In-tiong-yan menenangkan hati, dengan hati-hati ia membuka halaman buku itu, memang benar adalah buku kemiliteran. Setelah dibalik beberapa halaman, dapat dipastikan bahwa buku itu adalah karya Kunsu Go Yong dari Liang-san-pek.
Beberapa lembar yang dibaca itu adalah catatan tentang taktik peperangan, ada cara melawan pasukan pemerintah, ada pula cara berperang melawan pasukan Kim. Terutama catatan taktik bagaimana menggempur pasukan Kim adalah yang paling jelas dan biasa menggunakan Long-si-pang dan Koay-cu-be dan lain-lain.
In-tiong yan tidak paham taktik peperangan, tapi dia tahu bahwa buku kemiliteran ini sangat berguna bagi ayahnya, mungkin lebih berharga dari segala benda pusaka termahal dalam dunia ini. Terpikir olehnya : "Setelah memperoleh mempelajari buku ini, untuk menyapu habis kerajaan Kim, tentu jauh lebih gampang.''
Obor ditangannya sudah hampir padam, lekas lekas In-tiong yan menyimpan buku itu, lalu bergegas keluar dari gua itu. Waktu ia merambat keatas, cuaca sudah terang benderang, sang surya sudah muncul dari peraduannya, berarti sudah menjelang pagi hari kedua.
Tiba tiba In-tiong yan teringat bahwa dia telah janji dengan Hek-swan-hong untuk bersua kembali di Karang kepala harimau sebelum terang tanah. "Kesana menemuinya tidak ?" demikian ia menjadi sangsi. Dia tidak ingin memberikan buku itu kepada Hek-swan-hong, tapi tak enak untuk ingkar janji. "Dia begitu mempercayai aku, mana bisa aku ingkar janji dan menjilat ludahku sendiri. Tapi apakah harus ngapusi dia, mengatakan tak menemukan buku itu ? Ai, menghadapi seorang yang percaya kepada aku, apakah enak aku membual terhadapnya ? Ai, lebih baik kesana saja!"
Dalam hati ia berpikir, namun kedua kakinya melangkah kembali dari arah datangnya tadi. Tiba-tiba terdengar teriakan Hek-swan hong: "Nona ln, dimana kau?" ternyata tanpa disadari ia sudah beranjak mendekati kepala harimau.
In-tiong-yan seperti sadar dari mimpi, ia mengumpat diri sendiri: "Kenapa aku ini? Urusan kecil tak bisa ambil putusan! Kenapa aku harus menemui dan memberi penjelasan segala? Masa aku takut dia membenci aku? Kalau benci biarlah benci, peduli amat."
Hek-swan-hong tak berhasil menemukan buku kemiliteran, maka sebelum matahari menyingsing dia sudah kembali ketempat semula menanti kedatangan In-tiong yan.
Pancaran sinar surya menerangi jagat raya, cahaya keemasan nan berselimut pagi kelihatan begitu indah menerobos sela-sela daun-daun pohon. Angin menghembus sepoi sepoi menggerakkan dahan dahan pohon, samar-samar dikejauhan sana Hek-swan-hong seperti melihat lambaian baju putih laksana salju, dari balik sebatang pohon siong yang besar dan tinggi didepan sana melongok keluar setengah wajah halus putih yang mengulum senyum.
Kejut dan girang Hek-swan-hong, teriaknya melompat; "Rupanya kau sembunyi disini, hendak main petak dengan aku ya? Apakah buku militer itu sudah ketemu? Hayo jangan main-main, cepat keluar!"
In-tiong-yan tertawa cekikikan, ujarnya: "Siapa main-main dengan kau. Maaf, aku harus segera pulang!"
Tersipu-sipu Hek-swan hong memburu, serunya, "Hai, hai! Ini bukan saatnya main-main, sebenarnya ketemu tidak buku militer itu?"
