Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 16

Memuat...

Hek-swan-hong terpingkal geli mendengar nada ucapan orang yang menirukan ucapan seorang dalang, Tapi Hek-swan-hong cukup cerdik dan teliti, dari nada kelakarnya itu, lapat lapat dapat terasakan olehnya hasrat besar untuk mengetahui jejak buku kemiliteran itu.

Hek swan-hong bergelak tawa, katanya melanjutkan : "Sekarang kisah ini bercabang dua. Setelah Louw Ci-sing lari turun gunung seorang diri, hari kedua Song Kang lantas pimpin para saudaranya ke markas tentara Thio Siok ya untuk melaksanakan tipu daya 'serah menyerah' itu. Tapi masih ada dua saudara lain yang tidak mau ikut padanya."

"Siapakah kedua orang itu ?"

"Yaitu Hek-swan hong Li Kui dan Gun kang-liong Li Cun."

"Bukankah Li Kui paling setia dan patuh terhadap Song Kang?"

"Justru karena setia dan patuhnya itu mana dia harus memikirkan berusaha mencari jalan belakang Song Kang. Dia berkata: "Koko kalau kau dapat pulang syukurlah. Kalau tak pulang biarlah kugunakan kedua kapakku ini menyerbu ke ibukota mencari sang raja keparat itu menuntut supaya kalian dikembalikan!'' Kau harus tahu walaupun Li-Kui paling setia terhadap Song Kang, tapi juga orang pertama yang menentang keputusan menyerah itu."

"Kedengarannya diantara seratus delapan pahlawan gagah Liang-san-pek-itu, kau paling mengagumi Li Kui. Tak heran orang memberi julukan yang sama kepada kau."

"Aku jadi kerdil mendapat julukan. Mana berani aku dibanding Hek swan-hong dari Liang san pek itu."

"Tak usah sungkan," goda In-tiong yan, "menurut hematku justru kau lebih cerdik lebih pandai dan gagah dibanding Hek swan-hong dari Liang-san-pek itu. Teruskanlah bagaimana dengan Gun-kang-liong Li Cun?"

"Berbeda dengan sikap Hek-swan-hong, Li Cun lebih mementingkan keuntungan pribadi. Belakang diperoleh kabar dia melarikan diri kelautan teduh, menduduki sebuah pulau dan menjunjung diri sebagai raja kecil disana."

"Orang ini tidak penting, tak perlu disinggung lagi. Belakangan menurut kabarnya Song Kang dan lain lain telah mati diracun oleh pemerintah, apakah berita ini betul?"

"Sudah tentu benar. Diluar tahu Song Kang muslihat "pura-pura menyerah" itu justru sudah dalam perhitungan Thio Siok-ya. Malam itu Thio Siok-ya mengadakan jamuan bagi sekalian pahlawan gagah Liang san, mereka terbunuh semua karena keracunan.

Yang paling dibuat sayang adalah Ci-to sing Go Yong, sebelumnya ia sudah meramalkan dalam arak ada racun, tapi ia tetap mengiringi Song Kang makan minum.

Setelah membinasakan Song Kang dan lain-lain dengan arak bisanya itu, Thio Siok-ya menyuruh Loh-Cu-gi memalsu perintah Song Kang, menipu Li Kui turun dari Liang-san. Li Kui tak sudi kemarkas Thio Siok-ya akhirnya mati keracunan juga."

"Yang paling disayangkan justru bukan Ci-tong-sing Go Yong atau yang lain. Yang harus dibuat sayang justru raja lalim dari Song raja." demikian ujar In-tiong yan.

"Apa maksud ucapanmu?"

"Kalau Song Kang dan para saudara angkat tidak binasa, bangsa Kim tak gampang menduduki tanah perdikan bagian utara nan subur dan luas ini."

"Memang tepat dan cukup adil ucapanmu," kata Hek-swan hong hambar, "Perbuatan pihak kerajaan boleh dikata merusak rumah tangga sendiri."

