Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 17

Memuat...

Dalam pada itu seorang diri In-tiong-yan tengah melangkah dalam hutan, batinnya pun dirundung berbagai pikiran.

In tiong yan berpikir: "Tanpa curiga ia percaya kepadaku." bayangan Hek-swan hong sudah jauh ketinggalan dan tak terlihat lagi tapi kini terbayang dalam lautan pikirannya. Sikapnya yang gagah, wajahnya yang ganteng serta tindak tanduk yang sopan serta suka melucu itu seolah-olah mengecap didalam lubuk hatinya sehingga jantungnya kebat kebit dan gelisah mukapun menjadi panas.

"Ai hari ini aku bisa kerja sama dengan dia, aku takut akan datang suatu hari, dia dan aku akan berhadapan dalam kedudukan yang berlawanan." demikian In-tiong-yan berpikir.

Sekonyong konyong terdengar gemuruh deburan air terjun yang mengganggu jalan pikirannya, In tiong-yan mendongak, dilihatnya dipuncak sana terdapat sebuah air terjun, airnya muntah deras dan mengalir kedalam kubangan yang dalam sana. Kubangan itu berada dihimpitan dua puncak yang menjadi seperti selokan panjang. Semakin dekat gemuruh air semakin keras.

Tergerak hati In tiong-yan, teringat olehnya akan pameo Louw Cising itu. Malam ini kebetulan tanggal lima belas, cuaca terang benderang tepat kentongan ketiga, sang dewi malam bulat dan tepat berada di tengah cakrawala.

Dalam hati In-tiong-yan mengulangi pameo itu : "Duduk bersila memandang mega, rebah mendengar irama ombak. Jalan kebajikan sudah tercapai, bulan bulat di cakrawala. Bait ketiga tak perlu dipikirkan, keadaan yang terlukis dalam pameo itu, seolah-olah persis ditempat ini dalam waktu yang tepat pula.''

Dalam selokan panjang sana, batu cadas berserakan, tapi satu diantaranya mirip sebuah meja bundar yang lapang dan licin laksana kaca, tempat yang tepat untuk berpijak.

"Biar kucoba kesana !" gumam In-tiong-yan sembari tertawa.

Setelah duduk diatas batu bundar itu, In tiong-yan mendongak keatas, tampak kabut bergulung gulung, puncak Liang-san seperti diselimuti mega putih, pemandangan beraneka ragam dan indah mempesona. Betul-betul panorama yang sukar dilihat ditanah datar umumnya. Berpikir hati In-tiong-yan: "Gunung sebagai badan, mega sebagai pakaian. Pepatah kuno memang benar. Keindahan duduk memandang mega sudah dapat menikmati, lalu apa sangkut pautnya dengan buku itu ?"

In-tiong-yan memasukkan kedua kakinya kedalam air, rasa dingin nyaman menyegarkan badan. In-tiong-yan tertawa, ujarnya : "Rebah celentang mendengar irama ombak, baiklah akan kucoba."

Dengan batu sebagai bantal In-tiong-yan merebahkan diri. Air terjun tumpah dengan dahsyat dan keras kerasnya mengguyur ke dalam kubangan, air muncrat suaranya gemuruh, lapat-lapat memang seperti deburan ombak, In-tiong-yan lantas membatin: "Louw Ci sing tentu punya waktu untuk menikmati irama ombak ini. Tapi buku itu takkan mungkin disembunyikan dibawah air, bagaimana penjelasan pameo itu?"

Begitulah ia mereka-reka, tapi setelah didengar lebih teliti dan cermat, terasa olehnya adanya keganjilan yang sulit teraba sebelumnya. Diantara gemuruh deburan air terjun yang tumpah itu, lapat-lapat seperti terselip suara harpa yang timbul dari bawah tanah. Tiba-tiba tersentak benak In tiong-yan, pikirnya : "Disekitar ini pasti ada sebuah lobang dibawah tanah." bergegas ia melompat bangun lalu memeriksa sekelilingnya, tak diketemukan sebuah gua apapun.

