"Biar sekarang kau kenal dan tahu !" teriak laki laki hitam.
"Blang !" dua tinju beradu keras, telapak tangan Hek swan hong rada miring melesat kesamping terus membalik menutuk jalan darah dipergelangan lawan, laki laki itu berjongkok menurunkan tubuh, berbareng tangan terulur panjang menjojoh lambung musuh. Namun gerak Hek-swan-hong cukup cekatan, sedikit kaki menutul ia melejit menyingkir. Laki laki hitam rasakan kepalanya panas membakar dan sakit, kiranya meski tidak kena tertutuk jalan darahnya, namun jari Hek-swan-hong berhasil menyerempet punggung tangannya.
Heh-swan-hong sendiri juga tidak mendapat untung, dia melesat lewat disamping laki laki itu, tujuan semula hendak menubruk balik untuk merangsak lagi, namun tanpa kuasa ia berputar-putar dua kali dengan kaki sempoyongan, niatnya menjadi gagal.
Tenaga pukulan laki laki hitam begitu kuat dan kokoh sekali, sekali pukul mengandung tiga tekanan tenaga dahsyat yang tak terduga. Kalau bertempur secara keras, Hek-swan-hong takkan kuat bertahan. Tapi Hek-swan-hong memiliki kepandaian keras lemas yang dapat dikombinasikan dalam setiap pertempuran, begitu dua pukulan saling bentur dia dapat punahkan sebagian besar tenaga lawan. Gerak perubahan juga jauh lebih bagus dari kemampuan si laki-laki.
Namun karena pukulan laki-laki itu mengandung tiga gelombang tekanan yang berlainan, Hek-swan hong hanya berhasil menghimpas separo, tekanan gelombang kedua tidak bawa akibat. Adalah tekanan gelombang ketiga membawa reaksi atas dirinya dikala ia hendak putar balik merangsak lagi, Hek-swan-hong berputar-putar dua kali, tujuannya adalah memunahkan tekanan gelombang ketiga ini.
Dua pihak adu pukulan, masing-masing punya keunggulan sendiri. Tapi dinilai sewajarnya, laki-laki hitam itu rada asor dan mendapat rugi.
Keruan laki laki itu makin murka, bentaknya : "Lari kemana ? Mari kau lawan aku tiga ratus jurus!"
Dia menantang bertempur tiga ratus jurus, jelas bahwa dia punya perhitungan jangka panjang, tahu bahwa Hek-swan-hong merupakan lawan tangguh, hanya bertempur sampai dua pihak kehabisan tenaga dan tele-tele baru dia punya harapan sambil kemenangan.
Hek-swan hong juga tidak jatuh pamor, teriaknya : "Gebrak ya gebrak, kau kira aku takut ? Kau tidak punya aturan, aku ini nenek moyangnya orang yang tak beraturan !"
Laki-laki itu menghardik, suaranya bagai geledek mengguntur, berdiri melengkung seperti busur, kedua telapak tangannya didorong kedepan. Untung Lwekang Hek-swan-hong cukup tinggi, namun begitu ia merasa kuping mendengung hampir pecah. Beruntun Hek-swan-hong gunakan dua jurus Hun hoa-hud-liu dan Ji-hong-jip-pit untuk memunahkan sejurus serangan Kim-kong-jiu lawan. Laki-laki itu membentak sekali lagi, lagi-lagi serangannya sudah memberondong tiba.
"Gembar gembor apa kau ? Memangnya panggil setan !" seru Hek swan hong.
"Kalau tidak suka dengar, tutup kupingmu !" teriak laki-laki itu, Hek-swan-hong geli dan penasaran lagi akan kedunguan lawan.
Setiap lancarkan pukulannya laki-laki hitam pasti membentak keras, tenaga pukulannya juga bertambah berat. Seolah-olah bentakan suaranya itu bisa menambah perbawa kekuatan pukulannya.
Dalam pertempuran seru itu, tiba-tiba laki-laki hitam berkata : "Aku tidak ingin ambil keuntungan, kalau kau takut kalah, silakan lolos pedangmu !"
Hek-swan-hong tertegun sejenak, batinnya: "Keuntungan apa yang kau ambil dari aku ?" sekilas menjadi sadar, "Oh, begitu memang pembawaan suaranya sangat nyaring, mungkin dia sangka bentakannya itu mengambil keuntungan dari aku." segera ia menjawab : "Ilmu pukulanmu belum seluruhnya kau mainkan, buat apa aku gunakan Pedang ?"
"Kau berani pandang rendah aku?" semprot lelaki itu dengan gusar.
