Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 15

Memuat...

Kata Hek-swan-hong : "Kau punya hobby mencuri, bila ada benda yang lebih bernilai lebih sukar didapat dibanding buku pelajaran pedang Bu tong-pay, apakah kau ingin mencurinya?"

"Barang apakah itu ?" tanya In-tiong yan.

"Sejilid buku kemiliteran.'' Hek-swan-hong coba menerangkan. "Ilmu pedang hanya dapat melawan puluhan atau ratusan orang belaka, sebaliknya buku kemiliteran ini dibuat mengatur perlawanan terhadap musuh yang laksaan jumlahnya, coba kau taksir bukankah jauh lebih berharga ?''

In-tiong-yan tersenyum, katanya: "Aku toh tidak ingin jadi panglima perang. Buat apa aku belajar taktik perang?''

"Buku pelajaran pedang dari tiga aliran sudah kau curi, apa pula gunanya bagi kau?" demikian Hek-swan hong coba menghasut. "Barang yang sudah dapat dalam dunia ini, bila sudah berada ditangan sendiri, betapapun sangat menyenangkan dan menarik sekali, betul tidak ?"

In-tiong-yan terloroh-loroh mendengar kata katanya ini, serunya : "Sungguh menyenangkan kau ini. Rupanya kau minta bantuan untuk mencuri, tapi pakai akal untuk memancing seleraku. Hehehe, hal ini memenuhi seleraku malah, kalau kau menggunakan alasan yang lazim mungkin aku bosan, lain halnya dengan alasanmu ini, dapat aku menerimanya. Tapi dimana atau di tangan siapakah buku kemiliteran itu, pemiliknya tentu seorang kosen yang luar biasa, kalau tidak tak mungkin kau meminta aku bantu mencuri."

"Bukan mencuri, tapi mencari," kata Hek-swan hong, "Namun untuk mencari buku kemiliteran ini mungkin jauh lebih sulit dari mencuri.''

"Semakin sukar semakin menyenangkan dan menarik." ujar In-tiong yan, ''Baik, aku jadi ketarik dan berkeputusan untuk membantu kau mencari buku kemiliteran itu. Dimanakah buku itu disembunyikan?"

Hek-swan-hong tertawa riang, tanyanya: "Coba kau terka kenapa aku adakan pertemuan dengan dedengkot-dedengkot persilatan itu dikarang kepala harimau ini ?"

In-tiong-yan menjadi sadar, katanya : "Jadi disembunyikan diatas karang kepala harimau ini? Sambil lalu kau janjikan mereka bertempur ditempat ini supaya menghemat tenaga dan menyingkat waktu."

"Juga belum pasti berada di karang kepala harimau ini, pendeknya pasti berada di pegunungan Liang-san ini."

"Buah karya siapakah buku kemiliteran itu ?" tanya In-tiong-yan.

"Kalau kau ingin tahu, dengarkan dulu aku bercerita."

"Baik, lekaslah mulai."

"Apa kau tahu kisah tentang para pahlawan gagah dari Liang-san-pek ?"

Kisah pergerakan patriot Liang-san-pek belum genap seratus tahun, dongeng kepahlawanan orang-orang gagah dari Liang-san sudah tersebar luas di kalangan rakyat jelata.

In-tiong-yan tertawa dingin : "Seratus delapan patriot gagah Liang-san-pek bersemayam ditempat ini, mereka bergerak menurut hati nurani rakyat dan menumpas kejahatan dan kelaliman, begitu cemerlang dan menggemparkan sehingga meninggalkan penilaian tertinggi dalam catatan sejarah. Siapa tidak tahu ? Kau anggap aku perempuan pingitan yang selalu mengurung diri dalam kamar ? Seumpama gadis pingitan juga mesti tahu !"

"Benar, seratus delapan patriot gagah pahlawan Liang-san-pek itu begitu menggemparkan dengan berbagai pergerakan mereka, kenapa akhirnya mereka bubar dan tercerai berai ?"

"Perlu ditanya lagi, sudah tentu ditumpas habis oleh tentara pemerintah yang menyapu habis seluruh Liang san adalah Panglima besar kerajaan Seng utara yang bernama Thio Siok-ya, benar tidak ?"