"Kenapa gugup? Baik, bicara terus terang, sudah ketemu, lalu kenapa?'' sembari bicara kakinya berlari kencang.
Betapa girang Hek swan-hong sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata, teriaknya: "Kalau sudah ketemu lekas serahkan kepadaku! Untuk lomba Ginkang lain waktu masih ada tempo."
"Aku yang menemukan kenapa harus kuserahkan kepada kau?"
Terkejut Hek-swan-hong teriaknya; "Bukankah kita sudah bicara sebelumnya?"
"Siapa janji dengan kau? Kau hanya minta aku bantu mencari buku militer ini (Ping-hoat), kan tidak dijelaskan harus diserahkan kepada kau !"
Hek-swan hong memang tidak memberi penjelasan sebelumnya, karuan ia menjadi gugup, teriaknya: "Aku hendak serahkan buku itu kepada laskar rakyat, jangan main-main!"
"Kau memang cerewet, perlukah menjelaskan sekali lagi? Aku tidak main-main dengan kau." mulut bicara sementara kakinya berlari semakin kencang.
Sembari mengejar Hek-swan-hong berteriak: "Tidak main-main, untuk kau apa bawa Ping-hoat itu?"
"Bukankah kau mengatakan barang yang sukar didapat setelah berada ditangan makin menarik dan menyenangkan? Ping-hoat ini akan kusimpan sebagai koleksi lemariku kalau sudah bosan kelak akan kuberikan kepadamu, kau tunggu saja dengan sabar !"
Tawanya yang merdu nyaring bagai kelintingan kumandang dialam pegunungan, sesuai nama julukannya gerak tubuhnya seperti burung walet begitu gesit dan tangkas menerobos mega menyelinap hutan, sekejap saja bayangannya sudah menghilang di kejauhan.
Taraf ilmu silat mungkin Hek-swan-hong lebih unggul, tapi Ginkang yang jelas tidak menang. Tahu tak mungkin menyandak akhirnya ia menghentikan langkah dengan rasa gegetun dan gemes, keluhnya: "Celaka, celaka! Sungguh celaka aku ini ! Aku ingin mencari tahu asal usulnya kini sudah jelas, sayang Ping hoat itu harus berkorban ! Bagaimana aku harus menemui Liok pangcu dan Tan-toako?"
Betapapun ia belum berani mengakui kenyataan yang dihadapinya ini. Dalam hati ia menghibur diri; "Mungkin dia sengaja menggoda aku. Supaya kelabakan? Siapa tahu dua tiga hari kemudian akan diserahkan kepada aku. Dia pernah membantu aku mencuri konsep militer milik Wanyen Tiang-ci, mana mungkin dia bangsa Kim ?"
Bayangan In tiong yan sudah tidak kelihatan, namun wajah orang yang tertawa sinis dan licik tiba-tiba terbayang dalam benak Hek-swan hong. Hek-swan hong tertawa kecut : "Tega kau mempermainkan aku, sehingga aku kelabakan dan kawatir. Tentu kau senang sekarang!" lalu terpikir lagi : "Semoga dia hanya mempermainkan aku, kalau tidak, ai . . . " tanpa merasa ia bergidik dan meremang bulu kuduknya. Batinnya, "Sebetulnya orang macam apakah dia ? Sungguh sulit diselami !"
ln Tiong yan berlari dengan kencang, tapi hatinya tidak seriang seperti dugaan Hek-swan hong. Waktu ia berpaling kebelakang dan tidak melihat Hek-swan hong mengejar, tawa riangnya menjadi tawa getir. Sambil menggembol kotak berisi Ping hoat itu, rasa senang dan gembira waktu menemukan kotak tadi sekarang sudah lenyap laksana asap mengepul tinggi ditelan mega diangkasa, sekarang tiada rasa senang sedikitpun dalam hatinya.
