Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 19

Memuat...

Melihat cengkeramannya tak berhasil lelaki itu terkejut, pikirannya: "Wah, gerak tubuhnya hebat sekali! Naga naganya In tiong yan memang tidak bernama kosong, aku tidak bisa memandang rendah dia!"

Walau tidak tercengkeram oleh lawan, namun kotak kayu itu berlobang karena jari jari musuh, betapapun ia sudah kalah satu jurus. Dasar wataknya suka menang dan tak mau rugi, "Sret!" segera ia melolos pedangnya, serunya: 'Kepala hitam, keluarkan senjatamu. Kalau kau dapat merobohkanku, kotak ini kuserahkan kepadamu ."

Sementara itu lelaki hitam itu sudah menubruk maju juga, makinya gusar: "Hm, perempuan siluman seperti kau juga berani mempermainkan aku. Sebetulnya aku tidak sudi berkelahi dengan cewek, hari ini terpaksa melanggar pantangan! Buat apa aku menggunakan senjata, silahkan serang saja dengan pedangmu !"

Seiring dengan kata katanya, kedua tangannya terpentang, tangan kiri terkepal serta menggenjot dengan tenaga penuh, sementara tangan kanan berkembang jari jarinya mencakar kemuka orang. Menggenjot dan mencakar dilancarkan sekaligus dalam waktu yang sama, dengan tenaga penuh lagi sehingga membawa kesiur angin deras, hebat perbawa serangan ini. Sungguh mengejutkan.

In-tiong-yan tahu tenaga pukulan lawan hebat, mana dia biarkan lawan berkelahi dalam jarak dekat, sebat sekali kakinya bergerak mengganti kedudukan, sementara pedangnya bergerak laksana burung hong terbang, tahu tahu ujung pedang sudah menusuk kearah ketiak kiri orang.

Sekonyong-konyong laki laki itu menggertak keras, kedua telapak tangannya terkembang terus didorong kedepan, tenaga pukulannya bergelombang seperti arus bergolak, samar-samar terdengar suara geledek yang mengguntur, ujung pedang In-tiong-yan tersampok mental kesamping. In tiong-yang melonjak kaget, pikirnya : "Lwekang laki-laki hitam ini diatas kemampuan Hek-swan hong. Berkelahi terus belum tentu menang, lebih baik tinggal pergi saja."

Tak diduga, laki-laki kasar itu seperti menebak isi hatinya, bentaknya : "Perempuan siluman, jangan harap kau bisa kabur !" tujuh langkah disekitar gelanggang terkekang oleh tenaga pukulannya berantai, damparan angin kuat dan menggiris kulit membuat langkah In-tiong-yan sempoyongan.

Lengan Ginkang In tiong-yan kalau mau pergi sebetulnya tidak sukar. Soalnya Bik-khong ciang lawan memang hebat, bila ia putar tubuh lari pergi, punggungnya yang tak terjaga bisa kena pukul, walaupun dapat lolos namun dirinya bakal menderita luka ringan.

Satu pihak kawatir terluka, pihak lain penasaran dan dongkol, akhirnya In tiong-yan nekad, katanya tertawa dingin : "Kau sangka aku takut menghadapi kau. Lihat pedang!"

In-tiong yang pusatkan perhatian, pertempuran berjalan makin sengit pedang dan kepalan saling serang dengan berbagai tipu tipu dan cara yang lihay. Ilmu pedang In-tiong yan cukup aneh dan lihay, kadang kadang menusuk dan menyerang dari jurusan yang tak terduga oleh laki laki kasar itu. Untung ilmu pukulannya cukup hebat, tenaganya pun besar luar biasa, tinju menggenjot telapak tangan menampar, setiap gerak-geriknya membawa kesiur angin yang keras, tinju seperti godam, tamparan telapak tangannya seperti kampak membacok. Betapapun lincah permainan In tiong-yan, selama itu tak berhasil mendesak lebih dekat, jarak mereka tetap tujuh delapan kaki. Untung laki-laki itupun harus menjaga tusukan pedangnya yang menyerang dari berbagai jurusan dan mengarah sasaran yang tak terduga, sehingga tak berani mendesak terlalu dekat.