Secara kebetulan ia mendongak, tampak sang putri malam tepat berada di tengah cakrawala. Tergerak hati In tiong yan : "Coba kulakukan lagi menurut petunjuk pameo itu." kembali ia rebah diatas batu bundar, tiba-tiba dilihatnya didinding batu disebelah depan atas sana, muncul sebuah bayangan seperti sebuah lengan dengan jari jari tangan yang mulur panjang. Terperanjat In-tiong-yan dibuatnya, waktu diteliti, itulah akar pohon beringin tua yang melintang keluar dari atas tebing tinggi sana, satu diantaranya tersorot sinar rembulan hingga membayang diatas dinding batu.

Tergugah pikiran In tiong-yan, mungkinkah tempat yang dimaksud jari tengah itu ada sesuatu yang ganjil ? dengan Ginkangnya yang tinggi sebat sekali ia merambat naik keatas dinding batu yang tinggi itu.

Dinding batu ini sedemikian licin penuh lumut, kaki sukar berpijak disana. Dengan susah payah akhirnya ia sampai ditempat bayangan akar pohon, dengan teliti ia memeriksa, tempat ini tak lain hanyalah batu karang yang penuh tumbuh lumut juga, tiada sesuatu yang aneh.

In-tiong-yan sudah bercapek lelah mengeluarkan tenaga dan memeras otak, keruan hatinya rada penasaran, pikirnya : "Mungkin diatas batu karang ini terdapat huruf ukiran?'' lekas ia keruk sebagian besar lumut disana, dugaannya tepat, tampak sebuah huruf "the" yang cukup besar di batu karang itu.

Penemuan ini menggirangkan hati In-tiong yan, cepat ia keluarkan batu ketikan dan terus mengeruk lumut yang tebal itu, setelah bersih jelas kelihatan sebaris huruf-huruf "Thian, Heng dan To", tapi hanya ada empat huruf saja.

Semula In-tiong-yan menyangka akan menemukan petunjuk lebih lanjut untuk menemukan buku peninggalan Go Yong itu, keruan ia kecewa dan kecut perasaannya. Pikirnya: "The thian heng to (menjalankan kebajikan), sebetulnya memang semboyan hidup perjuangan patriot Liang-san-pek diukir diatas batu karang adalah bukan suatu yang mustahil.''

Perasaannya sudah dingin dan putus asa, sekonyong-konyong dilihatnya diatas huruf 'To' dan huruf 'Heng' masih kurang satu garis. Bermula ia menyangka ukiran ini sudah terlalu lama, ukiran hurufnya sudah aus. setelah ditegasi, baru diketahui bahwa asal mulanya memang begitu.

In-tiong-yang memeras otak, batinnya : "Orang yang mengukir huruf huruf ini kenapa sengaja mengurangi satu goresan dan satu titik?'' dasar cerdik tersadar pikirnya : "Bait ketiga pameo Louw Ci sing adalah Jalan kebajikan sudah tercapai, mungkinkah huruf "Heng-to" (jalan kebajikan) yang dimaksud disini bukan arti yang sesungguhnya tapi petunjuk bahwa kedua huruf yang terukir diatas karang ini belum sempurna ? Tapi pameo itu berbunyi Jalan kebajikan sudah tercapai, disini masing-masing kurang satu goresan dan satu titik, apakah maksudnya ?"

Lama dan lama sekali In-tiong-yan memeras otak memikirkan soal ini. Mendadak tersimpul suatu ilham dalam benaknya : "Pameo itu berbunyi Jalan kebajikan sudah tercapai, biarlah aku menambah garis dan titik untuk melengkapinya."

In-tiong-yan lantas melolos pedang pusaka, dengan ujung pedang ia menambahi sebuah goresan dan sebuah titik, masing2 diatas huruf To dan Heng.

