"Kalau cian-pwe tidak segera berhenti terpaksa Cayhe berlaku kurang hormat! "
"Hm emangnya kau sudah tidak tahu tata kehormatan setelah tahu aku orang tua sebagai cian-pwe, lekas berlutut dan menyembah sembilan kali, kalau tidak Lohu nanti putuskan kedua kaki anjingmu itu."
Semakin memuncak amarah Giok-liong, batinnya.
"Orang ini tidak kenal aturan, kalau aku tidak turun targan, pasti disangka aku ini gampang dipermainkan..."
Dalam hati berpikir, badannya lantas melejit mundur. teriaknya geram.
"Aku menghormat kau baru kupanggil Cianpwe, Siapa tahu ternyata kau tiada harganya untuk dihormati Hui, kalau tuan tidak segera berhenti, terpaksa Cayhe berlaku lancang."
Orang aneh berkepala besar ini bernama Siok-Kui-tiang, tingkat kedudukannya di kalangan persilatan sangat tinggi, kepandaian silatnya juga lihay dan tinggi sekali, biasanya polahnya memang aneh dan suka melucu, wataknya juga sangat aneh suka bawa adatnya sendiri, Bersikap kejam dan telengas lagi, serasi dengan bentuknya yang serba kekurangan itu maka kaum persilatan sama-sama memberikan julukan iblis rudin.
"Iblis rudin Siok Kui-tiang mendelikkan mata, mulutnya menggarang keras.
"Kurcaci mari tumpahkan seluruh kepandaianmu Kalau hari ini Lohu tidak menghajar anak kecil yang kurang ajar dan tidak tahu adat kesopanan ini, sia-sia aku dipanggil iblis rudin Siok Kui-tiang!"
Seiring dengan habis ucapannya segera ia merubah cara permainannya, kontan angin lesus yang deras timbul membumbung tinggi ketengah angkasa sambil mengeluarkan suara mendesis yang menderu hebat, bayangan pukulan tangan yang memenuhi angkasa mendadak berubah tutukan jari yang merata dimana-mana, terus langsung menutuk keseluruh tempat-tempat penting dibadan Giok-liong.
Baru mendengar nada perkataan orang, lantas Giok-liong terkejut dan cepat-cepat siaga, batinnya.
"Celaka, siapa nyana kiranya orang aneh kecil ini ada!ah iblis rudin Siok Kiu tiang yang sudah menjagoi dunia persilatan puluhan tahun yang lalu..."
Meskipun terkejut tapi rasa mau menang sendiri lantas bersemi dalam hati kecil. Maka segera ia bergelak tertawa, serunya.
"Bagus biarlah Cayhe menerima pengajaran dari iblis rudin ytng tenar."
Belum lenyap suara tawanya tenaga ji-lo sudah terkerahkan berputar keras diseluruh badannya, dimana setiap kali tangannya terayun tenaganya memberondong keluar secepat kilat itu ia sudah lancarkan delapan belas kali pukulan serta dua belas tutukan jari.
Seketika angin menderu pasir beterbangan bayangan pukulan serta tutukan saling selulup timbul bergantian laksana angin badai yang mengamuk bertumpuk berlapis-lapis.
iblis rudin tiba-tiba mementang mulut meneriakkan tawa anehnya, tubuhnya juga ikut berputar keras seperti gangsingan berubah bayangan menyelusup kedalam bayangan tutukan, Maka bayangan jari tutukan berlapis meninggi bagai gunung, sebaliknya bayangan angin pukulan menderu-deru bagai hujan batu terus memberondong keluar bergantian tidak mengenal putus.
Beruntun terdengar suara plak-plok, berulang kali dari benturan tangan yang keras sekali.
Dua bayangan manusia yang berwarna ungu dan putih dengan angin melambai secepat kilat menyerang saling melancarkan serangan dahsyat yang mematikan diantara tusukan jari serta pukulan tangan yang rapat dan rumit sekati, mereka mengerahkan segala kemampuan serta kegesitan tubuh untuk menyelimatkan diri.
