Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 13

Memuat...

"Lama sudah aku mengagumi kepandaian nona, tak perlu main jajal segala, aku mengaku kalah saja !" sahut Hek-swan hong.

"Tidak bisa! Kau tidak pandang sebelah matamu pada orang lain. Aku tahu ucapanmu bohong belaka !"

"Bicara dengan orang lain mungkin bohong terhadap nona aku bicara sungguh-sungguh!"

Dengan muka cemberut gadis itu melolos pedangnya bentaknya: "Hek-swan hong, jangan putar lidah saja, lihat pedang!"

"Aduh!" Hek swan hong berteriak, "aku bicara sungguh kau anggap cerewet, sungguh penasaran ! Ai, apa benar kau ingin bertanding?"

Gadis baju putih menjadi gusar, semprotnya: "Kalau tidak sungguh memangnya main main? Huh kau tak membalas, jangan mengeluh kau celaka." sembari bicara beruntun ia lancarkan tiga serangan lagi, setiap jurus serangannya merupakan permainan pedang yang cukup ganas dan hebat. Terpaut serambut saja hampir badan Hek-swan-hong berlobang kena tusukan.

Dirabu oleh serangan pedang yang ganas Hek-swan-hong keripuan menyelamatkan diri, aliasnya bertaut, katanya: "Untuk menghormat lebih baik menurut perintah. Kalau nona ingin bertanding pedang, terpaksa aku menunjukkan kebolehanku." maka ia mulai bergerak mematahkan serangan lawan berbareng balas menghantam, kedua telapak tangannya seperti menutup bagai mengancing bergerak memutar kedua arah yang berlawanan lalu menggencet pergelangan tangan si gadis.

Jurus ini punya nama khusus yaitu Sam-coan hwat-lun, merupakan cangkokan Siau-kim-na jiu-hoat dari Siau-lim pay mengandung inti sari Pukulan Siau-ciang dari Bu-tong pay. Inilah Khong-ciu-jip to, kepandaian tangan kosong yang punya perubahan sangat menakjupkan. Kalau gadis baju putih teruskan dengan serangannya, pasti Hek-swan-hong bisa mengubah posisinya sedemikian rupa, dari terdesak berbalik menyergap. Pada kekosongan lawan mungkin merampas pedangnya.

Diam-diam si gadis merasa kagum dan memuji dalam hati, seiring dengan gerak kakinya, pedangnya ikut bergerak merubah sasaran dengan serangan yang cukup keji pula. Tapi disamping menyerang sekarang ia cukup hati-hati melindungi diri pula. Hek-swan-hong hendak menipunya masuk perangkap, namun dia cukup cerdas untuk menempatkan diri.

Begitu kebentur lantas berpencar, begitu kesenggol terus mundur, sekejap saja mereka bertempur tiga lima puluh jurus, sedikitpun Hek-swan hong tak memperoleh keuntungan. Tapi dengan sebilah pedang tajam, si gadis melawan sepasang tangannya yang kosong, sejauh mana masih bertahan sama kuat, karuan hatinya amat gemas dan mendelu, timbul keinginannya untuk segera merebut kemenangan.

Hek-swan-hong melihat perubahan mimik mukanya yang kurang tentram, dalam hati ia berpikir : "Sebetulnya sukar aku mengalahkan dia, tapi kalau dia terburu nafsu aku akan dapat peluang malah. Tapi umpama aku bisa menang, juga berabe, lebih baik seri saja. Tapi untuk membuat seri inilah yang sulit." Terpaksa ia berpikir lagi : "Kalau tidak biarlah dia tahu diri dan mundur teratur."

Belum lenyap pikirannya, gadis baju putih telah menambah tekanan serangannya lebih gencar lagi. Hek-swan-hong sudah melihat kekosongan lawan, berbareng juga mendesak maju, bertempur selama tiga lima puluh jurus diam diam ia sudah menyelami ilmu silat gadis baju putih. Menurut dugaannya si gadis dapat meraba kemana arah serangan balasan dari pukulannya yang lihay ini, betapa juga ia tentu mundur untuk menghindar. Asal sekali mendapat inisiatif untuk turun tangan, gebrak selanjutnya tentu lawan dapat didesak dibawah angin.

