Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 09

Memuat...

Menjadi burik tidak jadi soal tapi pasir penyabut nyawa miliknya itu sangat beracun, merupakan senjata manusia yang paling ganas, sedikit terluka dari peracunan, dalam jangka tiga hari seluruh tubuh bakal membusuk dan mati. Ciok Goan terkena begitu banyak pasir, meski dia sendiri punya obat pemunahnya, betapapun harus segera diberi pertolongan, meski tertolong juga belum tentu dapat sembuh dan pulih seperti sedia kala, jiwanya mungkin tertolong tapi luka cacat sudah pasti jadi.

Ciok Goan meraba mukanya dengan tangan, telapak tangan belepotan darah, seketika terasa kesakitan yang tak tertahan lagi, karuan semangat seperti terbang ke awang-awang, dengan suara serak ia berteriak : "Hek-swan hong, sungguh keji kau, kau, lekas bunuh aku saja!"

Mulutnya mengoceh, betapapun ia sangat sayang akan jiwa sendiri, ditengah teriakan seraknya tanpa peduli duri-duri dan batu-batu tajam cepat cepat ia menggelundung kesamping berusaha lari dan menyembunyikan diri supaya dapat membubuhi obat dimukanya.

Hek-swan hong bergelak tawa, serunya ; "Aku belum ingin bunuh kau, takut apa ? Aku hanya menghukum sesuai dengan perbuatan orang itu sendiri, tiada niatku yang lain."

Saat mana Ciok Goan sudah menggelinding ke lereng bukit, terdengar Hek-swan-hong meninggikan suaranya: "Aku tidak ingin bunuh kau, tapi ingin pinjam mulutmu untuk menyampaikan berita. Kau dengar ! Lekas pulang dan beritahu kepada engkohmu, dia harus mengekang seluruh murid dan keluarganya, harus menutup pintu dan mencuci hati membina diri. Kalau berani bersimaharaja dan berbuat jahat di Kangouw, seluruh warga Ciok ke cheng, kecuali tidak berkeliaran diluar, siapapun takkan kuberi ampun !"

Sebetulnya Toko Hiong dan Huwan Pau sudah menubruk maju bersama hendak menyerang Hek swan-hong, melihat Ciok Goan yang berbuat licik, malah celaka sendiri keruan mereka terkejut dan jeri, seperti kena sihir mereka berdiri menjublek mematung di tempatnya.

Kalau mereka menubruk maju, Hek-swan-hong juga melompat maju, serunya dengan tertawa besar : "Sekarang giliran kalian, kalian mendengar perintah penjajah Kim menangkap aku, ya bukan ? Nih sekarang aku menyerahkan diri, kalau kalian mampu coba tangkap aku !"

Betapapun Toko Hiong adalah tokoh kelas satu yang banyak pengalaman, meski kejut dan keder tapi tidak gugup. Sebelum Hek-swan-hong menyentuh tanah, sebat sekali ia lancarkan sebuah pukulan keras. Sedikit merandek Huwan Pao ikut bergerak, cepat sekali ia sudah melolos senjata yang berupa ruyung baja terus menyerang kedua kaki lawan yang belum sempat menyentuh bumi.

Hebat memang kepandaian Hek-swan-hong, ditengah udara mendadak ia jumpalitan seperti burung dara badannya meluncur turun, tangkas sekali kakinya menendang ruyung baja Huwan Pau, berbareng ''blang'' telapak tangannya menangkis pukulan Toko Hiong.

Toko Hiong rasakan telapak tangannya seperti menubruk dinding es, karena kaget kakinya menyurut mundur tiga langkah, mulut pun berteriak : "Hayo maju bersama !"

Nyo Tay him si goblok segera menanggapi; "Benar, jangan kita lepaskan penjahat ini, kalau sekarang tidak dibereskan kelak tentu menjadi bencana.'' diantara hadirin kepandaiannya adalah paling lemah justru ia maju lebih dulu.

Hek-liong Taysu angkat tongkat besinya sebesar mangkok itu ikut menyerbu kedalam gelanggang, teriaknya : "Hidup di kalangan Kangouw mengutamakan setia kawan, yang hanya buka mulut tak berani maju itulah kelinci bukan manusia!''

