Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 14

Memuat...

"Nona, kenapa kau tergesa-gesa?" Hek-swan hong berteriak gugup.

"Kita sudah bertanding, aku akan pergi kearah tujuanku, dan kau terserah kau kemana. Kau masih ada urusan apa ?"

"Kita belum berkenalan bukan. Aku ber ..."

"Kau tak perlu memperkenalkan namamu, aku tahu kau bergelar Hek-swan hong."

"Itu hanya julukan kosong yang diberikan sementara kawan Kangouw." demikian sahut Hek-swan-hong tertawa.

Baru saja ia hendak menyebut nama aslinya, si gadis telah berkata lagi : "Nama itu tak lain hanya merupakan pertanda saja, kalau orang sudah menamakan Hek-swan-hong, begitu pula aku memanggil kau."

Gadis baju putih kelihatan seperti tak ingin mengenal nama aslinya, ini betul diluar dugaannya. Dalam hati Hek swan hong berkata : "Entah berapa banyak orang ingin mengetahui nama asliku. Sebaliknya dia tak suka mendengar ! Kelakuan nona ini betul-betul ganjil."

"Tiada yang perlu kautanyakan bukan? aku hendak pergi !"

Hek-swan hong menjadi gelagapan, katanya cepat : "Kenapa tak ada ? Kau panggil aku Hek swan-hong, lalu aku panggil kau apa ?"

Si gadis menggeleng kepala, katanya : "Ai, kau ini sungguh cerewet. Ya, apa boleh buat, kalau kau ingin tahu namaku, nih, biar kau tahu!" lalu ia menyingkap ujung bajunya tampak dimana tersulam seekor burung walet yang terbang ditengah angkasa.

Hek-swan-hong tersentak kaget, teriaknya melengking : "Kaulah In tiong-yan ?"

"Benar," jawab si gadis. "Tapi inipun hanya julukanku saja !"

Pertama kali Hek-swan hong mendengar nama In-tiong-yan dari mulut Kaypang Pangcu Liok Kun-lun. Namun Liok Kun-lun juga belum tahu apakah In tiong yan itu laki atau perempuan, tua atau muda.

In-tiong-yan adalah tokoh muda yang muncul kira kira dua tahun belakangan ini. Seperti juga Hek-swan hong, kaum persilatan tiada yang pernah melihat wajah aslinya. Tapi sepak terjangnya boleh dikata jauh berlainan dengan perbuatan Hek-swan-hong, malah hampir berlawanan. Pertama Hek-swan-hong melawan pihak kerajaan Kim, membunuh buaya darat dan para pembesar korup, terutama pembesar korup kerajaan Kim. In-tiong-yan juga membunuh buaya darat dan pemeras rakyat jelata, namun selama itu belum pernah terdengar ia pernah bunuh pembesar kerajaan Kim. Kedua: In-tiong yan pernah mencuri buku pelajaran pedang pihak Bu-tong-pay, Ceng seng pay, dan Siong-yang-pay. Ketiga aliran silat ini merupakan golongan lurus yang punya kedudukan tinggi di-kalangan bulim. Seumpama hanya berkelakar, kaum pendekar tentu tak mau berbuat kurang ajar terhadap ketiga Ciangbunjin dari masing2 aliran ini. Sudah tentu Hek swan-hong takkan mau melakukan perbuatan yang memalukan.

Setelah tahu kehilangan buku2 pelajaran pedang, ketiga aliran itu menemukan sebuah gambar burung walet diatas dinding. Setiap rumah buaya darat yang dibunuhnya juga selalu diberi tanda khas dari walet terbang ini. Itu berarti setiap kali ia membuat perkara selalu meninggalkan ciri khas itu, tanda gambar itu persis dengan yang dilihat oleh Hek-swan-hong tersulam di ujung baju sigadis baju putih ini.

