Gadis itu tertawa dingin, ujarnya: "Bangkotan tua ini berani mengatakan hukuman kurang adil ? Kalau punya alasan silakan dekat, kalau tidak akan tiba giliranmu. Kalian siapa yang ingin membantu silakan maju, Nonamu tiada waktu menanti !"
Toko Hiong bisik-bisik, katanya : "Hu-wan heng, mari maju bersama !"
Belum sempat mereka bergerak, tampak selarik sinar berkelebat di susul jeritan keras yang menyayat hati, tampak darah segar membasahi muka Lian Hou-bing. Tapi kali ini bukan terkorek biji matanya, tapi terpapas sepasang kupingnya.
Gadis itu meloncat keluar kalangan, katanya : "Keputusanku pasti adil, Lian Hou-bing memang tidak berdosa terhadapku, tapi kupingnya terlalu lemah, gampang dihasut oleh sang murid, maka kedua kupingnya itu harus dipapas saja. Lebih enak bukan dipapas kuping dari pada dikorek biji mata ? Kalian terima tidak keputusannya ?"
Orang lain mana berani bercuit, Toko Hiong dan Huwan Pau tanpa berjanji menarik kakinya yang hampir melangkah. Harus dimaklumi bahwa kepandaian Lian Hou bing tidak lebih lemah dari kemampuan mereka. Apalagi mereka menyaksikan Lian Hou-bing dipermainkan seperti kucing mempermainkan tikus, sudah tentu nyali mereka menjadi ciut dan mengkerut.
Gadis baju putih celingukan kian kemari dengan takabur, melihat tiada seorang yang berani maju, ia terkekeh-kekeh serunya : "Bagus, kalian tiada yang menentang keputusanku yang adil ini. Aku mau pulang saja!" gema tawanya masih mendengung diatas pegunungan, hanya sekejap saja bayangan si gadis sudah menghilang tanpa jejak.
Semua orang saling pandang seperti orang linglung kehilangan semangat, entah apa yang harus dibicarakan.
Rada lama kemudian baru Lian Hou bing bicara : "Selama hidup belum pernah orang she Lian terhina begini rupa. Ai, seorang budak kecil saja tidak ungkulan, main gagah apa lagi hendak menempur Hek-swan-hong !"
Hubungan Huwan Pau rada kental dengannya, segera ia maju membubuhi obat, katanya : "Tak perlu putus asa Lian-toako, ada begini banyak orang, kenapa harus takut menghadapi musuh tangguh ? Bangkitkan semangatmu kita beramai membekuk Hek-swan-hong, setelah itu cari kesempatan untuk menuntut balas kepada budak keparat itu !"
Lian Hou-bing mengedip-ngedip sepasang matanya, tiba-tiba ia mengalirkan air mata, katanya dengan hambar : "Kau, apa yang kau katakan ? Ai, aku, aku tidak dengar suaramu!"
Baru sekarang Huwan Pau tersentak sadar dan maklum, setelah kupingnya terpapas oleh si gadis sekarang menjadi tuli. Toko Hiong menjemput senjata Lian Hou-bing yang jatuh tadi, lalu menulis perkataan Hu-wan Pau diatas tanah.
Dalam hati Lian Hou-bing menjengek, batinnya: "Manis dimulut saja kenapa tadi kalian berpeluk tangan?'' dalam keadaan cacat dan kepepet lagi, kecuali bergabung apa pula yang dapat dilakukan? Terpaksa ia manggut-manggut setuju.
Di hadapan sang guru, murid yang telah picak itu menuding matanya yang masih mengalirkan darah dan berkata: "Aku sudah buta, mana bisa berkelahi lagi?"
Lian Hou-bing maklum akan isyarat tangannya, tanpa terasa ia menghela napas rawan, ujarnya: "Kaulah biang keladinya sehingga aku ikut celaka. Baik kau pulang lebih dulu. Kalau Hek swan-hong mengagulkan diri sebagai orang gagah tak mungkin turun tangan terhadap manusia picak macammu."
Dua orang sahabat undangannya cepat-cepat tampil kedepan serta berkata: "Jalan pegunungan licin dan belak-belok, mana muridmu dapat turun gunung ? Biarlah aku yang mengantarnya pulang."
"Aku bukan takut terhadap Hek-swan-hong, namun menolong orangpun tak kalah pentingnya. Kudoakan semoga kalian sukses, lain waktu pasti Siaute datang kirim selamat."
"Baik, baik !" jengek Hian-king Tojin dingin, "memang tepat sekali kalian menjabat tugas ringan ini."
Kedua orang itu anggap tidak dengar, mereka memayang murid Lian Hou-bing yang picak itu turun gunung dengan langkah lebar.
Saat mana mereka berdiri di mulut ngarai yang banyak angin, tiba-tiba hembusan angin pegunungan yang keras menerpa dengan kuat membawa debu dan pasir, semua orang bergidik kedinginan. Mereka adalah kaum persilatan yang membekal kepandaian tinggi, sudah tentu tidak takut hawa pegunungan yang dingin. Jadi kedinginan yang mendirikan bulu roma ini bukan karena hembusan angin pegunungan tapi timbul dari lubuk hati masing-masing karena rasa ketakutan.
Tiba-tiba Toko Hiong tersentak sadar, ia mendongak melihat cuaca sang surya tepat di tengah cakrawala, ia berteriak: "Hek-swan-hong mungkin segera tiba, kedudukan disini tidak menguntungkan, cepat kita kembali ke tempat semula !"
"Kita harus sepakat," seru Ciok Goan, "kalau Hek-swan-hong tiba, kita maju bersama membekuknya, siapapun tak boleh mundur."
Huwan Pau jengkel, jengeknya : "Tak usah dipesan kedua kali oleh Ciok Ji-cengcu. Kita adalah musuh Hek-swan-hong, sudah tentu harus bergerak serempak."