Pedang lawan tinju, keduanya punya kelebihan sendiri. Saking bernafsu laki-laki itu bertempur dengan semangat berkobar, setiap jurus pukulannya disertai gertakan yang menggeledek, jotosan demi jotosan, kuat dan besar pula tenaganya. Kekuatan telapak tangannya menggiriskan dan makin kencang lagi, bak umpama gugur gunung atau damparan ombak mengamuk, sehingga sinar pedang In-tiong-yan buyar berantakan, gerak langkah tak teratur dan badanpun sempoyongan seperti sebuah sampan yang terombang ambing di tengah amukan ombak.

In-tiong-yan mengembangkan kelincahan tubuhnya untuk bertempur secara petak dengan lari berputar putar. Laksana burung camar terbang mengalun mengikuti damparan gelombang laut seperti pohon liu meliuk gemulai. Meski damparan angin dahsyat bagai badai diprahara. ia masih bergerak lincah, maju mundur dengan leluasa. Tapi betapapun ia kewalahan juga karena kekuatan sendiri tak unggul dibandingkan lawan, puluhan jurus kemudian, kombinasi pedang dan gerak tubuhnya makin kacau, lambat laun ia merasa tenaga makin terkuras habis.

Untung laki laki itu jeri menghadapi ilmu pedang yang aneh dan ganas itu, sedikit lengah bakal memberi peluang kepada lawan.

In-tiong-yan terhalang delapan kaki diluar lingkungan angin pukulannya, dia tak berani merangsak secara gegabah. Dalam keadaan masing masing pihak punya kekawatiran sama kuat alias seri.

Kabut buyar megapun menghilang, cahaya matahari bersinar cemerlang menerangi seluruh jagat raya. Pemandangan dipinggir rawa yang penuh semak belukar pohon pohon welingi dibawah pancaran sinar sang surya menjadi makin jelas dan mempesona. Tadi In tiong yan turun gunung waktu cuaca masih pagi dan remang-remang, sekarang matahari sudah tinggi menjelang tengah hari.

In-tiong-yan tersentak sadar, pikirnya: "Kalau dilanjutkan agak lama, Hek swan-hong bakal mengejar tiba. Laki laki hitam ini aku tidak mampu mengalahkan, celaka kalau ditambah seorang Hek swan hong lagi ? Ai, ngacir adalah jalan paling tepat untuk menyelesaikan pertempuran ini! Tapi cara bagaimana aku melepaskan diri."

Agaknya laki-laki itu merasa maksud hatinya, kedua kepalannya menari makin kencang, serangannya membadai makin seru, bentaknya: "Kalau kau tidak serahkan Ping-hoat kepadaku, jangan kau ngacir ? Nah, lari ke ujung langitpun akan kukejar !"

In tiong-yan membatin : "Bila aku dapat lari ratusan langkah, memangnya kau dapat mengejarku ?" soalnya bagaimana dia melepaskan diri dari rangsakan gencar lawan dan lari sejauh ratusan langkah itu ? Pukulan Bik-khong-ciang laki-laki itu sangat lihay belum cukup lari ratusan tindak In-tiong yan pasti terpukul oleh pukulan jarak jauh lawan, meski dapat lolos pasti terluka.

Dalam suatu kesempatan, tiba-tiba laki-laki itu mencengkeram lagi, sigap sekali In-tiong-yan menangkis dengan pedang, kotak yang dipegang ditangan kirinya hampir terampas oleh lawan. Sekonyong-konyong otak In-tiong yan mendapat akal. Segera ia mainkan pedangnya lincah dan rapat untuk melindungi badan, kakipun bergerak mundur dengan teratur, sambil melayani serangan ia menyurut mundur ke pinggir telaga. Tiba-tiba ia bergerak lincah berputar seperti gangsingan, mulutnya menjungging senyum sinis, jengeknya : "Baik, Ping-hoat kuserahkan kepadamu !" ditengah gelak tawanya, tangannya kiri terayun keatas melontarkan kotak kayu berisi buku militer itu kedalam telaga.

Sudah tentu tindakannya ini diluar dugaan laki-laki hitam. Sejenak ia tertegun mengambil Ping hoat atau mengejar In-tiong-yan ? Jelas sebentar saja kotak kayu itu bakal hanyut dan tenggelam oleh damparan air kalau tidak lekas-lekas diambil tentu terlambat. Tiada banyak tempo, "plung !" laki-laki itu segera terjun kedalam air.

