Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 10

Memuat...

Kepandaian Oh Kan yang sejati adalah Tok ciang (pukulan pasir beracun), ditengah jari jemarinya terselip pula sebutir bor beracun panjang tiga senti. Ujung bor kecil ini sudah disepuh tujuh macam racun yang paling jahat, sekali kena kulit jiwa bakal melayang merupakan senjata rahasia yang paling ganas. Perbuatannya boleh dikata merupakan dua kali bokongan yang licik. Kalau senjata rahasianya diampukan, Hek swan-hong yang lihay itu betapapun sukar dilukai. Kalau disembunyikan ditelapak tangan dan pura pura mengadu pukulan, bila lalai Hek-swan hong pasti kecundang. Seumpama Tok soa ciang tidak dapat melukainya, asal ujung bor beracun itu melukai lawan, sama saja dapat menamatkan riwayatnya.

Siapa tahu meski perhitungannya sangat rapi, akibatnya sungguh diluar dugaan. Jelas dan gamblang Hek-swan hong berdiri didepannya, begitu pukulan dilancarkan, pandangan matanya serasa kabur bayangan orang tiba-tiba hilang. Mendadak bentakan Hek-swan hong menggelegar dipinggir telinganya, ia berjingkrak kaget, terdengar suara berdenting, bor kecil yang terselip ditelapak tangannya jatuh ditanah.

"Lari kemana?" Hek-swan hong menghardik, dikata lambat kenyataan amat cepat, sekali raih ia cengkeram kuduk Oh Kan.

Oh Kan berkao-kaok: "Taihiap, am......... am. .... am.....pun!" suaranya tertekan.

"Diantara Kong tong ou, kau yang paling bejat," cemooh Hek-swan-hong, "mengingat Toa-suhengmu sudah bertobat dan menyesal membina diri ke jalan yang terang dosa kematian dapat diampuni, tapi sepasang tangan beracun ini harus dibikin cacat."

"krak !" kedua pergelangan tangan Oh Kan dipuntir remuk tulangnya. Sekali ayun Hek-swan-hong tendang tubuh orang.

Seperti bola tubuh Oh Kan terpental ke tengah udara, sangat kebetulan jatuhnya tepat di samping Nyo Tay-him. Tapi tidak beruntung seperti Nyo Tay him, tubuhnya terbanting keras. Kedua pergelangan tangan putus sudah kesakitan setengah mati, terbanting keras lagi keruan jatuh kelengar.

Nyo Tay-him si bocah goblok tidak tahu kalau Susioknya terluka parah, dia anggap kepandaian sang Susiok jauh lebih hebat dibanding dirinya meski ditendang oleh Hek-swan-hong, kalau dirinya tidak terluka, tentu Susiok juga tidak kurang suatu apa. Tak nyana digoyang-goyang berulang kali, sang Susiok masih rebah lemah tak berkutik, keruan Nyo Tay him menjadi gelisah dan tersipu-sipu.

Hek-swan hong berkata : "Tamparlah kedua pipinya, segera ia akan bangun."

"Mana berani aku pukul Susiok ?" rengek Nyo Tay-him merengut.

"Kecuali cara begitu, tiada jalan lain untuk menolongnya."

"Masa ada kejadian seaneh ini, apakah kau tidak ngapusi aku ?"

"Terserah, kau mau percaya!"

Nyo Tay-him berpikir : "Kalau aku tidak tolong Susiok, tentu Susiok bisa maki aku. Apa boleh buat terpaksa harus kutampar dia." kedua tangannya terus terayun "plak, plok" ia tampar kedua pipi kanan kiri susioknya. Benar juga Oh Kan siuman.

"Terpaksa Susiok," teriak Nyo Tay-him, ya takut ya girang, "Hek-swan hong mengajarkan cara menolong kau, ternyata caranya memang mujarab !"

