Halo!

Si Angin Puyuh Si Tangan Kilat Chapter 21

Memuat...

Cin Hou-siau juga punya seorang putra bernama Cin Liong-hwi. Sebaya dengan Ling Tiat-wi, namun watak mereka jauh berbeda. Cin Liong hwi cerdik pandai, sejak kecil sudah pandai mengatur tipu daya untuk mempermainkan orang. Ling Tiat-hwi adalah lawan yang sering dipermainkan olehnya. Kalau dibicarakan memang cukup mengherankan, seorang pandai ternyata jauh ketinggalan dibanding bocah goblok dalam latihan ilmu silat. Baik diajari ayahnya, sejurus saja lantas paham dan bisa, sayang tidak tekun dan kurang rajin, begitu ada kesempatan lantas ngeluyur dan bermain suka membikin ribut dan bertengkar dengan anak tetangga. Sebaliknya Ling Tiat wi tahu bahwa otaknya tumpul, tahu tak mampu belajar dengan sempurna dan takut ditegur sang guru. Hanya sejurus guru mengajar, beruntun ia harus mengulang puluhan kali baru paham dan bisa.

Adalah jamak kalau bocah bermain sering adu mulut dan berkelahi, Cin Liong-hwi sering menyeret Ling Tiat wi untuk bantu menghajar lawannya. Kalau memang beralasan dan di pihak benar Ling Tiat wi selalu membantu, umpama dipihak salah, karena terlanjur ia tetap membantu, hanya setelah urusan selesai, secara langsung ia tegur Cin Liong wi. Kenapa Ling Tiat wi tetap membantunya menghajar lawan? Sebab dengan otaknya yang cerdas Cin Liong-hwi menipunya sehingga murid ayahnya mau membantu, belakangan baru Ling Tiat-wi sadar bahwa kesalahan dipihak Cin Liong-hwi. Maka ia maki dan tegur dia.

Suara Ling Tiat wi keras dan kasar, nyaring lagi, setiap bicara atau memaki orang seperti geledek, maka Cin Liong-hwi memanggilnya Hong-thian lui (geledek mengguntur di langit). Cin Liong-hwi tahu julukan nenek moyangnya, maka dia ambil julukan yang sama untuk buyutnya ini. Mungkin sekedar julukan yang disesuaikan keadaan, mungkin juga untuk menggoda bahwa dia punya julukan dari keturunan kakek moyangnya. Bocah kampung tiada yang jelas duduk perkaranya, mereka ikut ikutan saja memanggilnya begitu sebagai poyokan. Sampai akhirnya ayahnya juga tahu bahwa anaknya punya nama poyokan itu.

Liok Kun-lun, Pangcu Kaypang adalah sahabat ayah dan guru Ling Tiat wi. Pada beberapa tahun yang lalu Liok Kun-lun pernah bertamu di keluarga Cin, beberapa hari ayah Ling Tiat-wi juga bermalam dirumah Cin Hou siau. Pada suatu hari Ling Tiat-wi bertengkar dan ribut dengan beberapa anak tetangga, dia digiring oleh ayah anak-anak tetangga dan menghadap pada gurunya. Belum sampai diluar pintu, dari kejauhan sudah terdengar suara ribut Ling Tiat-wi, serta gemuruh tetangga yang suka iseng : "Hong-thian lui bikin perkara lagi !"

Cin Hou-siau anggap biasa kejadian itu, ia maklum akan duduk perkara yang sebetulnya, Ling Tiat-wi dijadikan kambing hitam oleh anaknya yang kurang ajar itu, Cin Liong hwi kabur menyembunyikan diri. Cin Hou siau suruh orang mencari dan menghajarnya, memang seperti dugaan semula, Cin Liong-hwi membuat gara-gara menghasut Ling Tiat-wi. Setelah menghajar dan memaki anaknya, Cin Hou-siau menghela napas panjang serta berkata : "Kakekku bernama julukan Pit-le hwe (berangasan), aku lebih suka anakku punya watak berangasan seperti moyangnya itu, jangan karena pandai selalu mengganggu dan mempermainkan orang, Ai, Ling toako, anakmu lebih kuat dan jauh menang dari moyangnya. Bocah keparat itu justru menjadi anak durhaka dari keluarga Cin kami."

