"Mereka sudah datang Buyung, kulihat wajahmu persis benar dengan salrh seorang sahabat kentalku, kalau benar-benar adalah keturunannya, seumpama jiwa tuaku ini harus melayang betapapun aku harus menolongmu meninggalkan tempat ini."
Melihat orang bicara setulus hati, tergetar hati Giok-liong, tercetus perkataannya.
"wanpwe tidak tahu siapakah nama ayah"
"Tidak tahu?"
"Benar,"
"Lalu mana ibumu?"
"Juga tidak tahu."
"Sebagai putra manusia tidak mengetahui nama ayah ibu kandung sendiri, bukankah tidak berbakti?"
Perkataan ini bak sebilah sembilu yang tepat menusuk dalam keulu hati Giok-liong terasa nyeri dan pedih sekali, Tapl dia sudah pernah tertimpa penderitaan dan pukulan yang lebih besar dan sengsara, sehingga lahiriahnya bersikap terlalu pendiam dan dingin, Oleh karena itu ia kuat bertahan dan dapat menelaah teguran ini, dengan manggut-manggut kepala saja, Sejenak si orang tua tinggi tegap itu berdiri termenung, lalu tanyanya lagi.
"Dimana sekarang ibumu berada ?"
"Entahlah !"
"Tidak tahu lagi ?"
"Ya!"
Ibu mendapat celaka dikerubut oleh musuh, jejak serta mati hidupnya tidak diketahui !"
"Siapakah musuh musuh itu ?"
"Mungkin adalah orang-orang dari Hiat-hong pang, mungkin juga bcgundal dari Kim i pang,"
"Hm, Toan Bok-ki si iblis Jahat itu, akan datang suatu hari Lohu ...
"
Kiranya dia juga belum tahu bahwa Toan Bok-ki telah menghilang banyak tahun yang lalu, sesaat mendadak ia mendelik lalu katanya lagi.
"Buyung, jelaslah keluar rimba di sini bukan tempat untuk kau berdiam lama-lama. Ketahuilah bahwa majikan dari rimba kematian itu sangat kejam dan telengas, segala kejahatan dan kekejaman tiada yang tidak dilakukannya. Dengan bekal ilmu silat Lohu sekarang ini, sudah berjaga disini selama puluhan tahun namun belum dapat membongkar rahasianya, apalagi aku tidak berani bergerak terlalu menonjol dan aktif sekali supaya tidak konangan asal usulku. Kepandaian majikan rimba kematian ini sangat tinggi, konon kabarnya seumpama dikeroyok oleh gabungan kekuatan Ih-lwe-su-cui dulu juga belum tentu dapat mengalahkan dia. Maka kunasehati supaya kau jangan terlalu sombong untuk malu coba-coba ! Lekaslah pergi."
Keterangan panjang lebar yang tiada juntrungannya ini membuat Giok-liong berdiri melongo keheranan, dasar otaknya cerdik sedikit berpikir segera ia balas bertanya.
"Agaknya Lo-cianpwe tengah berusaha untuk mencegah terjadinya suatu bencana besar yang bakal menimpa kaum persilatan bukan?".
"Betul! Kalau soal itu telah tiba, paling tidak harus mengumpulkan seluruh kekuatan dari kaum persilatan untuk menghadapi baru dapat mengatasinya. Tapi saatnya belum tiba, maka jangan sekali kali kau membocorkan rahasia ini..."
Sampai disini mendadak alisnya dlkerutkan, katanya lebih lirih.
"Ada orang datang, kau sembunyi dulu dibelakang pohon besar itu."
Lalu di tunjuknya sebuah pohon besar yang letaknya puluhan langkah di sebelah samping sana.
Sedikit menggerakkan badan, enteng sekali Giok-liong melayang masuk kedalam lobang besar didalam batang pohon i.u, Diatas lobang mulut lobang pohon besar ini ternyata ada seutas tangga yang terbuat dari tali temali yang terus menjulur kebawah dasar lobang, agaknya dibawah sana masih ada psrabot dan peralatan dan lain lain.
Tatkala mana ditengah rimba mana sudah terdengar suara orang bercakap-cakap, sedikit merunduk Giok-Iiong mengintip ke luar, terlihat olehnya si orang tua tengah berdiri membelakangi lobang besar dimana ia berada, badannya bongkok bersikap dan bertingkah laku seperti seorang tua renta yang lemah, sedikitpun tidak terlihat sikap dan semangat gagahnya seperti tadi yang garang dan perwira.
Dihadapannya berdiri hormat sambil menunduk dua orang berseragam ungu, air muka mereka kaku membesi berusia pertengahan salah seorang diantara mereka terdengar berkata.
"Tong-cu mempersilahkan kau orang tua masuk, ada urusan penting yang hendak dirundingkan."
Si orang tua menyahut dingin.
"Kalian boleh pulang dulu, segera Lohu datang."
Suaranya rendah dan sember serta kaku, sedikitpun tidak berperasaan, membuat kedua orang dihadapannya merasa merinding dan bergidik.
Segera kedua orang itu mengiakan bersama terus melejit mundur seringan burung terbang mereka menerobos hutan terus menghilang entah kemana.
Melihat kegesitan gerak gerik orang, diam-diam bercekat hati Giok liong, batinnya.
"Entah tokoh macam apakah majikan rimba kematian ini, orang orang bawahannya berkepandaian begitu tinggi, jikalau mereka sengaja mengatur rencana hendak bersimaha-raja di dunia persilaian, akibatnya pasti susah dibayangkan."