Belum lagi selesai ia mengorek, dimana ujung pedangnya bergerak, tiba-tiba muncul keajaiban dihadapannya, selesai ia memberi titik tulisan, tiba-tiba terdengar suara berkelebatan, batu panjang persegi yang berukir "The-thian-heng-to" bergerak-gerak dan amblas, dengan pedangnya In-tiong yan menyongkel sekuat tenaga, batu panjang itu ternyata berhasil congkel copot dari tempatnya, dibawahnya kelihatan sebuah lobang gua.

Ternyata diantara seratus delapan pahlawan gagah Liang-san-pek itu, ada seorang tukang batu yang bernama julukan Te kiau sing Kim Tay-kian, pandai membuat alat-alat dan pintar mengukir pula. Waktu Go Yong memendam buah karyanya itu, kecuali Lauw Ci-sing, Kim Tay-kian pun ikut serta. Alat alat rahasia yang terdapat diatas dinding batu ini adalah buatannya.

Keruan bukan kepalang girang hati In-tiong-yan, setelah menyulut sebatang dahan pohon Siong sebagai obor ia menyelinap masuk. Lobang ini sangat gelap dan dalam, sekali tak kelihatan dasarnya, tak terasa In-tiong-yan rada keder. Tapi terpikir olehnya: "Bila buku kemiliteran kutemukan, merupakan sebuah pahala besar. Seumpama aku tidak temukan pahala, paling tidak pasti mendapat pujian ayahanda." maka dengan membesarkan hati ia bertindak maju lebih jauh.

Setelah tiba didasar dan kaki menyentuh tanah, terlihat dalam gua itu terdapat sebuah lobang kecil sebesar tinju, air mengalir masuk kesana menjadi sebuah aliran kecil, airnya terus mengalir keluar dari celah-celah batu disebelah sana. In-tiong-yan lantas berpikir: "Kiranya gua ini berada dibawah air terjun."

Sebuah batu besar yang berada ditengah gua terukir "Cui-in-tong" tiga huruf besar.

In-tiong-yan berpikir : "Dulu gua ini tentu ada jalan keluarnya, dari dalam gua sini dapat melihat panorama indah diluar air terjun, maka dinamakan Cui in tong, akhirnya disumbat jadi begini. Tapi entah dimana buku kemiliteran itu disembunyikan ?"

Dalam gua banyak terdapat batu-batu bergelantung dengan aneka bentuk yang aneh-aneh, seperti binatang, manusia dan macam-macam lagi. Tapi In-tiong-yan tak punya selera menikmati pemandangan aneh menakjubkan ini, perhatiannya tertuju untuk mencari buku kemiliteran itu.

Entah berapa lama kemudian, tahu-tahu dahan pohon siong itu tinggal setengah saja, namun usahanya tetap sia-sia. Hati In-tiong-yan menjadi gelisah, tiba tiba terpikir olehnya : "Cui-in tong tengahnya huruf 'IN' mega, bait pertama dari pameo Louw Ci sing berbunyi duduk bersila memandang mega, apa mungkin kata kata ini bukan melulu untuk melukisi keadaan sesungguhnya dalam pemandangan ? Biar kucoba menggunakan caraku membuka gua ini tadi !"

In-tiong yan segera mengerahkan seluruh tenaga, berpegang pada tulisan huruf IN tiba-tiba diangkat dengan keras. Batu itu ternyata terangkat dan dibawahnya kelihatan lobang persegi panjang satu kaki, lebar lima inci, waktu tangannya merogoh kedalam menyentuh sebuah benda keras, setelah dikeluarkan kiranya sebuah kotak persegi dari kayu cendana, dibukanya tutup kotak cendana itu tampak didalamnya sejilid buku.

Hampir In-tiong yan berjingkrak seperti orang gila saking girang, mulutnyapun berteriak : "Ketemu! Sudah ketemu!" tiba-tiba ia tersentak kaget sendiri, pikirnya : "Lebih baik kalau penemuanku ini tidak diketahui Hek-swan hong." berada didalam gua, diluar air terjun lagi, umpama dia menjerit sekuat tenaga, Hek swan-hong tidak bakal mendengar.

Post a Comment