Diam-diam dalam hati ia sudah bertekad.
"kedua orang ini berkepandaian tinggi, kalau tidak dibabat lenyap pasti kelak akan menimbulkan bencana yang lebih besar lagi."
Cepat-cepat kedua tangannya ditekuk serta disilangkan terus berputar ditengah udara membuat setengah lingkaran lantas perlahan-lahan didorong keluar, Kontan terbit angin menderu serta kabut putih mengembang bergulung-gulung terus menerus kedepan.
Terdengar suara teriakan yang ketakutan.
"Sam ji cui-hunchiu, dia adalah Pang Giok..."
Belum habis suaranya, lantas terdengar suara "blang"
Yang keras dua larik sinar melambung tinggi ketengah udara berbareng hujan darahpun terjadi! Setelah angin reda dan debu hilang suasana menjadi sunyi kembali, tampak Giok-liong berdiri tempatnya dengan tenang, Delapan tombak disebelah sana meringkuk dua mayat Bu sansiang- im dan ditempat yang lebih jauh sana adalah kedua batang pedang mereka yang terbanting ditanah dan sudah patah patah menjadi empat potong.
Tadi dengan jurus Cin-ciu sekuatnya Giok-liong turun tangan, hanya segebrak saja cukup membuat jiwa Bu ~ san - siang im melayang ditangannya, Tapi dia sendiri karena terbentur oleh hawa pedang musuh, dadanya juga sedikit dirasakan sesak, maka sementara ia berdiri diam mengerahkan Ji-lo berputar ke-seluruh badannya.
Tak lama kemudian ia membuka mata, sekilas ia menyapu pandang kearah kedua mayat itu lalu putar tubah memasuki hutan.
Teringat olehnya bahwa Ang i-mo li Li Hong masih telanjang bulat rebah diatas tanah.
Baru saja kakinya melangkah lantas terlihat tubuh Li Hong yang padat menggiurkan itu masih menggeliat dan meliuk-liuk tak henti-hentinya.
Kontan merah jengah seluruh wajah Giokliong, jantungnya juga berdebar sangat keras seperti hendak meloncat keluar.
Cepat-cepat ia berpaling muka tidak berani melihat lagi.
Akan tetapi entah mengapa akhirnya toh dia meliring mencuri pandang pula.
sepasang pipi Li Hong yang merah membara bak sekuntum bunga mekar itu kini telah diliputi pikatan menarik bagi seorang laki Iaki.
Kedua bibirnya juga tengah megap-megap memperlihatkan sebarisan giginya yang putih halus.
Ditambah tubuhnya yang langsing menggiurkan terutama kedua bukit yang montok itu karena bergoyang dan menggeliatnya pinggang ikut bergerak-gerak tak hentihentinya.
Apalagi kedua pahanya yang putih besar itu sabansaban dibuka tutupkan Iebih lebih memikat hati lawan jenisnya.
Usia Giok-liong sedang menanjak dewasa, darah mudanya gampang berkobar, melihat pertunjukan gratis yang menggiurkan ini kontan kepala terasa mendengung pikiran juga menjadi butek, terasa sekujur hawa hangat segera timbul dari dalam pusarnya terus meluber ke atas.
seketika ia merasa kepalanya pusing dan pikiran juga menjadi kabur.
Tanpa disadari kakinya segera melangkah maju dengan sempoyongan terus menghampiri kearah tubuh Li Hong yang rebah telanjang bulat itu, Waktu disamping tubuhnya tiba-tiba pandangan matanya bentrok dengan kilauan sinar mas kuning yang menyolok mata.
Seketika tergetar keras hatinya, pikirannya lantas menjadi jernih dan sadar kembali gumamnya menyesali diri sendiri.
"Giok liong, wahai Giok liong, seorang laki laki tidak mengambil keuntungan secara pengecut! sebagai murid aliran Ji-bun aku harus mengutamakan kelurusan......."
Jalur sinar kuning yang kemilau itu kiranya adalah batang potlot mas tua pertanda khas dari perguruannya. Segera Giok-liong menjemput potlot kecil itu, waktu pandangannya melihat kearah Li Hong, sekonyong-konyong timbul pula hawa amarahnya.
