringan. Ia bukan seorang lemah karena walaupun ia hanya mendapat bimbingan dan latihan dari suaminya, ia sudah mahir membela diri dengan iimu silat pedang yang cukup lihai.

Melihat tiga orang laki-laki berdir menghadang di pelataran rumah, suami isteri itu tidak merasa gentar. Yang mereka khawatirkan adalah anak tunggal mereka, yaitu Si Han Lin. Anak itu berusia sepuluh tahun dan pagi itu dia membantu ibunya yang membuat kue, mengantarkan dagangan kue itu kepada para warung langganan di pasar. Tadinya, nyonya Si hendak mencari anaknya, akan tetapi melihat tiga orang itu yang agaknya berbeda dari para perampok biasa, ia merasa perlu untuk membantu suaminya menghadapi mereka.

Ha-ha-ha, apakah kamu ini yang brrnama Si Tiong An dan beberapa bulan yang lalu telah berani memukuli sembilan orang anak buah kami?" kata Yong yang tinggi besar bermuka hitam.

"Anak buah kalian datang merampok dan mengganggu penduduk di dusun ini, tentu saja aku menghajar mereka karena mereka jahat." kata Si Tiong An.

"Ah, begini saja!" kata Joa Cu yang gendut sambil tersenyum menyeringai memandang kepada Nyonya Si. "Kami sudahi saja urusan itu asalkan isterimu yang bahenol ini mau ikut dengan kami dan melayani kami selama sebulan. Ba gaimana?"

"Jahanam!" Nyonya Si membentak da ia sudah meloncat ke depan sambil menggerakkan pedangnya menyerang Si Gendut yang kurang ajar itu.

"Tranggg !" Pedang wanita itu terpental dan hampir terlepas dari pegangan

ketika pedang itu tertangkis oleh sebatang tombak baja yang panjang dan besar.

"Biar kutangkap perempuan ini. Kalian bunuh dia!" kata Yong Ti sambil menggerakkan tombaknya mendesak Nyonya yang melawan mati-matian.

Ketika Si Tiong An hendak membantu isterinya, Oh Kun dan Joa Gu sudah menghadang dan mengeroyoknya. Si Tion An memutar pedangnya dan begitu mereka berkelahi, murid Siauw-lim-pai it maklum bahwa sekali ini dia menghadapi lawan yang berat. Baru orang tinggi tegap brewokan itu saja sudah memilik tenaga dan kecepatan yang sebanding dengan dia, apalagi dibantu oleh Si Gendut yang bersenjata sepasang kapak. Sebentar saja dia pun terdesak oleh sepasang golok dan sepasang kapak itu.

Nyonya Si sama sekali bukan lawan Yong Ti, orang pertama dari Tiat-pi Sam wan. Dia adalah orang yang terpandai di antara tiga kakak beradik seperguruan itu.

Post a Comment