Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 12

Memuat...

"Sudah tentu dia tidak mau tunduk," ujar Hek swan hong, "tapi terpaksa dia harus patuh ! Kalau dibicarakan betapapun aku harus berterima kasih kepada kau, kau meninggalkan sarang Kan Goan-pek dan datang disini sehingga aku ada kesempatan turun tangan."

Ternyata setelah Bing Ceng-ho, Oh Kan dan lain lain meninggalkan gedung kediaman Kan Goan-pek baru Hek swan-hong menyelundup kekamar tidur Kan Goan-pek, rambut kepalanya digunduli, lalu meninggalkan sepucuk surat pernyataan yang sudah disiapkan sebelumnya diatas buntalannya dengan tusukan sebilah belati, dengan ancaman supaya menurun sepucuk pernyataan dengan tulisan tangannya.

Setelah jelas duduk perkaranya, sungguh senang Bing Ceng-ho sukar dilukiskan, sungguh terima kasih dan malu serta menyesal pula. Batinnya : "Tak kira Hek-swan hong begitu baik hati, perkara ini sudah selesai dan lebih beres dari harapanku semula." Maklum beberapa patah kata Hek-swan-hong tadi sudah menjaga nama baik dan gengsinya. Penjagaan gedung Residen Kan sangat kuat dan ketat, banyak jagoan-jagoan silat yang berkepandaian tinggi. Hek swan-hong berhasil menyelundup kesana, pergi datang semau gue, sudah tentu bukan karena dirinya tidak berada di rumah keluarga Kan, sehingga dia ada kesempatan turun tangan.

Kata Hian-king Tojin dengan tertawa : "Bing-lopiauthau, untuk selanjutnya kalau cari obyek kau harus lebih hati-hati, jangan asal mendapat untung saja !"

"Masa harus kau peringatkan lagi," jawab Bing Ceng-ho, "biar aku tutup pintu saja dari pada menghantar milik pejabat korup."

Sekarang tinggal urusan Lian Hou-bing yang belum beres. Lian Hou-bing masih berdiri mematung di tempatnya setelah terkena tutukan tunggal perguruan Hek-swan-hong. Kupingnya sudah tuli, namun kedua matanya masih awas. Dengan mendelong ia saksikan para kerabatnya ngacir satu persatu ada yang dilepas Hek-swan-hong, ada yang melarikan diri dengan membawa luka-luka, meski terluka tapi jiwa selamat. Kini tinggal nasib sendiri yang masih kepalang tanggung, keruan jantungnya kebat kebit. Meski mulut tak dapat bicara namun perasaan batinnya terlontar dari pandangan matanya yang jelilatan, kelihatan betapa takut dan kawatir hatinya.

Hek-swan-hong terbahak-bahak, katanya, "Keparat ini terlalu mengagulkan ilmu tutuknya dan suka mempermainkan lawan sekarang aku menghukumnya dengan caranya sendiri, semoga membuatnya kapok."

Hian-king Tojin berkata : "Walaupun nama Lian Hou-bing tidak begitu baik dikalangan hitam, namun dia bukan penjahat yang menempuh banyak dosa. Kupingnya dipapas orang ini sudah setimpal dan sesuai perbuatannya, harap Hek-taihiap mengampuninya!"

"Ucapan Totiang memang benar," kata-Hek swan-hong, "menilai dosanya memang belum setimpal dihukum mati. Tapi dia mengumbar murid berbuat jahat sepatutnya kalau diapun mendapat ganjaran."

Kata Hian-king Tojin, "Biji mata muridnya itu sudah dibikin buta oleh orang lain."

"Benar," sahut Hek-swan-hong, "aku ingin bertanya, siapakah orang itu? Apakah dia memberi pesan?"

"Seorang gadis baju putih yang rupawan," jawab Bing Ceng-ho. "Agaknya karena pertengkaran pribadi sehingga ia menghukum murid besar Lian Hou-bing dengan mengorek kedua biji matanya tapi tidak memberi pesan apa." secara singkat ia menceritakan cara bagaimana gadis itu memberi hukuman kepada Lian-Hou-bing dan muridnya.

Hek-swan-hong berpikir sebentar lalu berkata: "Murid besar itu memang jahat keliwat takaran, hukum korek biji mata terlalu ringan. Tapi Lian Hou-bing kehilangan kupingnya, hukuman ini cukup setimpal. Mengingat Totiang minta pengampunannya, baiklah biar dia pulang saja!" dua jari lengannya menyelentik, sekeping uang tembaga melesat tepat sekali mengincar Siang-ih-hiat ditubuh Lian Hou bing, kontan saja darahnya yang tertutuk bebas dan pulih kembali seperti sedia kala.