"Hm, manusia cabul yang rendah menggunakan obat bius bagaimana aku harus menolongnya? Oh ya, diatas badan mereka pasti ada obat pemunahnya."
Karena pikirannya ini segera ia berkelebat keluar rimba langsung mendekati jenazah Bu san-siang-im, setelah semakin lama ia menggeledah seluruh tubuhnya hanya diketemukan sebuah bungkusan kecil obat pemunahnya.
Bergegas ia mem bawa obat pemunah itu kembali.
Tapi waktu ia sampai dimana tadi Li-Hong rebah di atas tanah, seketika ia berdiri tertegun dan terlongong longong sekian lama.
Ternyata keadaan tetap sunyi, bekas bekas diatas rumput masih ada tapi bayangan Li Hong sudah menghilang entah kemana, sampai baju yang dipakainya juga ikut lenyap.
Giok-liong menggeleng, jarak sedemikian dekat dan orang sedemikian besar hilang begitu saja lenyap tanpa diketahui olehnya, Apa mungkin Li Hong sendiri yang sudah siuman terus tinggal pergi? Tidak mungkin! Pasti tidak mungkin ! Mendadak ia membanting kaki sambil berteriak kejut.
"Wah, cialat!"
Dimana badannya bergerak laksana segulung asap terus menerobos keluar dari dalam rimba.
Baru saja ia keluar lantas dilihatnya puncak sebelah kanan berkelebat sesosok bayang kecil langsing terus menghilang.
Gerakan siapakah yang sedemikian cepatnya? Dalam hati ia bertanyatanya, kakinya segera mengerahkan seluruh tenaga mengembangkan Leng-hun-toh terus melesat ke-arah purcak didepan sana.
Laksana meteor terbang sebentar saja ia sudah tiba diatas puncak namun disini tiada apa-apa yang dapat dilihatnya, maka tanpa ragu-ragu lagi Leng hun toh dikembangkan sampai puncak tertinggi untuk mengejar lagi kedepan, Sambil berlari dan terbang itu, kedua matanya yang celingukan kian kemari mengamat-ngamati sekelilingnya, adalah sesuatu tanda-tanda yang mencurigakan.
Hatinya menjadi bingung dan risau selalu.
Betapa tidak Giok-liong menjadi gugup karena dengan telanjang bulat Ang-i moli Li-Hong telah digondol pergi seseorang, kepandaian orang yang menculik itu sedemikian lihay bagai mana hatinya takkan gugup dan kwatir.
Dalam berlari kencang tanpa tujuan ini tanpa disadari ia terus berlari semakin dalam diatas pegunungan, dikejauhan kegelapan samar samar terlihat setitik sinar pelita, jelas kelihatan didepan sana kalau bukan sebuah kampung kampung pasti sebuah kota kecil.
Sinar pelita yang kelap-kelip itu seketika membangkitkan semangatnya.
Memang kenyataan sudah sekian lama dia belum pernah berdekatan dengan khalayak ramai.
Tapi kebangkitan semangat itu hanya sebentar saja.
Hilangnya Li Hong merupakan beban pemikiran dalam benaknya.
Akan tetapi dia tiada tempo atau waktu untuk berusaha mencari jejak Li Hong lagi, Sebab masih banyak tugas yang lebih penting menunggu penyelesaiannya ini merupakan pukulan berat bagi penderitaan batinnya, Entah menyapa dia tidak tahu, kenapa dirinya mengambil perhatian sedemikian besar terhadapnya! Mungkin adalah karena aku berhutang budi terhadapnya! demikian ia mengguman sendiri untuk menjawab pertanyaan hati sen-diri, Akan tetapi betapapun setelah mendapat jawaban ini, apalagi yang dapat diperbuatnya.
Dalam jangka setengah tahun dia harus dapat menemukan gurunya, kalau gurunya tidak meninggalkan lembah putus nyawa itulah baik.