Ayah Ling Tiat wi punya perhitungan dan pandangan jauh, setelah semua orang menyingkir, dihadapan dua sahabatnya ia mulai memberi pengajaran pada anaknya: "Moyangmu berjuluk Hong-thian-lui, karena dia seorang ahli membuat bermacam-macam bahan peledak, bukan karena wataknya yang berangasan atau kasar. Moyangmu membuat bahan peledak untuk membantu para pahlawan gagah Liang-san untuk menjalankan kebajikan menumpas kejahatan. Kau paham pelajaran membuat bahan peledak keluarga Ling kita sudah putus turunan, tapi adat dan pembawaan keluarga Ling kita tidak luntur. Aku suruh kau belajar silat dengan paman Cin supaya kau pandai meniru sepak terjang moyangmu menjalankan kebajikan bagi sesama umat manusia. Kau harus meniru dan jadikan moyangmu sebagai teladan, orang memanggil kau Hong thian-lui apakah kau malu dan menyesal ?"

Cin Hou-siau manggut-manggut, dia sentak anaknya supaya berlutut, katanya : "Dengar, uraian paman merupakan pengajaran juga bagi kau. Kau berdua harus selalu ingat dan prihatin !"

Liok Kun-lun tinggal beberapa hari di rumah Cin Hou-siau, kedua bocah itu memberi kesan mendalam dalam sanubarinya.

Perihal asal usul Hong-thian-lui, Hek-swan hong dengar dari mulut Liok Kun-lun. Hari itu Liok Kun-lun mengobrol tentang tunas muda dan tunas harapan kaum persilatan, yang menarik dalam percakapan itu adalah In-tiong yan yang serba misterius dan sulit diraba asal usul, selanjutnya baru menyinggung kedua bocah keluarga Cin ini.

Liok Kun-lun pernah berkata : "Kedua bocah itu sudah menanjak dewasa, usianya kira kira sebaya dengan kau, tapi Cin Hou-siau belum berani memberi kesempatan pada mereka untuk kelana di Kangouw. Tapi aku berani pastikan begitu mereka terjun dalam percaturan di Bulim tentu menonjol dan lebih tenar dari deretan nama nama tunas harapan yang lain. Terutama Hong thian-lui Ling Tiat-wi itu, bukan mustahil pada suatu ketika bakal menjadi seorang tokoh laksana geledek yang menggelegar diseluruh jagad."

Hek-swan hong bertanya : "Menurut pandangan Locianpwe saudara Ling yang berjuluk Hong thian-lui ini bagaimana kalau dibanding dengan In-tiong yan ?"

Liok Kun lun tertawa, ujarnya : "Yang kau tanyakan soal ilmu silat atau watak dan martabatnya ? Kalau soal martabat, aku belum pernah jumpa dengan In-tiong-yan, jejaknya sangat misterius, seolah olah tidak punya sepak terjang sebagai pendekar yang berbudi luhur. Sebaliknya Ling Tiat-wi anak kampung yang polos jujur dan sederhana; kelak pasti menjadi pendekar besar yang disanjung puji dan disegani oleh angkatan mendatang. Maka soal martabat, kedua orang ini sulit dibanding bersama."

"Soal ilmu silat, mereka punya keahlian sendiri. Ilmu silat In-tiong yan aku belum pernah menyaksikan. Tapi menurut penuturanmu, Ginkangnya jauh diatas kemampuan Hong-thian-lui. Tapi Hong thian-lui justru punya tenaga terpendam, pembawaan sejak kecil. Diantara orang-orang gagah seangkatan dengan dia yang pernah kulihat, mungkin tiada seorang pun yang dapat menandingi." maksud ucapannya ini sudah tentu termasuk Hek-swan hong sendiri. Keruan Hek-swan hong kaget dan bercekat.

Selanjutnya Liok Kun lun berkata lagi : "Tahun itu usianya kira kira dua tiga belasan. Cin Hou siau minta kepadaku untuk memberi petunjuk soal mengerahkan dan menggunakan tenaga. Waktu kucoba dengan pukulannya, setiap kali kutambah tenaga dia masih kuat melawan sampai tiga bagian tenaga Lwekangmu. Sekarang sudah terpaut sepuluh tahun, mungkin tenaga pukulan Hu mo ciangku tak kuasa menandingi Pit-le-ciang hiatnya."