Malu dan jengkel pula hati Oh Kan, dengan menahan sakit ia berkata serak: "Jangan bertingkah, lekas gendong aku turun gunung!" tulang pergelangan remuk, untung tidak putus, ia berpikir: "Toa-suheng punya resep obat ribuan tahun, setelah tulang pergelangan sembuh aku masih dapat melatih kembali pukulan beracun itu."

Phoa Tin datang bersama Nyo Tay-him, melihat orang pergi, dia ingin ngeloyor juga, namun dihadapan Congpiauthau ia jadi malu dan segan.

Sekali putar tubuh sebat sekali Hek swan-hong berada dihadapannya, tanyanya: "Phoa-piauthau, kau tak kuasa menyerahkan perkara perampokan ini kepada residen hingga kau meluruk kemari bukan?"

Saking ketakutan Phoa Tin tak kuasa buka suara. Bing Ceng-ho lantas berkata: "Benar, harap suka dimaafkan, barang kawalan yang tak berarti itu bagi kita tak mampu untuk menggantinya."

"Ah, sungguh kurang hormat, tuan adalah Bing-congpiauthau bukan?" ujar Hek-swan-hong menjura.

"Benar, tua bangka ini berkecimpung di Kangouw untuk mencari sesuap nasi, harap tuan memberi kelonggaran," kemudian Bing Ceng ho berdiplomasi, "semoga tua bangka ini tidak menyerahkan jiwa dan raga."

Hek swan hong terloroh-loroh, katanya: "Persoalan Bing-lopiauthau bisa dirundingkan secara damai. Tapi urusan disini belum selesai, biar ditunda dulu sementara."

Sembari bicara pelan-pelan ia membalik tubuh, tahu-tahu sudah melejit kehadapan Lian Hou bing, jago tutuk nomer satu, mendadak ia berseru heran, katanya: "Siapa yang mengiris kedua kupingmu?"

Sudah tentu Lian Hou-bing yang sudah tuli tak mendengar perkataannya, namun bisa menebak kemana arah pertanyaan itu, seketika hatinya menjadi pilu dan putus asa, pikirnya: "Puluhan tahun aku bersimaharaja dalam golongan hitam. Hari ini berulang kali aku terhina dihadapan umum, lebih baik mati saja!" maka ia jadi nekad, sebat sekali Poan-koan pit menjojoh kearah Hek-swan-hong.

"Bagus, konon kau adalah jago nomor satu ilmu tutuk di Kangouw, meski kupingmu tuli, ilmu tutukmu masih lihay, ingin aku belajar kenal dengan kepandaianmu," Hek-swan-hong berkata sambil berkelit.

Lian Hou-bing sudah nekad adu jiwa, maka sepasang senjatanya berputar sekencang kitiran, hingga menimbulkan angin lesus. Pusaran angin yang ditimbulkan dari gerak senjatanya cukup menerbangkan batu dan daun-daun pohon di sekitar gelanggang, memang hebat dan ganas pula senjata potlotnya itu. Hek-swan hong melawan dengan sepasang jari dirangkapkan sebagai potlot peranti menutuk jalan darah, serangan yang dilancarkan juga ilmu tutuk yang tidak kalah hebat dan lihay.

Puluhan jurus kemudian Hek swan-hong berkata: "Kepandaian sepasang potlot menutuk empat jalan darah, hebat dan jarang ditemukan di dunia persilatan. Tapi julukan jago tutuk nomor satu rupanya terlalu diagulkan. Ilmu tutuk hanya permainan kembangan belaka, tapi silakan kau mencobanya." dia tahu Lian Hou-bing tidak mendengar ucapannya, kata-katanya memang ditujukan kepada orang lain yang menonton dipinggir.

Tepat pada akhir kata-katanya tiba-tiba gerakan Lian Hou-bing berhenti seperti patung, berdiri kaku di tempatnya tak bergerak lagi. Senjatanya masih digenggam dan teracung kedepan seperti menusuk.

Hek-swan-hong berhasil menutuk jalan darahnya, lalu katanya: "Kau harus kecundang sekali lagi, orang itu hanya memapas kedua telingamu, boleh dikata kau yang beruntung."