Untung arus air agak lamban, laki-laki itu pandai berenang lagi, setelah mengambang beberapa saat, kotak kayu itu mulai terendam air dan tenggelam, setelah selulup timbul dan berenang puluhan tombak, baru ia berhasil menangkap kotak kayu cendana itu.

Tapi waktu dibuka, ternyata kosong, Ping hoat telah lenyap.

In-tiong-yan pakai tipu daya untuk meloloskan diri. Waktu mundur secara teratur tadi, ditutupi lengan bajunya, diam diam ia telah mengambil buku Ping hoat itu dari dalam kotak, yang dibuang hanya kotak kosong belaka. Karena cara kerjanya yang cermat, apalagi bertempur sambil jalan, laki-laki itu harus menjaga permainan pedangnya yang aneh, sehingga tidak menaruh perhatian.

Setelah naik ke darat, laki-laki itu mengumpat caci. Dari kejauhan In-tiong-yan menggoda : "Kau sendiri yang menyangka isi kotak kayu itu adalah Ping-hoat, pernah aku mengatakan berisi Ping-hoat?"

Memang benar, demikian pikir laki-laki itu, tadi In-tiong-yan hanya balas bertanya: "Kalau Ping hoat lalu mau apa ?'' tapi tidak mengatakan bahwa isi kotak adalah Ping-hoat yang dicarinya itu.

Dia seorang laki laki polos dan jujur tak mengenal kelicikan orang, bukan karena bodoh atau ceroboh, ia berpikir: "Mungkin bukan dia saja yang mencari Ping-hoat itu, mungkin punya teman lain. Sengaja dia bawa kotak ini untuk memancing perhatian orang, sedang Ping-hoat yang sesungguhnya ditangan temannya itu?" lalu terpikir lagi: "Kalau rekaanku tidak benar, hanya ada sekesimpulan; yaitu Ping-hoat karya Go Yong itu belum ditemukan orang, perbuatannya hanya pura-pura membingungkan orang lain. Peduli rekaanku benar atau salah, biar aku ke Liang-san melihat gelagat !"

Dia anggap pikirannya cukup beralasan dan benar. Belum lagi tiba dikaki gunung Liang-san ditengah jalan dia bersua seorang yang baru turun gunung.

Dengan lesu dan kecewa Hek swan-hong turun dari Liang-san, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki kulit hitam mendatangi, tangannya bawa kotak kayu, keruan bercekat hatinya baru saja ia hendak membuka mulut laki-laki hitam itu sudah membentak lebih dulu: "Bocah keparat berdiri disitu !"

"Siapa kau?" teriak Hek swan-hong, "Dari mana kotak itu kau dapat?"

Laki-laki hitam juga berteriak-teriak: "Apakah kau tadi bersama In tiong-yan ?"

Dua pihak sama bertanya, sejenak Hek swan-hong tertegun, batinnya; "Orang ini tahu In tiong-yan sudah tiba di Liang-san, siapakah dia? kepandaian In tiong-yan bukan olah-olah tinggi, masa dia mampu merebut Ping-hoat itu dari tangan In-tiong-yan? Atau In-tiong-yan sendiri yang berikan kepada dia. Mungkin dia komplotan ln-tiong-yan? Hmm, semoga In-tiong yan bukan bangsa Kim, namun bila dia benar orang Kim, maka laki Iaki hitam ini jelas adalah musuhku, peduli apa yang perlu Ping hoat itu harus kurebut kembaIi.''

Watak laki laki hitam itu berangasan dan kasar, hardiknya; "Hai. apa kupingmu tuli? Lekas katakan apakah In tiong yan bersama kau di Liang san?"

"Apakah dia yang suruh kau mencari aku?" Hek-swan hong balas bertanya, "Huh siapa kau?" dia anggap orang sengaja hendak cari gara-gara kepada dirinya.

Orang itu membentak pula: "Locu tak sabar lagi putar lidah, lekas kau jawab betul atau tidak!"

Timbul amarah Hek-swan hong jengeknya dingin; "Kalau benar mau apa?''

Kedua pihak saling curiga, sebelum lagi lagi Hek swan hong selesai bicara orang itu sudah ayun tangannya mengemplanh ke arahnya.

Karuan dongkol dan gusar Hek swan hong dibuatnya, serunya: "Belum pernah aku ketemu orang tidak kenal aturan macammu ini !"

Post a Comment