Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 11

Memuat...

"Sesama kaum persilatan mengukur kepandaian adalah kejadian jamak," ujar Hek-swan-hong, "kita bertanding saling tutul atau jamah saja kenapa mempersoalkan untung rugi segala ? Tuan rumah harus berlaku hormat kepada tamu, maka silakan Totiang mulai !"

Kalau yang dihadapi orang lain pasti sudah dimaki oleh Hian-king Tojin, tapi lawan menggunakan dahan pohon, kepandaian Hek-swan hong memang menakjupkan dan lihay itu sudah disaksikan sendiri, oleh karena itu bukan saja tak berani marah, malah hati rada keder dan segan. Tapi terpikir olehnya : "Aku hanya ingin melihat kehebatan ilmu pedangnya, kalau betul betul kuat dari aku, kenapa harus malu kehilangan muka ?" segera ia membuka suara: "Baik, Pinto mulai dulu !" pedangnya berputar memetakan kembang bersinar, tahu tahu ujung pedang menyelonong menusuk kearah musuh.

Hek-swan-hong berseru memuji, ringan sekali dahan pohonnya menyampok miring ujung pedang, serta sedikit menyendal dan menuntun pedang kesamping, tanpa kuasa pedang Hian-king totiang tertuntun kesamping.

Merah muka Hian king Tojin, katanya, "Tak usah sungkan. Harap sungguh-sungguh memberi petunjuk !" sembari bicara pergelangan tangan membalik, berbareng tubuhnya mendesak maju dengan gerakan yang cukup hebat, kakinya melangkah menggunakan langkah Teng-san gua-hou (naik gunung menunggang harimau), pedangnya bergerak dengan jurus Tam-le-ki cu (menepuk keledai mengambil mutiara), tipu serangan ini cukup ganas dan lihay, maksudnya hendak mendesak Hek-swan hong balas menyerang.

Kebutan ringan dari dahan pohon Hek-swan-hong tadi, menggunakan tenaga lengket dari kepandaian silat tingkat tinggi. Kegunaannya mengandal lwekang bukan jurus tipu ilmu pedang, maka boleh dianggap belum melancarkan ilmu kepandaiannya.

Hek-swan-hong berpikir: "Kalau tidak menang dalam adu ilmu pedang tentu Tojin ini bukan mau mengalah secara lahir batin." memang dia ingin melihat keseluruhan dari permainan Sun-goan-kiam-hoat, maka ia berkata: "Baik, aku menurut kehendakmu saja!" dahan pohon di tangannya disendal keatas, meniru gaya serangan lawan serangannya menusuk tenggorokan lawan.

Jurus ini bergerak belakangan tapi sampai lebih dulu, cukup ganas lagi sehingga lawan harus menolong diri dulu sebelum mencelakai musuh, senjata yang digunakan meski hanya sebuah dahan pohon tapi membawa desir angin yang cukup keras, terang ia telah kerahkan tenaga murni, bila tertusuk tenggorokan pasti tembus mati konyol.

Hian-king Tojin tak berani menyerang lagi, cepat ia tarik kembali pedangnya untuk menjaga diri. Gebrak permulaan dilancarkan secara gencar membadai, sekarang tiba-tiba bertahan, ini perobahan merupakan suatu pekerjaan yang sangat sulit, namun karena ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat tinggi dapat bergerak menurut sesuka hati. Walaupun gerak geriknya rada runyam, namun berhasil memunahkan serangan telak Hek swan-hong.

"Menyerang ganas bertahan kuat, Sun-goan-kiam hoat betul betul tak bernama kosong!" demikian puji Hek-swan hong, mulut bicara dahan pohon tetap bekerja lincah, setiap jurus mengandung tipu-tipu lihay yang menyerang gencar dari berbagai penjuru, sekaligus ia lancarkan serangan puluhan jurus.

Bermula Hian king Tojin memperhatikan, umpama lwekang sendiri bukan tandingan lawan, dalam hal ilmu pedang dirinya pasti lebih unggul. Baru sekarang ia insyaf bukan saja Hek-swan hong lihay dalam ilmu pukulan, lwekangnya tinggi, ilmu pedang ternyata jauh diatas kemampuannnya juga.