Tiada seorang penonton yang melihat tegas cara bagaimana Hek-swan hong berhasil menutuk jalan darah Lian hou bing, tahu tahu orang berdiri lurus dengan gaya yang lucu dan aneh seperti patung.

"Siapa lagi yang punya pertikaian dan ingin diselesaikan kepada aku?" Hek-swan-hong berseru menantang.

Mendadak terasa angin berkesiur, tampak sinar berkilau dari ujung pedang menusuk tiba dari samping, mengarah tenggorokan Hek-swan-hong, suara yang dingin berkata; "Tiada pertikaian, Pinto hanya minta petunjuk ilmu pedang." orang ini bukan lain adalah Hian-king Tojin yang kenamaan dengan tiga belas jurus Sun-goan-kiam hoat.

Tusukan pedang secara mendadak dan cukup ganas pula, secepat kilat mengancam tenggorokan Hek swan-hong, maju satu senti saja ujung pedang sudah menembus tenggorokan. Semua penonton menyangka Hianking Tojin lancarkan bokongan yang telak dan jitu karuan mereka terperanjat dan berseru ngeri. Sebaliknya Hek swan hong berdiri tenang dan tegak, mata tidak berkedip tubuh tidak bergoyang air mukapun tidak berobah. Seolah olah tidak terjadi apa apa dan tidak tahu kalau ujung pedang yang kemilau mengancam tenggorokan.

Ternyata begitu melihat Hian king bergerak, Hek swan hong sudah meraba kemana arah tujuan gerak pedangnya, seolah olah sudah diperhitungkan bahwa serangan ini hanya gertak sambel saja, hatinya berpikir: "Kau hendak gertak aku, biar akupun gertak kau," maka sikapnya acuh tak acuh.

Bilamana Hian king Tojin merobah gertak sambel menjadi serangan sungguh sungguh diapun masih punya cara lain untuk menghadapinya.

Betul juga sesuai dugaannya, Hian king Tojin bersentak kaget malah, pikirnya: "Gunung meletus mata tak berkedip, ketenangan macam ini baru sekarang kusaksikan, Hek swan hong betul betul sesuai namanya, menjulang tinggi dan bukan nama kosong."

Sesaat kemudian Hek swan hong tertawa lebar lalu berkata: "Tusukan keras dan berat, tapi mengandung kelincahan yang luar biasa, bukankah yang kuhadapi bukan Hian king Totiang dari Kui goan si?"

Tak lebih Hian king Tojin hanya lancarkan sejurus ilmu pedang, lantas diketahui asal usulnya, keruan ia merasa kagum dan tunduk lahir batin, jawabnya: "Tidak salah. Banyak terima kasih atas pujian ini, Pinto beruntung dapat bertemu, harap memberi petunjuk."

"Totiang jangan sungkan," ujar Hek swan hong, "sudah lama aku yang rendah dengar, tiga belas jurus Sun goan kiamhoat dari Kui goan si sedemikian hebatnya. Syukur hari ini bertemu aku pun ingin minta pelajaran dari Totiang." tiba tiba ia ulur tangan memetik sebatang dahan pohon sebesar jari manis, lalu melanjutkan : "Totiang kuanggap sebagai tamu, aku yang rendah tak berani kurang adat memakai senjata tajam, biarlah kugunakan dahan pohon saja mohon diberi petunjuk, cukup saling tutul saja lantas berhenti, bagaimana?"

Hian-king Tojin sudah maklum bahwa kepandaian silat Hek swan-hong jauh lebih unggul dari kemampuannya, harapannya cukup asal dapat bertanding ilmu pedang saja, sungguh diluar dugaan bahwa orang menggunakan dahan pohon untuk bergebrak dengan dirinya, keruan Hian king Tojin sangsi dan malu. Kalau dirinya juga menggunakan dahan pohon, bila lwekang kalah kuat sudah pasti kalah. Kalau pakai pedang melawan dahan pohon terang menurunkan derajatnya.

Post a Comment