Begitu asyik mereka mengobrol selanjutnya ia berkata pula : "Pit le-ciang keluarga Cin diturunkan kepada Tiat-wi ini betul-betul serasi dan cocok pada tempatnya. Ling Tiat-wi punya tenaga raksasa pembawaan sejak kecil, punya suara serak yang keras dan kasar, lagi bentakan suaranya benar-berar seperti geledek mengguntur. Disesuaikan pembawaannya Cin Hou-siau mengaturkan setiap kali melancarkan pukulan disertai bentakan yang memekakkan telinga, sehingga dapat mengembangkan Lwe-kang sewajarnya. Anak tunggalnya itu malah jauh ketinggalan dari harapan semula."

"Menurut hematku, diantara angkatan muda umumnya, mungkin hanya kau seorang yang dapat melawannya, Lwekangnya jelas lebih dalam dan kokoh dari kau, sayang dia belum dapat mengkombinasikan tenaga keras dan lunak otaknya tumpul kurang cerdik lagi. Kalau baru kelana dan belum punya pengalaman, mungkin dia hanya berkelahi hantam keromo saja, dengan adanya kelemahan ini kalau In-tiong-yan cerdik, mungkin dapat mengalahkan dia!"

Karena ilmu pukulan Ling Tiat-wi yang menakjupkan serta suara suara bentakan seperti geledek itulah sehingga Hek-swan-hong teringat akan cerita Liok Kun lun, dugaannya benar yang dihadapi bukan lain adalah Hong-thian-lui.

Dalam pada itu, setelah mendengar penjelasan Hek swan hong tentang nama Liok Kun lun baru Ling Tiat-wi mau percaya bahwa pemuda yang dihadapi ini benar adalah Hek-swan-hong. Namun kejap lain ia merasa curiga, tanyanya : "Kalau benar Hek-swan hong, kenapa kau bergaul dengan In-tiong yan ?"

Hek swan hong berkata dengan tertawa : "Aku sendiri juga ingin tanya padamu, siapa dan macam apa In tiong yan sebenarnya ? Kenapa aku tidak boleh bersama dia ?"

Berkerut alis Hong thian-lui, katanya : "Apa, jadi kau belum jelas orang macam apa dia sebenarnya ? Lalu kenapa kalian jalan bersama ?"

"Aku hanya tahu bahwa dia tuan penolongku yang pernah membantu aku dua kali !"

"Dia bantu kamu apa ?" tanya Hong-thian lui heran.

Setelah mendengar penuturan Hek-swan-hong, Hong thian lui bertambah heran, ujarnya : "Benar-benar aneh. Siluman perempuan itu mau membantu kau mencuri konsep militer Wanyen Tiang ci ! Huh, kalau aku percaya bahwa kau adalah Hek-swan hong, aku tak berani percaya penjelasanmu ini !"

"Saudara Ling," kata Hek-swan-hong, "agaknya kau sudah tahu asal usulnya. Orang macam apakah dia sebenarnya?"

Hong thian lui garuk kepalanya yang tidak gatal, jawabnya : "Kau tanya aku, aku tanya siapa?''

Jawaban ini membuat Hek-swan hong melengak, gemas dan dongkol lagi, batinnya : "Ribut sekian lama, ternyata kau sendiri bingung." segera ia berkata : "Kalau kau tak tahu, kenapa kau memakinya sebagai siluman ?"

"Aku tak tahu asal usulnya, juga tidak tahu dia she apa nama apa," demikian tutur Hong-thian-lui, "Tapi aku tahu dia pasti bukan orang Han. Dia bukan orang Han, kenapa meluruk ke Liang San mencuri Ping-hoat karya Go Yong, jelas gamblang untuk melawan bangsa Han kita. Dia bertentangan dengan kita, bukankah siluman perempuan ?"

Hek-swan hong menahan geli, katanya, "Memang benar ucapanmu. Tapi kau tidak jelaskan, bagaimana kau tahu bahwa dia bukan orang Han ? Lagi pula dari mana kau tahu bahwa kedatangannya kemari hendak mencuri Ping hoat karya Go Yong ?"

Baru sekarang Hong thian lui sadar dirinya belum memberi penjelasan, bahwa ln tiong yan benar sebagai 'Siluman perempuan' seperti dimakinya itu ? Katanya tertawa geli : "Harap maaf akan kecerobohanku. Watakku memang kasar dan berangasan. Kawatir kau tidak percaya bahwa dia 'Siluman perempuan', maka kutegaskan lebih dulu. Baiklah sekarang kau sudah percaya, biar kuterangkan kenapa aku tahu bahwa dia mau ke Liang-san untuk mencuri Ping hoat itu!" sebetulnya Hek swan-hong belum pernah mengatakan bahwa dia percaya akan keterangannya, dia hanya berkata bahwa analisanya cukup beralasan saja.