Hian-king Tojin kerahkan seluruh tenaga dan lancarkan permainan pedangnya yang paling hebat, kakinya beruntun menyurut mundur delapan langkah baru berhasil mematahkan serangan berantai Hek-swan-hong, sekarang situasi berobah lagi, disamping menyerang juga menjaga diri.

Puluhan jurus kemudian kedua pihak mulai lancarkan permainan tingkat tinggi, mendesak dan menyapu bagai kera menerobos semak pepohonan, mundur seperti ular naga berlenggok, melejit tinggi laksana burung elang melayang ke angkasa, menukik seperti harimau galak menerkam mangsanya.

O^~^~^O

Adu pedang kali ini sungguh hebat dan menegangkan, para penonton kabur pandangannya, semua menonton dengan menahan napas. Setiap samberan pedang membawa angin deras menimbulkan keresekan daun-daun pohon yang berjatuhan.

Kira-kira setengah jam kemudian permainan Hek swan hong mendadak berubah, dahan pohon di tangannya berobah lincah laksana ular hidup yang menjulurkan lidah, tiba-tiba depan lalu belakang, dilain saat dari kiri lalu menyergap dari kanan, gerak perobahannya sangat lihay dan sulit diraba.

Setiap jurus permainan Hian king Tojin seperti sudah diraba dan diketahui lebih dulu kemana juntrungannya, sehingga dengan mudah ia bergerak mendahului dan menjaga serta memunahkannya, keruan Hian-king menjadi kewalahan dan hanya bertahan saja.

Rupanya Hek-swan-hong sengaja memberi kesempatan Hian king Tojin memainkan tiga belas jurus Sun-goan-kiam-hoat. Setelah lengkap menyaksikan intisari permainan ilmu pedang lawan maka dengan mudah ia meraba jurus demi jurus serangan pedang lawan itu karena Hian-king Tojin gopok dan bukan tandingannya lagi.

Besar hasrat Hian-king Tojin memapas dahan pohon lawan namun setiap jurus permainannya selalu dikunci lebih dulu. Apalagi serangan pedang lawan selalu mengancam jiwanya pula, maka setelah bertempur sekian lama, meski memeras keringat hasratnya tetap kandas di tengah jalan.

Mendadak Hian king Tojin : "Ilmu pedang jelas aku tidak bisa menang untung pertandingan ini hanya saling ukur kepandaian saja. Andaikata aku terluka bila dapat memapas dahan pohonnya, berarti pertandingan ini seri alias sama kuat." setelah ambil keputusan, sengaja ia bergerak lamban begitu dahan pohon Hek-swan hong menutul datang, tiba tiba pedangnya melintang terus menangkis serta menyontek. tampak sinar pedang gemerdep.

Tak duga, meski perhitungan sangat muluk dan rapi, sayang sekali kejadian justru tidak memenuhi harapan, dalam kejap yang menentukan itu, Hian king Tojin merasa pergelangan tangan mendadak kesemutan, pedang panjangnya jatuh diatas batu-batu gunung dengan suara keras.

Dahan pohon yang dipetik Hek-swan-hong tadi dimana terdapat beberapa lembar daun hijau. Tatkala Hek-swan hong meloncat keluar kalangan pertempuran, tampak dahan pohon itu masih utuh seperti semula, hanya daun yang terletak di paling ujung kurang dua lembar.

Hek-swan-hong membuang dahan pohon, katanya tertawa; "Ilmu pedang bagus, ilmu pedang bagus ! Kalau orang lain tentu tak dapat memapas daun diatas dahan pohonku. Kita sama-sama menang satu jurus, anggap saja seri dan tak perlu dilanjutkan lagi."

Jengah muka Hian-king Tojin, katanya: "Terima kasih akan kemurahan tuan. Pinto benar-benar tunduk dan mengaku kalah lahir batin." ternyata tutukan ringan dahan pohon dipergelangan tangan tadi ditambah tenaga, maka Sau yang sim-meh pasti terluka, ini berarti seluruh lengan kanannya bakal cacat selama hidup tak bisa bermain pedang lagi.