Lian Hou-bing menjemput kedua Boan-koan-pitnya, dengan mendelong ia awasi senjatanya itu, tiba-tiba menghela napas serta berkata rawan: "Berlatih sepuluh tahun lagi pun aku bukan tandinganmu, buat apa sepasang Boan-koan-pit ini? Untuk selanjutnya, biarlah di kalangan Kangouw tiada orang yang bernama Lian Hou-bing!" selesai bicara kedua senjatanya itu lantas dibuang kedalam jurang dibawah sana.

Hek-swan hong manggut-manggut, katanya: "Bagus, kaupun punya jiwa laki-laki sejati. Selanjutnya mencuci tangan mengasingkan diri saja, siapa tahu kelak kau mendapat hasil yang lebih besar!"

Begitulah sekali lagi Bing Ceng-ho serta Phoa Tin menyatakan banyak terima kasih yang tak terhingga besarnya, lalu bersama Hian-king Tojin minta diri turun gunung.

Setelah terjadi pertempuran sengit dan ramai, suasana karang kepala harimau kembali menjadi hening lelap. Tinggal Hek-swan-hong seorang yang berdiri menjublek dengan rasa riang, pakaiannya melambai-lambai tertiup angin pegunungan. Saking puas akan tindakannya ia bergelak tawa, setelah itu ia menunduk terpekur. Apakah yang tengah dipikirkan?

Dia memikirkan peristiwa. Pernah terjadi suatu ketika, ia hendak memenggal kepala seseorang buaya darat. Buaya darat ini adalah sampah persilatan, kepandaiannya cukup tinggi, rumahnya dilindungi dan dijaga banyak tukang pukul berkepandaian lumayan, penjagaan sangat ketat.

Sebelum turun tangan ia membuang banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya dengan sempurna. Pernah ia bertemu muka secara berhadapan dengan Buaya darat itu, dia ingat betul betul wajah orang, lalu menyelidiki keadaan sekeliling rumah gedungnya buaya darat ini setiap malam tidur bergiliran dengan gundiknya yang tak terhitung banyaknya. Tapi setiap tanggal satu dan lima belas tentu tidur sendirian dalam kamar bukunya.

Dia sudah mencari tahu, jelas dan rapi sekali, percaya bahwa penyelidikannya tidak meleset, baru ia bersiap turun tangan. Tapi kenyataan hampir saja ia gagal.

Pada malam tanggal satu, cuaca sangat gelap angin menghembus kencang dengan kepandaiannya yang tinggi mudah ia menyelinap kedalam kamar buku itu, menyingkap kelambu dan baru saja pedangnya terayun hendak memenggal kepala buaya darat itu, mendadak terbang sebutir batu dari luar jendela, tepat sekali membentur ujung pedangnya, "trang," suaranya cukup keras, keruan laki-laki yang tidur diatas ranjang tersentak bangun. Melihat seorang laki-laki sengaja berdiri didepan ranjangnya, secara spontan orang itu berteriak ketakutan.

Karena kebentur oleh krikil tadi sehingga ujung pedang Hek-swan-hong mendang sedikit, tapi kalau mau dia masih bisa memenggal kepala orang, namun setelah mendengar jeritan orang seketika merandek dan melongo, pedangnya urung memenggal.

Ternyata orang yang tidur diatas ranjang bukan buaya darat yang diincarnya itu, tapi seorang duplikat yang mirip saja. Untung Hek-swan-hong kenal suara buaya darat itu, sehingga duplikat ini tidak menjadi korban secara konyol.

Pada saat itulah terjadi keributan diluar, dari arah lain terdengar orang berteriak: "Ada pembunuh, ada pembunuh! Celaka! Batok kepala Chengcu terpenggal hilang!"

Sigap sekali Hek-swan-hong mengejar keluar tampak olehnya dipuncak loteng yang paling tinggi sana tergantung batok kepala manusia, walau malam itu gelap tak ada sinar rembulan, tapi dari cahaya obor dibawah terlihat dengan jelas tak salah lagi bahwa itulah batok kepala si buaya darat itu.