"Tidak, kekalahan pihak Liang-san bukan karena tertumpas oleh tentara pemerintah, juga bukan kalah ditangan Thio Siok-ya."

"Keterangan ini belum pernah kudengar," demikian ujar In-tiong-yan rada heran, "lalu karena apa?"

"Tak lain tak bukan karena kesalahan Song Kang."

"Kesalahan bagaimana?"

"Waktu Thio Siok-ya pimpin tentara menyerbu Liang-san yang digunakan adalah siasat memancing musuh. Dia berhasil meringkus Giok-kilin Loh Cugi pemimpin kedua Liang-san-pek. Kelahiran Loh Cugi adalah seorang hartawan besar yang punya harta benda tak terhitung banyaknya, dasar orang kaya tak tahan kompes dan takut mati, setelah disiksa akhirnya menyerah. Dengan Loh Cugi sebagai sandera Thio Siok-ya bertindak lebih lanjut, Song Kang dituntut menyerahkan diri. Sesuai dengan jiwa Song Kang yang setia kawan untuk membebaskan Loh Cugi dia mencari akal dan pura-pura menyerah, dengan gunakan tipu menyiksa diri sendiri, harapannya setelah pihak pemerintah lepaskan Loh Cu-gi, baru meloloskan diri berkumpul kembali di Liang-san.

Sungguh diluar perhitungan, justru pura-pura menyerah ini malah masuk perangkap musuh. Jikalau tidak karena salah langkah Song Kang ini meski Loh Cu-gi betul-betul menyerah kepada musuh, betapapun takkan merugikan dan mempengaruhi posisi pihak Liang-san. Maka tadi kukatakan kekalahan pihak Liang-san, hakikatnya bukan karena tertumpas oleh tentara pemerintah. Yang terang adalah karena kesalahan Song Kang seorang!"

In-tiong yan mendengar cerita dengan asyik, katanya: "Diantara sekian banyak pahlawan gagah Liang-san, tak sedikit cerdik pandai yang genius, apakah tiada seorang yang meraba akan jebakan musuh dan membujuk Song Kang? Terutama Kunsu (penasehat militer) Go Yong yang diberi julukan Ci to-sing (kecerdikan yang melebihi bintang dilangit). Bukankah Song Kang sangat tunduk dan patuh akan nasehatnya?"

"Konon Go Yong sudah membujuk sampai mengalirkan air mata darah, namun Song kang mengukuhi pendapat sendiri, tak mau menerima nasehatnya. Akhirnya Go Yong berkata: "Kita pernah bersumpah bersama, tak bisa hidup dalam hari bulan dan tahun yang sama, biarlah mati dalam hari bulan dan tahun yang sama. Saudaraku, keberangkatanmu ini banyak celakanya daripada selamat, kau pergi pasti takkan kembali. Tapi terpaksa aku harus mengiringi kau menempuh bahaya ini. Tapi aku memohon kepadamu untuk menunda satu hari lagi." Terharu sikap setia kawan dan kebijaksanaannya, sebetulnya Song Kang sudah sepakat dengan Thio Siok-ya untuk menyerah pada hari kedua, karena syarat yang diajukan Go Yong terpaksa pemberangkatannya diundur satu hari."

"Untuk keperluan apa Go Yong minta diundur satu hari?" tanya In-tiong-yan heran.

"Waktu satu hari itu Go Yong menulis karya kemiliterannya." sahut Hek-swan-hong.

In-tiong-yan sadar duduknya perkara, katanya : "O, jadi buku kemiliteran yang hendak kau cari itu adalah buah karya Go Yong penasehat militer Liang san-pek itu?"

"Tidak salah," jawab Hek-swan-hong, "selama satu hari satu malam Go Yong menyelesaikan karyanya itu sampai dini hari. Begitu selesai Go Yong mengundang Louw Ci-sing serta menyerahkan buah karyanya itu kepadanya."

In-tiong-yan tertawa geli, ujarnya : "Banyak pilihan lain yang tepat untuk dititipi buku itu, kenapa diserahkan kepada Hwesio gila itu ?"