Belum habis kata-katanya, mendadak terdengar sebuah suitan panjang yang melengking tinggi seperti naga mengeluh.
Semua terperanjat dan mendongak bersama, tampak diatas sebuah batu runcing menjulang tinggi diatas karang harimau sana berdiri tegak seorang menghadap kearah mereka, terdengar ia berkata lantang : "Apakah kalian sudah lengkap, sudah lama aku menunggu !"
Orang ini berusia dua enam atau tujuh, bermuka persegi berkulit halus putih, kedua tangannya kosong tidak membekal senjata.
"Kaukah Hek-swan-hong ?" tanya Toko Hiong dengan suara tertekan.
Maklum Hek-swan-hong malang melintang di utara dan selatan, pernah melakukan pekerjaan yang menggemparkan, tiada seorangpun yang pernah melihat muka aslinya. Tiada yang menduga bahwa Hek-swan-hong yang menggetarkan dunia persilatan adalah seorang pemuda yang gagah ganteng lagi.
Orang itu bergelak tawa lebar, serunya : "Aku tidak tahu apakah aku ini Hek-swan-hong. Kudengar julukan itu pemberian sahabat Bulim di Kanglam kepada seorang pendekar aneh. Aku sendiri terus terang tidak setanding Hek-swan-hong Li Lok dari Liang-san-pek dulu. Tapi yang mengundang kalian berkumpul dikarang kepala harimau memang aku." jelas memang dialah Hek-swan hong adanya.
Menurut rencana semula mereka menyerbu bersama. Tapi setelah berhadapan dengan Hek-swan-hong, ada yang mundur malah, yang berdiri juga berdiri gemetar tanpa bergerak. Hek-swan-hong muncul secara mendadak membuat mereka copot nyalinya.
Orang orang ini, adalah ahli silat yang punya kepandaian mata pandang empat penjuru kuping mendengar delapan jurusan, tapi tiada satu orangpun diantara mereka yang tahu kapan Hek-swan-hong tiba, setelah dia bersuit panjang baru mereka tersentak ketakutan. Boleh dikata tanpa bertempur, Hek-swan-hong sudah bikin nyali mereka pecah dengan siutan yang berwibawa tadi.
Toko Hiong dan Huwan Pau mengemban tugas Gi lim kun untuk membekuk Hek-swan-hong untuk membongkar perkara misterius di kerajaan Kim. Setelah tenang, mereka berpikir, "Orang ini berusia muda, belum tentu punya kepandaian sejati, mungkin hanya main gertak dengan suara dan mengandal Ginkangnya melulu.''
Terdengar Hek-swan-hong berkata lagi : "Aku punya permusuhan berat atau ringan dengan kalian, hari ini kalian kuundang untuk menyelesaikan pertikaian itu. Tapi karena keadaan kalian tidak sama, akupun bekerja secara serampangan, maka harus kubedakan berat dan ringan persoalannya. Boleh kalian pilih sebelumnya cara penyelesaiannya, diselesaikan secara debat atau pakai kekerasan boleh pilih sendiri, bertanding secara kesatria atau main keroyokanpun boleh, mau adu jiwa atau main sentuh saja juga akan kulayani, silakan bicara lebih dulu."
Toko Hiong dan Huwan Pau saling mengedip mata, tiba-tiba melompat maju dari kanan kiri seraya membentak : "Kau buronan dari istana, jangan banyak bicara, serahkan jiwamu !"
Hek-swan hong tertawa ujarnya : "Baik, jadi kalian ingin adu jiwa ?" Ditengah gelak tawanya, pelan-pelan Ciok Goan merunduk dari semak belukar di belakangnya, lansung menimpukkan segenggam pasir beracun.
Ciok Goan berpikir picik dan licik, di saat Hek-swan-hong bicara dan menghadapi dua lawan berat, dia membokong dengan pasirnya, dengan harapan sekali gebrak mendapat hasil yang memuaskan.
Hek swan hong tengah mengawasi gerak gerik Toko Hiong dan Huwan Pau, rupanya tidak memperhatikan tingkah lakunya.
Baru saja Ciok Goan merasa girang, mendadak Hek-swan-hong menggapekan tangan, telapak tangannya seperti besi sembrani yang mengandung daya sedot hebat, pasir beracun yang bertaburan itu terjatuh ke dalam tangannya.
Terdengar Hek swan-hong tertawa dingin, ejeknya : "Hanya pasir beracun begini masa dapat melukai aku ! Dikasih tidak membalas tentu kurang hormat, nih kukembalikan barangmu !"
Seiring dengan kata-katanya terlihat ia mengayun tangan, segenggam pasir beracun tadi ditabur kembali. Waktu Ciok Goan menimpuk tadi merasa pasirnya terlalu sedikit, kini sebaliknya ia merasa pasir beracun terlalu banyak, menerpa dari berbagai penjuru dengan kecepatan penuh, untuk berkelit juga tidak mungkin lagi.
Lekas Ciok Goan kerahkan tenaga di kedua telapak tangan, menghantam serabutan sehingga angin menderu keras, harapannya dapat menyampok jatuh pasir pasir beracun itu. Tapi tenaga Pik khong-ciangnya lebih lemah dari kemampuan Hek-swan-hong, dalam sekejap mata pasir beracun menerpa tiba, terpaksa Ciok Goan pejam kedua matanya. Terasa seluruh muka panas dan gatal gatal seperti disengat kumbang. Dia sendiri belum jelas akan kejadiannya tapi orang lain melihat jelas bahwa seluruh mukanya penuh dihiasi pasir pasir beracun. Karuan seluruh muka menjadi jelek seperti oraug sakit lepra, burikan bertemu darah.