Ketiga; Ada berapa tokoh golongan lurus yang mengetahui riwayat hidup Hek-swan-hong, meski hanya terbatas beberapa orang saja. Sebaliknya tiada seorangpun dari golongan lurus yang tahu siapakah sebenarnya In tiong-yan. Kaypang Pangcu Liok Kun-lun yang punya pengalaman luar pernah mencari tahu beberapa bulan selama itu sedikitpun tak pernah mendapat sumber penyelidikan untuk mengetahui asal-usulnya.

Maka waktu Liok Kun-lun membicarakan In tiong-yan dengan Hek-swan hong hakikatnya tak bisa memberi tahu apakah In-tiong-yan itu laki atau perempuan, tua atau muda, malah ia berpesan kepada Hek-swan-hong untuk bantu menyirapi.

Pendek kata In-tiong yan pernah membuat amal atau perbuatan baik menolong rakyat jelata, tapi pernah juga melakukan perkara buruk yang dicercah orang karena setelah beroperasi selalu meninggalkan tanda burung waletnya itu diatas dinding, maka kaum persilatan entah golongan lurus atau aliran sesat memberi julukan In-tiong-yan padanya. In-tiong yan berarti burung walet terbang ditengah mega.

Tapi perbuatan buruk yang dilakukan In tiong yan juga melulu mencuri buku pelajaran pedang dari tiga aliran lurus yang kenamaan itu saja, kecuali itu belum pernah dengar ia melakukan perbuatan keji yang memalukan.

Justru karena perbuatan buruk ini, belum pernah membunuh pembesar kerajaan Kim pula, walaupun Hek-swan-hong tahu bahwa di kalangan kangouw telah muncul seorang kosen yang lihay, tapi selama ini tiada seorangpun yang anggap dia sebagai kawan sehaluan. Dan karena inilah meski dua kali sudah ia pernah mendapat bantuan seseorang betapapun tak terpikir olehnya akan In tiong-yan.

Sekarang setelah tahu tokoh misterius ini berdiri dihadapannya, dan mengaku dirinya In-tiong-yan adanya, Hek-swan-hong menjublek malah. "Orang macam apakah In-tiong yan ini? Ai ! entah dari golongan lurus atau aliran sesat?" demikian Hek-swan-hong menduga duga.

Kecuali sulit membedakan lurus atau sesat, adapula perbedaan yang suka dipercaya oleh Hek-swan-hong. Yaitu bagaimana ia bisa mencuri buku pelajaran pedang milik Bu tong pay?

Baru saja timbul pertanyaan dalam benaknya, In-tiong-yan sudah berputar hendak pergi. Lekas Hek-swan-hong berseru: "Nona, masih ada satu hal aku minta penjelasan."

"Ada pertanyaan lekas katakan, kenapa bertele tele membosankan."

"Baik, maaf aku bicara terus terang. Buku pelajaran pedang Bu-tong, Ceng-seng dan Siong yang tiga aliran itu apakah kau yang curi?"

Berdiri alis lentik In-tiong-yan, sahutnya; "Kalau benar bagaimana?"

"Tidak bagaimana, aku hanya heran dan aneh saja !"

"Kusangka kau mendapat pesan mereka untuk minta kembali buku-buku itu."

"Pihak Ceng seng dan Siong-yang tak perlu dipersoalkan. Tapi anak murid Bu-tong pay yang berkepandaian tinggi entah berapa jumlah mana perlu tenagaku yang keroco ini? Apalagi akupun tak punya keberanian."

In-tiong-yan tertawa cekikikan, katanya: "Pintar kau putar lidah. Secara terang kau memuji aku, dibalik kata-katamu jelas kau mencercah perbuatanku."

"Aku mengagumi kau nona, masa punya pikiran begitu."

In tiong-yan mendengus, katanya: "Kau dan aku bertanding seri. Tapi kau katakan banyak murid Bu-tong pay dapat mengalahkan kau, bukankah merendahkan diriku? He-hehe, anak murid Bu tong pay lihay dan berkepandaian kosen belum tentu dapat apa-apa atas diriku."