Kata Hong thian lui berduduk : "Tahukah kau diantara pahlawan gagah Liang-san, ada seorang yang bernama Sip Can ?"

"Sip Can pencuri sakti, siapa yang tidak tahu?" sahut Hek-swan hong tertawa. "Kisah Sip Can mencuri ayam, adalah cerita Ki dalang yang sangat dibanggakan !"

"Aku punya seorang paman Sip, namanya lengkap Sip It-sian (sekali muncul)." demikian Hong thian-lui menutur, "Sip It-sian adalah keturunan Sip Can itu. Tapi selamanya dia belum pernah mencuri ayam, kalau mau curi ya barang berharga macam mas perak atau jamrut dan lain lain yang bernilai tinggi."

"Namanya saja Sip It-sian (sekali muncul), sudah tentu merupakan pencuri sakti yang sukar diikuti jejaknya. Sebagai pencuri sakti yang diagungkan sudah tentu tak sudi nyolong ayam."

"Kurasa tidak mesti, kalau perut lapar terdesak oleh keadaan, betapapun harus nyolong makanan juga. Bukankah Sip Can sendiri juga pernah nyolong ? Soalnya selamanya dia belum pernah kelaparan, maka belum pernah mencuri ayam.''

Sedapat mungkin Hek-swan-hong tahan rasa gelinya, katanya tertawa : "Ya, ya. Cobalah ceritakan kisah tentang dia mencuri barang orang."

"Pada suatu hari, paman Sip ini mengincar tiga ekor gembel (kambing) gemuk, kau tahu arti gembel gemuk?"

"Kata rahasia di kalangan Kangouw, sedikit banyak dapat kuketahui, bukankah maksudnya para pedagang yang royal ?"

"Bukan pedagang. Tapi tiga orang bangsa Tartar, kelihatannya mereka adalah pejabat pemerintah, namun menyamar sebagai rakyat jelata. Jelas sekali mereka adalah makanan empuk yang besar artinya, sekali pandang paman Sip lantas tahu bahwa mereka menggembol banyak harta benda berharga."

"Akhirnya bagaimana ?"

"Secara diam-diam paman Sip menguntit mereka, setelah malam tiba dengan kepandaiannya ia menyelinap ke hotel dimana mereka menginap, secara diluar dugaan, dia memberi dengar sebuah berita rahasia !"

"Apakah berita rahasia mengenai Ping-hoat ?"

"Benar, kenapa sekali tebak lantas tepat ?"

"Tadi kau menerangkan akan bercerita bagaimana In-tiong-yan meluruk ke Liangsan untuk mencuri Ping-hoat itu ? Kejadian ada sangkut pautnya dengan kejadian ini."

Hong thian-lui meneruskan : "Baru saja paman Sip meniup asap bius kedalam kamar mereka, saat itu juga ia mendengar berita rahasia ini."

Salah seorang diantaranya berkata : "Percaya lebih menguntungkan dari pada tidak percaya. Kalau Ping-hoat itu benar dapat ditemukan, boleh dikata besar manfaatnya bagi kita semua."

Seorang lagi menyahut : "Agaknya kurang leluasa kalau seorang diri ke Liang-san. Sekali pandang orang akan tahu bahwa kita bukan orang Han. Apalagi daerah Liang san di Soatan merupakan pusat kaum gagah dari Bulim, diantara mereka tidak sedikit tokoh tokoh yang berkepandaian tinggi. Umpamanya Li Su-lam dari Long-sia san. Ci In hong dan Kok Ham-si, kebentur ditangan salah seorang diantara mereka, mungkin kita bertiga bukan tandingannya!"

Seorang yang lain juga bicara : "Rasa kawatir ini memang beralasan, jarak Long-sia-san dan Liang san hanya beberapa ratus li, namun konon anak buah mereka satu sama lain sering beroperasi didaerah Liang-san."

Orang yang bicara duluan tadi berkata lagi : "Kesempatan baik untuk mendapat pahala, masa harus kita abaikan demikian saja ?"

Agaknya orang ketiga itu paling punya akal, dia berkata : "Ada, ada akal. Kita undang In-tiong-yan saja kesana. Dia persis orang Han, Ginkangnya baik pula, seumpama terjadi sesuatu diluar dugaan, kupercaya dia pasti dapat melarikan diri !"

Post a Comment