"Dar... Byeeeeerrrr,"
Gunung bergerak bumi tergetar, batu pasir menari-nari ditengah udara.
Kabut putih melesat mengembang keempat penjuru dengan derasnya, demikian pula hawa merah itu buyar menembus angkasa.
Hujan darah terjadi diselingi pekik kesakitan yang tertahan, dua bayangan manusia terpental terbang kedua jurusan.
Tubuh kecil pendek dari iblis rudin membawa jalur darah segar yang menyempit keluar dari mulutnya terpental jauh puluhan tombak.
"bluk"
Keras sekali terbanting ditanah.
Sinar muka Giok-Iiong juga pucat pasi, dimana mulutnya terpentang ia juga menyemburkan darah segar badannya tersentak mundur enam tombak terus jatuh terduduk tak bergerak lagi, bintang berkunang kunang didepan matanya, darah dirongga dadanya bagai hendak meledak seakan dipalu oleh godaan yang beratnya ribuan kati.
Meskipun keadaannya sangat payah, namun ingatannya masih segar bugar, segera ia himpun semangat menenangkan hari, pelan-pelan ia kerahkan hawa murninya mengiring berputar keseluruh tubuhnya, Didapatinya bahwa sebagian dari isi perutnya ada yang pecah dan hancur kalau tidak segera diberi pengobatan dan tertolong luka-lukanya itu bakal membahayakan jiwanya.
setelah dapat berganti napas, dengan susah payah dirogohnya sebuah pulung berwarna putih dari balik bajunya, dari pulung kecil ini dituangnya dua butir pil berwarna hijau, bau harum semerbak segera merangsang hidung, langsung ia telan obat obat mujarab itu.
Obat yang baru ditelah ini merupakan obat yang terpenting dan termahal dari semua obat obatan yang diberikan oleh To ji sebagai bekal, Dalam pulung kecil itu hanya berisi sepuluh butir, khasiatnya dapat mengembalikan jiwa orang dan ambang kematian.
Begitu butir pil itu tertelan kedalam perut lantas lumer menjadi cairan wangi terus masuk kedalam perutnya, dengan dilandasi hawa murninya yang kuat itu, segera khasiat obat didorong dan dikembangkan ke berbagai urat nadi serta seluruh isi perut yang luka-luka, Tidak lama kemudian sebagian besar lukanya sudah dapat disembuhkan.
Bergegas ia bangkit berdiri terus memburu kearah iblis rudin yang masih rebah tak bergerak ditanah.
Keadaaa iblis rudin Siok Kiu-tiang lebih parah lagi, wajahnya merah hitam, darah masih mengalir keluar dari telapak tangan kanan, serta meleleh keluar dari ujung mulutnya, inilah akibat dari tokoh silat tingkat tinggi yang terluka berat dari benturan tenaga yang membalik menghantam badan sendiri sehingga seluruh isi perutnya-pecah dan jungkir balik.
Melihat keadaan orang yang parah ini Giok-liong menjadi gelisah, cepat cepat dirogohnya keluar pulung kecil tadi serta dituangkannya dua obat yang mujarab serta mandraguna itu langsung dijejalkan kedalam mulutnya.
Dia sendiri terus duduk bersila disamping iblis rudin serta memayang tubuh orang untuk duduk bersila juga, tangan kanan diulur lurus dijalan darah Bing-bun-hiat mulailah tenaga Ji-Io, dikerahkan serta disalurkan kedalam badan Siok Kuitiang.
Lambat laun kasiat obat mulai bekerja, Hawa murni didalam badan Siok Kui-tiang sendiri juga mulai bekerja, menyambut hawa trobosan yang disalurkan Giok-liong kedalam badannya terus berputar-putar keseluruh pelosok tubuhnya.
Baru saja ia sadar dan kembali kesadarannya lantas merasa bahwa dirinya telah tertolong dari saat-saat yang kritis, ada seorang tokoh silat maha lihay telah menolong mengobati luka luka parahnya, Mata masih tak kuasa dibuka namun mulutnya sudah darat sedikit bergerak serta berkata tergagap.
"Orang ..kosen dari ....manakah yang telah ....menolong ....Siok kui-tiang, ... Selama hidup ini pasti takkan kulupakan - , ..Tapi ... , disebelah sana ....masih ... masih , . ,.
"
Bicara sampai disini tenaga nya sudah habis sekali lagi ia menghamburkan darahnya. Cepat-cepat Giok - liong membujuk lirih "jangan banyak bicara lagi, lebih penting lagi kau mengerahkan tenaga dan hawa murni berobat diri."
Seolah-olah iblis rudin tidak mengenai jelas orang yang bicara duduk dibelakang-sya adalah Ma Giok-Iiong atau musuh berat yang tadi adu kepandaian dengan dirinya, setelab menelan air liur, ia meneruskan bicara.
"Ditanah sebelah sana... masih ada ... seorang pemuda berpakaian putih ... yang terluka berat , ..karena kesalahan tanganku , ..sehingga terluka parah .., sila .., silahkan tuan menolongnya lebih dulu... keadaanku . , , rasanya tidak terlalu parah ...
"
Habis berkata lagi-lagi ia menyemburkan darah. Mendengar perkataan orang yang penuh prihatin ini, terharu perasaan Giok liong,"
Katanya lembut.
"Kau sendiri perlu tekun berobat diri, dia sudah sembuh !"
"Apa ... apa betul ?"
"Benar."
Sekarang Siok Kiu tiang baru merasa lega dan tentmm, pelan pelan ia mulai kerahkan hawa murni serta menuntunnya mengalir keselumh tubnhnya, bersama dengan aliran panas dari bantuan tenaga yang dikerahkan Giok-Hong mendorong serta membantu bekerjanya obat terus bergerak merambati badannya, Tatkala mana baru Giok-liong benar-benar merasa terperanjat betapa panjangnya dan dalam tenaga hawa murni Siok Kiu-tiang ini benar-benar sangat mengejutkan.
