Halo!

Seruling Samber Nyawa Chapter 18

Memuat...

terpikir dalam benaknya bahwa kepentingan kaum persilatan umumnya adalah lebih besar dan lebih mendesak dari kepentingan pribadinya.

Dengan adanya keputusan ini hatinya menjadi terbuka dan pikiran menjadi jernih sedikit menyedot hawa, badannya meluncur semakin pesat lagi.

Mendadak dalam keremangan menjelang malam ini dilereng gunung dikejauhan sana, tampak dua bayangan manusia cepat sekali berkelebat menghilang, Ditengah alas pegunungan yang jarang dijajagi manusia ini kiranya juga ada kaum persilatan muncul disini, diam-diam ia merasa heran dan bertanya-tanya.

"Mungkinkah ada sesuatu peristiwa apa yang terjadi ? Atau mungkin, ..tiba tiba teringat olehnya gadis cantik Ang-i-mo-li Li Hong, Orang pernah menyelamatkan jiwanya, dirinya masih hutang budi padanya, bukankah dia juga tengah menuju kearah ini juga, bukan mustahil disini ia mengalami rintangan dan menghadapi bahaya ? Munculnya dua bayangan tokoh silat di atas pegunungan ditengah malam ini dengan perjalanan Li Hong menuju ketimur sebenarnya adalah dua persoalan, kini bergandeng menjadi satu dalam pemikirannya, mungkin ia sendiri juga tidak dapat menerangkan apakah sebabnya. Karena pikirannya ini, diam-diam ia berkata dalam hati.

"Aku harus kesana untuk mencari tahu!"

Segera ia putar badan dan terus berlari sekencang meteor melesat kearah Iamping gunung dikejauhan sana.

Sekonyong-konyong terdengar pekik nyaring suara perempuan yang ketakutan dan kaget, tapi teriakan itu terputus setengah jalan terus lenyap dan kembali menjadi sunyi.

Suara itu kedengarannya laksana sebatang anak panah menusuk di lubuk hati Giok-liong.

Bukankah itu suara Li Hong? Kepandaiannya sudah sedemikian tinggi, mungkin ia ketemu tokoh bangkotan yang berkepandaian lebih tinggi.

Begitulah dengan dirundung pertanyaan dan hati gelisah Giok liong sudah kembangkan Leng-hun toh sampai tertinggi, tidak lama kemudian ia sudah sampai di lamping gunung itu.

Keadaan disini remang-remang disinari cahaya bulan suasana sangat sunyi senyap.

Sekilas Giok-liong menyapu pandang keadaan sekelilingnya, matanya yang tajam melihat kira-kira tiga puluhan tombak didepan sana ada sebuah hutan rimba yang lebat dan gelap, tergerak hatinya, secepat kilat badannya segera terbang menuju kearah rimba gelap itu.

Begitu sampai sepasang matanya yang tajam berkilat itu segera menjelajah setiap pelosok yang mencurigakan, Betul juga dilihatnya di sebelah dalam sana, samar-samar terlihat adanya bayangan manusia yang bergerak gerak, sedikit menyedot hawa ringan sekali bagai asap melayang tubuhnya melejit kedepan, dimana mata memandang, seketika mukanya merah padam dan serasa kepalanya berdenyut saking gusar.

Ternyata diatas rumput dalam hutan sana rebah terlentang seorang gadis cantik yang seluruh pakaiannya sudah dilucuti sehingga telanjang bulat, kulitnya yang putih serta sepasang buah dadanya yang montok menonjol tinggi sangat menusuk pandangan seluruh badan tengah berkelojotan, kedua pipinya yang putih halus itu kini sudah berwarna merah matanya separo dipejamkan, pinggangnya terus bergerak meliuk liuk, seakan akan tengah dirangsang nafsu birahi yang tengah membara diseluruh tubuh.

Tapi dilihat keadaannya itu terang bahwa ia dalam setengah pingsan atau mungkin terkendali oleh obat bius, Gadis cantik bagai bunga mekar ini bukan lain adalah Ang-imo- li Li Hong adanya.