Sungguh diluar perhitungannya, "ser !" tiba-tiba ujung pedang si gadis meluncur dari arah yang tak terduga, menyerang Hek-swan hong. Jurus ini adalah serangan untuk musuh yang menyelamatkan diri lebih dulu dari pada melukai lawan. Kalau Hek-Swan-hong tidak ingin gugur bersama, berbalik adalah dia sendiri yang bakal kena terdesak mundur. Untung perbendaharaan ilmu silatnya cukup kaya, kepandaiannyapun cukup matang, dilancarkan dapat ditarik kembali sesuka hati, meski kesempatan turun tangan lebih dulu telah hilang, tapi belum sampai kecundang.

Jurus pedang si gadis dilancarkan secara kebetulan dan untung-untungan, tak lain karena perobahan ilmu pedangnya rumit dan lihay, di luar perhitungan Hek-swan-hong lagi. Karuan Hek-wan-hong mengeluh dalam hati diam-diam ia menyesali kecerobohan sendiri, pikirnya; "Kusangka sudah menyelami inti sari ilmu pedangnya, tak nyana masih sukar dijajagi." serta merta timbul seleranya, batinnya : "Ilmu pedang gadis ini berbisa dengan kungfu perguruan ternama. Permainannya aneh dan menakjupkan pula, gerak perobahannya tak habis dan sulit diraba. Biarlah aku jajal sampai dimana sebetulnya tingkat kepandaiannya."

Untuk gebrak selanjutnya Hek-swan-hong lebih rajin berkelahi, seluruh kemampuannya diboyong keluar. Ilmu pukulannya juga berobah, dua jari tangan terangkap sebagai pedang, ia mulai dengan ilmu pedang untuk bermain petak dengan si gadis baju putih.

Permainan kombinasi ilmu pukulan, ilmu pedang dan ilmu tutuk yang dimainkan Hek-swan hong adalah ilmu tunggal dari perguruannya yang tak ada duanya di kalangan Kangouw. Sejak ia mengembara, belum pernah ia gunakan secara lengkap untuk menghadapi musuh, sekarang baru pertama kali ini dimainkan.

"Hah, kan begitu baru memenuhi selera!" tiba-tiba si gadis berseru.

Tangkas sekali pedang si gadis berputar, menunjuk sinar pukul barat, menuding selatan tusuk utara, hawa pedang berseliweran laksana lembayung sinar pedang berkilauan menyilaukan mata. Tapi sedikit pun Hek-swan hong tidak terpengaruh, tenang dan tabah, sebelum ujung pedang lawan menusuk, tiba-tiba pundaknya mendadak kebawah, berbareng telapak tangan kiri meraih kedepan, dengan kekerasan ia hendak rampas pedang lawan. Dalam sejurus ia lancarkan tiga macam gerakan tangan yang berbeda beda, dibanding Khong-jiu-jip-pek-to yang dimainkan tadi, entah berapa kali lebih lihay dan mengagumkan.

Diluar dugaan, serangan pedang si gadis seperti menusuk tulang pundaknya, begitu telapak tangannya mencengkeram, mendadak menusuk miring ke samping. Sudah tentu Hek swan-hong menangkap tempat kosong, jari yang menutuk dirobah menjadi jurus ilmu pedang, menusuk jalan darah Lau-kiong-hiat di telapak tangan kiri yang bergerak mengikuti ilmu pedangnya. Meski serangannya dipatahkan ditengah jalan betapapun masih dapat mengancam lawan. Tapi si gadis tidak segugup dugaannya semula, Hek-swan hong merasa angin berkesiur, tahu-tahu si gadis baju putih melesat lewat dari samping tubuhnya. Gebrak kali ini kedua pihak telah menggunakan ilmu simpanan perguruan yang sangat mempesonakan, akhirnya masih sama kuat, belum kelihatan pihak mana lebih unggul atau asor.

Sekonyong-konyong di delapan penjuru angin tampak bayangan si gadis baju putih berkelebat, ujung bajunya melambai-lambai, kuntum demi kuntum sinar pedang berhamburan simpang siur, laksana puluhan ujung pedang yang tajam menusuk tiba dari berbagai penjuru. Beul-betul tenang sekokoh gunung, bergerak selicin belut, gerak tubuhnya selincah kelinci, gerak permainan pedangnya sulit diikuti dan diraba.