"Bukan begitu soalnya. Aku ingin belajar kenal dengan seluruh permainan ilmu pukulanmu!"
Mendengar ucapan terakhir, agaknya lelaki itu menjadi senang, beruntun ia menggembor pula, sementara kedua tinjunya membadai seperti hujan lebat.
Lambat laun timbul rasa curiga Hek-swan hong, pikirnya: "Orang ini begini polos kelihatannya bukan antek bangsa Kim." rangsakan lelaki itu telah memberondong gencar sehingga Hek-swan-hong harus tumplek seluruh perhatian untuk melayani.
Pukulan masing masing mempunyai permainan yang kuat dan lincah sepihak sekeras Kim-kong (arhad) menubruk dengan kekerasan pihak lain lemah gemulai seperti jarum didalam kipas, gerak permainan si laki laki memang tidak sebat dan selincah Hek swan hong, sudah berulang kali menghadapi serangan berbahaya, untungnya Lwekangnya setingkat lebih tinggi. Hek-swan-hong sendiri selalu waspada untuk melancarkan serangan telak kawatir diri sendiri kena dikibuli, beberapa kali ada kesempatan merebut kotak kayu itu namun selalu sia sia saja.
Tengah bertempur tiba tiba laki laki itu buang kotak ditangannya ketanah terus diinjak menjadi hancur lebur, teriaknya: "Baik, mari berkelahi sepuasnya !" kotak ditangannya itu banyak mengganggu gerak geriknya maka sengaja ia menginjaknya hancur. Semula Hek-swan hong menyangka kotak kayu itu berisi buku karya Go Yong itu, mendadak melihat orang menginjaknya hancur, ia terperanjat, namun terinjak hanya pecahan kayu belaka, seketika timbul pula berbagai kesangsian yang menggoda hatinya.
"Kalau dia teman sekomplotan dengan In tiong-yan masa In-tiong yan memberikan kotak kosong kepadanya." demikian Hek-swan-hong membatin dalam hati. Sekonyong konyong ia teringat seseorang, cepat ia melompat keluar halaman pertempuran, teriaknya ; "Bukankah kau Ling Tiat-wi yang berjuluk Heng Thian lui itu ?"
Laki-laki itu melengak, iapun berteriak, "Dari mana kau tahu julukanku ? Siapa kau sebenarnya ?"
Hek-swan-hong tertawa, ujarnya : "Aku juga punya julukan, sahabat Kangouw memanggil Hek-swan-hong padaku !"
"Jadi kau ini Hek-swan-hong ?" teriak laki laki itu pula. "Apa benar ? Ah, kenapa tidak kau sebutkan sejak tadi?"
"Begitu bertemu kau ajak berkelahi, bagaimana aku jelaskan ?"
Laki laki itu unjuk mimik heran dan curiga, katanya : "Baik, sementara aku boleh percaya bahwa kau adalah Hek-swan-hong. Seumpama kau benar Hek-swan-hong juga tidak mungkin bisa tahu akan julukanku itu. Lain dengan kau, julukanmu sudah tenar dan kumandang di kalangan Kangouw, kalau umum tahu tidak perlu dibuat heran. Adalah julukanku itu, hanya beberapa teman sejak kecil dikampung saja yang suka memanggil demikian, bocah kampung lain tidak tahu."
"Kurasa tidak begitu halnya," ujar Hek-swan hong. "Menurut apa yang kutahu, seorang tua gagah yang mengembara di kalangan Kangouw tahu tentang julukan namamu ini."
"Siapa dia ?" "Liok Kun-lun Liok-pangcu dari Kay-pang !"
"Oh, ya !" teriak laki-laki itu, serunya, "Rupanya kau adalah sahabat Liok-pangcu."
"Belum setimpal dijajarkan sebagai sahabat." ujar Hek-swan hong. "Dihadapan Liok-pangcu aku hanyalah seorang Wanpwe saja."
Ternyata buyut Hong thian lui Ling Tiat-wi adalah orang gagah dari seratus delapan pahlawan Liang san yang bernama Ling Tim berjuluk Heng-thian-lui pula.
Ling Tin ahli membuat peledak, ilmu silatnya biasa saja. Kepandaian Ling Tiat-wi juga bukan turunan keluarganya, tapi didikan orang sahabat kental ayahnya, keturunan salah seorang pahlawan Liang-san-pit-le-hwe Cin-ping yang bernama Cin Hou-siau, memberi didikan langsung kepadanya. Keluarga Cin dan Ling menempati sebuah perkampungan, ilmu kepandaian yang diturunkan kepada Ling Tiat wi justru adalah ilmu warisan nenek moyang Cin hou-siau, yaitu Pit le-ciang.