Dipinggir kedua sampingnya tengah berjongkok dua lakilaki pertengahan umur berbadan kurus tengah mengulurkan kedua cakar iblis, masing-masing mengelus serta meremas tubuh yang putih bersih itu.

Orang yang disebelah kiri mengenakan pakaian kembang berjenggot pendek bermata juling.

Sedang yang berada disebelah kanan karena membelakangi Giok-liong jadi tidak terlihat wajahnya, tapi terlihat dipunggungnya menggemblok sepasang pedang panjang..! Tatkala itu kebetulan orang dlsebelah kiri itu tengah meremas dan mengelus-ngelus sepasang bukit padat yang menonjol itu, serta katanya sambil tersenyum girang.

"Hehehehe, siapa akan percaya bahwa Ang-i-mo-li yang kenamaan itu akhirnya terjatuh ditangan kita bersaudara."

Orang yang disebelah kanan juga tengah meraba-raba pinggang Li Hong yang meliuk-liuk, sahutnya.

"Haha, Toako ini berkat obat biuskulah sehingga berhasil, betapapun harus menjadi hakku untuk hjemecabkaa kesuciannya ini."

"Tidak yang lain boleh tapi yang ini jangan, Kau minggir saja dan menonton permainanku dulu, kalau aku sudah selesai menjadi giliranmu nanti, apa yang kau gelisahku !, Hehehehe ...

"

Habis berkata langsung ia berdiri terus mulai mencopoti pakaian sendiri. Cepat-cepat orang disebelat kanan itu mengulur tangannya mencubit pinggang Li Hong dengan gemas terus berdiri dengan uring uringan, mulutnya juga mengomel panjang pendek.

"Setiap kali memperoleh barang baik selalu kau monopoli dulu ..."

Mendadak sebuah gelak tawa dingin yang menciutkan nyali terdengar dari hutan sebelah sana, sungguh kejut kedua orang ini bukan kepalang.

"sret"

Serempak mereka mencabut senjata masing-masing. Orang disebelah kiri itu menyeringai tawa aneh serta serunya.

"Kawan, seorang laki-Iaki harus berani berlaku terang-terangan. jikalau tiada suatu urusan yang dapat di rundingkan siiakan keluar berhadapan dengan Bu-san bersaudara."

Kiranya kedua orang ini bukan lain adalah Bu-san siang im, dua manusia cabul dari Bu-san yang sangat terkenal sebagai maling pemetik bunga dikalangan Kangouw."

Belum lagi lenyap suaranya, terdengar suara dingin dari dalam rimba.

"srilitiiitt"

Terdengar suara ringan disertai kilatan sinar melesat datang, tahu-tahu ditengah hutan di hadapan mereka sudah tertancap sebatang potlot emas panjang beberapa senti.

Itulah pertanda khas dari aliran Ji-bun yang sudah turun temurun selama ratusan tahun.

Begitu melihat potlot emas ini, berubah pucat dan ketakutan Bu-san siang-im, setelah saling berpandangan mendadak mereka menjejak tanah terus melesat tinggi melarikan diri kedalam hutan dibelakang mereka.

Dalam hutan lagi-lagi terdengar jengekan dingin, terlihat sebuah bayangan putih berkelebat melayang turun, tahu-tahu seorang pemuda berpakaian serba putih dengan ikat kepala yang putih pula telah menghadang dihadapan mereka.

Pemuda ganteng seperti pelajar ini melangkah maju dengan ringan mendekat dinadapan Busan-siang im.

Bukan saja Bu-sansiang-ini terkenal manusia cabul juga wataknya sangat kejam dan telengas, licik dan banyak akalnya lagi ditambah kepandaian silat mereka tinggi, jejaknya tidak menentu, sehingga kaum aliran lurus menjadi kewalahan menghadapi mereka.

Sekarang begitu mereka melihat pertanda khas dari To-ji yang berupa pottot emas yang sudah menghilang ratusan tahun mendadak muncul disangkanya bahwa satu diantara Ihlwe su-cua yaitu To-ji Pang giok telah datang sendiri, maka tidak heran sedemikian rasa takut mereka berdua sampai lupa membetulkan pakaiannya yang masih kedodoran terus melarikan diri.