Mulut bicara lantang, sebetulnya hati takut setengah mati. Tapi ia sudah melihat Toko Hiong beradu pukulan dengan Hek-swan hong tanpa cidera, hatinya rada lega. Toko Hiong merupakan tokoh kosen yang kenamaan di Kwan-gwa sudah lama Hek-liong Taysu mengaguminya, pikirnya; "Kalau saat ini aku tidak berjuang sungguh-sungguh, mana bisa mengambil hatinya ? Toko Hiong punya Lui-sin ciang yang ampuh sekali, ditambah Huwan Pau sebagai jago istana yang kuat, masa mereka tidak kuat menghadapi Hek swan hong. Apalagi masih ada Bing Ceng-ho, Oh Kan dan lain-lain ?"

Alasan lain, diam-diam ia sudah ambil putusan untuk bekerja mengikuti situasi, kalau bisa menang, ya bertempur sungguh, kalau keadaan tidak menguntungkan, dari samping cukup berteriak mengobarkan semangat tempur kawan sendiri saja. Nyo Tay him bakal dijadikan tameng atau kambing hitam, bila perlu mencari kesempatan untuk langkah seribu.

Melihat Sutitnya sudah maju, sebagai Susiok sudah tentu Oh Kan tak mau ketinggalan. Kebetulan Hian-king Tojin yang berada disampingnya maju dengan langkah pelan seenaknya, Oh Kan berpaling dan berteriak: "Hai, Hian-king Totiang, apa maksudmu sebenarnya?"

Hian king Tojin menyahut tawar: "Kenapa gugup? Pertunjukan hebat dibabak terakhir! Siapa gagah dan siapa pengecut, bisa kau saksikan, tidak perlu kau mendesak aku."

Bing Ceng-ho juga adem ayem sambil melihat gelagat, tapi prakteknya jauh berlainan dengan tujuan Hek-liong Siansu, besar harapannya bisa rujuk dan damai saja dengan Hek- swan hong.

Dalam jangka pendek, disaat hadirin masih ragu dan saling dorong, sebelum mereka bergerak, situasi sudah berobah.

Terdengar Hek-swan hong terbahak-bahak serunya : "Toko Hiong, latihan Lui Sin-ciangmu memang lumayan, sayang masih kurang mantap dan jauh dari sempurna." belum lenyap suaranya, tampak Toko Hiong terpental jauh tiga tombak, mulutnya melenguh seperti babi disembelih, darah segar menyembur keluar, dadanya terpukul serangan Hek-swan-hong, terluka dalam yang cukup parah.

Hek-swan hong berkata dingin. "Pukulanku tak mematikan, anggaplah kau beruntung lekas pergi ! Awas, jangan kebentur di tanganku lagi."

Toko Liong memanjat doa syukur, seperti Ciok Goan tanpa peduli mati hidup orang lain segera ia melarikan diri.

Huwan Pau kurang beruntung, sekali samber Hek-swan hong berhasil merampas ruyung bajanya, dengan menghardik keras seperti elang menyamber anak ayam tubuhnya dijinjing terus diputar-putar dan dilontarkan jauh, waktu Huwan Pau merangkak bangun pundaknya kesakitan setengah mati, ternyata tulang pundaknya teremas hancur dengan Jong jiu hoat oleh Hek-swan-hong.

Kalau tulang pundak teremas hancur, bukan saja badan menjadi cacat, ilmu silat pun lenyap. Terpaksa Huwan Pau gunakan dahan pohon sebagai tongkat, dengan terpincang pincang ia turun gunung.

"Itulah hukuman yang setimpal bagi anjing penjajah, apa kalian sudah lihat ?" demikian seru Hek-swan-hong memberi peringatan, mati atau hidup orang ia tidak hiraukan lagi.

Hek liong Siansu sembunyi di belakang Nyo Tay-him, mulutnya berkaok; "Hayo maju bersama !" mulutnya berkaok tapi kakinya tak bergerak, bila keadaan berbahaya ia siap angkat kaki alias melarikan diri.

Melihat Huwan Pau dibikin cacat dalam segebrak, berdebar jantung Nyo Tay-him, tapi tangannya terkepal kencang, dengan jurus Hek-hou-to sim (harimau hitam mencuri hati) tinjunya menggenjot, seraya berteriak; "Tak kuat melawan juga harus kuhajar kau. Aku tak sudi dianggap pengecut apalagi anjing atau beruang !"