Hek-swan-hong berkata sungguh sungguh: "Jangan kau pandang ringan Hwesio gula-gula ini. Walau wataknya kasar dan keras, tapi dia punya otak yang cermat dan teliti, dapat dipertanggung jawabkan lagi. Wataknya sama Li Kui, polos dan jujur, setia dan royal terhadap perjuangan Liang-san-pek. Tapi tidak seceroboh dan berangasan seperti Li Kui. Maka setelah dipikir bolak balik akhirnya Go Yong merasa Hwesio gula-gula ini paling cocok."

"Seolah olah kau berada disamping Go Yong malam itu." olok In-tiong yan menggoda.

"Aku belajar dari tukang dongeng yang sering mengobral ceritanya, diberi bumbu dan ditambah kecap supaya menarik para pendengarnya."

"Bagus, tak kira kau seorang pendongeng yang cukup ahli juga, aku betul-betul terpesona oleh dongengnya, lekaslah dilanjutkan."

Go Yong menyuruh Louw Ci-sing menyimpan buku itu disatu tempat, katanya : "Sejilid buku kemiliteran ini adalah buah karyaku yang terakhir sebelum ajal, memeras seluruh himpunan jerih payahku sampai titik penghabisan. Besok pagi bersama Song-koko aku harus menemui Thio Siok-ya, harapan untuk kembali sangat kecil. Buku ini kupikir harus disembunyikan diatas gunung yang tenar, supaya tidak diwarisi generasi mendatang. Tapi jangan terpendam terlalu lama dan tak habis diketemukan orang. Kelak kerajaan Kim merupakan bibit bencana bagi Sang raja, kalau buku ini jatuh ditangan seorang patriot bangsa melawan penjajah, tentu banyak manfaat dan hasilnya. Apakah kau paham maksudku ?"

Lauw Ci-sing berkata: "Maksudmu supaya aku menutup rahasia ini. Setelah menemukan calon yang tepat, menyuruhnya menggali buku kemiliteran ini?''

Go Yong berkata: "Benar, maka sekarang juga kau harus melarikan diri, turun gunung carilah biara untuk mengasingkan diri tetap jadilah seorang ibadah yang dapat memeluk ajaran Thian. Kalau tak berhasil menemukan orang yang dapat diberi kepercayaan, kau harus mencari akal cara bagaimana supaya rahasia ini kelak dapat diwarisi oleh generasi muda!"

"Aku juga pernah dengar sebuah dongeng," begitulah In-tiong-yan menyela. "Katanya setelah Lingsan tertumpas habis Louw Ci-sing lantas mengasingkan diri dibiara Leng in-si di Hangciu. Dibawah menara Liok-hap di Hangciu sekarang masih ada sebuah patung mas dari Louw Ci sing. Pernah aku kesana mencarinya tak berhasil menemukan. Jadi menurut ceritamu tadi, dongeng itu kenyataan malah?"

"Orang yang bercerita tentang rahasia ini seperti mendengar dan menyaksikan sendiri peristiwa dulu itu. Aku lebih condong untuk mempercayai kisahnya itu."

"Kenapa Go Yong tidak menyuruh Louw Ci sing membawa serta buku itu? Sebaliknya menyuruh generasi muda untuk bersusah payah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencarinya ?" demikian tanya In tiong yan.

"Tatkala itu Liang san sudah diblokir ketat oleh tentara pemerintah, Go Yong sendiri juga kawatir kalau dia tak berhasil melarikan diri. Maka dipendam dalam tempat tersembunyi betapapun lebih aman dari pada dibawa-bawa."

"Kau tahu tidak, disembunyikan ditempat mana ?" tanya In-tiong-yan.

"Kalau aku tahu, tak perlu minta bantuanmu untuk mencarinya."

"Liang-san begini besar dan luas, seluruhnya ada sembilan puncak luasnya, ada delapan ratus li. Untuk mencari sejilid buku bukankah seperti menggagap jarum dalam lautan ?"

"Meskipun harapan sangat kecil, tapi masih ada sumber penyelidikan."

"Sumber penyelidikan apa ?" tanya In-tiong-yan tersipu-sipu.

Tergerak hati Hek swan-hong, katanya dengan tertawa dibuat buat : "Apakah kau tak berminat mendengar kisah Liang-san-pek sampai selesai ?"

"Begitu mengasyikkan cerita ini, masa aku tak ketarik ? Baik, soal buku itu kita kesampingkan dulu. Lanjutkan kisahmu."

Post a Comment