Sekejap mata saja, enam puluh jurus itulah berlalu.
Dua belah pihak sama-sama sudah mengerahkan seluruh kekuatan.
Tiba-tiba terdengar iblis rudin mendamprat gusar, kekuatan angin tutukannya bertambah semakin besar dan dahsyat, laksana tajam anak panah yang meluncur menembus hawa ditengah udara langsung menusuk kesetiap tempat yang mematikan dibadan Giok-liong.
Giok-liong sendiri juga lantas memperdengarkan suara tawa panjang yang lantang, Dimana terlihat jubah panjangnya melambai-lambai, hawa murninya mendadak dikerahkan sampai sembilan bagian, dimana pukulan tangannya sampai hawa murninya segera memberondong keluar pula, laksana gelombang samudra yang mengamuk terus menerjang kearah musuh.
Angin lesus semakin keras dan menghebat ditengah gelanggang pertempuran ini, semua benda yang berada dekat dari gelanggang semua terseret dan tergulung mumbul ketengah udara dan terus melayang tinggi entah jatuh dimana, saking cepat berputarnya angin lesus ini sampai akhirnya bayangan kedua orang yang tengah bercampur menjadi terbungkus hilang dari pandangan mata.
Kadang kala kalau angin tutukan atau pukulan menerobos keluar gelanggang dan mengenai bumi lantas terdengarlah ledakan keras yang menggetarkan alam sekelilingnya, disertai pasir dan debu beterbangan diselingi percikan api.
Tanpa merasa tahu-tahu mereka sudah bertempur sampai lima ratus jurus banyaknya setelah bertempur sekian lama ini, jidat iblis rudin Siok Kiu-tiang sudah mulai mandi keringat, jelas kelihatan bahwa dia berada diposis terdesak, sebaliknya badai pukulan yang dilancarkan Giok-liong semakin garang dan melebar, bukan semakin lemah malah semakin dahsyat bagai gugur gunung.
Lambat laun ketekatan serta kepercayaan terhadap diri sendiri telah semakin luntur dalam benak Siok Kui-tiang, kepandaian silat serta Lwekang pemuda lawannya ini benarbenar diluar perhitungannya, Kepedihan hati akan keputusan harapan untuk menang segera bersemi dalam lubuk hatinya, malah semakin membesar dan luber.
Betapa ia takkan sedih, sudah puluhan tahun lamanya nama julukannya sangat tenar dan ditakuti, selama hidup ini belum pernah ia temukan tandingan yang setimpal.
Maka begitu menghadapi seorang pemuda yang masih berbau wangi malah dapat mendesak dirinya.
Lambat laun ia kehilangan inisiatif untuk balas menyerang dari pada lebih banyak membela diri, Apalagi jelas dalam waktu singkat ini dirinya sudah pasti bakal dikalahkan.
ia merasa bahwa dirinya bak umpama selembar sampan yang diumbang-ambingkan hujan badai yang bergelombang tinggi ditengah samudra raya dimalam gelap, ini masih belum terang dirinya masih terserang oleh badai dan bayu seorang diri tanpa ada seorangpun yang membantu atau berusaha menyelamatkan jiwanya.
Ia putus harapan serta hampa, sebatang kara tanpa bantuan setelah diterawangi serta dipikirkan secara mendalam, akhirnya ia mengerak gigi mengambil keputusan nekad.
"Meskipun ilmu kepandaian tunggal perguruan ini setiap dilancarkan pasti melukai malah mungkin membunuh orang, tapi dalam keadaan yang terdesak itii, seumpama melukai lawan juga bukan menjadi kesalahanku."
Seperti diketahui Siok Kiu-tiang adalah tokoh kejam yang suka turun tangan dengan keji.
Kalau biasanya siapa-siapa yang mengganggu tidurnya sampai hatinya gusar, tentu ia lampiaskan amarah hatinya itu bagai orang gila layaknya, sekali turun tangan pasti membunuh orang, Tapi menghadapi pemuda pelajar yang ganteng ini, sebaliknya hati kecilnya menjadi tidak tega turun tangan dengan membawa suara hatinya, sebaliknya timbul rasa simpatiknya, hasratnya memberi sekedar hukuman ringan saja.