Jurus Hek-hou-to sim menyentuh baju Hek swan-hong saja tidak. Begitu bernafsu ia memukul sehingga tinjunya memukul tempat kosong, belum lagi ia menarik tangan, tiba-tiba tubuhnya terangkat tahu-tahu dijinjing Hek-swan-hong, kontan tubuhnya terbang seperti naik awan jungkir balik beberapa tombak jauhnya.

Waktu badan terbang di udara, sungguh kejut dan takut Nyo Tay-him setengah mati, arwahnya seperti copot dari badan kasarnya. Dibawah adalah batu padas yang runcing dan keras, bila terbanting pasti kepalanya pecah berantakan. Tak duga seperti dijinjing dan diletakkan lagi kedua kakinya menyentuh tanah hinggap diatas batu datar tanpa kurang suatu apa.

Hek-swan hong terbahak-bahak serunya: "Kau berani berkelahi sudah tentu bukan pengecut. Pergilah !" seiring dengan gelak tawanya, mendadak tangannya meraih dan mencengkeram kearah Hek-liong Siansu.

Setelah kehilangan tameng hidup, terpaksa Hek-liong Siansu harus mengeraskan kepala melawan, tongkat besinya diputar untuk melindungi badan.

Hek-swan-hong menjengek dingin, makinya: "Hwesio liar macammu juga berani meluruk ke Tionggoan membuat onar lagi." ringan sekali ia menepuk dengan Su-nio poat-jian-kin tenaga pelemas dan menyedot menggeser arah samberan ujung tongkat besi lawan, Hek-liong Siansu tak kuasa berdiri tegak, tubuhnya sempoyongan dan jatuh terjerembab, tongkat besi sebesar mulut mangkok itu terampas oleh musuh.

Sambil mengacungkan tongkat besi itu Hek-swan hong berkata, "Tongkat murid Budha ini, sebetulnya untuk menjaga keselamatan dan menyebar kebajikan. Keparat macammu ini tidak mematuhi ajaran dan tata tertib agama, berbuat jahat dan kurang ajar lagi, buat apa tongkat besimu ini?" lenyap suaranya tongkat besar itu terbang lurus kedepan dan, "cras!" seperti ledakan bom bergema dialam pegunungan, sehingga memekak telinga, bumi seperti tergetar. Tongkat besar itu tertancap di dinding batu gunung di seberang sana, hampir separoh melesak kedalam batu gunung yang keras itu. Batu kerikil dan lelatu api memercik beterbangan.

Kaget dan takut pula Hek-liong Siansu, serasa arwah meninggalkan badan suaranya gemetar : "Sebetulnya aku tidak mencari perkara dengan kau. Ciok Goan memaksa aku kemari, aku... aku terpaksa mengiringi kehendaknya. Kau tadi melihat sendiri, aku... aku tidak turun tangan lebih dulu!''

"Jangan cerewet !" sentak Hek-swan hong dengan muka masam, "Sengaja atau tidak kau bermusuh dengan aku, bila kau patuh ajaran agama dan membatasi diri, aku ampuni jiwamu. Sekarang kau boleh pergi."

Melihat Hek swan-hong beranjak kehadapannya, berdetak jantung On Kan, katanya gemetar: "Hek swan hong, lain orang takut padamu, aku, aku. . . . " insyap tak mungkin meloloskan diri, ingin dia memancing bantuan Bing Ceng-ho dan lain-lain. Di mulut mengatakan tidak takut, namun suaranya tersendat makin lirih.

"Siapa bilang kau takut," Hek-swan-hong menyeringai, "tapi kulihat nyalimu seperti kelinci, penakut!"

Insyaf tak bisa lolos, Oh Kan berpikir. "Turun tangan lebih dulu menguntungkan, asal aku kuat bertahan puluhan jurus, Bing-lopiauthau dan Hian-king Tojin yang sudah berjanji tentu takkan berpeluk tangan !" sejak tadi ia sudah bersiap siaga, begitu Hek swan-hong bicara mendadak ia lancarkan jotosan keras.

Post a Comment