Maklum dia memperoleh sejilid buku berharga, tapi akan kehilangan seorang sahabat. Untuk selanjutnya, Hek-swan-hong tak kan bicara dan berkelakar dengan dirinya, bukan mustahil anggap dirinya sebagai musuh malah. Antara mendapat dan memperoleh ternyata ada perbedaan yang begini rumit. Ia tak dapat menjelaskan hatinya kosong dan hambar.
Demikianlah dengan perasaan kalut In-tiong-yan bergoyang gontai berjalan tanpa tujuan semakin dipikir hati terasa rawan, tiba-tiba terkenang akan kampung halaman di utara sana, pikirnya : "Tionggoan tiada tempat yang menarik lagi, lebih baik aku pulang menemui ayah saja."
Tengah ia berjalan dengan perasaan hampa dan bingung, tiba tiba seorang membentak : "Kau inikah In-tiong-yan ?"
In-tiong yan tersentak kaget mendengar bentakan sekeras guntur ini, waktu ia angkat kepala tampak seorang laki laki kekar kasar berdiri didepannya. Sepanjang pinggir telaga adalah pohon pohon welingi yang tumbuh subur setinggi manusia, laki-laki kasar ini menerobos keluar dari rumpun pohon welingi sana, apalagi hatinya tengah gundah dan gelisah, maka tidak tahu ada orang mencegat dirinya.
Hati In-tiong-yan tengah uring-uringan, pikirnya: "Biar orang hitam ini untuk melampiaskan rasa gemasku," lantas ia menyahut dingin: "Kalau benar kau mau apa ?"
Laki-laki itu membentak lagi, "Kotak apa yang kau pegang itu, apakah Ping-hoat karya Go Yong itu, lekas serahkan kepadaku, kalau tidak jangan harap kau bisa lewat kesana."
Sesaat In tiong-yan melongo dan menjublek, pikirnya: "Sungguh tak duga laki-laki berangasan ini juga tahu tentang Ping-hoat karya Go Yong ?"
Belum sempat ia membuka mulut, laki-laki itu sudah membentak lagi : "Apa kau ingin berkelahi dengan aku ? Hm, aku tahu kau punya kepandaian, tapi aku tak sudi berkelahi sama cewek !"
Tiba-tiba In tiong-yan angkat kotak itu tinggi keatas kepalanya, serunya : "Baik, nih, kau ambil !" lalu disodorkannya kotak itu.
Mendadak ia merangkap kedua jari, dengan kotak kayu itu sebagai aling-aling jari tangan kanannya menyolonong keluar dari bawah kotak. Maksudnya hendak menutuk jalan darah pelemah dibadan laki laki kasar, supaya bertunduk lemas tak bisa berkutik selama dua belas jam.
Hakikatnya In-tiong-yan tidak pandang sebelah mata laki-laki kasar berkulit hitam ini. Setelah orang bicara tentang Ping-hoat karya Go Yong baru timbul rasa waspadanya, dengan ilmu tutuk perguruannya ia membokong dengan cara licik lagi, dia kira laki-laki kasar berkulit seperti orang ini pasti ketipu olehnya.
Tak nyana meski wataknya kasar dan berangasan, gerak geriknya atau kepandaian lelaki hitam ternyata boleh juga. "Krak!" tiba tiba ia ulur tangan mencengkeram, kotak kayu ditangan In-tiong yan berlobang karena lima jarinya. Untung ia kawatir rusak buku didalam kotak sehingga tidak menggunakan setaker tenaganya.
Meski ilmu tutuk In tiong-yan sangat lihay, melihat Eng-jiau-kang lawan begitu hebat, ia menjadi kawatir dan bercekat hatinya, mungkin sebelum tutukannya mengenai lawan, cakar lawan sudah mencengkeram hancur pergelangan tangannya, tersipu-sipu dia tarik kembali tutukan jarinya, dengan gaya burung walet jumpalitan ditengah awan, kakinya menjejak ketanah terus bersalto ke belakang beberapa tombak.