"Sudah tak perlu kau beri penilaian peristiwa yang sudah lewat. Aku masih ingin mendengar kelanjutan ceritamu."

"Benar, sekarang tibalah saatnya aku mengikuti jejak si Hwesio gula-gula Louw Ci-sing itu. Setelah tahu Song Kang dan lain-lain binasa keracunan, mengikuti wataknya, kupikir tentu dia sangat sedih dan merana, ingin rasanya menuntut balas bagi para saudara. Tapi karena dia mendapat pesan dan tugas berat dari Kun-su, terpaksa harus mengasingkan diri mengganti nama. Selama puluhan tahun ia menjadi penghuni tetap di Leng-in si."

"Wah, betul-betul merupakan siksaan baginya. Bagaimana selanjutnya?"

"Akhirnya dia mangkat begitu saja."

"Sudah mati? Lalu bagaimana rahasia buku militer itu ?"

"Dia meninggalkan empat patah pameo. Kabarnya dibawah menara rangkap enam suatu malam nan sunyi dibawah menara enam tingkat itu, ia mendengar deru ombak, ilham datang dan pahamlah dia akan jalan kebenaran yang sejati, dari saat itulah dia tinggalkan keempat patah pameo itu, lalu menghembuskan napas terakhir."

"Empat patah pameo apa itu?"

"Pameo itu berbunyi: duduk bersila memandang mega, rebah celentang mendengar irama ombak."

Kata In-tiong-yan sembari tertawa, "pameo ini jelas menunjukkan tempat rahasia penyimpanan buku kemiliteran itu."

"Dugaanmu benar, sahabat yang memberitahu rahasia ini kepadaku juga berpikir seperti kau."

In-tiong yan melirik kepada Hek-swan-hong, tanyanya: "Kenapa kau beritahu rahasia penting ini kepada aku?"

"Ingin kupinjam kecerdikan untuk memecahkan arti pameo itu, supaya gampang mencari buku kemiliteran karya Go Yong itu."

"Aku kan bukan murid agama budha, hanya dapat menyelami pameo itu. Bicara soal pintar, justru kaulah yang benar-benar pandai."

O^~^~^O

Pujian terakhir sungguh diluar dugaan, Hek-swan-hong tak tahu kemana juntrungan kata-kata ini, sesaat dia melengak.

Kata In-tiong-yan pula : "Selamanya, kau belum kenal aku, apa kau tidak takut setelah aku mendapatkan buku, terus ngacir ngelabui kau ?"

"Aku yakin kau tidak akan berbuat begitu."

"Dari mana kau tahu aku takkan berbuat begitu ?"

"Sebab kau seorang bangsa Han."

Diam-diam In-tiong yan geli, alisnya berdiri, katanya : "O, kalau bangsa Han lalu bagaimana?"

"Bila seorang bangsa Han tentu takkan mengangkangi buku kemiliteran itu."

"Kenapa ?" "Buku kemiliteran karya Go Yong adalah untuk membantu bangsa Han kita melawan kerajaan Kim, seorang bangsa Han yang berhasil menemukan buku itu, kecuali antek atau pengkhianat bangsa, rela mengekor pada penjajah, tentu takkan sudi mengangkangi sendiri dan tidak akan dipersembahkan kepada pemimpin pasukan pergerakan?"

"Bagus, kuakui ucapanmu ini masuk akal. Namun bagi kau, apakah kau tidak merasa caramu mempercayai aku terlalu bahaya ?"

"Meski selama ini kita belum kenal, tapi dari dua kali peristiwa kau membantu aku, aku sudah meraba martabatmu."

"Mungkin martabatku tidak sebaik seperti yang kau duga?"

"Kalau begitu memang aku menyerempet bahaya. Tapi aku yakin aku tidak salah menilai orang."

ln-tiong yan menjadi senang, katanya tertawa : "Kau yakin akan dirimu, baiklah mari kita mulai mencari, tapi Liang-san begini besar, dari mana harus mulai ?"