Tapi setelah melihat yang muncul ini kiranya hanya seorang pemuda cilik yang mirip pelajar lemah, sesaat mereka tertegun melenggong.

Terkilas cepat sekali dalam otaknya.

"Bocah ini paling tidak berusia dua puluh, seandainya ia sudah belajar silat dalam kandungan ibunya, juga tidak mungkin begitu menakjupkan kepandaiannya."

Saudara tua dari sepasang manusia cabul itu segera tegak berdiri, sambil mendongak tertawa terbahak-bahak teriaknya melengking.

"Bocah keparat, berani kau mengandal pamor perguruan Ji-bun hendak mengganggu usik kesenangan tuan besarmu."

Takut kalau dibelakang bocah ini masih ada tokoh yang menjadi andalannya, maka ia memancing lebih dulu dengan kata katanya itu.

Pemuda pelajar berpakaian serba putih ini bukan lalu adalah Giok-liong adanya.

Kedua pipinya itu sekarang sudah bersemu merah menambah kegantengannya.

Tapi expresi wajahnya adalah sedemikian dingin laksana es, kedua matanya memancarkan kilat tajam yang dingin pula mengamati Bu-san-siang-im, katanya menjengek.

"Silakan kalian memilih jalan sempurna sendiri, bunuh diri atau tuan mudamu ini yang harus turun tangan "

Jawabannya ini secara lang sung menerangkan bahwa dia datang seorang diri."

Betapa licik dan licin tokoh-tokoh Bu-san-siang-im ini ? Begitu mendengar jawaban ini legalah hati mereka tanpa merasa mereka saling pandang dan tertawa terloroh-loroh. Belum lenyap suara tawa mereka mendadak mereka berbareng menghardik.

"Bocah goblok, serahkan jiwamu."

Dimana sinar kuat berkelebatan dua batang pedang tahu-tahu sudah menusuk dan membabat tiba mengarah tempat mematikan.

Bertepatan dengan aksi saudara tuanya ini, demikian juga adiknya dari Siangliro ini tidak ketinggalan mengajukan tangan kirinya, seketika kelap kelip sinar hijau kebiruan beterbangan memenuhi angkasa seperti bintang-bintang layaknya secepat kilat meluruk semua kearah Giok-liong.

Giok-liong berlaku tenang sekali, malah ujung mulutnya menyungging senyum ejek, begitu bayangan putih berkelebat tahu tahu bayangan Giok-liong sudah menghilang, Terdengar sebuah suara yang mendirikan bulu roma terkiang dipinggir telinga mereka.

"Kalian cari mampus."

Keruan kejut kedua manusia cabul ini bukan kepalang, siapa akan nyana bahwa pemuda cilik yang kelihatan lemah ini kiranya adalah tokoh silat yang berkepandaian begitu lihay.

Tidak banyak kesempatan untuk mereka berpikir dan menduga-duga tanpa berjanji berbareng mereka memutar tubuh sambil mengayun senjata kebelakang, nyata gerak gerik mereka juga cukup gesit dan tangkas sekali.

Tapi baru saja badan mereka berputar selengan jalan, terdengar lagi tawa dingin lantas terlihat bayangan putih berkelebatan selulup timbul diselingi bayangan tangan pukulan yang mengaburkan pandangan serta dilandasi angin pukulan yang kencang seperti gugur gunung terus menungkrup keatas badan mereka.

Tapi Bu-san siang-im juga bukan kaum kroco yang berkepandaian rendah.

Berbareng mereka membentak keras, pedang diputar sekencang kitiran sampai mengeluarkan sinar dingin gemerdep menerbitkan angin mendesis terus melambung keangkasa, Ternyata mereka bisa mengerahkan hawa murninya untuk didorong keluar melalui ujung pedangnya terus membentuk suatu hawa pedang untuk melindungi badan, dan yang terpenting adalah hawa pedang ini semakin melebar menyongsong kearah angin pukulan yang dilancarkan Giok-Iiong.

Giok- liong berseru heran tidak duga mengandal dua manusia cabul sampah masyarakat persilatan ini kiranya juga mempunyai kepandaian begitu tinggi, segera ia perdengarkan ejekannya lagi.

"Ternyata ada isinya juga!"

Post a Comment