Bing Ceng ho berkata; "Pertandingan pedang ini betul betul membuat mata kita terbuka ! Ilmu pedang Hek Tay-hiap betul-betul menakjupkan, demikian juga kepandaian Hian-king Totiang tiada seorang diantara kita yang dapat memadai. Kalau aku mungkin tiga jurus saja tak mampu bertahan." sebagai bangkotan Kangouw yang pandai bicara kata katanya memang enak didengar. Sengaja ia membela kehormatan dan gengsi Hian-king Tojin, hakikatnya ia bicara dari perasaan lubuk hati yang dalam.

"Bing lopiauthau, jangan tempel emas di mukaku," kata Hian king Tojin merendah, "bicara terus terang, kedatanganku dikarang kepala harimau meski diundang oleh Ciok cengcu tapi tujuanku mencari kesempatan untuk belajar kenal dengan kepandaian Hek tayhiap yang hebat luar biasa. Memangnya kau anggap aku betul betul suka membantu kelaliman? Sekarang sudah terkabul keinginanku, kalau Hek tayhiap dapat memaklumi dan suka memberi kelonggaran, segera Pinto minta diri."

Hek swan hong tertawa, ujarnya; "Maksud Totiang begitu bergebrak tadi lantas kuketahui. Aku tidak salah paham pada Totiang. Kalau sudi marilah kita ikat persahabatan !" ia ulur tangan, serta merta Hian king Tojin ulur tangan, mereka berjabatan, Hek-swan hong minta supaya tunggu lagi sementara waktu.

Sekarang tinggal urusan Piaukiok Bing Ceng-ho yang masih belum terselesaikan, kebat-kebit hati bing Ceng-ho, dari samping ia mengawasi air muka Hek-swan-hong.

Hek- swan-hong berkata, "Sebetulnya aku tidak bermaksud mempersulit perusahaan kalian. Soalnya harta benda milik Kan Goan-pek itu adalah harta benda rakyat jelata, betapapun aku tidak akan membiarkan dia menikmati harta benda yang tidak halal itu !"

Tenggelam perasaan Bing Ceng-ho, katanya tertawa getir : "Tapi celaka adalah perusahaan kita karena Kan Goan pek menuntut kepada kita."

"Bing lopiauthau tak usah kawatir," ujar Hek-swan-hong tertawa lebar. "Urusan sudah kuselesaikan beres, pihak pemerintah takkan mencari perkara kepada perusahaan kalian!"

Kejut dan girang Bing Ceng-ho namun rada sangsi, katanya: "Residen Kam mengutus seorang petugas menunggu jawaban kita di Soh-ciu, mana mungkin perkara ini dibikin selesai begitu cepat dan gampang? Bukan Losiau tidak percaya, harap tuan memberi penjelasan."

Hek-swan hong tertawa, ujarnya: "Ada sebuah bukti boleh kau lihat, tanggung kau akan lega dan senang." lalu disodorkan sepucuk surat kepada Bing Ceng-ho, diatas sampul ada cap tanda kebesaran residen Kan Goan pek. Itulah sepucuk surat perintah kepada petugas di Soh-ciu, surat itu menyatakan bahwa barang hantaran yang hilang telah dirampas kembali oleh pihak Hou-wi piaukiok, supaya penjahat di Soh ciu membatalkan perkara ini.

Keruan Bing Ceng ho kegirangan serunya; "Bagaimana duduk perkaranya?"

"Aku suruh Kan Goan-pek membuat surat itu," tutur Hek swan hong, "Kawatirkan tidak percaya sampul surat ini kucuri dari gedung bupati Soh ciu. Perkara ini sudah beres, maka sampul surat juga dikembalikan. Kau sudah lihat, cap ini bukan palsu bukan? sekarang boleh kau kembalikan kepadaku."

Hian king Tojin tertawa katanya: "Bing-lopiauthau, untuk selanjutnya bukan saja perusahaan hantaranmu tidak perlu tutup pintu, malah akan terima pahala !"

Saking girang Bing Ceng ho terbahak-bahak, dengan mulut tertawa lebar. Sambil mengembalikan sampul surat itu kepada Hek-swan hong, ia berkata: "Setelah kehilangan harta bendanya yang tidak halal Kan Goan-pek pasti tak bisa makan dan tidur, beberapa hari ini kelihatan lebih sedih dari kematian orang tuanya. Sungguh diluar dugaan kalau dia mau menarik perkara yang sudah hampir diasingkan ini."

Post a Comment