"Kuduga puluhan Li sekitar puing-puing Tiong-gi-tong Liang san pek sinilah adanya."

"Dengan alasan apa rekaanmu ini ?"

"Malam pada Go Yong selesai menulis karyanya sudah mendekati kentongan kelima setelah itu dia suruh Louw Cising menyimpan di tempat rahasia. Menurut lazimnya, mereka harus membereskan kerja sebelum fajar menyingsing. Pentolan Liang san pek kebanyakan bertempat tinggal disekitar Tiong-gi-tong. Dalam waktu satu jam berapa jauh bisa ditempuh, maka kuduga tentu dipendam sekitar pulunan li saja !"

"Apakah kau sudah tahu, dimana puing-puing Tiong gi-tong?"

"Tepat ditanah datar diatas karang kepala harimau ini. Menurut tafsiran, luas puing puing Tiong-gi-tong ini tidak lebih 20 li. Tanah seluas dua puluhan li dapat dijelajah dalam tempo tiga jam, tapi untuk mencari sejilid buku, walau tidak sesulit menganggap jarum dalam lautan, juga sangat sukar."

"Kalau gampang buat apa aku minta bantuanmu? Untung pameo itu bisa memberikan petunjuk kepada kita, sesuaikan dengan keadaan saja siapa tahu dicari sukar, ketemu tanpa diduga."

"Kalau begitu bekerja menurut nasib belaka. Baik, mulai dari sini kau menuju ke-timur dan aku kearah barat. Sebelum terang tanah besok pagi bertemu lagi di tempat ini."

Setelah berpisah pikiran Hek-swan-hong menjadi gundah bayangan punggung In tiong yan hilang menyelinap didalam hutan, hatinya gelisah dan was-was. Pikiran secara mendadak mohon bantuan In tiong-yan untuk mencari buku kemiliteran karya Go Yong, bahwasanya sangat berbahaya.

Terbayang olehnya mimik In-tiong yan waktu bicara tadi waktu dia berkata: "Sebab kau bangsa Han," In tiong-yan balas bertanya; "O, kalau bangsa Han kenapa?" tatkala itu, alis In-tiong-yan tampak berdiri, air mukanya mengunjuk setitik tawa licik dan sinis.

Ucapan lanjutan pertanyaan itu sebetulnya adalah: "Kalau bukan bangsa Han lalu kenapa pula?'' terpikir sampai disini tergetar sanubarinya. Dalam hati ia bertanya pada diri sendiri, "Kalau dia bukan bangsa Han bagaimana?"

Hem, dalam taktik perang ada bilang yang isi itu kosong, yang kosong itu isi. Dia balas bertanya, apakah untuk menghilangkan curigaku? Bukan mustahil dia bukan bangsa Han?"

Angin pegunungan mengembus dingin, Hek swan-hong tersadar dari lamunannya, terpikir olehnya: "Mungkin aku banyak curiga. Memang belum pernah aku dengar In-tiong yan membunuh pembesar Kim tapi pernah membantu aku mencuri konsep rencana gerakan pasukan Kim milik Wanyen Tiang ci. Betapa penting konsep ini kiranya jauh lebih berharga dari membunuh puluhan pembesar Kim? Mana mungkin dia seorang Kim? Jelas aku terlalu curiga."

Namun terpikir pula: "Aku menjadi gundah karena tak mengetahui asal usulnya. Kejadian hari ini merupakan ujian yang paling tepat untuk menyelidiki asar usulnya. Besok pagi segalanya dapat dibikin jelas. Ai, untuk membuyarkan rasa curigaku ini, aku menempuh bahaya begitu besar, apakah perbuatanmu ini cukup setimpal ?" mendadak Hek-swan-hong menyadari akan rahasia sanubarinya. "Kenapa aku ingin benar mengetahui asal usulnya ?" tanpa merasa merah dan panas raut wajahnya, hatinya hambar.

Post a Comment