Tapi gurunya sekarang telah menuju ke Lam-hay ! sekarang bila berusaha hendak mencari gurunya, satu-satunya jalan hanyalah menuju ke Lam-hay mencari pula Bu-ing-to.
Apakah benar gurunya pernah kesana- Entahlah, tapi sekaligus dapat menyerapi jejak Kim-leng-cu, untuk menyampaikan pesan gurunya tempo hari.
"Ai,"
Perlahan lahan ia menghela napas, batinnya "Nona Li Hong, maaf bahwa aku tiada waktu lagi untuk mencarimu."
Pikir punya pikir lantas timbul perasaan menyesal dalam hatinya. Sekonyong-konyong bentakan keras terdengar bagai guntur menggelegar dari sebelah samping kiri sana.
"Maknya, kurcaci dari mana yang sebal sebul napas ditengah malam gelap ini mengganggu impianku saja."
Seiring dengan bentakan ini, dari belakang sebuah batu besar menggelinding keluar seorang aneh berkepala besar bertubuh kecil setinggi empat kaki.
Sedemikian besar kepalanya seperti semangka saja layaknya, hidungnya mendongak keatas dengan sepasang mata kecil seperti mata ayam, rambutnya awut-awutan, ditambah alisnya yang tebal seperti sapu, mengenakan pakaian kucel dan banyak tambalan, kedua kakinya kecil pendek tapi besar kuat, bentuk tubuhnya yang lucu ini benar-benar sangat menggelikan.
Sambil menyeret sendal bututnya, tangannya diulur untuk menyeka umbel dari hidungnya terus disiutkan kontan memberon-dong keluar liur umbelnya langsung terus dikebutkan "Siuut"
Sedemikian keras samberan titik bayangan putih ini secepat kilat terus melesat kearah muka Giok liong. Giok -liong mengerutkan alis, sedikit menggeser kaki sebat sekali ia menghindarkan diri.
"Plak"
Terdengar suara nyaring, lantas terlihat batu pecah berhamburan bersama percikan api, gumpalan umbel itu sekarang sudah amblas masuk kedalam batu besar dibelakang Giok-liong.
Terdengar orang aneh berkepala besar itu heran, sedikit menggoyangkan pundak, gesit sekali tahu-tahu dia sudah berada dihadapan Giok-liong, terdengar suaranya keras seperti gembreng pecah berkata.
"Bagus, bocah keparat ternyata berisi juga, tak heran berani datang kemari menjual lagak didepan orang tua."
Sambil bertriak tangannya mendadak mencengkeram kedada Giok-liong. Keruan Giok-liong menjadi dongkol, tapi dia tahu bahwa kesalahan dipihaknya, sedapat mungkin ia berlaku sabar, serunya sambil melompat mundur menghindar.
"Ada omongan marilah dibicarakan, kenapa harus menggunakan kekerasan ..."
Orang aneh kepala benar itu tetap membandel teriaknya.
"Bagus. kau sudah membangunkan impianku, masih berani tidak minta maaf..."
Dimana pundaknya bergerak "wut"
Tangan kanan menampar tiba dengan dahsyatnya. Giok liong menggeser kaki kiri terus menyingkir enam kaki serunya jengkel.
"Diatas pegunungan siapapun boleh gembargembor, dengan hak apa kau mengatakan aku mengganggu tidur nyenyakmu?"
Sebentar orang aneh kepala besar itu tertegun lantas berteriak lucu lagi.
"Bagus... bagus sudah salah tidak mengaku masih berani mengobral mulut, hari ini kalau Lohu tidak memberi pelajaran pada kau sungguh sia-sia aku hidup sekian lama berkelana di Kangouw."
Sambil gembar gembor, dengan suaranya yang aneh melengking itu tubuhnya bergerak cepat berkelebat mendadak ia berputar seperti gangsingan mengitari tubuh Giok liong.
Dimana kedua kepalannya bergerak bayangannya bagai gugur gunung menindih tiba.
Sementara itu, rasa gusar Giok-liong sudah semakin memuncak.
sambil berkelit ia berseru keras.