Biasanya Hek-swan-hong amat bangga akan Ginkang sendiri, tapi malam itu ia tidak berhasil menemukan jejak pembunuh itu.

Kejadian kedua lebih berbahaya dan mengejutkan. Kali ini ia beroperasi di gedung Wanyen Tiang ci, komandan Gi lim-kun dari kerajaan Kim dimana ia curi konsep penyerbuan tentara Kim keselatan.

Wanyen Tiang ci adalah tokoh silat kelas wahid dikerajaan Kim, Hek swan-hong tahu bahwa kepandaian sendiri bukan tandingan lawan, apalagi gedung pejabat tinggi dari kerajaan Kim, penjagaan tentu ketat oleh dedengkot-dedengkot silat yang tak sedikit jumlah.

Salah seorang kacung dalam gedung Wanyen Tiang-ci yang tak terhitung banyaknya itu, adalah seorang murid Kaypang yang sengaja diselundupkan kedalam sebagai mata-mata. Mendapat bantuan murid Kaypang itulah sehingga Hek swan-hong berhasil mencuri konsep kemiliteran itu. Baru saja berhasil jejaknya konangan orang.

Untung orang yang memergoki perbuatannya hanya beberapa jurus saja lantas dibunuh Hek swan-hong. Tapi sebelum ajal ia sempat berteriak minta tolong. Jelas sebentar lagi seluruh busu busu istana bakal meluruk datang, betapapun tinggi kepandaian Hek swan hong, jangan harap bisa menerobos keluar.

Tepat pada waktunya itu, mendadak kelihatan jago api menjulang tinggi ke tengah angkasa gedung rasum dalam bilangan istana itu dijilat api, sudah tentu para penjaga repot menolong kebakaran, jadi tak sempat menangkap pencuri. Karena adanya keributan ini Hek-swan hong baru berhasil melarikan diri dengan leluasa.

Beberapa hari kemudian, Hek swan-hong mencari anak Kaypang yang menjadi mata-mata didalam gedung istana itu, dia kira murid Kaypang itu yang membakar gedung itu.

Tapi anak Kaypang itu berkata : "Aku malah sangka kau yang membakar. Aku mana berani? Umpama berani tapi tak mampu membakar gedung ransum tanpa diketahui orang."

Tergerak hati Hek-swan hong, tanyanya: "Adakah kau mendengar sesuatu ?"

Anak Kaypang itu berpikir dan mengingat-ingat, lalu katanya : "Pertanyaan ini membuat aku ingat. Waktu api mulai berkobar, lapat-lapat aku seperti mendengar tawa nyaring di atap gedung ransum itu."

"Apakah suara tawa seorang perempuan ?" tanya Hek-swan hong menegas.

"Tatkala itu suasana amat ribut, para Busu berteriak-teriak tangkap maling, aku sendiri ketakutan dan kawatir bagi keselamatanmu, sehingga aku tidak menaruh perhatianku akan suara tawa itu. Ya, agaknya memang melengking nyaring seperti suara perempuan." demikian murid Kaypang itu menjelaskan.

Hek swan hong maklum bahwa gadis yang pernah membunuh buaya darat itu, malam ini telah membantu dirinya lagi.

Teringat akan kedua kejadian itu, tanpa merasa Hek-swan-hong berdiri menjublek di puncak karang kepala harimau. "Mungkinkah dia pula ?"

Angin menghembus dari samping menyampok mukanya, rumput dan daun daun pohon bergesekan mengeluarkan suara. Tiba tiba tersentak sanubari Hek-swan-hong, maka ia berseru lantang : "Budak bawel dari mana yang mencampuri urusanku ? Hm orang perlu kuhukum mana boleh orang bisa ikut campur."

Belum lenyap suaranya, tiba tiba sebuah suara nyaring berkata: "Siapa yang kau maki?" sesuai dugaan semak rumput belukar sana melompat keluar seorang gadis baju putih hanya sekejap tahu tahu sudah dihadapan Hek swan-hong.

Hek swan-hong tertawa geli, ujarnya, "Kalau tidak kumaki, mana dapat memancingmu keluar? Nona, kau telah membantu aku dua kali, selama itu aku belum pernah berterima kasih kepadamu. Kali ini jangan kau tergesa gesa, mari kita bercakap-cakap."

Tiba tiba gadis baju putih itu tertawa dingin, jengeknya: "Siapa ada tempo mengobrol dengan kau? Aku hanya ingin menjajal kepandaianmu !"

Post a Comment