Saat mana si orang tua sudah memutar tubuo, tampak tangannya cepat sekali mengusap kearah mukanya, seakan akan menanggalkan sesuatu kedok dimukanya suaranya terdengar lirih.
"Buyung keluarlah !"
Giok-liong segera menerobos keluar dari lobang pohon langsung memberi hormat kepada si orang tua, tanyanya.
"Harap bertanya, siapakah nama mulia Lo cianpwe ?"
Si orang tua menghela napas panjang, katanya tanpa menghiraukan pertanyaan .
"Ai, Buyung siapakah gurumu ? Hebat benar dia dapat mendidik murid sepandai kau ini ?"
"Suhu bernama Pang Giok kaum persilatan memberi julukan To-ji pada beliau."
Si orang tua berpekik kaget, air mukanya mengunjuk kegirangan, serunya penuh haru.
"Masakah Ih Iwe sun-cun masih belum berangkat menjadi dewa..."
"Suhu masih sehat walafiat, tentang ketiga tokoh yang lain belum dapat kepastian."
Agaknya si orang tua tengah menekan perasaan haru dan girangnya, sekian lama ia mengamat ngamati Giok-liong dari bawah keatas dan dari atas kebawah, Mendadak wajahnya merengut bengis, kedua matanya melotot gusar berapi-api, serta bentaknya keras.
"Bedebah lihat seranganku."
Di kala mana tubuhnya bergerak tiba-tiba keiat kepalan-nya bergerak selincah kera memetakkan bundaran-bundaran besar kecil yang membawa angin menderu menerjang kearan Giok liong.
Sudah tentu kaget Giok-liong bukan main, cepat-cepat ia loncat menyingkir sambit berteriak kuatir.
"Cianpwe .....
"
Si orang tua hanya mendengus rendah kedua kepalanya bergerak semakin kencang dan menyerang semakin gencar, besar kecil yang timbul dari bayangan pukulan tangannya selulup timbul saling tambal laksana bayangan yang mengikuti bentuknya saja layaknya terus mengejar datang, Batapa besar kekuatan pukulan ini benar-benar sangat mengejutkan pula sangat rapat dan kencang lagi sehingga tidak terlihat ada lobang kelemahannya.
Saking gelisah dicecar sedemikian rupa Giok-liong menjadi naik pitam bentaknya gusar.
"Bila Lo cian-pwe tidak berhenti, jangan salahkan Wanpwe berlaku kurang ajar!"
SAMBIL MEMBENTAK ITU BADANNYA melayang ringan sekali sepuluh tombak lebih meluputkan diri dari rangsakan musuh walaupun gerak mundurnya ini secepat angin tapi cara turun tangan juga tidak kalah cepatnya seumpama kilat menyamber karena bundaran yang terpeta dari serangan pukulan itu menari-nari serta menutuk, hakikatnya tiada tempat luang lagi unutuk meloloskan diri.
Terdesak oleh keadaan yang mengancam jiwa ini apa boleh buat terpaksa Giok-liong kerahkan Ji lo sampai delapan bagian, dengan sejurus Ciu-Chiu dilancarkan seketika berkuntum-kuntum mega mengembang membungkus seluruh tubuh terus meluncur menyongsong tamparan musuh, Baru saja Cin-Chiu di lancarkan, lantas terdengar gelak tawa gelak gelak dalam hutan, mendadak si orang tua menghentikan serangannya terus melompat mundur sepuluh tombak, serunya.
"Sungguh tidak memalukan sebagai murid To-ji, buyung kiranya kau tidak menipuku."
Giok-liong sendiri juga melengak heran, Maklum bahwa Sam-ji-cui-hun chiu adalah kepandaian tunggal yang tiada keduanya di dunia persilatan, perbawa dan kekuatan ilmu ini besar dan sakti luar biasa, sekali dilancarkan lantas bergelombang saling susul tak mengenal putus, hakikatnya musuh takkan mampu mengundurkan diri dengan tetap masih segar bugar.
sungguh diluar dugaan kepandaian si orang tua ini bukan saja tinggi juga sangat aneh, sekejap mata saja lantas dapat lolos dari kekangan angin pukulannya.
Dan lagi ilmu pukulan yang dilancarkan tadi juga merupakan ilmu pukulan tunggal yang sangat disegani didunia persilatan yaitu Wi-hian-ciang.
ilmu pukulan semacam ini dulu pernah dimiliki dan digunakan oleh seorang tokoh aneh yang bernama Liong-Bun, tokoh ini terkenal juga akan wataknya yang keras dan tidak kenal apa artinya ka-)ata, tapi pada ratusan tahun yang lalu jejak Liong Bun ini sudah menghilang, konon kabarnya sudah meninggal dikalahkan oleh musuh besarnya, sejak kematian Liong Bun ini maka ilmu pukulan Wihian- ciang ini lantas ikut lenyap dan tidak terturunkan lagi.
Justru ditempat ini dan pada saat ini juga seorang tua aneh ini ternyata bisa melancarkan ilmu pukulan hebat yang sudahputus turunan itu, bukansaja kaget Giok-liong heran pula dibuatnya.
Tatkala mana si orang tua tengah mendatangi dengan tenang, wajahnya tampak serius lantas membungkuk memberi hormat kepada Giok-liong, ujarnya.
"Ma-siau-hiap, harap maaf akan kelancangan Lohu tadi."
Sebenarnya Giok-liong merasa dongkoI, namun begitu melihat sikap orang ini lantas ia merasa rikuh sendiri cepatcepat ia menjawab "Mana berani, harap Cian-pwe jangan berlaku sungkan."
Si orang tua tertawa lantang, katanya.