Tanpa merasa Hek-swan-hong menjadi gatal dan timbul keinginan menang sendiri setelah bersuit panjang ia berkata : "Bagus, biar aku belajar kenal dengan Ginkang nona !" kakinya melangkah dengan letak Ngo heng pat-kwa, sekejap mata ia bergerak mengganti kedudukan dan puluhan posisi yang berlainan. Meski si gadis baju putih menyerang dari delapan penjuru angin sejauh itu belum dapat menyentuh ujung bajunya.

Pertempuran semakin sengit, suatu ketika pedang si gadis menjulur mengarah tenggorokan, jari tengah Hek swan hong menyentik "creng !'' tepat kena menjentik batang pedang meminjam daya jentikan ini, si gadis menutul tanah, tubuhnya melejit tinggi ke udara, di tengah udara ia jumpalitan sekali, pedangnya berputar laksana kitiran dengan dengan gaya elang menerkam kelinci, dari atas pedangnya merabu dengan tusukan dan babatan. Seluruh tubuh Hek swan hong terkurung dalam bayangan sinar pedang.

Memang tidak malu dia berjulukan si Angin Puyuh, kelihatan ia berputar seperti angin puyuh, badannya berputar mumbul keatas terus melayang dari atas kepala gadis baju putih, keduanya berkelebat lewat berlawanan arah di tengah udara tanpa tersentuh sedikit pun.

Dalam detik yang sama keduanya hinggap di tanah membalik dihadapan. Si gadis baju putih berkata; "Dengan tangan kosong kau hadapi pedangku, kepandaianmu patut dipuji. Baiklah aku sudah belajar kenal kepandaian sejati, selamat bertemu !" sikapnya kelihatan puas dan senang sekali.

Mendengar nada ucapan orang seolah-olah mengalahkan dirinya seketika Hek-swan-hong tertegun tiba-tiba terasa dadanya dingin dihembus angin pegunungan, waktu ia nunduk tampak baju didepan dadanya sudah sobek dengan tanda, terang adalah buah karya ujung pedang si gadis baju putih.

Sebentar tertegun, Hek-swan hong lantas berkata; "Nona tunggu sebentar."

Berjengkit alis lentik si gadis, katanya berpaling; "Kenapa kau tidak terima kalah?"

"Ilmu pedang nona sangat lihay dan mengagumkan, jauh diatas kemampuanku untuk ini aku mengaku kalah." demikian Hek swan-hong merendah. "Tapi ada sebuah barang jangan nona lupa membawanya pulang!"

Si gadis baju putih melengak heran, tanyanya, "Barang apa ?"

Tampak telapak tangan Hek Swan-hong menggenggam sebuah tusuk kondai kemala diulurkan kepadanya.

Seketika si gadis mengunjuk rasa malu dan merah. Tusuk kondai kemala ini adalah miliknya yang terselip disanggul rambutnya. Dia sangka dirinya menang sejurus, tak diketahui olehnya waktu berpapasan lewat tengah udara tadi, Hek-swan hong berhasil mencomot tusuk kondai kemala diatas kepalanya.

Hek-swan hong bergelak tawa, ujarnya : "Untung nona menaruh belas kasihan, kalau tidak dadaku tentu sudah berlobang. Kalau dinilai sesungguhnya kau lebih unggul dari aku, kelakuanku yang kurang sopan ini harap nona suka memaafkan !"

Setelah dipikir pikir, si gadis merasa geli sendiri, batinnya : "Cukup menyenangkan juga. Ternyata maksud hatinya sama dengan aku, cukup saling tutul saja. Lebih menakjupkan lagi karena kedua pihak melancarkan kepandaian paling tinggi, kedua pihak sama-sama tak tahu dan merasakan bahwa dirinya kecundang. Tapi kalau bergerak sungguh-sungguh, ujung pedangku belum tentu dapat menusuknya mati. Tapi tepukan tangannya dibatok kepalaku cukup menamatkan riwayatku." Maka ia berkata: "Tak usah kau menghibur hatiku. Hari ini kau tidak kalah, akupun tidak menang kita seri." sembari berkata ia tancapkan tusuk kondai di atas kepala terus putar tubuh hendak pergi.

Post a Comment