Diluar tahunya begitu saling gebrak, kepandaian serta kekuatan lawan mudanya ini ternyata sedemikian hebat dan lihay, walaupun dirinya sudah kerahkan seluruh kemampuannya masih kewalahan juga, sekarang demi gengsi dan jiwa dia sudah bertekad untuk menggunakan kepandaian simpanan dari perguruannya yaitu Kam-thian-ci ilmu tunggal perguruan baru dua kali ia pernah gunakan selama malang melintang puluhan tahun di dunia persilatan.
Harap diketahui bahwa dibawah serangan Kam thian-ci selamanya belum ada seorangpun yang masih tetap hidup, inilah sebabnya mengapa sekian lama ini kaum peralatan belum tahu asal usul perguruan iblis rudin ini.
Setelah mengambil ketetapan, hatinya juga 1amasmenjadi tenang.
Sementara daya pukulan Giok-liong yang keras dan dahsyat itu sudah membuatnya tidak kuat berdiri tegak lagi, tubuhnya terhuyung mundur beberapa langkah.
Sekonyong-konyong terdengar ledakan dahsyat yang menggetarkan bumi dan langit, kiranya kedua lawan ini lagi lagi telah mengadu pukulan sekuat tenaga mereka, Kontan terdengar suara gerangan tertahan, menggunakan daya pentulan yang keras ini iblis rudin melambung tinggi tiga tombak, sebaliknya Giok-Iiong juga limbung lima langkah, seketika gelanggang pertempuran menjadi gelap dan ribut oleh debu dan angin yang mengembang keempat penjuru.
Tiba-tiba iblis rudin mendongak serta tertawa gelak-gelak aneh, seluruh rambut diatas kepalanya tegak berdiri, air mukanya juga berubah membesi, badannya berputar cepat seperti roda kereta diatas udara terus meluncur turun sampai mengulur tangan kanannya yang mendadak mulur sekali lipat kelima jarinya juga membesar dan berwarna merah menyerupai wortel, dengan kepala dibawah dan kaki diatas diiringi dengan tawa anehnya langsung ia menerkam turun seperti elang hendak mencabik mangsanya.
Waktu mengadu pukulan tadi Giok-liong sendiri juga rasakan darahnya bergolak dan dadanya menjadi sesak, matanya kunang kunang, tahu dia bahwa dirinya sudah terluka dalam, Kini waktu ia angkat kepada dilihatnya iblis rudin tengah menerkam datang dengan daya luncuranyang pesat serta gaya yang aneh itu, hatinya membatin.
"Bukankah ini Kam-thian-ci dari Pat-ci-kay-ong yang kenamaan itu?"
Tapi sudah tiada waktu lagi untuk memberikan suatu penjelasan atau memperkenalkan diri siapa dirinya sebetulnya, Apalagi sejalur angin keras warna merah merong diselingi sebuah uluran tangan yang menjojohkan sebuah jari tengahnya yang berwarna merah darah itu sudah terpaut setombak diatas kepaianya, tengah menusuk tiba dengan kecepatan yang tak dapat diukur.
Sudah tentu Giok-liong tidsk berani berajal, hawa Ji lo segera terkerahkan sampai sepuluh bagian, tipu Tian-ceng jurus ketiga dari Sam-ji ciu-hun-chiu juga lantas dilancarkan.
Berbareng kakinya juga ikut bergerak mengembangkan Lenghun- toh, tubuhnya melesat mundur menghindarkan diri.
Berkuntum kuntum awan putih bergulung maju didorong hawa murni yang kokoh dan deras gemuruh melandai kedepan, sebuah telapak tangan yang putih halus, tanpa mengeluarkan suara melayang maju memapak kedepan seperti bayangan setan saja.
"Ha, kau..."
Terdengar iblis rudin Siok Kui tiang berteriak keras dan kejut.