"Ilmu pedangmu jauh lebih tinggi dari mereka, untuk apa pula kau curi buku pelajaran pedang mereka?" demikian tanya Hek-swan hong.

"Kalau timbul seleraku lantas kucuri saja, peduli amat dengan kau?"

Dalam hati Hek swan hong membatin; "Urusan besar begini dianggap main-main segala?'' tahu orang tak mau menjelaskan iapun tak enak mendesak lebih lanjut.

Terdengar In-tiong-yan cekikikan geli, ujarnya: "Kau tidak percaya ya terserah. Betapapun aka takkan memberi tahu kepada kau. Maaf aku tak dapat memenuhi permintaanmu, selamat tinggal!''

"Memangnya aku memandang rendah dan mempermainkan nona ?" ujar Hek-swan-hong.

Kata In-tiong yan : "Jangan kau kira aku curi buku pelajaran pedang mereka lantas mencuri belajar ilmu pedang mereka.''

"Untuk hal ini nona tak perlu menjelaskan, aku sudah paham. Ilmu pedang yang kau kembang tadi, setiap jurus jauh lebih sempurna dan mempunyai perkembangan khusus yang sulit dipahami, jelas sangat berbeda dengan permainan ilmu pedang mereka. Oh, ya, bukan aku suka memuji, meski ilmu pedang Bu-tong-pay cukup tinggi dan menakjupkan, mana bisa dibanding kepandaianmu !"

In-tiong yan maklum orang mengangsurkan mahkota diatas kepalanya (pujian), hatinya menjadi syuurr, katanya tertawa ; "Aku tak perlu dengar obrolan manismu. Tapi ingin aku bertanya pada kau, apa yang kau herankan ?"

Sebetulnya keheranan Hek-swan-hong bukan melulu soal pencurian buku pelajaran pedang pihat Bu-tong, Ceng seng dan siong yang oleh ln tong-yan. Yang diherankan adalah bagaimana In tong-yan dapat mengambil sesuka hatinya, seperti mengambil barang milik sendiri ?

Diam diam Hek-swan-hong berpikir : "Ditaksir dari kepandaiannya, mungkin dapat bertempur sama kuat dengan pihak Ceng-seng dan Siong yang. Tapi Ciangbunjin Bu-tong-pay Kim kong Totiang, betapapun bukan tandingannya. Jangan kata Bu-tong Ciangbun, empat murid terbesar Bu tong saja belum tentu dapat dikalahkan olehnya.

Coba pikir betapa penting dan berharga buku pelajaran pedang dari sesuatu aliran itu? Umpama Bu-tong-pay takabur, kalau buku pelajaran pedang itu tidak disimpan sendiri oleh Kim kong Totiang, pasti dilindungi keempat muridnya itu. Betapapun tinggi Ginkang ln-tiong yan, tak mungkin seorang diri leluasa mencuri dan berhasil dengan gemilang. Adakah pembantu lain yang berkepandaian jauh lebih tinggi dari dia ?'' demikian Hek-swan-hong mereka-reka.

Tengah ia kesulitan memecahkan pikiran sendiri, terdengar In-tiong yan mengucapkan selamat tinggal.

Tergerak sanubari Hek-swan-hong, teriaknya: "Nona, tunggu sebentar!"

"Ai, sungguh menyebalkan kau, kenapa kau cerewet dan bertele-tele."

"Bukan aku suka berkelakar dengan kau nona," demikian ujar Hek-swan hong tertawa, ''Ada sebuah kisah, mungkin kau senang mendengarnya."

"Aku tak punya tempo mendengar ceritamu."

"Setelah mendengar cerita ini, mungkin membawa manfaat bagi kau."

In-tiong yan jadi tertarik, sahutnya, "Manfaat apa, coba terangkan dulu.''

Post a Comment