Tanpa memerlukan banyak waktu hawa murni dalam tubuhnya sudah pulih kembali dan mulai lincah bergerak malah.
bergulung deras bagai gelombang samudra yang berderai maju tiada putusnya.
Lambat laun malah Giok-hong semakin merasa tertekan dan banyak mengeluarkan tenaga, air mukanya sampai pucat pias, keringat sebesar kacang membasahi jidat.
Tahu dia bahwa sampai taraf terakhir ini luta-luka Siok Kiutiang sudah tidak perlu dikwatirkan lagi, perlahan-lahan ia menarik kembali tenaga murninya, duduk bersila disamping Siok Kui tiang mengerahkan Ji-lo untuk menormalkan jalan darah serta kemurnian tenaganya lama kelamaan diatas kepala kedua orang yang tengah duduk bersila ini mengepul kabut putih yang semakin tebal dan semakin lama bergulunggulung semakin keras dan cepat.
Akhirnya bagai air mendidih dalam kuali melonjak-lonjak keatas.
Hanya ada perbedaannya, kalau kabut diatas kepala Giokliong adalah putih bersih, sebaliknya kabut yang menguap diatas kepala Siok Kiu tiang adalah bersemu merah marong.
Dari lobang kedua hidungnya juga menjulur keluar dua jalur kabut yang molor modot panjang pendek bergantian demikian juga warna kedua jalur pendek ini berbeda, jalur-jalur kabur diujung kedua hidung Giok-liong ada ada lebih besar satu perempat dibanding kabut yang menjulur keluar dari hidung Siok Kiu-tiang.
Dari sini dapat diukur dan diterangkan bahwa khikang yang dilatih dari masing-masing perguruan ini berbeda.
sedang dalam taraf tingkat kesempurnaannya latihan Siok Kui tiang boleh dikata lebih rendah setingkat dibanding Giok-liong.
ini tidak perlu dibuat heran, Giok-liong mendapat karunia Tuhan harus mengalahkan berbagai rintangan dan petaka sehingga akhirnya mendapat manfaat yang berlimpah dari pelajaran yang diberikan oleh Pang Giok.
kenapa tidak karena sekarang dalam tubuhnya sudah membekal Lwekang dengan latihan seabad lebih, ditambah kasiat obat-obat mujarab yang mandraguna serta bakat Giok-liong sendiri.
Betapapun hebat dan tinggi pembawaan Siok Kui-tiang yang serba pandai itu juga harus mengakui kekurangan dibanding orang lain.
Begitulah latihan dalam usaha penyembuhan diri sendiri ini sudah mencapai pada taraf yang paling genting dan membahayakan.
Kabut tebal diatas kepala mereka sudah semakin kuncup dan menghilang menjadi gumpalan hawa kabut yang berhenti bergerak dan bergantung ditengah udara, sebaliknya dua jalur kabut dikedua lobang hidung mereka masing-masing bergerak panjang pendak semakin cepat, seluruh tubuh juga mulai mengeluarkan keringat dan uap yang hangat, warnanya sama dangan kabut di masing masing kepala mereka.
Jelas bahwa usaha mereka sudah mendapat sukses lari berhasil dengan baik sekali.
Tatkala mana sangat pantang sekali bila ada seseorang datang mengganggu kalau tidak bukan saja berhasil malah sebaliknya jiwa mereka bisa celaka atau sedikitnya juga menjadi cacat seumur hidup, betapa berat dan mengerikan akibat ini ! Sekonyong-konyong terdengar angin ber-kesiur disusul terlihatnya bayangan orang berkelebat, tahu-tahu disekitar mereka berdua telah bermunculan serombongan orang-orang mengenakan seragam hitam, ditengah dada mereka terlukiskan lembayung warna merah, semua laki-laki tinggi besar dan tegap ini menenteng golok-go!ok dan berbagai persenjataan lain.
Gemuruh tawa dingin memecah kesunyian alam sekelilingnya dari rombongan seragam hitam itu ...
Dari rombongan seragam hitam yang mengepung ini, beranjak keluar tiga laki-laki yang mengenakan pakaian serba merah dan mengenakan kedok hitam pula, Diatas pundak masing-masing semampai jubah panjang yang terbuat dari kain sutra.
Orang yang berdiri ditengah barperawakan tinggi kurus tapi gagah garang, sebaliknya dua orang di kanan kirinya bertubuh lebih gemuk dan kekar, pinggang masing-masing menyoreng sebilah pedang panjang, sepasang mata yang tersembunyi dari balik kedoknya memancarkan cahaya dingin yang tajam, Mereka menanti dibelakang kanan kiri orang yang berdiri ditengah.
Gelak tawa dingin yang terdengar rendah sember itu justru keluar dari mulut kedua orang ini, Para laki-laki seragam hitam yang mengepung gelanggang sejak mendengar suara tawa scmber ini lantas semua berdiri tegak dengan sikap hormat, sedemikian patuh sikap mereka sampai menghela napas besar juga tidak berani.
Sunyi dan tebang melingkupi suasana gelanggang dan mencekam sanubari seluruh hadirin, Keadaan dalam hutan ini seolah-olah telah dilingkupi hawa kematian yang tebal, ya, elmaut tengah mengancam dan mengintai setiap jiwa hadirin.
Mendadak laki-laki kurus tinggi mengenakan kedok hitam itu menggeledekkan suara tawa dinginnya yang mendirikan bulu tengkuk ditengah malam gelap ini, suaranya mendengung bergema sekian lama diudara.